• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

4.4. Teknik Pengumpulan Data

Data diperoleh dari subjek yang telah bersedia diteliti melalui pengisian kuesioner dan observasi langsung subjek penelitian. Mengukur pola kebiasaan menahan buang air kecil menggunakan kuesioner terstruktur. Kuesioner tersebut dibuat dalam bentuk tabel yang akan diisi berapa kali subjek buang air kecil dalam sehari, asupan air responden dalam sehari dan pertanyaan tentang kebiasaan menahan buang air kecil, sehingga dapat diukur apakah ada kebiasaan menahan buang air kecil atau tidak. Mengetahui kejadian leukosituria menggunakan pemeriksaan laboratorium kadar leukosit dalam urin dari subjek penelitian. Jenis data yang diambil adalah data primer. Tahap pengumpulan data antara lain : 1. Mendatangi lokasi penelitian yang sudah diberi izin oleh pihak bersangkutan yaitu pihak sekolah pada saat melakukan survei awal penelitian

2. Menentukan sampel yang akan diberikan kuesioner dan melakukan penampungan urin dengan metode total sampling

3. Menanyakan kesediaan sampel untuk mengisi kuesioner kemudian melakukan penampungan urin dan meyakinkan bahwa identitas sampel tidak akan dipublikasikan kepada media apapun dan siapapun

4. Bila responden bersedia melakukan pengisian kuesioner dan penampungan urin maka diberikan kuesioner yang terstruktur dan dapat dimengerti oleh responden 5. Kemudian dilakukan penampungan urin responden dan segera dikirim langsung ke Laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan leukosit urin

4.5. Metode Analisis Data

Data dianalisis menggunakan program Statistik dengan jenis analisis data : a. Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk mengetahui karakteristik setiap variabel penelitian , yang akan menghasilkan distribusi frekuensi & persentase tiap variabel.22 Dalam penelitian ini analisa univariat dilakukan untuk

memperoleh gambaran distribusi frekuensi pola kebiasaan menahan buang air kecil responden dan distribusi frekuensi kejadian leukosituria .

b. Analisa Bivariat

Analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan terhadap 2 variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi 22 dalam hal ini adalah antara pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan leukosituria. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji analisis chi square dengan nilai p ≤ 0,05 untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan leukosituria. Dan untuk mengetahui hubungan tersebut signifikan atau tidak.

4.6 Definisi Operasional

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Pengambilan data penelitian ini dilakukan di SMA Kemala Bhayangkari 1 Medan yang terletak di Jl. K.H. Wahid Hasyim No.1M, Medan, Sumatera Utara.

5.1.2. Karakteristik Responden

Pada penelitian ini, responden penelitian merupakan siswi Kelas 2 di SMA.Kemala Bhayangkari 1 Medan yang berjumlah 111 siswi, dengan karakteristik yang dapat dibedakan berdasarkan umur. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Umur Responden

NO Umur Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 15 37 33,3

2. 16 69 62,2 3. 17 5 4,5 Total 111 100

Dari tabel 5.1. dapat diketahui bahwa mayoritas umur responden berumur 16 tahun yaitu sejumlah 69 orang ( 62,2% ), kemudian berumur 15 tahun yaitu sejumlah 37 orang ( 33,3% ), sedangkan kelompok umur 17 tahun paling sedikit yaitu sejumlah 5 orang (4,5%). Nilai tengah data kelompok menurut umur adalah kelompok umur 16 tahun.

5.1.3. Hasil Analisis Data 5.1.3.1. Analisis Univariat

a. Prevalensi Pola Kebiasaan Menahan Buang Air Kecil

Pada penelitian ini didapati distribusi frekuensi untuk kebiasaan menahan buang air kecil adalah sebagai berikut :

Tabel 5.2. Distribusi frekuensi Prevalensi Kebiasaan Menahan Buang Air Kecil

Jumlah (orang) Persentase (%) Tidak Pernah Menahan

buang air kecil 25 22,5 Kadang menahan buang

air kecil 59 53,2 Sering menahan buang

air kecil 26 23,4 Sangat sering menahan

buang air kecil 1 0,9 Total 111 100

Tabel 5.2. menunjukkan bahwa dari 111 responden penelitian, didapati mayoritas responden penelitian berada dalam kelompok kadang menahan buang air kecil yaitu sejumlah 59 orang (53,2%), diikuti kelompok sering menahan buang air kecil sejumlah 26 orang (23,4%), kemudian kelompok tidak pernah menahan buang air kecil sejumlah 25 orang (22,5%), dan kelompok sangat sering menahan buang air kecil sejumlah 1 orang (0,9%).

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Prevalensi Pola Kebiasaan Menahan Buang Air Kecil

Jumlah (orang) Persentase (%) Tidak menahan

buang air kecil 84 75,7 Menahan buang air kecil 27 24,3 Total 111 100

Pada tabel 5.3. yang merupakan tabel sederhana dari tabel 5.2 untuk membedakan kebiasaan menahan buang air kecil. Dalam tabel tersebut berdasarkan pada tabel 5.2., maka kelompok tidak pernah menahan buang air kecil dan kadang menahan buang air kecil dimasukkan pada kelompok tidak menahan buang air kecil , sedangkan kelompok sering menahan buang air kecil, dan sangat sering menahan buang air kecil dimasukkan pada kelompok menahan buang air kecil.Maka ditemukan kelompok tidak menahan buang air kecil berjumlah 84 orang (75,7%), sedangkan kelompok menahan buang air kecil berjumlah 27 orang (24,3%).

b. Prevalensi Leukosituria

Dari 111 orang responden penelitian, dinilai ada tidaknya kejadian leukosituria .Jumlah responden yang memiliki kejadian lekosituria dan tidak memiliki kejadian leukosituria dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.4. Distribusi frekuensi Prevalensi Leukosituria Jumlah orang Persentase (%) Leukosituria 73 65,8 Tidak Leukosituria 38 34,2 Total 111 100

Tabel 5.4. menunjukkan bahwa dari 111 orang responden penelitian, didapati mayoritas responden penelitian berada dalam kelompok leukosituria yaitu sejumlah 73 orang (65,8%), kemudian diikuti oleh kelompok tidak leukosituria yaitu sejumlah 38 orang (34,2%).

5.1.3.2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat pada penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan kejadian leukosituria dengan menggunakan uji Chi Square. Pada penelitian ini terdapat variabel independen yaitu (pola kebiasaan menahan buang air kecil) dan variabel dependennya yaitu (kejadian leukosituria). Data hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.5. Hubungan antara Kebiasaan Menahan Buang Air Kecil dengan Kejadian Leukosituria

Leukosituria % Tidak % Jumlah % p value Leukosituria

Tidak pernah

menahan buang air 5 4,50 20 18,02 25 22,5 kecil

Kadang menahan

buang air kecil 46 41,45 13 11,71 59 53,2 Sering menahan 0,000 buang air kecil 21 18,92 5 4,50 26 23,42

Sangat sering

menahan buang 1 0,90 0 0 1 0,9 air kecil

Jumlah 73 65,77 38 34,23 111 100

Dari tabel 5.5. dapat dilihat bahwa dari 25 orang responden yang tidak menahan buang air kecil 5 orang diantaranya leukosituria sementara 20 orang lainnya tidak leukosituria. Sementara dari 59 orang responden yang kadang menahan buang air kecil 46 orang diantaranya leukosituria sedangkan 13 orang lainnya tidak leukosituria. Kemudian dari 26 orang yang sering menahan buang air kecil 21 diantaranya mengalami leukosituria dan 5 orang lainnya tidak mengalami leukosituria. Dan dari 1 orang yang sangat sering menahan buang air kecil mengalami leukosituria.

Setelah dilakukan uji hipotesis nonparametrik dengan metode Chi Square dengan tingkat kemaknaan 0,05 (α = 5 %) , diperoleh nilai p ( p value ) adalah 0,000 ( p< 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan antara kebiasaan menahan buang air kecil dengan leukosituria.

Tabel 5.6. Hubungan antara Pola Kebiasaan Menahan Buang Air Kecil dengan Kejadian Leukosituria

Leukosituria % Tidak % Jumlah % p value Leukosituria

Tidak 51 45,95 33 29,73 84 75,68 Menahan buang

air kecil

Menahan 22 19,82 5 4,50 27 24,32 0,048 Buang air kecil

Jumlah 73 65,77 38 34,23 111 100

Dari tabel 5.6. dapat dilihat bahwa dari 84 orang responden yang tidak menahan buang air kecil 51 orang diantaranya leukosituria sementara 33 orang lainnya tidak leukosituria. Sementara dari 27 orang responden yang menahan buang air kecil 22 orang diantaranya leukosituria sedangkan 5 orang lainnya tidak leukosituria.

Setelah dilakukan uji hipotesis nonparametrik dengan metode Chi Square dengan tingkat kemaknaan 0,05 (α = 5 %) , diperoleh nilai p ( p value ) adalah 0,048 ( p< 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan antara pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan leukosituria.

5.2. Pembahasan

Infeksi saluran kemih merupakan infeksi pada daerah urogenitalia yang ditandai dengan peningkatan jumlah kuman dan leukosit didalam urin seseorang.

Bakteriuria merupakan suatu keadaan adanya bakteri didalam urin yang berkaitan dengan adanya leukosituria, yaitu adanya leukosit yang meningkat didalam urin, dimana leukosit merupakan sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi. Sementara faktor-faktor penyebab infeksi saluran kemih yaitu pada wanita yang mempunyai uretra lebih pendek, sementara faktor kebiasaan yang berperan yaitu kebiasaan menahan buang air kecil. Banyak faktor lainnya yang dapat menjadi pemicu terjadinya infeksi saluran kemih khususnya bakteriuria dan leukosituria yang menjadi salah satu tandanya. Dengan mengetahui faktor-faktor resiko yang berperan dalam terjadinya leukosituria maka pencegahan menjadi langkah penting dalam penanganannya.

Bakteriuria memiliki hubungan yang erat dengan leukosituria, sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada anak usia SD di Malalayang, bahwa dalam menilai infeksi saluran kemih dengan melakukan pemeriksaan urinalisis dengan menemukan leukosit yang banyak didalam urin respondennya.23 Pada penelitian lainnya yang dilakukan pada anak dikelurahan Sindulang,dalam menilai terjadinya infeksi saluran kemih dilakukan dengan pemeriksaan urinalisis adanya kadar leukosit yang meningkat pada urin responden penelitiannya.24 Sedangkan pada penelitian lainnya yang dilakukan di London,menilai infeksi saluran kemih juga salah satunya melalui penilaian leukosituria 25, begitu juga dengan penelitian di Korea bahwa salah satu pemeriksaan untuk menilai infeksi saluran kemih yaitu leukosituria.26 Dan sama halnya dengan penelitian lainnya didapatkan leukosituria selain bakteriuria dan pemeriksaan nitrit yang positif .27

Penelitian ini mencoba mencari hubungan antara pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan kejadian leukosituria. Pola kebiasaan menahan buang air kecil diduga berhubungan dengan kejadian leukosituria. Hal ini sejalan dengan

penelitian sebelumnya, bahwa ada pengaruh menahan buang air kecil dengan infeksi saluran kemih.28

Peneliti tidak menemukan penelitian-penelitian sebelumnya yang secara khusus mencari hubungan antara pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan kejadian leukosituria . Dugaan peneliti bahwa kedua variabel ini berhubungan berdasarkan pada studi literatur yang peneliti lakukan. Bahwa dari studi literatur ditemukan kebiasaan menahan buang air kecil memiliki peran dalam mempengaruhi mekanisme wash out urine yaitu suatu mekanisme dalam membersihkan kuman didalam urin, jika terjadi gangguan pada mekanisme itu akan menyebabkan kuman mudah bereplikasi. Keberadaan kuman didalam urin dapat ditentukan melalui salah satu pemeriksaan urin yaitu pemeriksaan kadar leukosit yang banyak didalam urin atau leukosituria, dikatakan leukosituria apabila secara mikroskopik didapatkan >10 per mm3 atau terdapat >5 leukosit per lapangan pandang besar.6

Pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan kejadian leukosituria ( p=0,000 ) dan (p=0,048) , pada sebuah penelitian didaerah Jawa bahwa dijumpai dari 8 responden dengan kebiasaan menahan buang air kecil ada 6 responden (75%) mengalami Kristal batu saluran kemih, dan sebanyak 2 responden (25,0%) tidak mengalami kristal batu saluran kemih 29, walaupun penelitian tersebut tidak secara khusus mencari hubungan yang sama dengan peneliti namun secara teori ada kesamaan pada kebiasaan menahan buang air kecil yang menjadi faktor resiko stagnansi urin yang pada penelitian tersebut menyebabkan batu saluran kemih sementara pada penelitian ini menyebabkan terjadinya leukosituria.

Pada penelitian ini, dilakukan pengambilan sampel urin untuk menilai leukosituria pada masing-masing responden, dan spesimen urin dikirimkan ke laboratorium untuk dinilai dan menurut penelitian sebelumnya bahwa tidak adanya perbedaan jumlah leukosit yang signifikan pada penundaan pemeriksaan sampel urin30, sehingga dengan mengacu pada penelitian tersebut dalam masalah

pengiriman sampel yang mungkin memakan waktu tidak menjadi masalah dalam penilaian leukosit dalam sampel urin.

Dalam penelitian ini berbeda dari penelitian yang dilakukan sebelumnya dari segi mencari hubungan antara menahan buang air kecil dengan leukosituria sementara pada penelitian sebelumnya mencari hubungan menahan buang air kecil dengan bakteriuria ataupun dengan batu saluran kemih.Karakteristik usia responden juga pada penelitian ini memiliki keseragaman yaitu dalam rentang usia 15-17 tahun sementara pada penelitian sebelumnya ditemukan lebih bervariasi dari segi usia responden, dan dari segi aktivitas atau pekerjaan pada penelitian ini memiliki keseragaman yaitu siswi kelas 2 SMA sementara pada penelitian sebelumnya aktivitas dan pekerjaannya lebih bervariasi.

Meskipun pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan kejadian leukosituria , dimana kebiasaan menahan buang air kecil dapat menjadi faktor resiko terjadinya leukosituria yang juga erat kaitannya dengan bakteriuria, dan sesuai dengan studi literatur yang peneliti lakukan, namun sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kebiasaan menahan buang air kecil dengan leukosituria ataupun dengan bakteriuria sehingga dapat ditemukan hasil yang lebih baik dalam hal penelitian.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Gambaran kebiasaan tidak pernah menahan buang air kecil pada responden penelitian adalah sebesar 22,5%, sementara gambaran kebiasaan kadang menahan buang air kecil sebesar 53,2%, gambaran kebiasaan sering menahan buang air kecil sebesar 23,4%, dan gambaran kebiasaan sangat sering menahan buang air kecil sebesar 0,9%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase responden yang menahan buang air kecil sebesar 24,3%

sedangkan persentase responden yang tidak menahan buang air kecil sebesar 75,7 %.

2. Kejadian leukosituria pada responden penelitian sebesar 65,8% sementara tidak leukosituria sebesar 34,2%.

3. Adanya hubungan antara pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan kejadian leukosituria , baik dianalisis dengan uji Chi Square ( p = 0,000 ) dan (p = 0,048 )

6.2. Saran

1. Bagi Masyarakat dan Pelajar

Bagi masyarakat khususnya bagi pelajar dengan mengetahui bahwa adanya hubungan antara kebiasaan menahan buang air kecil dengan kejadian leukosituria yang artinya kebiasaan menahan buang air kecil dapat menjadi resiko terjadinya leukosituria yaitu suatu keadaan banyaknya leukosit didalam urin ,dimana urin yang tertahan tersebut dapat menjadi tempat perkembangbiakan bakteri yang salah satu tandanya dijumpai leukosit yang banyak didalam urin, maka oleh karena itu pelajar dan masyarakat sebaiknya tidak melakukan kebiasaan menahan buang air kecil.

2. Bagi Tenaga Kesehatan

Dengan mengetahui bahwa banyak siswi yang sering menahan buang air kecil dan juga ternyata berhubungan dengan kejadian leukosituria maka disarankan agar tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kebiasaan untuk tidak menahan buang air kecil agar mencegah terjadinya leukosituria ataupun infeksi saluran kemih.

3. Bagi Penelitian

Untuk penelitian berikutnya, sebaiknya lebih banyak lagi dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kebiasaan menahan buang air kecil dengan leukosituria atau pun bakteriuria dikarenakan penelitian tentang hal ini masih sedikit dilakukan padahal kebiasaan ini sangat sering dilakukan di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Setyawati I and Aisyah S . Panduan Kesehatan Wanita. Jakara : Binarupa Aksara

Publisher ; 2014. h.84-85.

2. Minardi D, d’Anzeo G, Cantoro D, Conti A, Muzzonigro G . Urinary Tract Infection in Women: Etiology and Treatment Options. Int J Gen Med .2011 (4) :333-343.

3. Anwar M, Baziad A, Prabowo RP. Ilmu Kandungan. Edisi Ketiga . Jakarta : PT.Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo ; 2011. h.365-370.

4. Vaz GT, Vasconcelos MM, Oliveira EA, Ferreira AL, Magalhaes PG, Silva FM, Lima EM . Prevalence of Lower Urinary Tract Symptoms in School-age Children . Pediatr Nephrol 2012 (27) : 602.

5. Yesdelita N. Fisiologi Manusia. Edisi Keenam . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 2012. h.594-597.

6. Purnomo BB. Dasar-dasar Urologi. Edisi Ketiga . Jakarta : CV Sagung Seto;

2014. h.34-35,51-57.

7. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Keenam. Jilid II. Jakarta :Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam ; 2014. h.2129-2136.

8. Hartanto YB, Nirmala WK, Ardy, Setiono S, Dharmawan D, Yoavita, etc.

KAMUS SAKU KEDOKTERAN DORLAND. Edisi 28. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 2012.

9. Hasanah N . Evaluasi Leukosituria pada Tersangka Infeksi Saluran Kemih di Rumah Sakit Umum Daerah Cengkareng Periode Juli-Desember 2014.Universitas Negeri Islam Hidayatullah . 2015 : 1-66.

10. Kondapaneni SL . Screening for Asymptomatic Bacteriuria in School-going Children. Indian J Pubic Health. April-June,2012 : 56 ( 2) : 169-170.

11. Walsh CA, Siddins A, Parkin K, Mukerjee C, Moore KH . Prevalence of

“low-count” bacteriuria in female urinary Incontinence versus continent female controls: a cross-sectional study. Int Urogynecol J.2011( 22): 1267–

1272.

12. Harris S, Sarindah A, Yusni, Raihan . Kejadian Infeksi Saluran Kemih di Ruang Rawat Inap Anak RSUD.Dr.Zainoel Abidin Banda Aceh. Sari.

13. Pediatri . 2012 : 14 ( No. 4) : 235-240.

14. Sumolang SA, Porotu’o J, Soeliongan S. Pola Bakteri Pada Penderita Infeksi Saluran Kemih di BLU RSUP Prof.dr.R.D.Kandou Manado. Jurnal e- Biomedik (eBM) . Maret 2013 : Volume 1 (Nomor 1) : 597-601.

15. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Menteri KesehatanRepublik Indonesia ; 2014. h.448-450.

16. Lawindi EL, Sayed, Shafei EL, Hayek, Noor. Assesment of Urinary Tract Infections Risk Factor and Knowledge among Attendees of Theodor Bilharz Research Institute, Giza, Egypt. International Public Health Forum. March 2014 : Vol.1 (no.1) : 27-28.

17. Ali Z . Sinopsis Organ System Ginjal. Jakarta : Karisma Publishing Group ; 2014. h.144-145.

18. Gibson K, Toscano J . Urinary Tract Infection Update. Am J Clin Med.

2012;Vol.9 ( no.2) : 82-85.

19. Sutedjo AY . Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium.

Edisi Revisi .Yogyakarta : Penerbit Amara Books ; 2012. h.30.

20. Utsch B, Klaus G . Urynalisis in Children and Adolescents. Dtsch Arztebl Int. 2014 : 111: 617-26.

21. Susilo FCD .Uji Diagnostik Leukosituria dan Bakteriuria Mikroskopis Langsung Sampel Urin Untuk Mendeteksi Infeksi Saluran Kemih. Jurnal Media Medika Muda. 2013 : 1-16.

22. Sastroasmoro S. Dasar-dasar Metodologi Penelitian. Edisi Keempat . Jakarta : CV.Sagung Seto ; 2011. h.112.

23. Notoatmodjo S . Metodologi Penelitian Kesehatan. Ed Rev. Jakarta : Rineka Cipta ; 2012. h.182-183.

24. Fitricilia M, Umboh A, Kaunang D. Hubungan Enuresis dengan Infeksi Saluran Kemih pada Anak Usia 6-8 Tahun di SD Negeri Malalayang. Jurnal e-Biomedik (eBM). Maret 2013 : Volume 1 (Nomor 1) : 461-465.

25. Kusumanarwasti C, Umboh A, Rompis J. Hubungan Kebiasaan Mandi di Sungai dengan Infeksi Saluran Kemih pada Anak di Kelurahan Sindulang 1.2012 : 1-6.

26. Gill K, Horsley H, Kupelian SA, Baio G, Lorio DM, Sathiananamoorthy S, et all., Urinary ATP as an Indicator of Infection and Inflammation of theUrinary Tract in Patients with Lower Urinary Tract Symptoms. BMC Urology (2015):

15:7 : 2-9.

27. Lee EH, Kim KD, Kang KH, Park K. The Diagnosis of Febrile Urinary Tract Infection in Children may be Facilitated by Urinary Biomarkers. Pediatr Nephrol; 2015 : 30: 123-130.

28. Meister L, Morley JE, Scheer D, Sinert R. History and Physical Examination Plus Laboratory Testing for the Diagnosis of Adult Female Urinary TractInfection. Society for Academic Emergency Medicine; 2013 :632-643.

29. Atmaji L.P. Hubungan Antara Kebiasaan Kurang Minum dengan Air Putih dan Menahan BAK( BUANG AIR KEMIH) Terhadap Penyakit ISK( Infeksi Saluran Kemih) pada Sopir Bus di Pangkalan Terminal. Universitas Muhammadiyah Surabaya. 2015 : 1-38.

30. Sulistyowati R, Setiani O, Nurjazulli. Faktor Resiko yang Berhubungandengan Kejadian Kristal Batu Saluran Kemih di Desa Mrisi Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia.Oktober 2013 : Vol.12 No.2 : 99-105.

31. Savitri S. Pengaruh Penundaan Pemeriksaan Spesimen Urin Terhadap HasilPemeriksaan Leukosit Urin.Universitas Sebelas Maret. 2015 : 1-45.

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap : Diana Marlisa Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat, TanggalLahir: Medan, 26 Desember 1994 Warga Negara : Indonesia

Status : Belum menikah

Agama : Islam

Alamat : Jl. Bunga Mawar VII No.4 Padang Bulan Selayang II Medan

Nomor Handphone : 085359597278

Email : [email protected] RiwayatPendidikan :

1. SD. Percobaan Negeri Medan Tahun 2001-2007 2. SMP Kemala Bhayangkari 1 Medan Tahun 2007-2010 3. SMA Kemala Bhayangkari 1 Medan Tahun 2010-2013

4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Program Studi Pendidikan Dokter Tahun 2013-sekarang

Riwayat Pelatihan :

1. Peserta PMB ( Penyambutan Mahasiswa Baru ) FK USU 2013 2. Peserta MMB ( Manajemen Mahasiswa Baru ) FK USU 2013 3. Peserta Seminar & Workshop VITAL SIGN SCOPH FK USU 2013 4. Peserta Seminar Sirkumsisi IDI Cabang Medan; A New Inovation of Male

Circumcision 2014

5. Peserta Seminar Kesehatan being Health and Potential Health Aspect Support 2014

6. Peserta Seminar Nasional Sehat Reproduksi “Kini dan Nanti” 2014 7. Peserta Pekan Ilmiah Mahasiswa “Get a Research, Change The World”

SCORE FK USU 2014

8. Peserta Get Together “Fashion in Scientist” SCORE FK USU 2014 Riwayat Kepanitiaan :

1. Anggota Danus Medical Humanity Day FK USU 2014

LAMPIRAN 2

KUESIONER PENELITIAN

Pola Kebiasaan Menahan Buang Air Kecil terhadap Kejadian Leukosituria pada Siswi kelas II di SMA Kemala Bhayangkari I Medan

Nama : ...

Usia : ...

Kelas : ...

Petunjuk Pengisian

Isilah pertanyaan dibawah ini sesuai dengan yang saudari alami 1. Apakah anda menderita tuberkulosis?

a. Ya b. Tidak

2. Apakah anda menderita batu pada saluran kemih?

a. Ya b. Tidak

3. Apakah anda menderita penyakit ginjal ataupun keganasan seperti tumor atau kanker pada saluran kemih?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah anda sedang menjalani pengobatan infeksi saluran kemih ? a. Ya

b. Tidak

Petunjuk Pengisian

Saudari diminta untuk mengisi kebiasaan buang air kecil yang saudari lakukan selama sehari, beri tanda silang (X) pada salah satu kolom yang sesuai dengan kebiasaan buang air kecil yang saudari lakukan. Terdapat 4 pilihan jawaban yang disediakan yaitu :

TP : Tidak Pernah ( 0 kali dalam seminggu) K : Kadang-kadang (1-2 kali seminggu)

S : Sering (3-4 kali seminggu)

SS : Sangat Sering (5-7 kali seminggu)

NO Pernyataan TP K S SS

1. Saya menahan keinginan buang air kecil saat rasa ingin buang air kecil muncul

Petunjuk Pengisian

Saudari diminta untuk mengisi kolom dibawah ini sesuai dengan asupan air dan jam buang air kecil dalam seharidengan tanda ( + )

JAM

Contoh ukuran gelas air minum

150 ml 200 ml 200 ml

LAMPIRAN 3

LEMBAR PENJELASAN KEPADA ORANG TUA/WALI CALON SUBYEK PENELITIAN

Assalamualaikum Wr Wb/Salam Sejahtera Dengan hormat,

Nama saya Diana Marlisa, sedang menjalani pendidikan Kedokteran di Program S1 Ilmu Kedokteran FK USU. Sedang melakukan penelitian dengan judul “ Pola Kebiasaan Menahan Buang Air Kecil Terhadap Kejadian Leukosituria pada Siswi Kelas II di SMA Kemala Bhayangkari 1 Medan”.

Pola kebiasaan menahan buang air kecil merupakan kebiasaan seseorang yang menahan buang air kecilnya ketika rasa ingin buang air kecil muncul, sementara kebiasaan tidak menahan buang air kecil merupakan kebiasaan seseorang yang tidak menahan buang air kecilnya ketika rasa ingin buang air kecil muncul.

Leukosituria adalah suatu keadaan meningkatnya leukosit didalam urin seseorang, dimana kebiasaan menahan buang air kecil yang menahan atau tidak menahan dapat mempengaruhi ada tidaknya bakteri didalam urin sehingga mempengaruhi keberadaan leukosit yang banyak didalam urin.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola kebiasaan menahan buang air kecil terhadap leukosituria. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan masukan kepada penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh kebiasaan menahan buang air kecil terhadap leukosituria serta juga diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi siswi,remaja dan masyarakat mengenai pola kebiasaan menahan buang air kecil dengan leukosituria atau peningkatan leukosit dalam urin.

Saya akan memberikan kuesioner yang terstruktur kepada subjek penelitian mengenai :

1. Data demografi seperti usia , pendidikan

2. Riwayat penyakit yang diderita oleh responden penelitian seperti

2. Riwayat penyakit yang diderita oleh responden penelitian seperti