BAB VI. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
DAFTAR RUJUKAN LAMPIRAN-LAMPIRAN
J. Teknik Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian selalu terjadi prosedur pengumpulan data. Dan data tersebut terdapat bermacam-macam jenis metode. Jenis metode yang digunakan dalam pengumpulan data disesuaikan dengan sifat penelitian yang dilakukan. Dalam pengumpulan data dapat digunakan berbagai teknik pengumpulan data atau pengukuran yang disesuaikan dengan karakteristik data yang akan dikumpulkan dari responden penelitian.
Teknik yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data tersebut adalah sebagai berikut:
a. Wawancara Mendalam
Sumber data yang sangat penting dalam penelitian kualitatif adalah yang berupa manusia dalam posisi sebagai narasumber atau informan. Untuk mengumpulkan informasi dari sumber data ini maka diperlukan teknik wawancara. Wawancara (Interview) merupakan cara pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penelitian.104 Wawancara ini dilakukan secara mendalam (indepth interview), karena
103
Marzuki, Metodologi Riset, (Yogyakarta:BPFE-UI,1977),55
104
bertujuan menemukan pengalaman informan dari topik tertentu atau situasi spesifik yang dikaji. Wawancara mendalam adalah sebuah percakapan antara dua orang dengan maksud tertentu, dalam hal ini antara peneliti dengan informan, dimana percakapan yang dimaksud tidak sekedar menjawab pertanyaan dan mengetes hipotesis yang menilai sebagai istilah percakapan dalam pengertian sehari-hari, melainkan suatu percakapan yang mendalam untuk mendalami pengalaman dan makna dari pengalaman tersebut. Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data yang berupa kontruksi tentang orang, kejadian, aktifitas organisasi, perasaan motivasi dan pengakuan.105
Wawancara mempunyai arti yang sama terhadap interview, tetapi kelebihannya interview hanya menjawab pertanyaan. Sedangkan wawancara mendalam, suatu percakapam yang mendalam untuk mendalami pengalaman orang lain dan makna dari pengalaman tersebut.106
Dalam wawancara ini peneliti terlebih dahulu menyiapkan siapa yang akan diwawancarai dan menyiapkan materi yang terkait dengan lingkungan (lihat Lampiran VI). Oleh karena itu sebelum dilakukan wawancara, garis beda pertanyaan harus sesuai dengan penggalian data dan kepada siapa wawancara itu dilaksanakan. Disela percakapan itu diselipkan pertanyaan pancingan dengan tujuan untuk menggali lebih
105
W. Mantja, Etnografi Desain Penelitian Kualitatif Pendidikan dan Manajemen Pendidikan , (Malang:Winaka Media,2003),7.
106
dalam lagi tentang hal-hal yang diperlukan. Sehingga teknik wawancara ini sering disebut dengan wawancara berstruktur.
Agar tidak terlihat kaku dan menakutkan, penulis menerapkan jenis pembicaraan spontanitas. Pembicaraan dimulai dari segi umum menuju yang khusus. Penulis mengajukan pertanyaan yang bebas kepada subyek menuju fokus penelitian. Adapun hubungan antara peneliti dengan subyek yang diwawancarai adalah dalam suasana biasa dalam kehidupan sehari-hari. Setelah selesai wawancara, penulis menyusun hasil wawancara sebagai hasil catatan dasar sekaligus abstraksi untuk keperluan analisis data. Penulis menggunakan pedoman wawancara agar penulis ingat dan untuk mengarahkan kepada fokus penelitian.
Dalam melakukan wawancara, disediakan perekam suara bila diizinkan oleh informan, tetapi jika tidak diizinkan peneliti akan mencatat kemudian menyimpulkannya. Sering dialami bahwa ketika dipadukan dengan informasi yang diperoleh dari informan lain, sering bertentangan satu dengan yang lain, sehingga data yang menunjukkan ketidak sesuaian itu hendaknya dilacak kembali kepada subyek terdahulu untuk mendapatkan kebenaran atau keabsahan data. Dengan demikian wawancara tidak cukup dilakukan hanya sekali. Dalam hal ini peneliti menanyakan kepada informan tentang hal-hal yang berkenaan dengan fokus penelitian.
Setelah wawancara dengan informan pertama dianggap cukup, peneliti meminta untuk ditunjukkan informan berikutnya yang dianggap
memiliki informasi yang dibutuhkan, relecan dan memadai. Dari informan yang ditunjuk tersebut, peneliti melakukan wawancara secukupnya serta pada akhir wawancara diminta pula untuk menunjuk informan lain. Demikian seterusnya sehingga informasi yang diperoleh semakin besar dan sesuai dengan tujuan (purposive) yang terdapat dalam fokus penelitian.
Untuk melakukan wawancara yang lebih terstruktur, terlebih dahulu dipersiapkan bahan-bahan yang diangkat dari isu-isu yang dieksplorasi sebelumnya. Dalam hal ini bisa dilakukan pendalaman atau dapat pula menjaga kemungkinan terjadinya bias. Dalam kondisi tertentu jika pendalaman yang dilakukan kurang menunjukkan hasil, maka demikian hal ini harus dilakukan Persuasive, sopan dan santai.
Adapun pihak yang akan diwawancarai oleh peneliti di lapangan antara lain, kepala sekolah dan guru PAI SLB PGRI Kedungwaru dan SLB C Negeri Tulungagung.
b. Observasi Partisipan
Dalam sebuah penelitian, observasi menjadi bagian hal yang terpenting yang harus dilakukan oleh peneliti. Sebab dengan observasi keadaan subjek ataupun objek penelitian dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh seorang peneliti. Obervasi diartikan sebagai pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut107. Dalam penelitian ini dilaksanakan dengan teknik
107
observasi partisipan (participant observation), yaitu dilakukan dengan cara peneliti melibatkan diri atau berinteraksi pada kegiatan yang dilakukan oleh subyek penelitian dalam lingkungannya, selain itu juga mengumpulkan data secara sistematik dalam bentuk catatan lapangan108. Dengan komunikasi dan interaksi, peneliti mendapatkan kesempatan untuk mengetahui kebiasaan dan aktivitas disana, dan dengan melibatkan diri sebagai aktivitas subyek, sehingga tidak dianggap orang asing, melainkan sudah warga sendiri. Dengan metode observasi ini, peneliti ingin mengetahui metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang digunakan dan sesuai bagi anak tunagrahita.
Pada penelitian ini, peneliti melakukan observasi partisipan tahap pertama, yaitu dimulai dari observasi deskriptif (deskriptive observation) secara luas dengan melukiskan secara umum situasi yang terjadi di SLB PGRI dan SLB C Negeri Tulungagung (lihat lampiran X). Tahap berikutnya dilakukan observasi terfokus (focused observations) untuk menemukan apa yang dikehendaki peneliti sesuai dengan fokus penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran PAI, Usaha penentuan Metode pembelajaran PAI serta hasil dari penggunaan metode pembelajaran PAI bagi anak tunagrahita. Tahap akhir setelah dilakukan analisis dan observasi yang berulang-ulang, siadakan penyempitan lagi dengan melakukan observasi selektif (selective observation). Semua hasil
108
pengamatan selanjutanya dicatat dan direkam sebagai pengamatan lapangan (fieldnote), yang selanjutnya dilakukan refleksi.
c. Dokumentasi
Dokumentasi asal katanya dokumen yang berarti “bukti tertulis; surat-surat penting; keterangan tertulis sebagai bukti; piagam”.109Oleh
karena itu “dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti
menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah dan
sebagainya”.110
Dalam menggunakan metode dokumentasi peneliti mengumpulkan data yang berupa data sekunder atau data yang dikumpulkan oleh orang baik berupa catatan, buku, surat kabar dan lain- lain.111
Metode dokumentasi lebih mudah dibanding dengan metode yang lain karena apabila ada kekeliruan dalam penelitian sumber datanya tidak berubah dan dalam metode dokumentasi yang diamati adalah benda mati.
Keutamaan dari metode dokumentasi adalah sebagai “bukti” untuk suatu pengkajian, metode ini sesuai dengan konteks, dan metode ini mudah ditemukan dengan kajian isi.
Sesuai dengan pandangan tersebut, penulis menggunakan metode dokumentasi untuk dijadikan alat pengumpul data dari sumber bahan tertulis yang terdiri dari dokumen resmi, misalnya data guru dan siswa, sejarah sekolah dan dokumen yang tidak resmi, misalnya penulis
109
Adi Satrio, Kamus Ilmiah Populer, Sosial, Budaya, Agama, Kedokteran, Teknik, Politik, Hukum, Ekonomi, Komunikasi, Komputer, Kimia, (Visi 7: 2005), 124.
110
Suharsimi Arikunto, Prosedur..., 131.
111
memotret kegiatan yang terjadi di sekolah tersebut ketika penulis melakukan penelitian, atau bahkan dokumen diluar sekolah yang membicarakan mengenahi kondisi sekolah tempat penulis melakukan penelitian tersebut (lihat LampiranXI).
Peneliti akan melakukan pencatatan dengan lengkap dan cepat setelah data terkumpul, agar terhindar dari kemungkinan hilangnya data. Karena itu pengumpulan data dilakukan secara terus menerus dan baru berakhir jika telah terjadi kejenuhan, yaitu dengan tidak ditemukannya data baru dalam penelitian. Dengan demikian dianggap telah diperoleh pemahaman yang mendalam terhadap penelitian ini.