BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III.3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah : a. Studi dokumenter, yaitu data-data unit analisis yang dikumpulkan dengan
cara men-downloaddata dari situs Metro TV.
b. Studi kepustakaan, yaitu penelitian dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data melalui literature dan sumber bacaan yang relevan dan mendukung penelitian. Dalam hal ini penelitian kepustakaan dilakukan dengan membaca buku-buku, literature serta tulisan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.
III.4. TEKNIK ANALISIS DATA
Penelitian ini akan memusatkan pada penelitian kualitatif dengan perangkat metode analisis isi memakai analisis framing.
Tabel 1. Isi Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta I
No Nama Komunikator Isi Dialog
Tabel 2. Isi Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta II
No Nama Komunikator Isi Dialog
Tabel 3.Frame Isi Pemberitaan Pendefenisian Masalah
Memeperkirakan Masalah
Memebuat Keputusan Moral
BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1. FRAME PEMBERITAAN KEKERASAN TERHADAP JEMAAH AHMADIYAH PADA TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE
Ahmadiyah ini merupakan sebuah berita yang tidak akan dilewatkan oleh media manapun.Provocative Proactive menanggapi peristiwa penting tersebut dengan mengangkat peristiwa ini sebagai tema dalam tayangan ini sampai dua episode.Pada tanggal 10 Februari 2011 Provocative Proactive tayang dengan judul Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I). Dimana pada episode ini Provocative Proactive banyak membahas tentang latar belakang, dan permasalahan apa yang terjadi pada kasus ini. Dan pada tanggal 17 Februari 2011 Provocative Proactive tayang dengan judul Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II). Dimana pada episode ini Provocative Proactive banyak membahas tentang siapa dalang dan apa tindakan yang harus diambil untuk menyelesaikan kasus ini.
IV.2. PEMBAHASAN
Provocative Proactive membuat sebuah ruang khusus guna melihat bagaimana pola framing yang digunakan dalam mengkonstruksi berita kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah.Pada bagian pembahasan ini, seluruh isi tayangan dianalisis dengan menggunakan perangkat framing model Robert Entman.Robert Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek-aspek tertentu. Selanjutnya, Entman kemudian mengonsepsikan dua dimensi tersebut ke dalam sebuah perangkat framing, yaitu:
1. Definisi masalah (Defining Problems), yaitu mengartikan atau menjelaskan masalah apa yang akan diberitakan.
2. Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Causes) adalah melihat penyebab masalah yang akan diberitakan.
moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah atau nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi tindakan.
4. Menekankan penyelesaian (Treatment Recommendation) adalah penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah. Elemen yang dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki wartawan, maksudnya jalan apa yang dipilih oleh wartawan untuk menyelesaikan suatu masalah.
Berikut merupakan pembahasan dari frame pemberitaan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiya pada tayangan Provocative Proactive.
IV.2.1. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I)
Definisi Masalah (Defining Problems)
Provocative Proactive mengidentifikasi kasus kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah sebagai masalah hukum yang berkaitan dengan isu agama. Frame yang dikembangkan oleh Provocative Proactive sebagai masalah hukum terkait dengan sejumlah aksi kekerasan yang terjadi di Indonesia dan yang berkaitan dengan isu agama. Provocative Proactive memaknai aksi kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahmadiah adalah sebagai kejahatan manusia. Betapa tidak, aksi kekerasan sekelompok massa atau organisasi masyarakat telah merenggut korban jiwa, luka dan belum lagi efek psikologis.
Jossy : “Itu pemikiran orang primitif banget… itu pemikiran khas seorang mahasiswa yang fundamentalis. Dikit-dikit bakar, dikit-dikit rusuh apa bedanya llu dengan mereka? Cuma bedanya lu agak bersihan dikit aja lagi. Kemarin masih segar diingatan kita, kejadian Ahmadiyah sampai 3 orang tewas, luka-luka belum lagi efek psikologis sama mereka gara-gara itu.”
Panji : “Tapi kan gini kalo kita ngomong SKB 3 Menteri, saya baca butir ke 4 dari 6 butir, memerintahkan kepada warga masyarakat untuk menjaga kerukunan umat beragama dan segala macamnya dibilang bahwa tidak melakukan tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, pengurus
tindakan kekerasan”
Masalah kekerasan terhadap jemaah Ahmadiya sudah berulang kali terjadi di Indonesia.Ahmadiyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam pada tahun 1889, dan mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1925. Dan sejak diakui oleh pemerintah Hindia Belanda, Ahmadiyah terus berkembang dalam dua kelompok aliran, Ahmadiyah Qadian (Jemaah Ahmadiyah Indonesia) yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam adalah seorang mujaddid dan seorang nabi. Dan yang terakhir adalah Ahmadiyah Lahore ( Gerakan Ahmadiyah Indonesia) yang menganggap Mirza Ghulam hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam. Hal itulah yang membuat Islam menyatakan bahwa Jemaah Ahmadiyah Indonesia telah menistakan agama Islam.Dan untuk mengatasi masalah ini maka pemerintah mengeluarkan SKB 3 Menteri yang salah satu dalam poin SKB ini adalah melarang melakukan tindakan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah.
Ulil Abshar : “Jadi di SKb itu ada yang beberapa point yang penting ditegaskan. Yang pertama boleh eksis tapi tidak boleh menyebarkan agamanya.Yang kedua kelompok masyarakat dilarang untuk melakukan tindakan yang kekerasan untuk menyerang Ahmadiyah itu.Nah tidak boleh, maslahnya sekarang ini adalah SKB ini tidak ditegakkan.”
Tapi ternyata SKB 3 Menteri ini tidak menyelesaikan masalah karena kasus kekerasan terhadap Ahmadiya masih berlanjut. Walaupun sebenarnya bisa dibilang Ahmadiyah juga melakukan pelanggaran juga, tapi bukan berarti mereka bisa diserang atau dihakimi oleh massa. Karena jemaah Ahmadiyah juga adalah warga Negara Indonesia dan mereka juga memilki hak-hak untuk dilindungi konstitusi.
Jossy : “…Orang bisa melanggar, massa juga boleh marah, tapi bukan berarti marah jadi ngasih mereka hak untuk bikin kerusuhan kayak gitu dong...”
Panji : “…Bahwa biar bagaimana pun juga Ahmadiyah itu mereka juga bagian dari Negara Republik Indonesia. Jadi mereka juga ada hak-hak yang
ditetapkan dan dilindungi oleh konstitutusi.Udah dikasih tau gitu bukan berarti anggaplah mereka memang salah tapi bukan berarti mereka boleh langsung dihukum. Ibaratnya ada maling jelas maling salah bukan berarti lu boleh bakar dan gebukin maling kan?”
Namun ada yang aneh terjadi pada kasus ini. Pihak kepolisian sudah mengetahui terlebih dahulu bahwa ada sekolompok massa yang akan datang dan menyerang Ahmadiyah. Tapi pada saat kejadian polisi tampak hanya sebagai “pengingat” yang mengingatkan jemaah Ahmadiyah bahwa ada massa yang akan menyerang mereka dan ketika bentroka sudah terjadi polisi tidak bisa melaksanakan tugasnya sebagai pelindung warga Negara Indonesia. Polisi seakan takut untuk bertindak tegas, Provocative Proactive menyelipkan sindiran kepada kepolisian dengan mempersonifikasi kepolisian dengan alarm yang berfungsi untuk mengingatkan waktu.
Jossy : “Kapolri setempat ngasih Warning sama mereka, tapi kan warning awalnya gak digubris oleh mereka. Karna mungkin mereka gak tahu versi sebenarnya, versi lengkapnya. Kalau misalnya Polisi ngasih informasi lengkap ni akan ada ribuan orang yang datang ya gak mungkinlah si jemaah Ahmadiyah itu nekad bertahan diantara ribuan orang.”
Jossy : “Tugas polisi Indonesia sebenarnya sebagai pelindung atau pengingat ya?”
Ronald : “Pengingat??? Alarm dong…”
Memperkirakan Sumber Masalah (Diagnose Causes)
Dalam keseluruhan isi tayangan Provocative Proactive pada episode KDRT I ketidak tegasan pemerintah diposisikan sebagai sumber masalah pertama.Pemerintah ditempatkan sebagai sebab yang mengakibatkan berbagai masalah kekerasan di Indonesia terus terjadi.Masalah diletakkan pada pemerintah, pihak yang seharusnya dapat mengahalangi peristiwa ini terjadi.Hal ini dapat dilihat dari bagaimana suatu dialog dari Jossy pada episode KDRT I, bahwa
diambil.Selain itu dramatisasi yang ditayangakan Provocative Proactive dari sebuah film Holliwood yang berjudul 300.Dalam dramatisasi ini ditonjolkan seorang pemimpin yang lama sekali berpikir dan mengambil keputusan, bahkan ngawur. Seperti dalam dialog berikut ini :
Jossy : “Tapi emang iya… gue sih emang prihatin.”
Ronald : “Hati-hati ngomong kata itu ya…! Gak boleh sembarangn ngomong kata prihatin… Gak boleh… itu pak bos yang punya.Yang boleh ngomong itu hanya pak bos. Kalo lu ngomong kek gitu lu melangkahi wewenang beliau..”
Utusan Persia : “Saya lihat penganiayaan dan pengurasakans sering terjadi. Gimana menurut bapak?”
Raja : “Hmm…hmm…”
Utusan Persia : “(dalam hati) "aduh lama seperti biasa.."
Raja : “Saya prihatin! Well, tapi apa yang mau dikata ini negara hukum saya tidak bisa interfensi dan biarkan saja hukum yang berjalan”
Utusan Persia : “Gini aja pak, bapak cukup bilang prihatin kok”
Raja : “(dalam hati) "ku tanyakan saja pada rumput yang bergoyang… ah!tidak ada rumput disekitar sini..ah! Jauh dan panas lagi, ku tanyakan saja pada istri dan a…eh ini bukan istriku… dan ini bukan anak-anakku.Nah, ini baru istriku cantik bukan? Eh, kok jadi ngelantur? persoalan ini belum selesai. Baiklah... haa...”
Pembiaran-pembiaran yang dilakukan pemerintah inilah yang akhirnya menimbulkan pembiakan akan kasus kekerasan di Indonesia. Pemerintah tampak ragu-ragu dan tidak tegas dalam mengahadapi dan menyelesaikan masalah jemaah Ahmadiyah ini.
Panji : “…Kalau dalam konteks kecil saja ada pembiaran, ngerti gak maksud gue??? Ah maling aja boleh gebukin gitu ya… yah mungkin ngeliat orang lain ngelakuin kerusuhan ya dia lompat kesitu!”
Jossy : “…pembiaran itu adalah awal dari pembiakan!!! Lu biarin…biarin…lama-lama berkembang biak, akhirnya makin ramai.”
Ketidaktegasan pemerintah adalah pihak yang paling patut untuk dipersalahkan akibat tindakan kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah selama ini.Ketidaktegasan pemerintah yang melakukan pembiaran pada kasus-kasus kecil dan akhirnya berujung pada pembiakan pada kasus besar semacam ini.
Membuat Keputusan Moral (Make Moral Judgement Evaluation)
Penilaian moral yang dikenakan kepada pemerintah tampak pada sikap pemerintah yang lambat dalam menangani kasus ini.Pembiaran yang dilakuakan pemerintah pada kasus kecil akhirnya berujung pada pembiakan, yang akhirnya semakin banyak terjadi kasus serupa bahakan semakin besar.Dari ketidaktegasan pemerintah dalam menghadapi kasus Ahmadiyah, dan ketidak tegasan pemerintah dalam menegakkan keadilan dalam kasus ini.Buktinya sampai sekarang belum ada pihak yang bersalah dihukum.Provocative Proactive mengidentifikasi adanya ketakutan atau keraguan dalam mengahadapi masalah ini karena pemerintah dianggap takut terlalu konfrotasi dengan Islam.
Ulil Abshar : “….Kalau tidak ada ketegasan dari Pemerintah terhadap mereka memang repot. dan sekarang kita saksikan menyebarnya Vigilante semacam ini antara lain memang tampaknya Pemerintah ragu-ragu untuk menindak mereka ini. Karna memang masalahnya Vigilante yang satu ini memakai baju agama.”
Panji : “…Kalau dalam konteks kecil saja ada pembiaran, ngerti gak maksud gue??? Ah maling aja boleh gebukin gitu ya… yah mungkin ngeliat orang lain ngelakuin kerusuhan ya dia lompat kesitu!”
Panji : “…tapi bisa aja udah kepolisian gak bisa tegas atau ragu karena dia gak mau kelihatan konfrotatif banget dengan islam kesannya polisi itu jadi ragu. Karena kalau gue terlalu konfrotatif nanti jadi lo tau kan??” Menekankan Penyelesaian (Treatment Recommendation)
Tindakan kekerasan terhadap jemaah Amadiyah merupakan tindakan pelanggaran hukum.Provocative Proactive merekomendasikan supaya pemerintah bertindak tegas dalam menyelesaikan masalah ini.Pembiaran yang dilakukan pemerintah dalam skala kecil harus segera diperbaiki supaya tidak berujung pada pembiakan.Walaupun kasus ini berkaitan dengan isu agama yang memang sangat sensitive, pemerintah tidak boleh ragu dalam mengatasi dan mengambil
haruslah mendapat hukuman yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.Karena Indonesia adalah negara hukum yang mempunyai Undang-Undang dan konstitusi.Jemaah Ahmadiyah adalah warga negara Indonesia dan mereka mempunyai hak untuk dilindungi oleh konstitusi.Pemerintah juga harus merangkul para tokoh agama supaya melalui mereka bisa menimbulkan suatu pemahaman yang bisa menolerir, menoleransi, dan memungkinkan perbedaan itu diterima.
Ulil Abshar : “….Kalau tidak ada ketegasan dari Pemerintah terhadap mereka memang repot. dan sekarang kita saksikan menyebarnya Vigilante semacam ini antara lain memang tampaknya Pemerintah ragu-ragu untuk menindak mereka ini. Karna memang masalahnya Vigilante yang satu ini memakai baju agama….Pemerintah paling utama tentunya, terutama penegak keamanan dalam hal ini kepolisisan, tapi yang penting adalah masyarakat juga, terutama tokoh-tokoh agama.Saya kira penting juga dilambangkan suatu pemahaman yang menolerir atau menoleransi atau memungkinkan perbedaan itu diterima.Itu yang paling penting, sebab prinsip saya sebagai seorang muslim adalah saya bisa saja bahwa anda itu adalah sesat, tapi saya kan tidak bisa memukuli anda, menyerang anda atau apapun tidak bisa itu.”
Selain itu Provocative Proactive juga merekomendasikan supaya masyarakat Indonesia mulai berubah dari kebiasaan yang mudah terprovokasi dan main hakim sendiri.Seharusnya masyarakat Indonesia harus lebih bijak dalam mengahadapi isu-isu yang bisa merusak persatuan Indonesia.Masyarakat juga harus mendukung pemerintah dalam bertindak tegas untuk menyelesaikan masalah ini.
Panji : “Masyarakat itu banyak yang percaya dengan sms-sms yang disirkulasikan, padahal seharusnya masyarakat ngas-kus tu.. Kalo di Kas-kus kan ada No Pict = Hoax Gan maksus gue ada itunya… Gue-gue fikir-fikir dan jarang gue mikir sebenarnya, masyarakat Indonesia itu harus hati-hati kalau bersikap. Kita gak boleh buru-buru mengecap bahwa masyarakat Indonesia itu secara keseluruhan pelaku kekerasan bahkan anarkis ya… Anarkis sejarah definisi beda lagi. Gue takutnya orang-orang bilang, wah! orang Indonesia
ternyata orangnya sangar-sangar, kekerasan. Padahal kalo kita fikir-fikir, perhatiin sebenarnya itu digerakkan.Ada yang menggerakkan, sangat teratur dan sangat tertata. Dan kalau lu perhatiin aja sendiri ada pita-pita biru seperti mengkode gitu. Jadi di lapangan itu lu tahu siapa-siapa yang temen. jadi makanya, kita jangan terus-terus ah gilak ni Indonesia ternyata begini banget! Biadab! ini ada oknum yang memang di arahin. Kita harus hati-hati menyikapinya.”
Frame I : Kasus Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Adalah Masalah Hukum yang Berkaitan Dengan Isu Agama
Define Problems Masalah hukum yang berkaitan dengan isu agama
Diagnose Causes Ketidaktegasan Pemerintah
Make Moral Judgement/Evaluation Pemerintah melakukan pembiaran yang akhirnya berujung pada pembiakan
Treatment Recommendation 1. Pemerintah harus tegas dalam menyelesaikan masalah ini sesuai dengan hukum yang berlaku
2. Masayarakat Indonesia supaya tidak mudah terprovokasi dan main hakim sendiri
IV.2.2. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II)
Provocative Proactive mengidentifikasi kasus kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah sebagai pengalihan isu.Provocative Proactive memaknai aksi kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahmadiah sebenarnya digerakkan, diorganisir dengan baik, dan ada dalangnya.Singkatnya ada teori konspirasi dibalik kasus ini.
Panji : “Kalo menurut gua sih melihat kekerasan yang terjadi belakangan ini, banyaknya sih kesimpang siuran dan memang faktanya kadang bikin tambah panas. Tapi gua merasa ini sebenarnya digerakin man… diorganisir dengan baik, ada dalangnya istilahnya ada teori konspirasi dibalik semuanya ini. Jadi gimana kalo kita semuanya keluarin teorinya masing-masing, menurut kita semua kekerasan yang terjadi belakangan ini apa penyebabnya? Apakah benar-benar ada sesuatu dalangnya atau apa…”
Provocative Proactive memaparkan kemungkinan teori konspirasi yang terjadi di balik kasus kekerasan ini dalam 4 teori.Yang pertama, ada kemungkinan pihak minoritas yang memulai provokasi kepada kelompok mayoritas.
Raditya :“…Kalo menurut gua yang memuali provokasinya duluan. Dan gua curiga ada kelompok-kelompok minoritas yang untuk mencoba memulai untuk memprovokasi kepada kelompok mayoritas.”
Yang kedua adalah memang masyarakat Indonesia yang memang suka dengan kekerasan. Masyarakat Indonesia yang memang mudah kesulut dengan isu-isu yang belum tahu kepastian faktanya.
Ronal : “Jadi teori gua itu sederhana kalo soal kekerasan. Memang masyarakat nya aja yang doyan kekerasan.Jadi memang menurut gua masayarakat sekarang gampang kesulut.Dan penyelesaiannya gampang, gak usah bikin ribet bikin sederhana aja, yang bersalah tangkap, adili dan hokum.Udah selesai!”
Yang ketiga adalah, ada pihak yang ingin menggulingkan pemerintahan.Ada pihak yang sakit hati dengan pemerintahan sekarang.
Jossy : “Kalo menurut gua, tadinya bukan menurut gua sih, memang sudah terbukti dari orang-orang yang ada di lapangan, yang mereka report ke gua, ini memang ada pihak kalangan atas yang bermain. Jadi ini memang ada kalangan orang-orang yang punya sakit hati.Yang juga kalangan militer yang memang pengen menggulingkan Presiden SBY. Serius!! Gua ini gak bercanda! Ini
memang terjadi di Negara kita, itu ada pihak-pihak yang memang mereka punya kepentingan tertentu untuk menggulingkan Presiden SBY, jadi serangkaian kegiatan yang terjadi sekarang ini itu semua muatannya ujungnya ke sana.”
Dan yang terakhir adalah, kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiya adalah sebuah pengalihan isu.Dan dalam hal ini Provocative Proactive kemungkinan ini memperkuat dengan menampilakan tabel pengalihan isu yang terjadi di Indonesia yang terkait dengan kekerasan (Tabel 3).Dan dalam tabel itu ada 2 kali jemaah Ahmadiya menjadi korban.
Panji :“Kalo menurut gua ada teori sendiri, bahwa kekerasan yang terjadi belakangan ini dalang nya itu bukan 1 pihak spesifik. Tapi siapa pun yang saat itu sedang terdesak lewat media. Misalnya ni, ada sebuah kasus yang misalnya memberatkan sosok A. sosok A gak suka difokus sama media dia bikin pengalihan isu. Misalnya di berita ada rekening gendut lagi dibahas.Nanti pihak tersebut karna terdesak bikin, jadi ini sudah kayak kebiasaan, supaya gak diserang mulu.Dia bikin lah pengalihan isu, sesuatu yang disayangkan dan memecah persatuan.Contoh kasusnya kalau kita fikir-fikir rekening gendut kepolisian kemarin mau diusik.Ada kejadian kekerasan setelah itu.Bahkan kalo difikir-fikir kalau setiap kali ada kekerasan dan pemecahbelahan di Indonesia, sebelumnya itu ada kasus besar yang menjadi focus media, Cuma dialihin.Tapi memang bangsa Indonesia mudah banget dialihin perhatiannya.”
Memperkirakan Sumber Masalah (Diagnose Causes)\
Provocative Proactive juga memposisikan FPI (Front Pembela Islam) sebagai sumber masalah.FPI ditempatkan sebagai sumber masalah karena FPI dianggap sebagai pelaku kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah. Walaupun banyak saksi yang mengatakan bahwa yang melakukan kekerasan itu adalah hanya massa saja, tetapi ketika Presiden SBY berpidato mengatakan bahwa harus ada tindakan tegas kepada organisasi masyarakat yang melakukan kekerasan. FPI langsung bereaksi dan melakukan aksi yang sangat berani dengan mengeluarkan ancaman apabila FPI mau dibubarkan maka FPI akan memesirkan Indonesia
(menggulingkan pemerintahan). Selain itu di You Tube juga ada pidato yang diunggah FPI yang mengatakan bahwa Ahmadiyah itu boleh dibunuh.
Panji : “Karena emang waktu itu Presiden konteksnya adalah ngomong kalo ada ormas yang meresahkan berlakuk kekerasan akan dibubarin. Tapi kan waktu itu pak Presiden gak nyebut, mungkin dia agak-agak sengsi atau geer atau gimana gitu ya…. Kenapa dia yang jadi marah-marah?”
Jossy : “…ingat Arab ingat Mesir, ngomong Mesir jadi ingat ucapannya si ormas yang bilang mau memesirkan Indonesia.”
Panji : “…itu di You Tube juga ada video yang dibikin FPI pidato kalo Ahmadiyah itu boleh dibunuh. Ada itu.”
Berdasarkan analisa narasumber/bintang tamu Provocative Proactive, Budiman Sujadmiko (Anggota DPR Komisi II) FPI itu sebuah organisasi Islam yang sebenarnya tidak memilki ideologi Islam.Mereka bukan lah sebuah gerakan yang betul-betul punya agenda gerakan Islam, tapi pergerakan yang bergerak berdasarkan order.Dan kemudian mereka memakai symbol-simbol agama sebagai tabir sci yang menutupinya.Bahkan Budiman menegaskan ada banyak kesaksian orang bahwa banyak tempat hiburan yang tidak pernah menjadi sasaran penggebrekan mereka karena lebih dahulu sudah ada transaksi.
Budiman : “…kalo saya melihat FPI sebenarnya bukan gerakan terideologis. …Mereka bukan sebuah gerakan yang betul-betul punya agenda gerakan islam. … Kalo saya lihat jumlah, pergerakan yang bergerak berdasarkan order.Nah, disini persoalannya, bahwa itu kemudian memakai symbol-simbol agama ya, kemudian itu dianggap ada tabir suci yang menutupi itu semua. Sebenarnya banyak kesaksian yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok ini juga melakukan transaksi dengan beberapa tempat hiburan tertentu, dan tempat hiburan itu tidak pernah menjadi sasaran penggrebekan mereka oleh karena…” FPI adalah pihak yang paling patut untuk dipersalahkan akibat tindakan kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah selama ini.FPI sebagi organisasi masyarakat Islam yang tidak memiliki agenda pergerakan Islam tapi pergerakan yang berdasarkan order.
Penilaian moral yang dikenakan kepada FPI sebagai sumber masalah ini berdasarkan dari aksi-aksi kekerasan yang selama ini mereka lakukan, yang menggangu ketrentaman dan ketenangan masyarakat.Dan aksi kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahamdiyah merupakan buah perilaku dari FPI.Aksi kekerasan yang dilakukan FPI merupakan suatu tindakan kejahatan yang melanggar hukum. Tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan apa yang FPI lakukan terhadap jemaah Ahmadiyah. Walaupun jemaah Ahmadiyah dianggap menistakan agama Islam, tapi tetap FPI atau masyarakat tidak mempunyai hak untuk mengambil