• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

METODOLOGI PENELITIAN

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam (in depth interview) dan pengkajian dokumen (catatan atau arsip). Pengumpulan data menurut Lincoln dan Guba, menggunakan wawancara dan observasi dan dokumen saling mendukung dan melengkapi dalam memenuhi data yang diperlukan sebagaimana fokus penelitian pada penelitian ini.65 Ketiga teknik tersebut nantinnya akan berkolaborasikan sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran yang cukup signifikan tentang model pendidikan akhlak yang diterapkan.

1. Observasi berperan serta

Pengumpulan data dengan menggunakan observasi berperan serta ditunjuk untuk mengungkapkan makna suatu kejadian dari setting tertentu, yang merupakan perhatian esensial dalam penelitian kualitatif. Observasi berperan serta dilakukan untuk mengamati objek penelitian, seperti tempat khusus suatu organisasi, sekelompok orang atau beberapa aktivitas suatu sekolah.66 Pengamatan langsung merupakan cara yang efektif untuk melihat bagaimana objek yang akan diteliti bisa terlihat secara natural tanpa adanya kesan dibuat-buat. Dengan melihat langsung kejadian dalam suatu setting sosial tertentu, maka akan terlihat bagaimana fenomena-fenomena yang terjadi sesungguhnya.

Sprady, menjelaskan bahwa dalam menyelesaikan situasi sosial dalam melakukan pengamatan berberan serta dapat dilakukan dengan jalan mempertimbangkan kriteria sebagai berikut : (a) kesederhanaan, (b) aksebilitas/kemudahan berprestasi. Observasi berperan serta dilakukan dalam

65Ibid, h,114

66Ibid

penelitian ini adalah keikutsertaan peneliti dalam mengungkap makna suatu kejadian yang dilakukan kepala sekolah, informan kunci, staff dan guru.67

Dalam penelitian ini, peneliti akan mengamati kegiatan-kegiatan pembinaan akhlak yang dilakukan oleh sekolah mulai dari kegiatan yang terstruktur seperti yang terjadwal di sekolah, maupun kegiatan tidak terstruktur seperti sikap para guru memperlakukan siswanya. Selain itu, peneliti juga akan melihat apa saja yang dilakukan oleh siswa-siswi baik di sekolah, saat di dalam kelas, saat sedang bermain dengan teman-temannya, maupun saat di luar sekolahnya. Dengan demikian peneliti akan mendapatkan beberapa data langsung melalui pengamatan tersebut, apakah pembinaan akhlak tersebut mempunyai dampak terhadap siwa-siswinya.

Selanjutnya pengamatan juga dilakukan terhadap guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut, hal ini karena guru merupakan bagian terpenting dalam proses pembinaan akhlak, maka perlu dilakukan pengamatan secara seksama bagaimana guru melaksanakan pembinaan akhlak terhadap siswanya dan apa saja kekurangan dan kelebihan dalam melaksanakan pembinaan akhlak tersebut. Tentu untuk mengetahui keautentikan data melalui observasi, peneliti tidak bisa hanya sekali atau dua kali saja mengamati. Perlu melakukan pengamatan secara seksama dan rutin hingga menemukan data yang benar-benar valid.

Pengamatan yang dilakukan dengan pertimbangan kesederhanaan yaitu dengan melakukan observasi kepada rangkaian kegiatan pendidikan akhlak yang berlangsung di sekolah tersebut, atau kejadian yang langsung dilakukan oleh guru, murid maupun keapala sekolah, kemudian selanjutnya peneliti mengungkap makna berdasarkan apa yang telah diamati. Pengamatan tersebut berlangsung di lingkungan sekolah tempat penelitian dilaksanakan. Kemudian untuk melihat lebih lanjt apa saja yang akan peneliti obesrvasi dapat dilihat dari table berikut ini:

Tabel III. Observasi Pembinaan Akhlak

NO Objek yang diobservasi Keterangan

67Ibid, h.116-117

1. Kegiatan pembinaan akhlak. Di Sekolah tersebut telah melaksanakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk membina akhlak siswa-siswinya, contoh kegiatannya seperti membudayakan salam, sopan santun, memberikan zakat kepada penduduk sekitar, kegiatan keagamaan, ektrakurikuler, dan lain sebagainya.

2. Metode yang digunakan guru dalam membina.

Melihat bagaimana guru melaksanakan pembinaan terhadap siswa-siswinya, baik itu secara formal maupun nonformal, contohnya saat guru melaksanakan pendidikan di kelas, ataupun saat berada di luar kelas. Kemudian melihat bagaimana komunikasi antara guru dan siswa-siswinya.

3. Sikap dan perilaku Siswa-siswi.

Melihat bagaimana etika dan sikap siswa-siswi baik saat jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran. Bagaimana akhlaknya terhadap guru, akhlaknya terhadap sesam temannya, dan lingkungan sekitarnya.

2. Wawancara mendalam

Wawancara terhadap informan sebagai sumber data dan informasi dilakukan dengan tujuan penggalian informasi tentang fokus penelitian menurut Bogdan dan Bikken , wawancara adalah percakapan yang bertujuan, biasanya dua orang (tetapi kadang-kadang lebih) yang diarahkan oleh salah seorang dengan maksud memperoleh keterangan.68

Selain menggunakan teknik observasi berperan serta dalam penelitian kualitatif, teknik wawancara dapat digunakan untuk mengumpulkan data.

Wawancara merupakan sebuah percakapan antara dua orang atau lebih dimana

68Ibid, h. 119

pertanyaan diajukan oleh seorang yang berperan sebagai strategi penunjang teknik lain untuk mengumpulkan data seperti observasi berperan serta, analisis dokumen, dan sebagainya.69

Wawancara mendalam merupakan suatu cara mengumpulkan data/informasi dengan cara tatap muka dengan informan. Dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tantang topik yang diteliti, wawancara mendalam dilakukan dengan cara intensif dan berulang-ulang. Pada penelitian kualitatif, wawancara mendalam menjadi alat utama yang dikombinasikan dengan observasi partisipan.

Metode wawancara mendalam sesuai dengan pengertian wawancara mendalam bersifat terbuka, pelaksanaannya tidak hanya satu kali dua kali, melainkan berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi. Peneliti tidak hanya percaya begitu saja pada apa yang dikatakan informan, melainkan perlu memeriksa dalam kenyataannya di lapangan melalui pengamatan langsung.

Sebelum wawancara peneliti terlebih dahulu menyusun daftar pertanyaan sebagai pedoman di lapangan, namun pertanyaannya bukan yang bersifat ketat, dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan.

Seperti yang digambarkan sebelumnya dalam informan penelitian, adapun yang akan peneliti wawancarai disini adalah para guru yang melaksanakan pembinaan di sekolah tersebut, kemudian para siswa-siswi, dan seluruh stake holder pendidikan yang terkait dalam proses pembinaan akhlak di sekolah tersebut, yaitu sebagai berikut:

 Ketua dan Staff yayasan Al-Kaffah Binjai.

 Kepala Sekolah dan staff SMP IT Al-Kaffah Binjai.

 Guru-guru bidang studi yang mengajar di SMP IT Al-Kaffah Binjai.

 Siswa-siswi SMP IT Al-Kaffah Binjai yang merupakan objek dalam pembinaan dan pendidikan akhlak. (hanya beberapa sebagai sampel)

 Dan Komponen-komponen lain yang terlibat dalam pembinaan akhlak di SMP IT Al-kaffah Binjai.

69Ibid, h.120

3. Pengkajian dokumen

Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen utama (key instrument). Selanjutnya Nasution dan Faisal mengumukakan bahwa dalam penelitian naturalistic penelitian sendiri menjadi instrument utama dengan cara terjun ke lapangan serta berusaha mengumpulkan informasi.70 Untuk itu seluruh data dikumpulkan instrumen dan ditafsirkan oleh peneliti. Tetapi dalam kegiatan ini peneliti didukung instrumen sekunder, yaitu catatan dan dokumen yang berkaitan dengan penelitian. Dalam penelitian kualitatif dokumen diperlukan sehubungan dengan setting tertentu yang digunakan untuk menganalisis data.

Pengkajian dokumen dalam rangka menganalisis data penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang bersifat sekunder yang sifatnya berkaitan dengan fokus penelitian seperti catatan yang tetulis dan dokumen baik bersifat pribadi maupun resmi. Maka dalam penelitian ini, peneliti akan menganalisis dokumen-dokumen sekolah seperti profil sekolah, data pribadi siswa-siswi, data pribadi guru dan dokumen-dokumen lainnya yang dianggap perlu untuk melengkapi data dalam penelitian.