Teknik pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tes penguasaan konsep berupa tes objektif, angket, dan lembar observasi.
F. Instrumen Penelitian 1. Kisi-Kisi Instrumen
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa instrumen, yaitu: a. Tes
Tes adalah kumpulan pertanyaan atau soal yang harus dijawab oleh siswa dengan menggunakan pengetahuan-pengetahuan serta kemampuan penalarannya.3 Menurut Riduwan, tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.4 Adapun bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis berupa pilihan ganda dengan lima
2
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian: Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula,
(Jakarta: Alfabeta, 2005), h.63. 3
Ahmad Sofyan, dkk., Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Press, 2006), cet. ke-1, h.53.
4
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian: Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula,
options/pilihan jawaban (A, B, C, D, E) sebanyak 25 soal. Soal-soal tersebut sudah dapat mewakili empat indikator pencapaian hasil belajar yang akan diterapkan dalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran aktif menggunakan mind map dengan lima pilihan jawaban yang meliputi jenjang hafalan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan analisis (C4) .Tes ini akan diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran untuk mengetahui penguasaan konsep siswa dalam konsep keanekaragaman hayati.
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Kognitif Pada Konsep Keanekaragaman Hayati
Sub Konsep Indikator Aspek Kognitif Jumlah
C1 C2 C3 C4
1.Keanekaragaman hayati
tingkat gen, jenis, dan ekosistem
Mendeskripsikan keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem 1*, 7*, 11*, 26 4 2.Istilah konsep keanekaragaman hayati Mendefinisikan istilah keanekaragaman hayati 2*, 10* 2
3.Faktor yang mendasari
keanekaragaman hayati Menjelaskan faktor dasar keanekaragaman hayati 3* 1 4.Klasfikasi makhluk hidup Tujuan klasifikasi makhluk hidup Dasar utama kalsifikasi makhluk hidup
Penulisan tata nama
makhluk hidup (binomial nomenklatur) Penyusunan takson makhluk hidup Mendeskripsikan, menjelaskan, menunjukkan, dan mengkaji klasifikasi makhluk hidup 9* 14, 28 4* 6*, 8*, 30* 13* 29 40 23* 1 3 2 5 5.Identifikasi ciri-ciri ekosistem atau bioma
Mendeskrispikan, menunjukkan, dan mengidentifikasi ciri-ciri ekosistem/bioma 32 24* 5*, 15*, 19 5
6.Fauna dan flora di Indonesia
Pembagian fauna
atau flora daerah di Indonesia
Fauna atau flora khas
daerah Indonesia
Mendeskripsikan dan menunjukkan pembagian flora dan fauna daerah di Indonesia 20*, 37* 12,21* 25* 31* 39* 4 3
7.Upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia Mendefinisikan, mendeskripsikan dan menunjukkan upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia 18 16*, 22 35* 4
8.Dampak atau
faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman hayati Mendefinisikan, menjelaskan, dan menghubungkan dampak yang mempengaruhi keanekaragaman hayati 38* 33, 34, 36 17, 27 6 Jumlah 7 22 7 4 40
* Soal-soal yang valid
b. Angket
Untuk mengetahui bagaimana guru melakukan kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran aktif menggunakan mind map (variabel X), digunakan kuesioner dalam bentuk angket dengan skala Likert. Angket adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang dikirimkan kepada responden untuk mengungkapkan pendapat, keadaan, kesan yang ada pada respoden sendiri maupun di luar dirinya.5 Selain itu, angket (questionaire) merupakan suatu daftar pertanyaan atau pernyataan tentang topik tertentu yang diberikan subjek, baik secara individu atau kelompok. Peneliti mengajukan pertanyaan dalam bentuk angket terstruktur yakni peneliti menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada responden, sehingga mendapat jawaban akurat dan relevan. Angket yang digunakan untuk mengetahui sikap siswa terhadap biologi, pembelajaran dengan pembelajaran aktif, penggunaan mind map, dan soal-soal yang diberikan. Angket ini berjumlah 20 pernyataan dengan lima pilihan bagi siswa. Pengolahan data untuk angket dibuat dengan menghitung persentase berdasarkan kisi-kisi angket.
5
Tabel 3.3 Kisi-kisi Angket
No. Aspek Minat Indikator Nomor Item
1. Perhatian Persiapan siswa saat belajar di kelas
Keseriusan siswa mengikuti pelajaran biologi
2, 5
12
2. Daya Tarik Sikap terhadap pelajaran
biologi
Memahami konsep-konsep biologi
6
11, 19, 3
3. Kesenangan Senang saat belajar biologi
Semangat dalam belajar biologi
10 4, 13
4. Penyelesaian Tugas Senang diberi tugas
Tepat waktu saat mengerjakan tugas
9
7, 16, 17, 18
5. Kemauan untuk Tahu Lebih Banyak
Terlibat langsung dalam pembelajaran
8, 15
6. Ketekunan Tidak bosan belajar biologi 14, 15
7. Kesesuaian Objek Banyak manfaat yang diambil dari pelajaran biologi
1, 20
c. Lembar observasi
Observasi adalah metode pengumpulan data secara sistematis melalui pengamatan dam pencatatan terhadap fenomena yang diteliti.6 Lembar observasi digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Aktivitas yang diamati pada waktu pembelajaran adalah mengenai
6
Hariwijaya dan Triton P.B., Teknik Penulisan Skripsi dan Tesis, (Yogyakarta: Oryza, 2007), cet ke 1, h.63.
pelaksanaan tahapan-tahapan pada pembelajaran aktif. Dengan kriteria jawaban sangat baik, baik, cukup, dan kurang.
Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Observasi Tahapan Pembelajaran Aktif (Kelas Eksperimen)
1. Apersepsi
Sangat baik Baik Cukup Kurang
Sangat baik dalam kemampuan guru memancing siswa untuk bertanya tentang topik ,memotivasi siswa dan menampilkan pesan yang menarik.
Baik dalam kemampuan guru memancing siswa untuk bertanya tentang topik yang dibahas, memotivasi siswa, dan menampilkan pesan yang menarik.
Cukup dalam kemampuan guru memancing siswa untuk bertanya tentang topik yang dibahas, memotivasi siswa.
Kurang dalam kemampuan guru memancing siswa untuk bertanya tentang topik yang dibahas, memotivasi siswa..
2. Eksplorasi
Sangat baik Baik Cukup Kurang
Sangat baik dalam kemampuan guru
menunjukkan keterampilan penggunaan metode/teknik pembelajaran, dan mengarahkan siswa untuk melakukan pengamatan atau percobaan.
Baik dalam kemampuan guru menunjukkan keterampilan penggunaan metode/teknik
pembelajaran dan mengarahkan siswa untuk melakukan pengamatan atau percobaan.
Cukup dalam kemampuan guru menunjukkan keterampilan penggunaan metode/teknik
pembelajaran dan mengarahkan siswa untuk melakukan pengamatan atau percobaan.
Kurang dalam kemampuan guru menunjukkan keterampilan penggunaan metode/ teknik
pembelajaran, dan mengarahkan siswa untuk melakukan pengamatan atau percobaan. 3. Diskusi
Sangat baik Baik Cukup Kurang
Sangat baik suasana diskusi sangat interaksi dan siswa
mengkomunikasikan hasil penyeledikan temuan
Baik suasana diskusi aktif dan siswa
mengkomunikasikan hasil penyeledikan temuan.
Cukup suasana diskusi aktif tetapi beberapa siswa pasif, dan siswa
mengkomunikasikan hasil penyeledikan temuan.
Kurang suasana diskusi aktif, siswa tidak menanggapi diskusi dengan serius. Siswa kurang
mengkomunikasikan hasil penyeledikan temuan 4. Aplikasi
Sangat baik Baik Cukup Kurang
Sangat baik kemampuan guru menjelaskan fakta mengenai pengamatan yang siswa lakukan. Dan menghubungkan dengan pengetahuan yang relevan sesuai dengan realita (kontekstual).
Baik kemampuan guru menjelaskan fakta mengenai pengamatan yang siswa lakukan. Dan menghubungkan dengan pengetahuan yang relevan sesuai dengan realita (kontekstual).
Cukup kemampuan guru menjelaskan fakta mengenai pengamatan yang siswa lakukan. Dan cukup baik
menghubungkan dengan pengetahuan yang relevan sesuai dengan realita (kontekstual).
Kurang dalam kemampuan guru menjelaskan fakta mengenai pengamatan yang siswa lakukan. tidak ada aplikasi pengetahuan.
* Diadopsi dari penilaian observasi Suharsimi Arikunto7
7
2. Kalibrasi Instrumen a. Validitas Instrumen
Validitas berasal dari kata validity, dapat diartikan tepat atau sahih, yakni sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.Validitas ini untuk mengukur tes berupa tes objektif menggunakan rumus koefisien kolerasi biserial (γpbi).
γpbi = q p S M M t t p Keterangan:
γ pbi = koefisien korelasi biserial
Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab benar
Mt = rerata skor total
St = standar deviasi dari skor total
p = proporsi siswa yang menjawab benar
q = proporsi siswa yang menjawab salah
Dengan kriteria sebagai berikut:
0.80-1.00 = validitas sangat tinggi
0.60-0.80 = validitas tinggi
0.40-0.60 = validitas cukup
0.20-0.40 = validtas rendah
0.00-0.20 = validitas sangat rendah
Hasil penghitungan validitas instrumen yaitu: df = 38 dengan rtabel = 0.320, sedangkan rhitung = 0.667. Sehingga dapat disimpulkan rhitung < rtabel yang berarti validitas tinggi (lampiran 1 dan 2). Dari 40 soal instrumen, sebanyak 26 soal valid. Instrumen yang dipakai dalam hanya 25 soal dan 1 soal tidak dipakai.
b. Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas adalah ketepatan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama. Untuk mengetahui ketepatan ini pada dasarnya dilihat kesejajaran hasil. Sebuah tes dikatakan reliabilitas yang baik apabila tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap, uji reliabilitas yang digunakan menguji instrumen pemahaman tentang konsep yaitu dengan menggunakan rumus Kuder Richardson atau yang dikenal dengan KR-20,8 yaitu:
8
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), cet. ke-7, h.100.
r11 =
2 2 1 S pq S n n Keterangan:KR-20 = Koefisien reliabilitas tes
k = Jumlah butir
pq = Varians skor butir
p = Proporsi jawaban benar untuk butir nomor i
q = Proporsi jawaban salah untuk butir nomor i
SDt2 = Varians skor total
Dengan kriteria sebagai berikut :
0.00-0.20 = reliabilitas kecil
0.20-0.40 = reliabilitas rendah
0.40-0.70 = reliabilitas sedang
0.70-0.90 = reliabilitas tinggi
0.90-1.0 = reliabilitas sangat tinggi
Hasil penghitungan reliabilitas yaitu 0.952 yang berarti reliabilitas sangat tinggi (lampiran 4 dan 5).
c. Penghitungan Analisis Butir Instrumen
Sebelum penelitian terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen melalui penghitungan analisis butir instrumen dengan cara menghitung difficulty level
(tingkat kesukaran) dan discrimininating power (daya pembeda) setiap butir soal. Tingkat kesukaran dari suatu tes digunakan untuk mengetahui apakah tiap butir soal dalam kategori mudah, sedang atau sukar. Tingkat kesukaran dihitung dengan rumus sebagai berikut:
P =
N B
Keterangan:
P = proporsi (indeks kesukaran) B = jumlah siswa yang menjawab benar N = jumlah peserta tes
Adapun tingkat kesukaran memiliki kriteria sebagai berikut:
0-0,25 : termasuk kategori sukar
0,26-0,75 : termasuk kategori sedang
0,76-1 : termasuk kategori mudah
Berikut hasil tingkat kesukaran instrumen (lihat lampiran 1) yaitu: Tabel 3.5 Hasil Tingkat Kesukaran Instrumen
No. Kategori No. Soal Persentase
1 Sukar 12,14,18,32,33 12,5% 2 Sedang 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,13,15,16,17,21, 23,24,25,27,29,30,31,35,36,37,38,39,40 72,5% 3 Mudah 19,20,22,26,28,34 15%
Sedangkan daya pembeda soal berguna untuk mengetahui kemampuan suatu soal membedakan siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai, dalam hal ini dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
D = Jb Bb Ja Ba Keterangan
Ja = banyaknya peserta kelompok atas Jb = banyaknya peserta kelompok bawah
Ba = jumlah yang menjawab benar pada kelompok atas Bb = jumlah yang menjawab benar pada kelompok bawah N = jumlah peserta tes
Besarnya daya pembeda memiliki kriteria sebagai berikut:
0.00-0.20 : termasuk kategori jelek
0.21-0.40 : termasuk kategori cukup
0.41-0.70 : termasuk kategori baik
0.71-1.00 : termasuk kategori baik sekali
Hasil penghitungan daya pembeda instrumen dapat dilihat pada lampiran 3.