• Tidak ada hasil yang ditemukan

G. Metodologi 1. Metode Penelitian

3. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini termasuk penelitian lapangan dan penelitian pustaka. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian ini adalah melalui wawancara dan perekaman. Data yang dikumpulkan dalam bentuk catatan lapangan,

70 catatan hasil wawancara terstruktur, transkripsi rekaman, tulisan hasil wawancara mendalam, gambar/ rekaman foto objek yang relevan. Pengumpulan data tersebut diibaratkan seperti bola salju yang terus menggelinding sampai satu titik yang dianggap sudah memadai (Aminuddin, 1998: 5). Penelitian pustaka dilakukan untuk memperoleh data berupa buku, artikel, hasil penelitian, dan dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan penelitian sastra lisan.

Penelitian ini adalah studi mengenai sastra lisan. Pengertian sastra lisan pada penelitian ini adalah karya sastra yang diciptakan dan disampaikan secara lisan dengan mulut melalui pertunjukan ataupun di luarnya. Dengan demikian, data teks dikumpulkan dari semua informan, yakni pasinrilik sebagai penutur, tokoh-tokoh masyarakat, dan penikmat yang memiliki kaitan dengan sastra lisan SKT. Untuk memperoleh informasi tentang sastra lisan SKT, harus dilakukan kerja lapangan. Penelitian lapangan (Field Research) merupakan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, sangat erat berkaitan dengan pengamatan berperan serta (Moleong, 2008: 26). Peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama yang akan berperan serta secara aktif dalam kegiatan penelitian.

Penelitian terhadap sastra lisan Sinrilik Kappalak Tallumbatua ini dimaksudkan untuk melihat formula pembentuk teks antara pasinrilik yang melek huruf dan buta huruf latin, fungsi, nilai-nilai, dan resepsi yang terdapat di dalamnya. Teks SKT tersebut dikumpulkan melalui wawancara dan perekaman, selanjutnya

71 ditranskripsikan setelah itu dilakukan penerjemahan dan analisis menggunakan teori yang telah disebutkan sebelumnya.

a. Wawancara

Untuk pengumpulan data di lapangan digunakan wawancara. Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak dengan maksud tertentu (Moleong, 2008: 186). Menurut Denzin dan Lincoln (2000: 501) wawancara ada tiga macam; terstruktur (structured), semi-terstruktur (semi-stuctured), dan tidak terstruktur (unstructured). Bentuk wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur atau yang terarah (directed) dan yang tidak terstruktur atau tidak terarah (non directed) (Danandjaya, 1984: 187).

Wawancara terarah adalah wawancara yang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada informan sudah disusun sebelumnya. Hal ini berbeda dengan wawancara yang tidak terarah. Wawancara ini merupakan wawancara yang sifatnya bebas dan memberi kesempatan kepada informan untuk memberikan keterangan yang sebesar-besarnya mengenai hal-hal yang ditanyakan (lihat juga Moleong, 2008: 190).

Dalam penelitian SKT ini, wawancara dilakukan kepada para pasinrilik untuk memperoleh data sesuai dengan yang diinginkan. Wawancara juga dilakukan kepada para budayawan atau pun orang-orang yang mengerti tentang data-data yang berkaitan dengan penelitian. Wawancara dilakukan dengan mendatangi sumber di tempatnya untuk mendapatkan data sesuai dengan penelitian.

72

b. Perekaman

Strategi pengumpulan data13 teks Sinrilik Kappalak Tallumbatua dalam penelitian ini dilakukan dengan cara perekaman di lapangan melalui para informan langsung, yakni tukang cerita (pasinrilik) yang memiliki pengetahuan dan kemampuan terhadap SKT. Perekaman dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, perekaman dalam konteks asli (natural) dan kedua, perekaman dalam konteks tidak asli atau perekaman yang sengaja diadakan (Hutomo, 1991: 77). Dalam penelitian ini, perekaman SKT dilakukan dengan memanfaatkan kedua cara tersebut.

Sulastin (1981: 9) mengatakan bahwa dalam penelitian sastra lisan, pengumpulan bahan penelitian berlangsung dengan berbagai cara, antara lain melalui informan, melalui perekaman ataupun catatan dari orang (tua-tua) yang masih segar menyimpan cerita-cerita turun-temurun itu dalam ingatannya, atau melalui orang-orang yang ahli dan pandai menyanyikan cerita-cerita tersebut. Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati –dalam penelitian ini adalah teks14 dan konteks— atau diwawancarai merupakan sumber data yang utama. Untuk mewujudkan hal tersebut, upaya perekaman terhadap objek merupakan proses yang sangat penting

13

Data dikumpulkan dalam bentuk catatan lapangan, catatan hasil wawancara terstruktur, transkripsi rekaman, tulisan hasil wawancara mendalam, gambar/ rekaman foto objek yang relevan. Pengumpulan data tersebut diibaratkan seperti bola salju yang terus menggelinding sampai satu titik yang dianggap sudah memadai (Aminuddin, 1998: 5).

14 Menurut Koster (1995: 6 dan 1998: 37-38) teks tidak terbatas pada cerita yang disampaikan saja, tetapi meliputi juga unsur-unsur seperti bunyi suara pencerita, musik yang mengiringi, gerak-gerik, alat-alat yang digunakan, upacara yang mengiringi, dan sebagainya. Teks dalam sastra lisan merupakan sebuah”Gesamtkunstwerk” hasil penggabungan beberapa bentuk seni, bukan hanya hasil seni kata saja. Itulah sebabnya edisi teks-teks sastra lisan yang diterbitkan sarjana Belanda dan Inggris dulu, saat ini dirasa kurang memuaskan sebagai sumber pengetahuan tentang sastra lisan.

73 dalam penelitian sastra lisan. Hasil rekaman kemudian ditranskripsikan ke dalam bentuk tulisan.

Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman video/ audio, tapes, pengambilan foto, dan film (Moleong, 2008: 157). Dengan demikian, data teks Sinrilik Kappalak Tallumbatua direkam terlebih dahulu sebelum ditranskripsikan dalam bentuk tertulis. Hal ini berarti bahwa terjadi pengalihan wacana dari wacana lisan (oral discourse) ke dalam bentuk tulisan (written

discourse).

Beralihnya wacana dari bentuk lisan ke dalam bentuk tulisan, dalam penelitian tradisi lisan, menimbulkan masalah tersendiri disebabkan posisi tulisan telah menggantikan kedudukan lisan/bicara. Menurut Kleden (1998: 6), dampak yang ditimbulkan dari peralihan ini adalah (1). dalam wacana lisan, terjadi dialog karena ada hubungan langsung antara pembicara/tukang cerita dan pendengarnya, tidak demikian halnya dengan tulisan; (2) dalam wacana lisan, intensi pembicara/tukang cerita mempunyai sasaran yang jelas, yaitu pendengarnya, wacana tulisan tidak mempunyai sasaran yang jelas; (3) dalam wacana lisan, intensi pembicara/tukang cerita tumpang-tindih dengan makna ujaran, dalam tulisan hal tersebut tidak terjadi. Hal ini terjadi karena pembicara/tukang cerita mengaktualisasikan bahasa dengan mimik dan gerakan-gerakan.

Dengan mempertimbangkan hal-hal yang telah dikemukakan sebelumnya, dalam penelitian Sinrilik Kappalak Tallumbatua ini, diperlukan pemindahan sense yang ideal ke dalam bentuk referensi yang nyata. Berdasarkan aturan-aturan tertentu,

74 wacana lisan dapat ditransformasikan ke dalam bentuk teks tulisan. Dengan demikian, transkripsi atau pemindahan tanda-tanda bicara ke dalam bentuk tulisan dapat dilakukan. Istilah transkripsi juga cocok untuk pemindahan atau pengalihan materi lisan, misalnya, dari rekaman ke dalam tulisan (Robson, 1994: 66). Dalam penelitian ini, teks lisan15 yang telah direkam akan dipindahkan dalam bentuk teks tertulis.

Dokumen terkait