METODOLOGI PENELITIAN
E. Teknik Pengumpulan Data/ Instrumen
Untuk memperoleh data dari hasil penelitian dibutuhkan dua jenis
instrumen, yakni instrumen untuk mengukur hasil belajar bahasa Inggris dan
instrumen untuk mengukur motivasi belajar. Instrumen untuk mengukur
keberhasilan belajar bahasa Inggris menggunakan jenis instrumen TOEIC yang
sudah mendapat validitas secara internasional dari berbagai negara. Sedangkan
instrumen untuk mengukur motivasi belajar mahasiswa menggunakan skala
motivasi belajar yang akan divalidasi dan ditemukan koefisien realiabilitasnya.
1. Instrumen Hasil belajar bahasa Inggris
a. Definisi Konseptual Hasil Belajar bahasa Inggris
Hasil belajar bahasa Inggris dalam penelitian ini adalah
kemampuan memperoleh, memproses, dan memproduksi bahasa Inggris
sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang
mencakup keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis
dan unjuk kerja (performa) yang melibatkan aspek-aspek sosial
kebahasaan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan
memperoleh bahasa merujuk pada kawasan kognisi, memproses
informasi yang diperoleh sebagai kawasan afektif, dan memproduksi
bahasa Inggris sebagai kawasan psikomotorik.
Hasil belajar bahasa Inggris adalah skor yang meliputi keterampilan
berbicara, mendengar, membaca, dan menulis yang diperoleh dari instrumen
tes TOEIC yang mencapai nilai minimal 450 yang dikonstruksi dari hasil
penjumlahan keempat keteramplan dikalikan dengan seratus kemudian
dibagi dengan empat.
Untuk menggambarkan secara jelas tentang bagaimana mahasiswa
mendapat nilai dalam masing-masing keterampilan bahasa Inggris dapat
dijelaskan dengan contoh berikut. jika seorang mahasiswa mendapat skor
dalam keterampilan sebagai berikut:
1. Mendengar : 50
2. Membaca : 40
3. Berbicara ; 40
4. Menulis dan Gramar : 40
Maka keempat keterampilan tersebut dijumlahkan menjadi 170 X 10 = 1700 :
4 = 425. Jadi, skor 425 itulah yang menjadi hasil belajar bahasa Inggris dalam
penelitian ini.
c. Kisi- kisi Instrumen
1. Kisi – Kisi Instrumen Hasil Belajar bahasa Inggris
Untuk memperoleh hasil belajar bahasa Inggris, maka dipilih tes yang
sudah baku dan sudah divalidasi dan berlaku umum secara internasional. Hal
ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana kemampuan bahasa Inggris yang
dimilki mahasiswa UIN Aalauddin itu dapat berlaku umum di seluruh dunia.
NO Keterampilan Indikator Bobot Penilaian Jumlah Butir 1 Mendengar Mampu mendengar dialog pendek, dialog panjang, dan monolog yang berisi academic English . 50 50 2 Membaca Mampu membaca wacana sederhan, wacana akademik, dan wacana bebas 50 50 3 Berbicara Mampu mengungkap pengalaman hidup secara individu, menyelesaikan permasalahan secara lisan 80 2
4 Menulis Menulis hasil
bacaan di dalam tabel, opini, dan bebrbagai solusi yang diberikan
100 2
Jumlah 280 104
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa untuk instrumen hasil belajar
bahasa Inggris, peneliti tidak perlu melakukan uji validitas, perhitungan
reliabilitas dan tes untuk analisis butir soal karena tes tersebut sudah
dilakukan uji coba dan telah menjadi standar bagi seluruh dunia.
2. Instrumen untuk Mengukur Motivasi Belajar a. Definsi Konseptual motivasi Belajar
Motivasi belajar dalam penelitian ini adalah segala bentuk dorongan
baik yang berasal dari luar (ekternal) maupun yang tumbuh dari dalam diri
mahasiswa (internal) yang mengarahkan perhatian, membangun relevansi
dan kepercayaan diri, serta menciptakan kepuasan belajar guna memperoleh
pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Tes motivasi belajar dalam penelitian ini mencakup aspek hadirnya
perhatian, menguatnya relevansi, meningkatnya kepercayaan diri, dan
tumbuhnya kepuasaan yang diakibatkan oleh pengalaman belajar dan
lingkungan. Oleh karena itu, untuk mengukur apakah mahasiswa itu memiliki
motivasi yang tinggi atau rendah akan digunakan acuan tes yang dibuat oleh
Jhon Keller dengan melakukan ujicoba di Indonesia.
b. Definisi Operasional Motivasi belajar
Motivasi belajar adalah skor yang mencakup aspek-aspek perhatian,
relevansi, kepercayaan diri, dan kepuasaan yang diperoleh mahasiswa dalam
menjawab serangkaian pertanyaan yang disusun dengan mengikuti
komponen-komponen yang telah diberikan oleh Jhon Keller.
c. Kisi-kisi Instrumen Motivasi Belajar
Berdasarkan definisi operasional di atas, maka kisi-kisi instrumen
motivasi belajar dapat disusun.
Tabel 4. Kisi-Kisi Instrumen Motivasi Belajar
NO KOMPONEN INDIKATOR BUTIRJML
1 Perhatian - Ketertarikan pada mata kuliah atau pelajaran yang diberikan
2 3 4 Relevansi Kepercayaan Diri Kepuasan
- Rasa ingin tahu terhadap isi mata kuliah - Kebertahanan minat pada materi kuliah - Tujuan belajar
- Kesesuaian dan kepedulian terhadap tugas - Kemampuan mengaitkan pelajaran dengan Pengalaman
- Harapan positif - Harapan sukses
- Kontrol terhadap kemampuan diri
- Kesempatan menggunakan pengetahuan yang diperoleh
- Pandangan terhadap apresiasi prestasi - Keinginan untuk mensaring pengetahuan
dengan yang lain.
6 6 6 6 Jumlah Butir 24 d. Kalibrasi Instrumen
Untuk mengetahui sejauh mana tingkat validitas dan reliabilitas
suatu instrumen, maka perlu dilakukan diujicoba lebih dulu sebelum
memberikan langsung kepada mahasiswa. Uji validitas dalam penelitian ini
dimaksudkan untuk mengukur sejauhmana tingkat kesahihannya sehingga
dapat mengukur secara tepat variable motivasi belajar bahasa Inggris
mahasiswa yang akan diukur. Di samping itu, instrumen ini juga perlu diuji
keterandalannya atau reliabilitasnya untuk untuk mendapatkan hasil yang
sama setelah melakukan ujicoba berkali-kali
1. Uji Validitas
Uji validitas instrumen yang mencakup 24 item dilakukan dengan
menggunakan teknik Product Mement untuk mengukur tingkat kesahihan
mengukur motivasi belajar bahasa Inggris mahasiswa dan item yang mana
yang tidak perlu digunakan.
2. Perhitungan reliabilitas
Berdasarkan hasil uji validitas dari instrumen 24 item tersebut kemudian
menyeleksi butir-butir yang memenuhi persyaratan untuk digunakan, maka
dilakukan analisis untuk mengetahui reliabilitasnya dengan menggunakan
formula Alpha Cronbach.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan
yang terdiri atas 24 item untuk mengetahui tinggi atau rendahnya motivasi
belajar mahasiswa dan bukan dalam bentuk tes untuk mengungkap
kemampuan. Dengan demikian, peneliti tidak menggunakan analisis butir
soal guna untuk mengetahui daya beda, tingkat kesulitan, dan fungsi
pengecoh.