1. Beberapa Dasar Pemikiran
Permainan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, yang salah satu tujuannya adalah mencari kebahagiaan. Setiap orang menyukai permainan tertentu berarti mencari sekelumit kebahagiaan/kesenangan dalam kehidupannya. Melalui permainan siswa/siswi memperoleh sejumlah pengalaman belajar yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Mengapa permainan dapat mengembangkan motivasi untuk belajar aktif?. Alasannya adalah sebagai berikut:
a) Permainan mampu menghindarkan kebosanan. John, M. Stephens dalam The Psycology of Classroom Teaching, mengemukakan mekanisme motivasi, “Monotony and regularities are especial enemies of makefullness.”( Keadaan yang terus menerus, tanpa variasi adalah tidak menggairahkan ).
b) Permainan memberikan tantangan untuk memecahkan masalah dalam suasana gembira.
Pelajaran yang dianggap sulit umumnya sering menjadi masalah dan menimbulkan ketegangan.Bila pelajaran itu dapat dikelola dengan baik, cukup bervariasi, yaitu dengan cara permainan, siswa akan lebih berani dan lebih gembira melakukan aktivitas.
Misalnya: TTS, walaupun memberikan sejumlah kesulitan, banyak orang yang berusaha untuk mencari jawaban atas soal-soal yang sulit itu.
Permainan menimbulkan semangat kooperatif dan kompetitif yang sehat, di antaranya sebagai berikut:
a. Permainan beregu mengajak peserta untuk berpartisipasi aktif agar regunya menang. Dengan demikian akan menimbulkan semangat kerja sama dan persaingan sehat.
b. Tugas Guru:
1) Menghadiri keputusasaan bagi regu yang sering kalah. 2) Menghilangkan sikap sok pintar bagi regu yang menang. 3) Mengadakan pergantian anggota regu.
c. J.M. Stephens : Kompetisi tidak harus dihilangkan karena seringkali merupakan tantangan yang menggairahkan, tapi hendaknya dalam batas yang wajar.
2. Jenis-Jenis Permainan Kata
N.F. Maskey dalam Language Teaching analysis mengenai permainan kata membagi “Permainan Kata” ke dalam empat jenis yaitu :
a. Permainan Mendengarkan (Listening Games). b. Permainan Berbicara ( speaking games). c. Permainan Membaca ( reading games) . d. Permainan Menulis ( writing games ).
a. Permainan Mendengarkan ( Lestening Games ). 1. Bisik berantai ( the grape vine ).
a. Bagi kelas dalam beberapa regu lalu bentuk lingkaran. b. Bisikkan kata atau kalimat pendek kepada salah seorang
siswa dari tiap tegu.
c. Siswa harus meneruskan bisikan tersebut kepada siswa yang lain.
d. Siswa terakhir harus mengatakan dengan suara keras kepada guru.
e. Regu yang betul mendapatkan nilai 10. 2. Temukan Objek (Find the Object ).
b. Letakkan nama-nama benda dalam kotak.
c. Guru menyebutkan nama benda itu lalu menyuruh anggota regu menamai benda itu.
b. Permainan Mengarang Lisan (Oral Composition). a. Mari kita bercerita (let’s tell a story).
Permainan ini ditujukan untuk melatih kemapuan mengarang bersama secara lisan.
Guru mengatakan kalimat pertama.
Pagi yang cerah itu, ketika ….. Setiap regu melanjutkan cerita itu.
Salah seorang dari masing-masing regu mencatat semua kalimatnya.
Guru menetapkan waktu.
Setelah habis waktu, sekretaris membacakan kalimat.
b. Terka Gambar (name the picture). Guru memperlihatkan gambar.
Siswa harus menebaknya dan menceritakan apa yang terjadi pada gambar, kemudian menuangkan ide cerita tersebut ke dalam bahasa puisi dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
c. Permainan Mambaca
Permainan mengenal (recognition games) a. Mencocokan Kartu.
b. Guru membagikan flash card.
c. Guru menulis sebuah kalimat di papan tulis.
d. Permainan Menulis
1. Silang Datar ( Across and down )
Pelaksanaannya seperti menyusun TTS
2. Category Bingo
a). Siswa ditugaskan untuk membuat segi empat dengan 16 kotak pada kertas.
b). Guru mengambil sebuah daftar kategori, misalnya: 1. Benda-benda langit.
2. Gunung. 3. Hutan-hutan. 4. Binatang.
c). Siswa segera mengisi kotak-kotak tersebut. 3.Spelling Bee
a) Guru membuat daftar kata-kata.
b)Kelas dibagi menjadi dua regu saling berhadapan. c) Guru mengambil satu kata dari daftar.
d)Siswa disuruh mengejanya dengan benar.
e) Jika salah, ia harus duduk dan jika benar ia tetap berdiri.
f) Pemenangnya adalah regu yang paling banyak yang masih berdiri. 4. Membentuk Kata dari huruf yang sama
Berikut akan dipaparkan dua buah permainan kata yang diimplementasikan pada pembelajaran bahasa Indonesia. Permainnan ini dapat digunakan sebagai bahan apersepsi terutama untuk mengawali pembelajaran dengan tujuan dapat membangkitkan semangat belajar siswa. Permainan ini dikembangkan untuk menerapkan linguistik dalam pembelajaran bahasa.
Permainan yang pertama sengaja dirancang untuk menerapkan semantik dan pengajaran kosa kata dalam pembelajaran menulis.
Sebelum melakukan permainan perlu dijelaskan dulu kepada anak seputar permainan yang akan dipraktikkan.
Permainan ini dapat diberi nama Putaran Huruf karena huruf-huruf dalam satu kata akan diputar sehingga putaran huruf-huruf tersebut akan menghasilkan kata baru dengan susunan yang berbeda dan masing-masing kata itu mempunyai makna yang berbeda pula. Misalnya: murah, rumah, harum, dan umrah.
Cara melakukan permainan ini:
Anak diminta untuk mencari satu kata yang bisa dibentuk menjadi kata baru. Anak diberi waktu sekitar lima menit untuk menemukan kata yang dimaksud. Setelah anak menemukan kata yang dapat dibentuk menjadi kata lain, mereka lalu diberi kesempatan untuk mempresentasikan olahan huruf yang sudah ditemukan di depan teman-teman yang lain. Jika hal ini dilakukan di dalam kelas sebaiknya anak yang presentasi diminta untuk menuliskan kata bentukannya di papan tulis agar anak yang lain bisa tahu sehingga kemungkinan pemakaian kata yang sama dalam satu kelas tidak terjadi.
5. Menyusun kata yang sudah dibentuk berdasarkan abjad (membuat kamus kecil)
Contoh :
Dari kata bentukan (duka, daku, kuda, dan aduk) jika diurutkan menjadi : a. aduk.
b. daku. c. duka. d. kuda.
Dari kata bentukan (rusak, kurus, rakus, sukar, dan kasur, jika diurutkan menjadi:
a. kasur. b. kurus.
c. rakus. d. rusak. e. sukar.
6. Mencari arti kata yang sudah dibentuk dalam kamus bahasa Indonesia
Contoh:
a. aduk: mencampur. b. daku: aku, saya, beta. c. duka: sedih, susah.
d. kuda: binatang menyusui yang biasa dipelihara sebagai atau penarik gerobak.
e. kasur: alas untuk tidur biasanya terbuiat dari kapuk atau busa yang empuk.
f. kurus: menghabiskan/ membersihkan kulah dari air dan kotoran. g. rakus: suka makan banyak/ ingin memperoleh sesuatu lebih banyak
dari yang sudah didapat.
h. rusak: sudah tidak sempurna lagi. i. sukar: susah/sulit.
7. Menggunakan kata yang sudah dibentuk dalam kalimat yang runtut dan berhubungan
Contoh:
Sewaktu hari libur tiba daku pergi rekreasi ke kebun teh dengan menunggang kuda sangat kencang, sampai terjatuh sehingga hatiku berduka, setelah peristiwa itu perasaanku menjadi bercampur aduk. Bersih-bersih adalah hobbyku, setelah mencuci baju kukuras kamar mandi, kujemur kasur di kamarku, kubuang barang-barang yang sudah rusak. Pekerjaan ini tidak begitu sukar bagiku, tetapi setelah semua
selesai , aku sangat lapar sehingga aku makan begitu banyak seperti orang rakus.
8. Menyusun kalimat dari kata akhir
Permainan kedua penerapan sintaksis dalam pembelajaran menulis. Pada permaianan kedua ini, anak diminta untuk berdiri berjajar. Satu anak yang berdiri paling ujung diminta untuk membuat kalimat. Dari kalimat yang sudah diucapkan secara lisan tersebut akan ditemukan kata akhir. Kata akhir tersebut lalu digunakan oleh anak berikutnya menjadi kata pertama untuk membuat kalimat baru.
Contoh :
1. Sapu disudut kelas itu berwarna biru. 2. Biru adalah warna kesukaan ibuku. 3. Ibuku membeli sayur bayam.
4. Bayam mengandung zat besi yang diperlukan tubuh. 5. Tubuh setiap hari perlu diberi makan.
6. Makan bakso hobbyku nomor Satu. 7. Satu kilo mangga kuhabiskan sendiri.
Agar permainan ini semakin menarik, anak yang salah atau tidak bisa membuat kalimat diminta untuk menghibur teman-temannya dengan bernyanyi menyanyikan lagu-lagu anak-anak atau lagu dolanan atau membacakan puisi. Tindakan ini sebagai satu bentuk motivasi kepada siswa agar semua kreatif dalam belajar dan sportif dalam permainan.
9. Teknik Peta Pasang Kata34
Teknik ini berpusat pada keberanian dalam memasang-masangkan kata secara bebas tetapi imajinatif. Di sinilah, akan dimungkinkan munculnya kata-kata baru yang imajinatif pula. Hal ini, kemudian menjadi hal yang secara potensial dapat dikembangkan menjadi larik yang
34
mashudismada.wordpress.com/2010/11/06/variasi teknik kreatif dalam pengajaran menulis puisi/ Senin,07/05/2012.
menarik, kemudian dapat dikemabangkan menjadi bait, selanjutnya dapat disempurnakan puisi yang utuh.
Langkah pertama kita perlu membayangkan sentral kata yang menggerakkan inspirari kita. Tugas kita dalam langkah ini, adalah menyeleksi dari sekian pengalaman dan empati kita untuk memilih fokus pada diksi tertentu. Inspirasional diksi yang menggerakkan ini menggugah ingatan kita pada hal-hal lain yang seringkali secara tidak sadar akan menghasilkan eksplorasi kata yang luar biasa.
Langkah kedua mengaitkan kata dengan kata lain (memasangkan kata). Ini membutuhkan keberanian untuk tidak terjebak pada ketakutan apakah pasangan kata yang dibuat salah atau benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam menulis puisi tidak dikenal salah atau benar, sebab penyair memiliki kebebasan untuk menyimpang dari kaidah yang dikenal dengan licensia poetica. Contoh: mata lupa, aroma dusta, hitam hati, dll.
Langkah ketiga setelah kita secara acak bermain-main dengan memasangkan kata dengan berbagai kata secara bebas maka selanjutnya mengembangkannya menjadi larik-larik yang menarik. Larik-larik menarik dalam puisi tidak terikat oleh kaidah kebahasaan, tetapi seorang penyair diberikan kebebasan untuk berkarya.
Contoh: Aroma dusta bermuara pada tatapan luka/ mata lupa mengingatnya karena//
Langkah keempat mengkategorikan larik-larik yang telah dibuat ke dalam tema kecil (pokok permasalahan) yang biasa disebut subject matter. Di sini, dibutuhkan kemampuan analisis terhadap isi dan makna larik kemudian merangkai gagasan larik ke dalam keutuhan bait yang memikat.
Langkah kelima dekat dengan langkah keempat, mengkategorikan larik kedalam kelompok larik yang membangun bait. Di sinilah dibutuhkan kejelian untuk menentukan larik-larik yang manakah yang memiliki nuansa sama, berdekatan, dan bahkan berurutan “pikiran”.
Dengan begitu, maka akan sangat membantu dalam mengklasifikasikan larik.
10.Teknik Epigonal35
Teknik epigonal ini pada dasarnya adalah teknik pengekoran terhadap puisi-puisi yang telah ada. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah; (a) sebanyak mungkin membaca puisi para penyair, (b) mengidentifikasi kemenarikan puisi, (c) mengategorikan aspek kemenarikan puisi, (d) menyisihkan puisi-puisi yang inspirasional dan menarik, (e) mengedit secara cermat sehingga puisi yang ditulisnya sudah relatif memesona.
11.Teknik Lengkapi Puisi36
Teknik ini merupakan latihan mendasar mengawali puisi, mengisi isi puisi, sampai bagaimana mengakhiri puisi yang menarik. Di samping itu, teknik ini juga melatihkan agar secara kreatif kita dapat menyesuaikan secara cepat dengan gaya puisi yang dirumpangkan.
Langkah-langkah yang dapat dimanfaatkan dalam teknik ini adalah sebagai berikut (a) menghilangkan sebait dua bait awal kemudian mengisinya dengan ungkapan beda tetapi semakna, (b) menghilangkan bait-bait isi puisi kemudian mengisinya dengan ungkapan beda tapi semakna, (c) menghilangkan sebait terakhir kemudian mengisinya dengan ungkapan beda tapi semakna, (d) mengedit ulang apakah pengisian bait-bait rumpang itu secara totalitas makna sudah padu.
12.Teknik Outbond37
Pada prinsipnya teknik outbond mengajak kita untuk terlibat langsung dengan objek, dan karena itu, pemaksimalan penulisan puisi menggunakan teknik ini menarik jika dilakukan di luar ruang-ruang bersekat, tetapi di alam terbuka. Misalnya, di pinggir kali, di alun-alun kota, di objek wisata, di pesawahan, di keramaian, dan seterusnya.
35
mashudismada.wordpress.com/2010/11/06/variasi teknik kreatif dalam pengajaran menulis puisi/Senin,07/05/2012. hlm.3
36Ibid
.hlm.4
37Ibid
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam teknik outbond adalah: (a) memilih tempat yang cocok dengan tema terpilih, (b) memaksimalkan objek langsung sebagai sumber inspirasi dan ekspresi, (c) mengekspresikannya sesuai dengan objek amatan, dan (d) menata dengan baik berbasis objek langsung.
13.Teknik Bergambar38
Gambar dapat dimanfaatkan untuk mengarahkan siswa langsung pada tema yang diangkat dalam sebuah puisi. Aktivitas yang disarankan adalah dengan menunjukkan sebuah gambar disertai dengan pertanyaan-pertanyaan yany mengarah pada gambar.
Contoh aktivitas: Sebelum pengajaran menulis puisi ditunjukkan beberapa gambar, seperti kelinci dengan wajah sedih, rumah, dan gadis yang sedang mencari sesuatu. Kemudian disertai pertanyaan-pertanyaan seperti, Binatang apa ini? Apakah dia kelihatan senang? Gambar apakah ini? Apakah kelinci itu tahu rumah ini? Siapa gadis kecil ini? Apa yang dia lakukan?
14.Teknik Panggil Pengalaman39
Sumber yang paling diyakini dapat membantu dalam pengajaran menulis puisi adalah mengangakat pengalaman pribadi, mengundang ide atau gagasan (brainstorming). Dalam kegiatan ini, satu tema bisa dipilih, misalnya, yang paling sederhana, kegiatan akhir pekan. Ini bisa dimulai dengan menulis paragraf pendek tentang kegiatan akhir pekan yang tak terlupakan. Setelah itu dengan bimbingan bisa dilanjutkan menulis puisi berdasarkan pengalaman yang tak terlupakan.
15.Tebak Kata40 1). Kondisikan anak.
2). Sampaikan materi, contohnya jenis makhluk hidup.
38 Ibid., hlm.4 39Ibid ., hlm.5 40 http://arabgampangblogspot.com/2009/07/inovasi-pembelajaran-dengan-metode.html./ Senin,02/04/2012.
3). Berikan pertanyaan ke murid : aku adalah jenis makhluk hidup, aku hidup di darat, aku termasuk hewan menyusui, aku mempunyai kaki empat, aku digunakan untuk menarik delman, apakah aku ?
jawabannya : kuda.
4). Sebelum ada anak yang mampu menjawab, berikan pernyataan dengan menyebutkan ciri-ciri atau kata yang mendekati kata kunci.
Kelebihannya : anak akan mempunyai kekayaan bahasa.
Kelemahannya : memerlukan waktu yang lama sehingga materi sulit tersampaikan.
16.Acak Kata41
1). Kondisikan anak.
2). Sampaikan materi, contohnya jenis makhluk hidup.
3). Berikan Pernyataan secara acak dan biarkan anak menyusunnya. 17.Komunikata42
1). Kondisikan anak.
2). Sampaikan materi, contohnya permukaan bumi.
3). Untuk kelas yang jumlah muridnya kurang dari 20, boleh tempat duduknya berbentuk U, dan bisikan salah satu pengertian ke telinga murid yang paling ujung dan terus dibisikan sampai ke murid ujung satu lagi. Setelah sampai di murid paling ujung, guru menanyakan apa yang dibisikan temannya. Contohnya bisikan kalimat: Palung adalah dasar laut yang paling dalam dan curam.
4). Untuk kelas yang muridnya lebih dari 20 boleh di kelompokan menjadi beberapa kelompok. Ketua tiap kelompok diberi kalimat yang berbeda untuk disampaikan ke anggotanya. Setelah semua anggota dibisikkan. Tanya anggota yang paling terakhir di bisikan. Kelompok yang benar jawabannya diberi poin.
Kelebihannya : melatih kekuatan hafalan, pendengaran, dan kejelasan bicara. 41 Ibid., hlm.4 42 Ibid., hlm.4.
Kekurangannya: memerlukan waktu yang lama.
B. Hasil Penelitian yang relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian penulis adalah:
Skripsi yang disusun oleh Mochammad Riza Anshori Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang tahun 2010 dengan judul Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Strategi Windows pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 20 Malang. Dari hasil peningkatan kemampuan menulis puisi pada tahap pratulis pada siklus I diketahui bahwa siswa yang mencapai skor >75 sebanyak 62,16% berjumlah 23 siswa, sedangkan untuk siklus II siswa yang mencapai skor >75 sebanyak 100% berjumlah 37 siswa. Pada tahap pratulis diketahui ada peningkatan kemampuan siswa sebesar 37,84%. Dari hasil peningkatan kemampuan menulis puisi pada tahap saat tulis siklus I diketahui bahwa siswa yang mencapai skor >75 sebanyak 24,32% berjumlah 9 siswa. Pada siklus II siswa yang mencapai skor >75 sebanyak 100% berjumlah 37 siswa, hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa sebesar 75,68% dibandingkan siklus I. Pada tahap pascatulis siklus I siswa kurang percaya diri dan kurang antusias dalam kegiatan publikasi, sedangkan pada siklus II siswa telah mempunyai kepercayaan diri untuk membacakan puisinya di depan kelas. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menulis puisi dengan strategi Windows dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis puisi dengan menggunakan strategi Windows dapat meningkat pada aspek diksi, majas/bahasa kias, rima, citraan pada proses dan hasil tahap pratulis, saat tulis, dan paskatulis.
Relevansi dari skripsi Mochammad Riza Anshori dengan skripsi yang penulis susun adalah teknik pembelajaran yang student center sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah. Namun upaya peningkatan keterampilan menulis puisi tersebut menerapkan strategi windows, dan diarahkan untuk siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang. Sedangkan aktivitas permainan yang
penulis angkat sebagai salah satu solusi permasalahan dalam pembelajaran di kelas, dijelaskan secara spesifik yaitu bentuk permainan kata dalam hal menulis puisi siswa kelas V MIN.
Skripsi yang disusun oleh Puji Rahayu pada Tahun 2011 dengan judul “Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Melalui Penerapan Pendekatan Konstektual : studi kasus pasa siswa kelas X SMA Bani Saleh Tambun, Bekasi”. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di kelas X pada SMA Bani Saleh Tambun, Bekasi tahun akademik 2011/2012 bahwa melalui penerapan pendekatan kontekstual dengan taknik meditasi, siswa mampu menulis puisi dengan baik, meningkat lebih dari 50%. Setelah menerapkan pendekatan kontekstual dengan teknik meditasi, terdapat peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dari pretes (penelitian pendahuluan) ke post tes siklus ketiga yang sangat signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan pendekatan kontekstual dengan teknik meditasi, kemampuan siswa dalam menulis puisi meningkat.
Relevansi dari skripsi Puji Rahayu dengan skripsi yang penulis susun adalah pendekatan kontekstual yang dilakukan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis puisi . Hanya saja upaya peningkatan keterampilan menulis puisi yang dilakukan oleh Puji Rahayu dengan teknik meditasi, dan ditujukan untuk siswa kelas X SMA Bani Saleh Tambun, Bekasi, sedangkan upaya peningkatan keterampilan menulis puisi yang penulis susun adalah melalui penerapan teknik permainan kata, ditujukan untuk siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyyah Negeri 16 Cipayung.
Skripsi yang disusun oleh Endang Siwi Ekoati Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Tahun 2009 yang berjudul Teknik Kata Berantai Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Siswa SMP I Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009. Dalam kesimpulan skripsi tersebut dijelaskan bahwa:
a. Teknik Kata Berantai mengacu pada teori organisasi konsep, bahwa siswa akan mengaitkan kata dengan kata yang lain karena kedekatan konsep.
b. Teknik Kata Berantai dilaksanakan dengan pola-pola permainan, hal ini mengacu pada prinsip pembelajara PAIKEM.
Relevansi dari skripsi Endang Siwi Ekoati dengan skripsi yang penulis susun adalah Teknik Permainan Kata yang diterapkan dalam proses pembelajaran menulis puisi. Hanya saja dalam penelitiannya Endang Siwi Ekoati hanya menerapkan satu jenis teknik permainan yaitu Kata Berantai. Sedangkan dalam skripsi ini penulis mencoba mengkolaborasikan beberapa teknik permainan kata selama tiga kali siklus berlangsung diantaranya adalah Teknik Out bond/Out door, Panggil Pengalaman, Tebak Kata, Acak Kata, dan Komunikata. Perbedaan lain yang ada adalah bahwa penelitian yang dilakukan oleh Endang Siwi Ekoati ditujukan kepada siswa SMP, sedangkan penelitian yang penulis lakukan adalah ditujukan untuk siswa Madrasah Ibtidaiyah.
C.Hipotesis Tindakan
Berdasarkan strategi pembelajaran yang telah dijelaskan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut: “jika pembelajaran menulis
puisi dilaksanakan dengan teknik permainan kata, maka kemampuan menulis puisi siswa kelas V MIN 16 Cipayung akan meningkat”.