BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Gambaran Kegiatan Kolase Berbahan Kain Perca pada Kelompok B di RA Darul Madani Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tanggal 7-10 Februari 2022, kegiatan kolase dilakukan pada tanggal 8-9 Februari 2022. Kegiatan kolase ini diikuti oleh 6 orang peserta didik, yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Antusias peserta didik begitu tinggi dikarenakan kegiatan ini sangat menarik bagi peserta didik dan juga kegiatan ini belum pernah dilakukan sebelumnya oleh peserta didik. Pada saat peneliti melakukan perlakuan, peneliti terlebih dahulu melakukan tanya jawab mengenai tema pada hari itu, peserta didik sangat antusias menjawab pertanyaan peneliti, selanjutnya peneliti mengkomunikasikan dan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan oleh peserta didik, yaitu kegiatan kolase dan menjelaskan juga bahan yang akan digunakan, kemudian peneliti menjelaskan tahap-tahap pengerjaan kolase.
Tahap-tahap kegiatan kolase ini dilakukan berdasarkan teori Sumanto yang dimana isinya yaitu:
a. Guru menyiapakan kertas gambar atau karton sesuai ukuran yang diinginkan, menyiapakan bahan yang akan ditempel, lem dan peralatan lainnya.
b. Bahan membuat kolase disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, untuk lingkungan desa gunakan bahan yang mudah ditempelkan. Misalnya, daun
kering, batang pisan kering dan yang lainnya. Untuk lingkungan kota menggunakan bahan buatan, bahan limbah bekas untuk mudah dipertimbangkan.
c. Guru memandu langkah kerja, membuat kolase di mulai dari menyiapkan bahan yang akan ditempelkan, meberi lem pada bahan yang akan ditempelkan dan cara menempelkan bahan yang telah diberi lem sampai menjadi kolase.
d. Guru diharapkan juga mengingatkan pada anak agar dapat melakukannya dengan tertip dan setelah selesai merapikan atau membersihkan tempat belajarnya.
Peneliti kemudian menjadikan teori Sumanto ini menjadi instrumen tahap-tahap kegiatan kolase yang dimana tahap-tahap-tahap-tahap tersebut sebagai berikut:
a. Peneliti menyiapkan kertas gambar, bahan yang akan ditempel, lem dan peralatan lainnya.
b. Bahan membuat kolase disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.
c. Peneliti memandu langkah kerja membuat kolase di mulai dari menyiapkan bahan yang akan ditempelkan, memberi lem pada bahan yang akan ditempelkan dan cara menempelkan bahan yang telah diberi lem sampai menjadi kolase.
d. Peneliti juga mengingatkan pada anak agar dapat melakukannya dengan tertib dan setelah selesai merapikan atau membersihkan tempat belajarnya
Instrumen di atas telah disetujui oleh 2 validator yaitu bapak Ahmad Afif, S.Ag.,M.Si, dan ibu Ade Agusriani, S.Psi.,M.Pd., pada tanggal 4 November 2021.
Peserta didik diajarkan bagaimana cara menggunting sesuai pola yang sudah ada di dalam kain perca yang telah disediakan oleh peneliti, menempel pola yang telah digunting ke dalam lembar tes, sampai membersihkan sampah hasil dari kegiatan kolase dan membuang sampah ke tempat sampah. Sembari peneliti melakukan kegiatan kolase ke peserta didik, salah satu guru tersebut mengisi instrumen kegiatan kolase tersebut yang telah diberikan oleh peneliti.
Tahap-tahap pengerjaan kolase berbahan kain perca pada tanggal 8 Februari 2022 yaitu pertama, peneliti menyiapkan kertas yang sudah diberikan pola dengan menyesuaikan tema di sekolah tersebut, pada saat proses penelitian dilakukan. Tema pada hari itu ialah tanaman, jadi peneliti memilih bunga matahari sebagai pola pada saat melakukan kegiatan kolase. Peneliti juga menyiapkan bahan pembuatan kolase yaitu kain perca, lem dan gunting sebagai alat pembuatan kolase. Bahan dalam membuat kolase disesuaikan dengan lingkungan setempat.
Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu kain perca. Peneliti mendapatkan bahan kain perca ini di keluarga guru di sekolah tersebut dan sebagian juga di dapatkan dari tetangga peneliti dan tetangga sekolah.
Peneliti memandu langkah kerja pembuatan kolase mulai dari menggungting sesuai dengan pola yang telah peneliti berikan pada bahan pembuatan kolase. Peneliti juga mengajarkan pemberikan lem pada kertas agar tidak terlalu banyak yang nantinya akan membuat kertas rusak, kemudian peneliti juga mengajarkan peserta didik cara menempelkan bahan kain perca ke kertas pola agar tidak keluar dari pola yang sudah ada. Peneliti juga mengingatkan pada anak agar dapat melakukannya dengan tertib dan setelah selesai, anak merapikan atau membersihkan tempat belajarnya.
Pengerjaan kolase berbahan kain perca pada tanggal 9 Februari 2022, pertama peneliti menyiapkan alat dan bahan dan membagikan alat dan bahan ke peserta didik, setelah peneliti memberikan alat dan bahan, anak-anak langsung mengerjakan kolasenya tanpa diberitahu tahap-tahap pengerjaannya lagi, tapi sesekali peneliti mengingatkan peserta didik agar mengerjakan kolasenya dengan baik dan benar.
2. Perkembangan Motorik Halus Peserta Didik Kelompok B di RA Darul Madani Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar Sebelum dan Setelah Kegiatan Kolase Berbahan Kain Perca
a. Sebelum Kegiatan Kolase Berbahan Kain Perca
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tanggal 7 Maret 2022 dikelompok B RA Darul Madani Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar dengan melihat apakah terdapat peningkatan perkembangan motorik halus melalui kegiatan kolase berbahan kain perca atau tidak terdapat peningkatan perkembangan motorik halus melalui kegiatan kolase berbahan kain perca.
Peneliti mengambil sampel sebanyak 6 orang, yang terdiri dari 3 orang laki –laki dan 3 orang perempuan yang semuanya merupakan peserta didik yang berada di kelompok B dengan rentang usia 5-6 tahun. Hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa perkembangan motorik halus anak sebelum diberikan perlakuan atau pretest berupa kegiatan kolase berbahan kain perca, diperoleh nilai terendah pada kelompok eksperimen sebesar 7, nilai tertinggi sebesar 13, rata-ratanya sebesar 9,8 dan standar deviasi 2,4.
Perkembangan motorik halus anak di kelompok B RA Darul Madani Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar sebelum diberikan perlakuan kegiatan kolase berbahan kain perca, peneliti melihat masih ada beberapa anak yang motorik halusnya kurang berkembang. Anak masih memiliki kesulitan dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan motorik halusnya, seperti memegang gunting dengan baik, menggunting sesuai dengan pola, menempel dengan baik dan benar, memegang pensil atau pulpen dengan baik dan benar, dan kesulitan menulis namanya sendiri.
Perkembangan motorik halus anak dalam indikator menggunting sesuai dengan pola, masih berada pada kategori rendah, hasil pengamatan peneliti
ditemukan masih ada beberapa anak yang belum bisa dalam menggunting sesuai dengan pola, artinya masih ada beberapa anak yang cara menggungting kain perca keluar dari pola yang telah disediakan oleh peneliti. Perkembangan motorik halus anak dalam indikator memegang gunting dengan benar, masih berada pada kategori rendah, hasil pengamatan peneliti ditemukan masih ada beberapa anak yang belum bisa memegang gunting dengan benar. Perkembangan motorik halus anak dalam indikator menempel sesuai dengan pola juga masih ada beberapa anak yang belum bisa menempel sesuai dengan pola, artinya masih ada beberapa anak yang cara menempelnya keluar dari pola yang telah disediakan dilembar tes.
Perkembangan motorik halus anak dalam indikator memegang pensil dengan benar, masih ada 3 orang anak yang belum bisa memegang pensil dengan benar.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa massih ada beberapa anak yang perkembangan motorik halusnya perlu ditingkatkan dengan memberikan kegiatan yang dapat meningkatkan perkembangan motorik halusnya, salah satu kegiatan yang dapat mengingkatkan perkembangan motorik halus anak yaitu kegiatan kolase berbahan kain perca.
Menurut Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi kolase merupakan karya seni rupa dua dimensi yang menggunakan bahan yang bermacam-macam selama bahan dasar tersebut dapat dipadukan dengan bahan dasar lain yang akhirnya dapat menyatu menjadi karya yang utuh dan dapat mewakili ungkapan perasaan estetis orang yang membuatnya.1 Hajar Pamadi dan Evan Sukardi menambahkan bahan pembuatan kolase yaitu kertas, kain, gabus, lem, daun kering, sedotan, gelas
1 Fratnya Puspita Devi, Peningkatan Kreativitas Melalui Kegiatan Kolase pada Anak Kelompok B2 di TK Aba Keringan Kecamatan Turi Kabupaten Sleman(Yogyakarta, 2014) h. 26.
bekas, potungan kayu dadu, benang, biji-bijian, sendok plastik, karet, benang, manik-manik atau masih banyak media lain.2
b. Setelah Kegiatan Kolase Berbahan Kain Perca
Berdasarkan penilaian yang dilakukan peneliti, perkembangan motorik halus anak di RA Darul Madani Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar, mengalami peningkatan perkembangan motorik halus. Hal ini dapat dilihat dari data posttest yang dihasilkan yaitu nilai terendah yaitu 7, nilai tertinggi yaitu 15, rata-ratanya 11,8 dan standar deviasi 2,8.
Anak usia 5-6 tahun di kelompok B pada saat pertama kali diperlihatkan kegiatan kolase berbahan kain perca, mereka sangat penasaran dan bertanya tentang bahan-bahan yang telah peneliti siapkan untuk pembuatan kolase. Hari pertama mereka masih kesulitan dalam membuat kolase dari bahan kain perca, karena kegiatan kolase dari bahan kain perca ini memang membutuhkan konsentrasi untuk menggungting dan menempel gambar dengan baik dan tepat.
Hari berikutnya setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca, anak sudah mampu membuat kolase berbahan kain perca dengan baik dan tepat dapat dilihat dari hasil setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca.
Kegiatan kolase berbahan kain perca ini dapat melatih keterampilan motorik halus anak dengan baik, di antaranya menggunting sesuai dengan pola, memegang gunting dengan baik, menempel sesuai dengan pola dan menggunakan alat tulis dengan benar., hal ini dapat dilihat di instrumen penilaian yang mengalami peningkatan terhadap perkembangan motorik halus anak setelah diberikan perlakuan berupa kegiatan kolase berbahan kain perca.
2 Fratnya Puspita Devi, Peningkatan Kreativitas Melalui Kegiatan Kolase pada Anak Kelompok B2 di TK Aba Keringan Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, h. 27.
3. Perbedaan Rata-Rata Perkembangan Motorik Halus Peserta Didik Kelompok B di RA Darul Madani Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar melalui Kegiatan Kolase Berbahan Kain Perca
Hasil penelitian pada kegiatan kolase berbahan kain perca diperoleh nilai rata-rata sebelum diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca yaitu sebesar 9,8 dan nilai setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca yaitu sebesar 11,8.
Hasil penelitian yang telah dilakukan secara keseluruhan, kegiatan kolase berbahan kain perca dapat membantu meningkatkan perkembangan motorik halus peserta didik. Hal tersebut dibuktikan dari hasil penelitian yang diperoleh dari data penelitian secara keseluruhan, yang dimana terdapat perbedaan nilai rata-rata perkembangan motorik halus sebelum dan setelah melakukan kegiatan kolase berbahan kain perca, dengan perolehan nilai rata-rata sebelum diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca sebesar 9,8 dan nilai setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca sebesar 11,8. Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan rata-rata perkembangan motorik halus anak sebelum dan setelah melakukan kegiatan kolase berbahan kain perca pada peserta didik kelompok B di RA Darul Madani Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar.
Berdasarkan instrumen penelitian yang merujuk kepada tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini usia 5-6 tahun sesuai dengan Permendikbud standar nasional penilaian PAUD No. 137 tahun 2014, pada butir 1.1 anak sudah mampu menggunting sesuai dengan pola, nilai sebelum diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 13 dan nilai setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 18, pada butir 1.2 anak sudah mampu memegang gunting dengan benar, nilai sebelum diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 14 dan nilai setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 15, pada butir 2.1 anak sudah mampu menempelkan kain perca kedalam pola dengan benar, nilai sebelum
diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 11 dan nilai setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 16, pada butir 3.1 anak sudah mampu memegang pensil dengan benar, nilai sebelum diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 21 dan nilai setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 22.
Berdasarkan penjelasan diatas indikator yang paling tinggi peningkatannya yaitu pada butir 1.1 anak sudah mampu menggunting sesuai dengan pola, dimana pada butir tersebut terdapat peningkatan nilai sebelum diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 14 dan nilai setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 15, artinya terdapat peningkatan 5 angka sebelum dan setelah kegiatan kolase berbahan kain perca. Indikator yang kedua yaitu pada butir 2.1 anak sudah mampu menempelkan kain perca kedalam pola dengan benar, nilai sebelum diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 11 dan nilai setelah diberikan kegiatan kolase berbahan kain perca 16, artinya terdapat peningkatan 5 angka sebelum dan setelah kegiatan kolase berbahan kain perca.
Hal di atas sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jeni Karyantini pada tahun 2016 dari Jurusan Pendidikan Guru Anak Usia Dini, Universitas Sriwijaya Palembang dengan judul “Pengaruh Seni Rupa Kolase Menggunakan Bahan Kain Perca Terhadap Keterampilan Motorik Halus Anak Kelompok A di Paud Handayani Palembang”. Jenis penelitian eksperimen semu dengan menggunakan desain one shoot case study, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling (sampel bertujuan) dengan pertimbangan keterampilan motorik halus yang masih rendah di kelas A yang berjumlah 26 anak, 13 anak laki-laki dan 13 anak perempuan. Pengumpulan data menggunakan tes perbuatan dengan hasil analisis data yang diperoleh nilai thitung = 15,10 nilai ttabel= 1,71, kesimpulannya terdapat pengaruh seni rupa kolase
menggunakan bahan kain perca terhadap keterampilan motorik halus anak pada anak kelompok A di PAUD Handayani Palembang3.
Meningkatkan perkembangan motorik halus anak usia dini pada dasarnya dibutuhkan berbagai cara agar perkembangan motorik halus anak dapat berkembang. Maka dengan melalui pemberian kegiatan kolase berbahan kain perca, perkembangan motorik anak akan meningkat dan anak juga akan memanfaatkan bahan-bahan bekas yang masih bisa dijadikan suatu karya sehingga nantinya anak akan menciptakan potensi yang kreatif dan memunculkan sebuah ide-ide baru.
Hasil yang diperoleh sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Handayani, Sumarno dan Yusak Suharno dengan judul “Pengaruh Aktivitas Kolase terhadap Kemampuan Motorik Halus Pada Anak Usia Dini melalui Metode Bermain di Tk Pembina Kabupaten Rembang”. Hasil penelitian berpengaruh. Hal ini dikarenakan penelitian ini mengkaji bagaimana pengaruh aktivitas kolase terhadap keterampilan motorik halus anak. Untuk mengetahui pengaruh signifikan aktivitas kolase terhadap keterampilan motorik halus kelas A di Tk Pembina Kabupaten Rembang. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan desain One Groups pretest-postest design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 21 anak. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas kolase keterampilan terhadap motorik halus anak mengalami peningkatan yang lebih baik , hal tersebut ditunjukkan oleh uji hipotesis yang menunjukkan data pretest-postest yang signifikan karena memiliki jilai p<0,005 dengan rata-rata skor 10,38 dan meningkat menjadi 17,28 pada posttest.4
3Jeni Karyantini, Pengaruh Seni Rupa Kolase Menggunakan Bahan Kain Perca Terhadap Keterampilan Motorik Halus pada Anak Kelompok A di PAUD Handayani Palembang (Palembang, 2016), h. 27-40.
4 Sri Handayani, dkk., “Pengaruh Aktivitas Kolase Terhadap Keterampilan Motorik HalusPada Anak Usia Dini melalui Metode Bermain di TK Pembina Kabupaten Rembang” jurnal kependidikan 5, no.1(2018): h. 38-53
Begitupun penelitian yang dilakukan oleh Alfy Kholidah Zahwa dan Muhammad Reza pada tahun 2018 dari Jurusan PG-PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya dengan judul “Pengaruh Seni Kolase Terhadap Kemampuan Motorik Halus Kelompok A TK Aisyah Bustanul Athfal 2 Surabaya”. Hasil penelitian kegiatan seni kolase berpengaruh. Hal ini di karenakan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis quasi eksperimen design. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Untuk menganalisis data pengujian hipotesis penelitian menggunakan program SPSS 25 dengan teknik Independent SampelTest (Uji T).
Berdasarkan hasil perhitungan uji t-test diperoleh hasil 0,000 yang berarti 0,000<0,05, maka disimpulkan bahwa Ho ditolak artinya terdapat pengaruh seni kolase terhadap kemampuan motorik halus anak kelompok A Tk Aisyah Bustanul Athfal 2 Surabaya.5
Kesimpulannya, terdapat peningkatan dari kegiatan kolase berbahan kain perca terhadap perkembangan motorik halus anak usia dini kelompok B di RA Darul Madani Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. Hal ini dapat dilihat dari nilai pretest dan posttest yang mengalami perubahan terhadap perkembangan motorik halus sebelum dan setelah diberikan perlakuan berupa kegiatan kolase berbahan kain perca.
5Alfy Kholidah Zahwa & Muhammad Reza, “Pengaruh Seni Kolase Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Kelompok A TK. Aisyah Bustanul Athfal 2 Surabaya” jurnal mahasiswa 7, no.3 (2018): h. 22.
60
BAB V PENUTUP