DRAFT AKHIR KURIKULUM PELATIHAN PTK Tujuan umum :
C. Teknik pengolahan Data
Penelitian ini difokuskan pada dua tahapan, yaitu studi pendahuluan dan pengembangan model (uji coba terbatas dan uji coba luas). Data yang diperoleh pada studi pendahuluan meliputi :
1. Sejumlah dokumen yang terkait dengan pelatihan seperti program pelatihan, kurikulum dan model-model pelatihan, materi-materi dan konsep PTK yang diberikan pada pelatihan-pelatihan terdahulu.
2. Hasil wawancara berupa faktor-faktor pendukung dan hambatan dalam pelatihan, pola pelaksanaan pelatihan yang sudah dilaksanakan.
3. Tanggapan, penilaian para ahli tentang validitas kurikulum pelatihan yang sedang dikembangkan yang diperoleh melalui angket
Data-data atau informasi diatas diolah atau dianalisis dalam bentuk paparan/ deskriptif naratif melalui tahap-tahap :
1. Berdasarkan hasil analisis dokumen, dipilih materi pelatihan yang akan dikembangkan dalam kurikulum pelatihan.
2. Mengklasifikasikan data hasil angket dan sesuai konteksnya yaitu data yang berkaitan dengan tanggapan/penilaian para ahli terhadap draf kurikulum pelatihan.
3. Reduksi data melalui proses editing, pemfokusan dan mengabstraksikan data menjadi informasi yang lebih bermakna. Data yang diperoleh dari hasil angket dan wawancara diklasifikasikan, seperti kesulitan fasilitator mengimplementasikan kurikulum pelatihan dan upaya untuk mengatasinya, kesulitan guru dalam memahami materi pelatihan dan upaya untuk mengatasinya. Data hasil wawancara dan observasi diklasifikasikan berdasarkan penggolongan kesamaan pendapat guru dan fasilitator tentang efektifitas kurikulum pelatihan dalam meningkatkan pemahaman guru IPA tentang PTK.
4. Paparan data dilakukan dengan menampilkan data secara lebih sederhana dalam berbagai representasi, seperti : tabulasi data hasil angket dalam bentuk tabel distribusi frekuensi ataupun secara grafis.
5. Data yang diperoleh pada tahap uji coba terbatas dan uji coba luas melalui tes yang dilaksanakan baik berupa pre test maupun post test, hasil tes tersebut dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji t atau sample paired t test.
104 D. Lokasi dan Subyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, yang berlokasi di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara, dengan jumlah MI adalah sepuluh madrasah, yaitu tiga madarasah negeri dan tujuh madrasah yang masih berstatus swasta, dengan level tinggi sebanyak empat madrasah, level sedang tiga madrasah dan level rendah dua madrasah, untuk satu madrasah (MIS Hidayatullah) belum memiliki salah satu dari tiga tingkatan ini karena madrasah tersebut baru didirikan dan diberikan izin operasionalnya pada tahun pelajaran 2009/2010. Data MI Kota Ternate berdasarkan tingkatan/level tinggi, rendah dan sedang tahun 2010, dapat dilihat pada tabel berikut (Kemenag Kota Ternate, 2010).
Tabel 3.5
Jumlah Guru IPA MI dan Level MI Kota Ternate
No Nama Madrasah /jumlah Guru IPA Tingkatan/Level
Tinggi Sedang Rendah
1 MIN TADENAS / 3 guru V
2 MIS FITAKO/ 3 guru V
3 MIS RUA / 2 guru V
4 MIN SASA / 3 guru V
5 MIS GAMBESI / 1 guru V
6 MIS HIDAYATULLAH / 1 guru - - -
7 MIS AL-MA’Arif JATI / 2 guru V
8 MIS MARIKURUBU / 3 guru V
9 MIN MOYA / 3 guru V
10 MIS KULABA / 2 guru V
jumlah 22 guru 3 3 3
Subyek penelitian, berdasarkan permasalahan yang ada dalam penelitian ini adalah para guru mata pelajaran IPA Madrasah Ibtidaiyah Kota Ternate provinsi Maluku Utara yang berjumlah 22 guru. Subyek penelitian hanya
terbatas pada guru mata pelajaran IPA karena pertimbangan biaya dan waktu yang terbatas.
156 BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana yang sudah dikemukakan dan dideskripsikan pada bab sebelumnya, maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut : 1. Berdasarkan temuan-temuan pada studi pendahuluan bahwa kondisi kurikulum pelatihan yang dihasilkan saat ini belum efektif karena hasil yang diharapkan belum mencapai tujuan secara maksimal, hal ini disebabkan karena kurikulum pelatihan yang dikembangkan selama ini tidak melalui perencanaan yang matang. Tujuan pelatihan yang dirumuskan tidak berdasarkan kepada analisis kebutuhan peserta pelatihan, tetapi hanya berdasarkan kepada substansi materi pelatihan sehingga perubahan perilaku yang hendak dicapai dalam pelatihan tidak jelas. Materi pelatihan yang ditetapkan tidak disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta pelatihan hanya berdasarkan pada topik atau tema pelatihan. Metode yang digunakan dalam pembelajaran hanya didominasi oleh metode ceramah dan evaluasi yang dilaksanakan untuk mengukur keberhasilan kurikulum pelatihan tidak dilakukan. Semua kondisi ini menjadi faktor penyebab tidak dihasilkannya kurikulum pelatihan yang dapat menjadi acuan bagi fasilitator dan panitia penyelenggara dalam melaksanakan pelatihan.
2. Penelitian dan pengembangan yang dilakukan telah menghasilkan kurikulum pelatihan yang tepat untuk meningkatkan kemampuan guru mata pelajaran IPA Madrasah Ibtidaiyah Kota Ternate dalam memahami PTK. kurikulum pelatihan PTK yang dikembangkan didesain menurut tiga tahapan yaitu Perencanaan dengan melakukan analisis kebutuhan, dan desain kurikulum pelatihan yang meliputi :
a. Tujuan Pelatihan ; dirumuskan berdasarkan pada kompetensi yang dimiliki peserta pelatihan dan telah menggambarkan hasil akhir pelatihan (perubahan perilaku) yang ingin dicapai dan mencakup semua kompetensi dasar dari materi pokok yang akan dibahas. Tujuan pelatihan terdiri dari :
Tujuan Umum ; mencerminkan pernyataan yang menguraikan
perubahan perilaku yang ingin dicapai, yang berkaitan dengan visi dan misi lembaga penyelenggara pelatihan.
Tujuan Khusus : merupakan penjabaran dari tujuan umum.
b. Materi Pelatihan ; disusun berdasarkan kepada kompetensi dasar dan indikator yang harus dicapai oleh peserta pelatihan dengan memperhatikan urutan serta tingkat kesulitan dan kemudahan materi.
c. Metode Pelatihan ; metode yang digunakan adalah multi metode yang disesuaikan dengan karakteristik materi yaitu metode ceramah, metode tanya jawab/diskusi, metode kerja kelompok, metode latihan dan metode simulasi.
d. Evaluasi Pelatihan ; evaluasi terhadap hasil belajar dengan pre tes dan post tes, evaluasi proses dengan penilaian unjuk kerja dan pengamatan dan
158 evaluasi terhadap kesesuaian kurikulum pelatihan dengan kebutuhan peserta pelatihan.
Pelaksanaan, kurikulum pelatihan yang telah dikembangkan diimplementasikan kepada guru dalam kegiatan pelatihan oleh fasilitator, dan Evaluasi. untuk mengetahui keberhasilan dari kurikulum pelatihan yang telah dikembangkan. Evaluasi yang dilaksanakan adalah evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
3. Penerapan kurikulum pelatihan PTK sesuai hasil pengujian statistik menunjukkan peningkatan kemampuan peserta dalam memahami PTK, hal ini mengindikasikan bahwa tujuan akhir yang diharapkan telah tercapai dan kurikulum pelatihan PTK dapat dikatakan efektif. keefektifan ini dapat dilihat dari:
a. Hasil analisis dengan menggunakan normalized gain yang dilakukan baik pada tahap uji coba terbatas maupun pada tahap uji coba luas, rentang nilai rata-rata normalized gain yang diperoleh adalah 0,85 pada uji coba terbatas dan 0,50 pada uji coba luas, kedua nilai ini berada pada Kriteria keefektifan “Sangat Efektif dan Efektif”.
b. Jumlah keseluruhan perolehan nilai normalized gain kedua uji coba berada pada rentang normalized 0,68 pada kriteria “Efektif”.
4. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kurikulum pelatihan ini adalah :
a. Faktor Pendukung pelaksanaan kurikulum pelatihan ini :
1) Pengelolaan ; Pengelolaan pelatihan adalah salah satu unsur penting dalam pelaksanaan kurikulum pelatihan. Fungsi-fungsi manajemen (perencanaan, pengorganisasian, pembinaan, penilaian dan pengembangan) yang dimiliki oleh pengelola dapat menentukan tercapainya suatu tujuan pelatihan.
2) Kesesuaian kurikulum pelatihan dengan program kerja lembaga penyelenggara ; Program kerja lembaga penyelenggara, dalam hal ini Kantor Kementerian Agama Kota Ternate serta kebutuhan organisasi profesi (Kelompok Kerja Guru) yaitu peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan tujuan pelaksanaan kurikulum pelatihan untuk meningkatkan pemahaman guru tentang PTK.
3) Minat dan motivasi dari peserta pelatihan yang cukup tinggi. b. Faktor penghambat pelaksanaan kurikulum pelatihan ini adalah :
1) Fasilitator ; peran fasilitator adalah sebagai pengelola pembelajaran, dan secara ideal fasilitator disyaratkan memiliki kemampuan dasar, kemampuan akademik, kemampuan personal, kemampuan sosial, dan kemampuan vokasional, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. 2) Tidak tersedianya fasilitas gedung yang representative untuk
160 B. Rekomendasi
Hasil dari penelitian ini memberikan petunjuk bahwa temuan-temuan yang telah diperoleh dari pengembangan kurikulum pelatihan ini, secara signifikan dapat meningkatkan pemahaman guru tentang PTK. Berkenaan dengan hal tersebut, beberapa rekomondasi diajukan kepada pihak-pihak yang terkait, antara lain :
1. Balai Diklat Keagamaan Provinsi Maluku Utara
Hasil penelitian ini telah teruji efektivitasnya, oleh karena itu dapat digunakan dalam lingkup pelatihan yang lebih luas. Untuk itu hendaknya Balai Diklat Kegamaan sebagai lembaga khusus pengelola pelatihan diharapkan lebih memperhatikan kurikulum pelatihan yang relevan dengan kebutuhan peserta pelatihan, bukan hanya berorientasi pada pemenuhan dana semata. Secara empiris kurikulum pelatihan yang telah dihasilkan ini, dapat meningkatkan kemamapuan guru dalam memahami PTK yang pada akhirnya diharapkan dapat melaksanakan PTK di kelas. Oleh karena itu disarankan agar kurikulum pelatihan ini menjadi salah satu alternatif untuk diterapkan pada Balai Diklat Keagamaan dalam melakukan pelatihan bagi guru Madrasah Ibtidaiyah se provinsi Maluku Utara, sehingga terdapat kesamaan pemahaman baik dalam hal konsep maupun aplikasi tentang pelaksanaan PTK di kelas.
2. Mapendais Kantor kementerian Agama Kota Ternate
Sebagai penanggung jawab terhadap pembinaan tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan kantor Kementerian Agama Kota Ternate, hendaknya mengevaluasi secara berkala kurikulum pelatihan yang selama ini
digunakan dan dilaksanakan. Evaluasi ini untuk kepentingan perbaikan dan pengembangan kurikulum yang efektif dan efisien. Merumuskan kurikulum yang tepat dapat dilakukan dengan mamanfaatkan hasil penelitian terkait atau dengan membentuk tim penyusun kurikulum pelatihan.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh para guru terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas hasil belajar siswa, perlu mendapatkan apresiasi dari semua kalangan, terutama oleh kalangan birokrasi pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan dukungan yang lebih optimal, baik dukungan dana maupun berupa kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong timbulnya berbagai inovasi-inovasi pembelajaran dikelas.
3. Kepala Madrasah
Informasi yang dimiliki oleh kepala madrasah tentang kondisi guru, dapat dijadikan bahan masukan dan pertimbangan bagi seksi Mapendais dan Balai Diklat untuk menyusun kurikulum yang tepat. Kepala madrasah juga dapat memanfaatkan pertemuan lewat wadah Kelompok Kerja Madrasah (KKM) untuk saling memberikan masukan dan tanggapan tentang kondisi guru di madrasah masing-masing terkait dengan kemampuan guru.
Melalui KKM, rekomendasi kepala-kepala madrasah dapat disampaikan kepada Balai Diklat maupun kantor Kementerian Agama kota Ternate sebagai bahan masukan dan pertimbangan untuk perbaikan kurikulum pelatihan di lingkungan kantor Kementerian Agama kota Ternate.
162 4. Peneliti Selanjutnya
Berdasarkan hasil penelitian ini, khususnya dalam pengembangan kurikulum pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman guru tentang PTK, ditemukan beberapa hal yang masih perlu ditindak lanjuti, yakni disarankan untuk dapat melakukan penelitian lebih lanjut terhadap pengembangan kurikulum pelatihan dengan topik-topik yang lain.
Bagi peneliti selanjutnya, kiranya dapat meneliti kurikulum-kurikulum pelatihan lain yang diterapkan di seksi Mapendais atau Balai Diklat dari berbagai komponen/aspeknya, seperti jenis pelatihan yang tepat dengan kebutuhan, relevansi tujuan pelatihan dengan kebutuhan peserta, metode yang digunakan dalam pelatihan, dan lain-lain.
Hasil penelitian ini juga dapat ditindak lanjuti oleh peneliti lain untuk dapat menguji efektivitas kurikulum yang dikembangkan dengan subjek dan objek yang berbeda serta ruang lingkup yang lebih luas, sehingga hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan secara luas.