BAB I PENDAHULUAN
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data
Dalam hal mendeskripsikan tentang penggunaan Onang-Onang pada masyarakat Mandailing, maka dilakukan penelitian lapangan sebagai suatu upaya untuk memperoleh data primer. Selain itu diperlukan juga penelitian dari berbagai sumber kepustakaan sebagai upaya untuk memperoleh data sekunder. Dalam penelitian kualitatif, untuk memperoleh data primer tersebut, metode yang digunakan adalah metode observasi atau pengamatan dan wawancara.
Data Primer
Untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian lapangan, yaitu : Metode observasi dilakukan guna mengetahui situasi dalam konteks ruang dan waktu pada daerah penelitian. Menurut penulis, data yang diperoleh dari hasil wawancara saja tidaklah cukup untuk menjelaskan fenomena yang terjadi, oleh karena itu diperlukan suatu aktivitas dengan langsung mendatangi tempat penelitian dan melakukan pengamatan. Pengamatan akan dilakukan pada setiap kegiatan atau peristiwa yang dianggap perlu atau berhubungan dengan tujuan penelitian.
Metode yang dipakai adalah observasi (partisipasi maupun non-partisipasi) observasi partisipasi membantu untuk memahami lingkungan dan menilai keadaan yang terlihat ataupun keadaan yang tersirat (tidak terlihat, hanya dapat dirasakan) dengan memperhatikan kenyataan atau realitas lapangan, yang mana dalam observasi jenis ini peneliti tidak hanya sebatas melakukan pengamatan, tetapi juga ikut serta dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dimana penelitian ini akan dilakukan, hal ini tidak tidak terlalu sulit bagi peneliti dikarenakan peneliti
merupakan penduduk Kota Medan sendiri, observasi diharapkan dapat berjalan dengan baik oleh karena sebelumnya telah dilakukan pra-penelitian dan peneliti telah membangun rapport yang baik. Walaupun demikian peneliti akan berusaha berfikir secara objektif sehingga data yang diperoleh dilapangan adalah benar dan sesuai dengan kenyataan yang ada dilapangan.
Metode wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam (depth interview) kepada beberapa informan yang sesuai dengan tujuan penelitian. Informan disini adalah para paronang-onang (individu yang melakukan Onang- Onang atau maronang-onang) sebagai informan utama, para tokoh-tokoh adat dan masyarakat Mandailing lainnya sebagai informan biasa. Para paronang-onang adalah mereka yang secara luas mengetahui seluk beluk tentang Onang-Onang tersebut secara menyeluruh, selain para paronang-onang tersebut tokoh-tokoh adat dan masyarakat Mandailing dikategorikan sebagai informan untuk memperoleh pengetahuan masyarakat luas tentang makna penggunaang Onang- Onang. Besar kecilnya jumlah informan tergantung pada data yang diperoleh di lapangan.
Wawancara mendalam ini dilakukan dengan mendatangi para paronang- onang yang dianggap mempunyai dan memiliki pengetahuan yang luas dan lengkap tentang sejarah, asal-usul Onang-Onang. Hal ini perlu dilakukan karena pengetahuan akan sejarah, asal-usul Onang-Onang tersebut memberikan sumbangan yang berarti dalam memahami makna dan merupakan tema pokok penelitian yang akan dilakukan.
Teknik wawancara juga dilakukan dengan cara komunikasi verbal atau langsung dengan informan utama maupun informan biasa dengan berpedoman pada interview guide yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk mendapatkan data konkrit yang lebih rinci dan mendalam. Perlengkapan yang digunakan pada saat wawancara adalah catatan tertulis untuk mencatat bagian-bagian yang penting dari hasil wawancara dan tape recoder serta video kamera yang digunakan untuk merekam proses wawancara dalam rangka antisipasi terhadap keabsahan data yang diperoleh ketika melakukan wawancara serta sebagai bahan video lapangan etnografi (field video ethnography).
Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang bersifat tidak langsung, akan tetapi memiliki keterkaitan fungsi dengan salah satu aspek pendukung bagi keabsahan suatu penelitian. Data sekunder berupa sumber-sumber atau referensi tertulis yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, data sekunder dalam penelitian ini adalah :
Studi kepustakaan sebagai teknik pengumpul data selanjutnya, dimaksudkan peneliti sebagai suatu sarana pendukung untuk mencari dan mengumpulkan data dari beberapa buku dan hasil penelitian para ahli lain yang berhubungan dengan masalah penelitian guna lebih menambah pengertian dan wawasan peneliti demi kesempurnaan akhir penelitian ini. Masih terbuka kemungkinan munculnya lokasi lain dalam penelitian ini nantinya, hal ini dikarenakan adanya lokasi-lokasi lain yang dapat dianggap sebagai suatu lokasi yang mewakili keberadaan etnik Mandailing yang bertempat tinggal di Medan.
1.6.3 Catatan Lapangan
Perjalanan pertama kumulai dengan pergi menuju daerah Tembung, daerah yang kalau kata orang-orang Medan 'gak masuk tangga lagu-lagu' atau daerah paling pinggir walau sesungguhnya daerah ini tidak terlalu pinggir, jatuhnya pilihan menuju daerah tersebut didasarkan atas cerita bahwa di daerah tersebut terdapat banyak penduduk yang berasal dari daerah Mandailing, hal ini juga didukung disekitar daerah tersebut terdapat beberapa stasiun bus antar kota dengan tujuan Medan – Panyabungan (dan daerah Mandailing lainnya), selain itu pengalaman selama ini yang terkadang iseng berjalan ke daerah itu dan melihat acara-acara perkawinan yang menggunakan Onang-Onang.
Daerah Pancing, beberapa kilometer dari lokasi yang nantinya akan dituju, berbekal keberanian dan seorang teman perjalanan akhir aku memutuskan untuk bertanya dengan masyarakat sekitar. Tentunya masyarakat yang akan kutanya adalah masyarakat yang kuanggap sudah cukup berpengalaman tinggal di daerah itu dan memiliki kaitan dengan Mandailing.
Akhirnya proses pencarian tersebut terhenti pada sebuah kedai jualan dipinggir jalan, dimana perlahan terdengar mereka yang ada di kedai tersebut berbincang-bincang dengan menggunakan bahasa Mandailing, walaupun aku tak bisa berbahasa Mandailing tapi aku tahu jikalau mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Mandailing hal ini aku ketahui dari dialek mereka ketika bercakap-cakap.
Setelah lama aku dan teman perjalananku mendengar percakapan mereka, lalu aku berkata “cak ko tanya dulu sama bapak itu, alamat pak Fachruddin” ungkapku kepada teman perjalananku itu dan seraya menambahkan “segan kalo aku yang nanya, aku kan perempuan”, dan akhirnya temanku itu pun bertanya kepada dua orang bapak yang sedari tadi berbincang dengan dialek Mandailing.
Kudengar dan kulihat sepintas jikalau kedua bapak dan seorang temanku ini sepertinya sudah mendapatkan sedikit informasi tentang keberadaan alamat informan penelitian yang kudapatkan dari seorang kenalan. “Terima Kasih ya pak”, kudengar temanku mengucapkan hal itu kepada kedua orang bapak tersebut, dan kemudian temanku ini mengatakan “iya, benar rumah bapak itu di ujung jalan ini, jalan aja terus dari sini sampe nanti galon, ha di depan galon tu ada gang taufik, disitu rumah bapak itu”.
Dengan petunjuk jalan tadi kususuri jalanan menuju gang taufik yang disebutkannya tadi dan akhirnya kutemukan tepat berseberangan dengan pom bensin, gang yang sempit dan rumah-rumah yang rapat nyaris tanpa batas antar rumah. Muncul seorang anak perempuan dari rumah sebelah kanan, kuberanikan bertanya padanya “dek, permisi, tau rumah pak Fachruddin ?”, “ooo, itu kak yang ujung sebelah kiri”.
Kuberdiri dan terdiam sejenak didepan pintu rumah kecil itu, rasa grogi berkeluaran bersama cucuran keringat “apa betul ini rumahnya ?” tandasku dalam hati. “Assalamualaikum” sapa temanku sebagai perkenalan awal karena terlihat ada tulisan itu tepat diatas pintu rumahnya, “Waalaikumsalam” jawab dari dalam, “cari siapa ?” kata pria paruh baya dengan tinggi badan tidak melebihi pundakku,
“cari pak Fachruddin” kata kami, “ooo., masuk, masuk” katanya mempersilahkan aku dan temanku untuk bergabung dalam rumah kecilnya.
“Darimana ?” katanya padaku, “dari kampus, pak. Saya lagi nyari pak Fachruddin yang pemain Onang-Onang itu” kataku memberanikan diri dan tanpa bisa menghilangkan rasa grogi, “akulah yang kau cari itu” katanya, memang betul-betul keberuntungan yang tidak terduga, sekali mencari langsung dapat.
“Jadi kau mau meneliti Onang-Onang ?” tanyanya padaku, “iya pak, saya mau nulis tentang Onang-Onang” jawabku, “baiklah, memang tak banyak yang bapak tahu tentang Onang-Onang ini” katanya menutup sesi pertanyaan perkenalan.
“bapak pernah maen sampe Amerika” katanya sambil menyodorkan foto yang usang kepadaku, memang tampak pada foto itu wajah Fachruddin muda dengan latar belakang papan nama bertuliskan San Fransisco Train Station, “wah, Amerika ya pak” kataku penuh dengan rasa terkejut.
Perbincangan dengannya akhir terhenti karena pada waktu itu ia mesti berkemas pergi, “minggu depan aja orang adek datang lagi, bapak mau pigi maen ke Tebing” katanya, “baiklah pak, terima kasih” jawabku.
Bermodal pertemuan dengannya menimbulkan rasa keingintahuan yang lebih,mungkin ini yang dikatakan antropolog-antropolog barat bahwa penelitian yang memiliki balasan positif menjadi candu untuk terus-menerus mengumpulkan pecahan-pecahan data tanpa henti dan terkadang yang tidak ada hubungannya pun dianggap layak masuk data juga.
Melalui pertemuan yang dapat dikatakan sebagai proses mendapatkan informan, pada proses ini setidaknya sudah memiliki gambaran siapa-siapa yang akan mengisi posisi informan pangkal, kunci dan informan biasa. Kategorisasi informan ini penting dilakukan karena data yang diberikan akan berdampak pada penulisan etnografi nantinya. Pertemuan dengan Bapak Fachruddin tersebut membuka jalan kepada beragam informasi dan data penting mengenai Onang- Onang.
1.6.4 Analisis Data
Seperti yang telah penulis jelaskan sebelumnya, bahwasanya dalam penelitian ini penulis berusaha untuk bersikap objektif terhadap data yang diperoleh dilapangan. Keseluruhan data yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan tersebut akan diteliti kembali atau diedit ulang, pada akhirnya kegiatan ini bertujuan untuk memeriksa kembali kelengkapan data lapangan dan hasil wawancara.
Analisis data dalam penelitian merupakan suatu pandangan mengenai penulis untuk bersikap objektif terhadap data yang diperoleh dilapangan. Keseluruhan data yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan tersebut akan diteliti kembali atau diedit ulang, pada akhirnya kegiatan ini bertujuan untuk memeriksa kembali kelengkapan data lapangan dan hasil wawancara.
Analisis data merupakan proses lanjutan dari bentuk catatan lapangan sebagaimana ditulis oleh Emerson (1995:4-5) sebagai :
“Fieldnotes are accounts describing experiences and observations the researcher has made while participating in an intense and involved manner.”
“Catatan lapangan yang menggambarkan kumpulan pengalaman dan pengamatan peneliti yang dicatat saat turut berpartisipasi secara intens dan terlibat.”
Langkah selanjutnya data-data ini akan dianalisa secara kualitatif melalui teknik taxonomy data, sehingga data yang diperoleh akan dikategorikan berdasarkan jenisnya. Keseluruhan data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan sumber kepustakaan disusun berdasarkan pemahaman akan fokus penelitian atau berdasarkan kategori-kategori yang sesuai dengan tujuan penelitian.