• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Observasi.

Observasi adalah pengamatan langsung kepada objek yang akan diteliti.3 Metode observasi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran matematika berlangsung di kelas. Dengan demikian didapat

2Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Metopel dan Aplikasinya (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), h. 68

3Gorys Keraf, Komposisi (NTT: Nusa Indah, 1994), h. 164

aktivitas siswa dan menemukan gejala-gejala dan solusi-solusi untuk pemahaman konsep siswa.

2. Dokumentasi

Dokumentasi asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Pada pelaksanaan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.4 Dokumentasi ini dilakukan untuk mengetahui sejarah sekolah, keadaan guru dan siswa, sarana dan prasarana yang ada di MTs Hasanah Pekanbaru dan data tentang hasil belajar matematika siswa yang diperoleh secara langsung dari guru bidang studi matematika.

3. Tes

Teknik ini digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol terutama pada kemampuan pemahaman konsep matematika sebelum menggunakan pendekatan RME yang diperoleh dari nilai ulangan siswa sebelum pendekatan diterapkan.

Sedangkan data tentang hasil belajar siswa pada aspek pemahaman konsep setelah menggunakan pendekatan ini akan diperoleh melalui lembar tes yang dilakukan pada akhir pertemuan.

Pada tes akhir, peneliti terlebih dahulu menguji soal-soal pada peserta lain selain peserta yang ada pada kelas eksperimen dan kelas control. Dalam hal ini peneliti menguji soal tersebut kepada siswa kelas

4Arikunto Suharsimi, Penelitian Penerapan Kelas (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), h.64

VII A dengan jumlah peserta 26 siswa. Hal ini bertujuan untuk mengetahui validitas soal, daya pembeda soal, tingkat kesukaran soal, dan reabilitas soal.

a. Validitas Soal.

Pengujian validitas bertujuan untuk melihat tingkat kendalan atau keshahihan (ketepatan) suatu alat ukur. Untuk menghitung validitas soal peneliti menggunakan korelasi Product Moment yaitu mengkorelasikan antara skor item instrumen dengan skor totalnya.

Rumus Product Moment :

Setelah setiap butir instrumen dihitung besarnya koefisien korelasi dengan skor totalnya. Maka langkah selanjutnya adalah menghitung uji-t dengan rumus:

r = koefisien korelasi hasil r hitung n = jumlah responden

Hasil pengujian validitas disajikan secara singkat pada tabel III.1 berikut:

Tabel III.1

Analisis Validitas Tes Pemahaman Konsep No

Soal thitung

TTabel

dk=24 Status Keterangan 1 2,628 2,06 Valid Dapat digunakan 2 8,272 2,06 Valid Dapat digunakan 3 2,505 2,06 Valid Dapat digunakan 4 6,724 2,06 Valid Dapat digunakan 5 4,527 2,06 Valid Dapat digunakan 6 4,356 2,06 Valid Dapat digunakan

Setelah thitung diketahui selanjutnya adalah mengonsultasikannya dengan nilai distribusi t dengan α = 0.05 dan derajat kebebasan (dk = n - 2). Jika thitung lebih besar dari ttabel maka butir soal tersebut valid. Jika thitung lebih kecil dari ttabel maka butir soal tersebut invalid.5

Dari tabel dapat disimpulkan bahwa thitung lebih besar jika dibandingkan dengan nilai ttabel . Dengan demikian, semua butir soal dalam tes pemahaman konsep adalah valid. Untuk perhitungan yang lebih jelas lihat lampiran M.

b. Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan bantuan program ANATES versi 4.0.5. yang bertujuan untuk mengukur ketetapan instrumen atau ketetapan siswa dalam menjawab alat evaluasi tersebut. Suatu alat evaluasi (instrumen) dikatakan baik bila

5Hartono, Analisis Item Instrumen Analisis Tes Hasil Belajar Dan Instrumen Penelitian,Bandung, Zanafa Publishing, 2010. h. 97

reliabilitasnya tinggi. Untuk mengetahui apakah suatu tes memiliki reliabilitas tinggi, sedang atau rendah dapat dilihat dari nilai koefisien reliabilitasnya.

Cara menentukan tingkatan atau kriteria reabilitas soal dapat dilihat pada tabel III.2

Tabel III.2

Proporsi Reliabilitas Tes

Reliabilitas Tes Evaluasi

0,80 ≤ r11≤ 1,00 Sangat Tinggi

0,60 ≤ r11≤ 0,80 Tinggi

0,40 ≤ r11≤ 0,60 Sedang

0,20 ≤ r11≤ 0,40 Rendah

r11≤ 0,20 Sangat Rendah

Sumber : Aplikasi Statistika dan metode penelitian untuk administrasi dan manajemen (akdon).

Berdasarkan hasil uji coba reliabilitas butir soal dengan program ANATES versi 4.0.5 secara keseluruhan diperoleh koefisien reliabilitas tes sebesar 0,48 yang berarti bahwa tes pemahaman konsep dan kemampuan penalaran matematik mempunyai reliabilitas yang sedang.

c. Uji Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran diujidengan menggunakan bantuan program ANATES versi 4.0.5. Pengujian ini diperoleh dengan menghitung persentase siswa dalam menjawab butir soal dengan benar. Semakin kecil persentase menunjukkan bahwa butir soal semakin sukar dan semakin besar persentase menunjukkan bahwa butir soal semakin

mudah. Cara menentukan tingkatan atau kriteria tingkat kesukaran soal dapat dilihat pada table III.3

Tabel III.3

Sumber : Aplikasi Statistika dan metode penelitian untuk administrasi dan manajemen (akdon)

Tingkat kesukaran untuk tes pemahaman konsep disajikan pada tabel III.4.

Tabel III.4

Analisis Tingkat Kesukaran Tes Pemahaman Konsep Nomor

Dari tabel dapat disimpulkan bahwa dari sebanyak enam soal tes pemahaman konsep merupakan soal dengan kategori soal sedang.

d. Uji Daya Pembeda.

Perhitungan daya pembeda ini menggunakan bantuan program ANATES versi 4.0.5. yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat evaluasi (tes) dapat membedakan antara siswa yang berada pada kelompok atas (kemampuan tinggi) dan siswa yang berada pada kelompok bawah (kemampuan rendah).

Cara menentukan tingkatan atau kriteria daya pembeda soal dapat dilihat pada table III.5

Tabel III.5

Proporsi Daya Pembeda Soal

Daya Pembeda Evaluasi

DP ≥ 0,40 Baik Sekali

0,30 ≤ DP < 0,40 Baik

0,20 ≤ DP < 0,30 Kurang Baik

DP < 0,20 Jelek

Sumber : Aplikasi Statistika dan metode penelitian untuk administrasi dan manajemen (akdon

Daya pembeda untuk tes pemahaman konsep dapat disajikan pada tabel III.6

Tabel III.6

Analisis Daya Pembeda Tes Pemahaman Konsep Nomor pemahaman konsep tersebut hanya satu yang mempunyai daya pembeda baik, lima mempunyai daya pembeda yang baik sekali.

Berdasarkan hasil analisis validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran maka tes pemahaman konsep yang telah diujicobakan dapat digunakan sebagai instrumen pada penelitian ini.

Hasil analisis uji instrumen yang diperoleh dari program ANATES

Versi 4.0.5 serta klasifikasi interpretasi reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran secara lengkap disajikan pada lampiran L.

F. Teknik Analisis Data 1. Tes “t”

Teknik analisis data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan tes “t”. Tes “t” merupakan salah satu uji statistik yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan dari buah mean sampel (dua buah variabel yang dikomparatifkan).6

Sebelum melakukan analisis data dengan test “t” ada dua syarat yang harus dilakukan, yaitu:

a. Uji Homogenitas

Uji homogenitas yang peneliti lakukan adalah uji varians terbesar di banding varians terkecil dengan menggunakan tabel F.

Pengujian yang peneliti lakukan berdasarkan hasil tes pada awal sebelum penerapan.7

var

hitung var

iansterbesar Fiansterkecil

Jika : Fhitung> Ftabel, tidak homogen Jika : Fhitung< Ftabel, homogen

6Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), h.278

7Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta,2011), h.275

b. Uji Normalitas

Untuk melakukan uji normalitas dengan menggunakan rumus chi kuadrat, yaitu:8

fo = Frekuensi observasi fh = Frekuensi harapan

Bila perhitungan data diperoleh

x

2h

<x

2t , maka sampel dikatakan mempunyai data yang normal.

c. Uji Hipotesis

Uji hipotesis digunakan untuk menguji kesamaan rata-rata menggunakan rumus test-t. untuk menganalisis tes dengan menggunakan rumus tes-t untuk sampel besar (N ≥ 30) yang tidak berkorelasi, maka rumus yang digunakan adalah:9

2 2

8Hartono, Statistik Untuk Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), h. 222

9Ibid., h. 206.

SDx= Standar Deviasi X SDy= Standar Deviasi Y N = Jumlah Sampel

Cara memberikan interpretasi uji statistik ini dilakukan dengan mengambil keputusan dengan ketentuan apabila t0 tt, maka H0 ditolak, artinya ada pengaruh yang positif jika pendekatan RME digunakan dan jika t0< tt, maka H0diterima, artinya tidak ada pengaruh yang positif jika digunakan pendekatan RME .

2. Persentase Pengaruh

Untuk menentukan besar pengaruh pendekatan RME terhadap Pemahaman Konsep Siswa dilakukan dengan menguji koefisien determinasi (r ) yang diperoleh dari rumus:2 10

2

Sedangkan untuk menentukan besarnya persentase koefisien pengaruh digunakan rumus:

2 100%

Kpr x Keterangan:

r2 = Koefisien pengaruh

Kp = Nilai Koefisien Diterminan

10Riduwan, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru Karyawan dan Peneliti Pemula, Bandung, Alfabeta, 2010, h.139

39 A. Deskripsi Setting Penelitian

1. Sejarah MTs Hasanah Pekanbaru

MTs Hasanah Pekanbaru terletak di Jalan cempedak no 37 Pekanbaru Kecamatan Marpoyan Damai. MTs Hasanah Pekanbaru memiliki lokasi yang strategis dan dihuni oleh 3 jenjang Madrasah Tsanawiyah Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Kejuruan. Di sekitar MTs Hasanah terdapat tiga perguruan tinggi yaitu Universitas Islam Negeri SUSKA Sukajadi, Universitas Muhammadiyah Pekanbaru, dan Universitas Riau Gobah.

Awal terbentuknya MTs Hasanah, dengan adanya SK Menteri Agama nomor A/III/PP.03.2/04/1989 yang menetapkan MTs Hasanah Pekanbaru sebagai tempat pendidikan madrasah di pekanbaru.

Tanah sekolah sepenuhnya milik Yayasan Amil Hasanah dalam hal ini di bawah Departemen Agama. Luas areal seluruhnya 9000 m2.

Kepala Tsanawiyah yang pernah menjabat antara lain sebagai berikut:

a. Drs.H.Maaruf Tahun 1988–2006

b. Drs. Arman Tahun 2006-2009

c. M.Rozikin, S.Ag Tahun 2009 – Sekarang

2. Visi dan Misi

Pesatnya perkembangan IPTEK dan tantangan di masa depan yang semakin kompleks, bergesernya paradigma masyarakat, kesadaran masyarakat serta orang tua terhadap pendidikan memacu MTs Hasanah Pekanbaru untuk merespon tantangan dan peluang tersebut dengan obyektif serta terencana. MTs Hasanah Pekanbaru memiliki cita dan citra mendambakan profil sekolah yang unggul di masa datang yang diwujudkan dalam Visi dan misi sekolah berikut ini.

a. Visi

“Terwujudnya pendidikan yang baik, kreatif, inovatif, dunia dan akhirat yang berwawasan iptek dan berlandasan imtaq”.

b. Misi

1) Mendidik dan membina siswa dengan menanamkan nilai-nilai agama agar menjadi siswa yang berakhlak mulia dalam belajar 2) Menyelenggarakan proses belajar mengajar secara efektif 3) Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan tenaga pendidik 4) Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai.

3. Tujuan Sekolah

Tujuan sekolah sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Untuk mencapai standar mutu pendidikan yang dapat di pertanggungjawabkan secara nasional, kegiatan pembelajaran di sekolah

mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan yang telah ditetapkan oleh BSNP.

Berkaitan dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional dan Standar Kompetensi Lulusan yang telah ditetapkan maka Kepala Sekolah dan Civitas Madrasah serta dengan Komite Sekolah menetapkan sasaran program/kegiatan pokok strategis, baik untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Sasaran program dimaksudkan untuk mewujudkan visi dan misi MTs Hasanah Pekanbaru. Adapun tujuan atau sasaran program secara lebih rinci dari MTs Hasanah Pekanbaru adalah sebagai berikut.

a. Melakukan pembiasaan mengaji (tadarrus).

b. Mengadakan pembinaan terhadap peserta didik, guru dan karyawan secara berkelanjutan.

c. Mengadakan jam tambahan pada pelajaran tertentu.

d. Mengintensifkan komunikasi dan kerjasama dengan orang tua dan pelaporan kepada orang secara berkala.

e. Kerja sama dengan orang tua/masyarakat.

f. Pengaturan situasi lingkungan dan tata kerja serta pelayanan yang baik kepada pihak pengguna atau masyarakat.

g. Meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam kawasan sekolah untuk mencapai sarana pendukung pengelolaan lingkungan sekolah dengan sanitasi yang baik, pencahayaan kelas yang memadai dan pohon peneduh yang imbang.

h. Membentuk tim KIR dan Tim Olimpiade yang dibina secara berkelanjutan.

i. Mengadaan buku penunjang dan buku perpustakaan.

j. Menjalin komunikasi yang baik dengan pihak Depag, Diknas, dan Perguruan Tinggi.

4. Sarana dan Prasarana

Dalam suatu lembaga pendidikan, sarana dan prasarana memegang peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai kemungkinan lebih besar akan tercapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Dalam upaya mendukung sistem pembelajaran, MTs Hasanah menyiapkan berbagai fasilitas demi kelancaran proses pembelajaran.

Keberadaan dan kelengkapan serta penggunaan sarana- prasarana yang optimal menjadi keharusan di dalam suatu instansi pendidikan. MTs Hasanah Pekanbaru sebagai lembaga pendidikan menengah pertama memberikan kesiapan sarana dan prasarana yang mencukupi agar KBM (kegiatan belajar mengajar) dapat berlansung secara optimal.

Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki MTs Hasanah dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel IV.1

Sarana dan Prasarana MTs Hasanah Pekanbaru

No Ruang Jumlah Kondisi

1 Ruang Teori/Kelas 12 Baik

2 Laboratorium Fisika dan Biologi 1 Baik

3 Laboratorium Komputer 1 Baik

4 Ruang Perpustakaan 1 Baik

5 Ruang UKS 1 Baik

No Ruang Jumlah Kondisi

6 Ruang Pramuka 1 Baik

7 Ruang Tamu 1 Baik

8 Ruang Kepala Sekolah 1 Baik

9 Ruang Guru 1 Baik

10 Ruang Tata Usaha 1 Baik

11 Ruang OSIS 1 Baik

12 Kamar Mandi/WC Guru 1 Baik

13 Kamar Mandi/WC Murid 2 Baik

14 Gudang 2 Baik

15 Ruang Ibadah 1 Baik

16 Ruang Penjaga Sekolah 1 Baik

17 Ruang Koperasi Sekolah 1 Baik

18 Ruang BK 1 Baik

19 Ruang Waka Sarana 1 Baik

20 Ruang Piket 1 Baik

21 Lapangan Basket 1 Baik

22 Lapangan Footsal 1 Baik

23 Mushola 1 Baik

Sumber: TU MTs Hasanah Pekanbaru 5. Keadaan Guru dan Siswa

a. Keadaan Guru

Guru adalah unsur pendidikan yang paling dominan serta bertanggung jawab sepenuhnya atas terlaksananya jalan pendidikan.

Keberhasilan lembaga pendidikan di sekolah tidak terlepas dari eksistensi guru sebagai pendidik. Demikian juga di MTs Hasanah Pekanbaru, guru yang ada di sekolah tersebut tidak hanya bertugas sebagai pengajar, tetapi membimbing dan membantu para siswa, baik dalam menghadapi tugas belajar maupun dalam menghadapi persoalan yang berkaitan dengan kehidupan di lingkungan MTs Hasanah Pekanbaru.

Jumlah seluruh personil sekolah sebanyak 34 orang, terdiri atas guru pegawai negeri 8 orang, guru honoer 26 orang.

Tabel IV.2

Daftar Guru dan Pegawai Tata Usaha MTs Hasanah

Sumber: TU MTs Hasanah Pekanbaru

No Nama Jabatan

1 M. Rozikin, S. Ag Kepala Sekolah dan Fiqih

2 Drs. Arman Fiqih

3 Drs. H. Suroso IPS

4 Dra. Maryati Matematika

5 Zaharah, S.Pd.I SKI

6 Zulhafni, S.Pd.I Ilmu Pengetahuan Sosial 7 Emi Wati, A.Md Ilmu Pengetahuan Sosial 8 Sri Rezeki, S.Pd Ilmu Pengetahuan Sosial

9 Meydia Syukma, SE.I Ilmu Pengetahuan Sosial dan TU 10 Drs. Anang Masdari Seni Qiroat dan Pengembangan Diri 11 Hj. Khairani, BA Biologi

12 Oknain Fajri, S.Si Biologi

13 Hartini, A.Md Bahasa Indonesia 14 Chidmad Ningsih, S.Pd Bahasa Indonesia 15 Ernawati,S.Pd Bahasa Indonesia

16 Dra. Sarnayeti PKN dan Aqidah Akhlak

17 Hermalinda, S.Pd PKN

18 Darusman, S.Pd Bahasa Inggris 19 Widya Suryani, S.Pd Bahasa Inggris 20 Melda Wati, S.Pd Bahasa Inggris 21 Yusilawati Yusuf, S.Pd Matematika 22 Makhdalena, S.Pd Matematika

23 Hariati, MA Bahasa Arab

24 Marjudin Lc Bahasa Arab

25 Rifi Maulidri Bahasa Arab

26 Zulamri, S.Pd Seni Budaya

27 Drs. H. Assaat Fiqih

28 Eli yanti, S.Pd Fiqih

29 Rosi Yusber TIK

30 M. Effendy Henan, S.Kom TIK dan TU

31 Teten Setiani TU

32 Maizlan Fisika

33 Ramli Saputra, A.Md Olahraga 34 Asra Hayati, S.Psi BP

b. Keadaan Siswa

Siswa adalah satu komponen manusiawi yang menempat posisi sentral dalam posisi belajar mengajar, sebab itulah yang menjadi factor yang menentukan terjadinya belajar. Jumlah peserta didik MTs Hasanah pada tahun pelajaran 2011/2012 seluruhnya berjumlah 334 orang. Adapun keadaan siswa MTs Hasanah dapat dilihat pada table berikut:

Tabel IV.3

Daftar Keadaan Siswa MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2011-2012

6. Struktur Kurikulum

Struktur kurikulum MTs Hasanah memuat kelompok mata pelajaran sebagai berikut ini:

a. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.

b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.

c. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

d. Kelompok mata pelajaran estetika.

e. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.

Realisasi dari tiap kelompok mata pelajaran tersebut dituangkan dalam kegiatan Pembelajaran. Artinya aplikasi dari setiap cakupan kelompok mata pelajaran dapat diwujudkan melalui mata pelajaran yang terkait. Cakupan setiap kelompok mata pelajaran adalah sebagaii berikut:

Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.

2 Kewarganegaraan dan Kepribadian

Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.

No Kelompok Mata

Pelajaran Cangkupan

Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

3 IPTEK Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

4 Estetika Kelompok mata pelajaran estetika

dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni.

Kemampuan mengapresiasi dan

mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.

5 Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMA dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin, kerja sama, dan hidup sehat.

Budaya hidup sehat termasuk kesadaran, sikap, dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam berdarah, muntaber, dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah.

Sumber: TU MTs Hasanah Pekanbaru

Dengan memperhatikan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran yang telah ditetapkan oleh BSNP serta maka penyusunan Struktur kurikulum di MTs Hasanah akan diuraikan berikut ini. Untuk pengelolaan kelas di MTs Hasanah dengan mempertimbangkan masukan Komite Sekolah, segala potensi yang dimiliki, dan ketersediaan sarana belajar serta input peserta didik, maka dikelola sebagai berikut ini.

a. MTs Hasanah menerapkan sistem paket. Peserta didik mengikuti pembelajaran sesuai dengan yang telah diprogramkan dalam struktur kurikulum.

b. Jumlah rombongan belajar berjumlah 5 (Lima) rombongan belajar pada kelas VII dan IX dan 2 (Dua) rombongan belajar pada kelas VIII.

Struktur Kurikulum Kelas VII, VIII, dan IX MTs Hasanah Pekanbaru yaitu:

a. Kurikulum Kelas VII, VIII, dan IX terdiri atas:

1) 15 mata pelajaran.

2) Muatan lokal (Seni Qiraat) 3) Pengembangan diri (PD)

b. Sekolah menambah alokasi waktu untuk mata pelajaran:

Matematika, dan IPA. Jam pembelajaran untuk mata pelajaran selain yang ditambahkan jamnya tersebut dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Khusus untuk Pendidikan Agama Islam di meliputi : SKI, Aqidah Akhlaq, Fiqih,dan Qur’an Hadist, sedangkan Bahasa Arab memiliki alokasi

waktu 2 jam pembelajaran.

c. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit dan minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu.

Tabel IV.5

Struktur Kurikulum MTs Hasanah

Komponen Kelas dan Alokasi

Waktu

A. Mata Pelajaran VII VII IX

1. Pendidikan Agama

2. Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2

3. Bahasa Indonesia 4 4 4

4. Bahasa Inggris 4 4 4

5. Bahasa Arab 2 2 2

6. Matematika 4*) 4*) 4*)

7. Ilmu Pengetahuan Alam 4*) 4*) 4*)

8. Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4

9. Seni Budaya 2 2 2

10. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

1. Karya Ilmiah Siswa 2 2

2. Tartil 1 1

C. Pengembangan Diri 1 1 1

Jumlah 41 41 38

*) tambahan alokasi jam pelajaran Sumber: TU MTs Hasanah Pekanbaru

B. Penyajian Data

Sebagaimana telah dikemukakan pada BAB I bahwa penelitian ini bertujuan untuk menelaah ada tidaknya pengaruh yang positif dan seberapa besar pengaruh kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas VII MTs Hasanah Pekanbaru pada pokok bahasan segi empat menggunakan pendekatan RME dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.

Adapun deskripsi pelaksanaan pembelajaran matematika menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education pada kelompok kelas eksprimen, dijelaskan sebagai berikut:

1. Pertemuan Pertama

Pertemuan pertama dilakukan pada selasa 7 Februari 2012, pada pertemuan pertama ini, peneliti mempersiapkan apa yang akan dilakukan sesuai dengan RPP-1 (lampiran B1). Materi yang dibahas adalah persegi panjang.

Sebelum pembelajaran dimulai terlebih dahulu peneliti mengawali dengan melakukan kegiatan pembuka, yaitu mengabsensi, sebagai apersepsi, peneliti mengaitkan masalah-masalah kontekstual yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan motivasi kepada siswa melalui tanya jawab tentang materi persegi panjang, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan metode yang digunakan yaitu pendekatanRME.

Kemudian peneliti membagi kelompok menjadi 7 kelompok.

Karena jumlah siswa 28 orang, maka setiap kelompok terdiri dari 4 orang

siswa. Kelompok ini adalah kelompok heterogen dimana satu kelompok terdiri atas beberapa siswa yang mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (lampiran J ).

Selanjutnya peneliti membagikan LKS-1 (lampiran C1) dan memberitahu apa yang harus dikerjakan siswa. kemudian seluruh kelompok diminta berdiskusi dengan teman kelompoknya dengan melakukan percobaan-percobaan dengan kertas karton yang dibuat menyerupai persegi panjang. Diskusi ini memakan waktu maksimal 40 menit.

Setelah siswa selesai berdiskusi, peneliti menyuruh siswa untuk mengutus perwakilan kelompoknya mempresentasikan hasil diskusinya kedepan kelas. Siswa sangat kritis menyanggah atau bertanya jika hasil presentasi siswa ada yang salah. Kemudian peneliti menunjukkan langkah-langkah formal yang diperlukan untuk menyelesaikan soal tersebut.

Kemudian setelah selesai berdiskusi, siswa diminta duduk di tempatnya masing-masing dan peneliti memberi soal latihan (lampiran F1). Setelah selesai melakukan latihan, siswa dan guru membahas jawaban dari soal latihan tersebut. Di akhir pembelajaran guru bersama siswa menyimpulkan pembelajaran. Dan guru memberi pekerjaan rumah kepada siswa mengenai materi yang baru di pelajari.

Pada pertemuan pertama ini sebagian siswa banyak yang main-main sehingga suasana kelas menjadi ribut. Dikarenakan Selama ini pembelajaran secara berkelompok jarang dilakukan, siswa belum terbiasa

menggunakan lembar kerja siwa (LKS) seperti yang dibuat peneliti karena LKS yang biasa digunakan biasanya berisi materi dan latihan soal bukan panduan menemukan rumus jadi siswa masih binggung untuk mengerjakan LKS, juga dalam mempresentasikan hasil diskusinya, siswa masih malu-malu, dan dalam mengerjakan latihan siswa masih banyak

menggunakan lembar kerja siwa (LKS) seperti yang dibuat peneliti karena LKS yang biasa digunakan biasanya berisi materi dan latihan soal bukan panduan menemukan rumus jadi siswa masih binggung untuk mengerjakan LKS, juga dalam mempresentasikan hasil diskusinya, siswa masih malu-malu, dan dalam mengerjakan latihan siswa masih banyak

Dokumen terkait