BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
G. Teknik Pengumpulan Data
48
Teknik pengumpulan data adalah hal yang sangat strategis dalam penelitian karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan serta mengumpulkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2011: 224).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi yang merupakan metode pengambilan data yang umumnya diapakai dalam penelitian kualitatif.
a. Observasi (pengamatan)
Menurut Angrosino (dalam Cresswel, 2015: 231), observasi atau pengamatan merupakan salah satu alat penting untuk pengumpulan data dalam penelitian kualitatif. Mengamati berarti memperhatikan fenomena dilapangan melalui kelima indera peneliti, seringkali dengan instrumen atau perangkat, dan merekamnya dengan tujuan ilmiah. Adapun pengamatan tersebut disesuaikan dengan tujuan dan pertanyaan riset. Adapun data yang didapat dari proses observasi disebutkan oleh Raco (2010: 112) dapat berupa gambaran tentang sikap, kelakuan, perilaku, tindakan dan keseluruhan interaksi antar manusia.
Observasi dapat menggambarkan keadaan yang diobservasi secara mendalam sehingga peneliti dapat menggambarkan situasi dan konteks yang diteliti sealamiah mungkin. Melalui observasi peneliti dapat menangkap hal yang mungkin tidak dapat diungkapkan oleh partisipan dalam wawancara atau yang tidak mau diungkapkan oleh
49
partisipan. Melalui observasi, peneliti akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang sangat personal yang terkadang sulit diungkapkan dengan kata-kata (Raco, 2010: 114).
Teknik observasi yang digunakan adalah observasi partisipan yakni merupakan suatu bentuk observasi khusus dimana peneliti tidak hanya menjadi pengamat yang pasif, melainkan juga mengambil berbagai peran dalam situasi tertentu dan berpartisipasi dalam suasana yang diteliti (Yin, 2000: 113-114).
Dengan demikian, tujuan observasi ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai konsep kebermaknaan hidup penghafal Al-Qur’an di pondok pesantren Tahfidz Putri An Nur Yadrusu. Observasi ini dilakukan pada saat proses penggalian data baik pada saat
pre-elementary research (sebelum penelitian) maupun pada saat penelitian.
b. Wawancara
Menurut Bunggin (2008: 108), wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara yakni peneliti dengan informan atau orang yang diwawancarai yakni partisipan, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara untuk tujuan penelitian dimana pewawacara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah manusia yang berperan sebagai informan atau subjek. Teknik
50
wawancara merupakan teknik penggalian data melalui percakapan yang dilakukan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) sebagai yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) sebagai orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan.
Liclon dan Guba (dalam Moleong, 2016: 186) menjelaskan bahwa adapun maksud diadakan wawancara adalah menyusun mengenai suatu kejadian, orang, organisasi, perasaan, motivasi, kepedulian. Menyusun kembali hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang dialami di masa lalu dan menggambarkan kembali hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang akan dialami di masa yang akan datang, memverifikasi, mengubah dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, memperluas konstruksi yang dikembangkan peneliti sebagai triangulasi. Teknik wawancara ini dipilih peneliti sebagai sumber untuk memperoleh data yang lebih banyak, akurat dan lebih mendalam.
Pedoman wawancara dibutuhkan sebagai pemandu jalannya wawancara. Manfaat dari menyusun pedoman wawancara adalah agar proses wawancara berjalan dengan baik, memudahkan peneliti mengelompokkan data yang diperlukan atau yang tidak diperlukan dalam proses wawancara, peneliti mampu menyampaikan pertanyaan sesuai dengan konsep penelitian dan mengantisipasi terlewatnya suatu pertanyaan (Nugrahani, 2014: 130).
51
Teknik wawancara yang digunakan pada penelitian kualitatif ini adalah menggunakan bentuk wawancara semi-terstruktur. Wawancara semi-terstuktur lebih tepat dilakukan pada penelitian kualitatif dari pada penelitian lainnya. Pada pedoman wawancara semi-terstruktur didalamnya berisi topik-topik pembicaraan apa saja yang mengacu pada suatu tema sentral yang telah ditetapkan dan disesuaika dengan tujuan
wawancara. Adapun dalam pelaksanaannya, peneliti bebas
berimprovisasi dalam mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan situasi dan alur alamiah yang terjadi asalkan tetap sesuai dengan topik yang telah ditentukan (Herdiansyah, 2010: 123-124).
Peneliti pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur untuk memahami secara baik dan menyeluruh mengenai konsep kebermaknaan hidup penghafal Al-Qur’an. Wawancara tersebut akan dilakukan kepada dua santriwati yang menghafal Al-Qur’an di pondok pesantren Tahfidz Putri An-Nur Yadrusu Malang tentang bagaimana proses terbentuknya makna hidup dalam seluruh kegiatannya. Pertanyaan-pertanya mengenai pandangan, sikap dan keyakinan yang dimiliki oleh kedua subjek dan keterangan lainnya yang bisa diajukan secara semi-terstuktur kepada subjek.
52
Yin (2000: 109) menjelaskan bahwa kegiatan menganalisis dokumen disebut sebagai content analysis, sebab dalam kegaitan tersebut peneliti bukan hanya sekedar mencari isi terpenting dari suatu dokumen, tetapi juga perlu memahami makna yang ada dalam dokumen dengan hati-hati, teliti dan kritis. Dokumen sebagai salah satu teknik pengumpulan data dengan memanfaatkan catataan, arsip, gambar, film dan dokumen-dokumen lainnya. Termasuk dalam dokumen tersebut tersimpan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah. Dibandingkan dengan teknik pengumpulan data yang lain, pengkajian isi dokumen adalah teknik yang paling mudah, sebab peneliti hanya perlu menyusun lembar yang sesuai dengan penelitian dan memindahkan data yang relevan ke dalam catatan.
Dokumen pada penelitian kualitatif umumnya digunakan sebagai sumber data sekunder, tetapi dalam penelitian tertentu dapat saja dokumen sebagai satu-saunya naskah sehingga menjadi sumber data primer atau sumber data utama. Sebagai sumber data sekunder, dokumen sebagai sumber data juga harus diuji validitasnya. Kriteria yang harus dimiliki oleh dokumen sebagai syarat menjadi sumber data adalah bersifat otentik, kredibel, representatif dan juga bermakna. Dokumen yang berbentuk biografi atau autobiografi, peneliti sebagaiknya memilih yang belum diterbitkan, karena lebih bisa dipercaya, sebab sering riwayat seseorang dilebih-lebihkan oleh penulisnya untuk tujuan popularitas semata. Dokumen juga dapat
53
berfungsi sebagai pelengkap data dalam observasi dan wawancara, dalam posisi ini dokumen berfungsi sebagai bahan pertimbangan bagi keraguan data dari berbagai sumber sehingga dapat dilakukan pengecekan silang dengan tujuan mendapatkan dokumen yang baik dan dapat dipercaya (Nugrahani, 2014: 145).
Dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan dan untuk meramalkan. Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2016: 217) menjelaskan beberapa alasan dokumen dan record dapat digunakan untuk keperluan penelitian, sebagai berikut.
1) Dokumen dan record digunakan sebagai sumber data karena merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.
2) Dokumen dan record berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian. 3) Dokumen dan record berguna dalam penelitian kualitatif karena
sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.
4) Record relatif murah dan tidak suka diperoleh, sedangkan dokumen harus dicari dan ditemukan
5) Dokumen tidak reaktif sehinga sukar ditemukan dalam teknik kajian isi.
6) Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk memperluas pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
54
Teknik pengumpulan data melalui dokumen ini bertujuan untuk melengkapi data-data yang diperoleh selama penelitian, data-data tersebut bisa berupa data yang tertulis ataupun foto-foto yang diambil pada saat penelitian berlangsung untuk kelengkapan data penelitian. Penelitian ini menggunakan dokumen yaitu dari catatan pribadi yang dimiliki subjek maupun dari pengurus pondok pesantren.