• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Observasi Lapangan 1.Teknik Observasi Lapangan

4. Teknik Triangulasi

Triangulasi menurut Sugiyono (2009), diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Dengan triangulasi, peneliti dapat mengumpulkan data sekaligus menguji kreadibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data. Dalam penelitian mengenai upaya preservasi nilai-nilai tradisi Kampung Adat Pulo di Desa Cangkuang, penulis cenderung menggunakan Triangulasi teknik, yaitu pengumpulan data yang berbeda – beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama.

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

a. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpul data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian Preservasi nilai-nilai tradisi Kampung Adat Pulo di Desa Cangkuang ini adalah :

a. Digital kamera b. Pedoman observasi c. Pedoman wawancara d. Angket / kuisioner e. Alat tulis

b. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang diterapkan agar tujuan peneliti dapat tercapai adalah dengan menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang dengan mengolah dan menginterpretasikan data berupa argumen serta data yang bersifat non angka. Tujuan dari metode deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 1988).

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dengan adanya metode deskriptif kualitatif maka teknik analisa data dilakukan melalui 3 tahapan, yaitu :

1. Reduksi Data, yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah atau data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Dengan kata lain proses reduksi data ini dilakukan oleh peneliti secara terus menerus saat melakukan penelitian untuk menghasilkan data sebanyak mungkin.

2. Penyajian Data, yaitu penyusunan informasi yang kompleks ke dalam suatu bentuk yang sistematis, sehingga menjadi lebih selektif dan sederhana serta memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan data dan pengambilan tindakan. Dengan proses penyajian data ini peneliti telah siap dengan data yang telah disederhanakan dan menghasilkan informasi yang sistematis.

3. Kesimpulan, yaitu merupakan tahap akhir dalam proses anlisa data. Pada bagian ini peneliti mengutarakan kesimpulan dari data-data yang telah diperoleh dari observasi, interview, dan dokumentasi. Dengan adanya kesimpulan peneliti akan terasa sempurna karena data yang dihasilkan benar-benar valid atau maksimal. Dengan melalui langkah-langkah tersebut diatas diharapkan penelitian ini dapat memberi bobot tersendiri terhadap hasil penelitian yang peneliti sajikan.

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu G. Kerangka Pemikiran

Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting (Sugiyono, 2006:67).

Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitiannya hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap besaran variabel yang diteliti (Sugiyono, 2006:68).

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran Sumber : penulis 2012

Trend wisata masa kini

Preservasi Nilai-nilai Tradisi Kampung Adat Pulo bernuansa Budaya

DTW 4 IN 1 Cangkuang

Potensi Kampung Adat Pulo Pengamatan lingkungan intenal

Kampung Adat Pulo : 1. Benda bersejarah

2. Pola kehidupan (adat istiadat) 3. Ritual / religi (upacara adat)

Kampung Adat Pulo

Candi

Suasana perkampungan yang masih menerapkan Hukum Adat dan

menolak modernisasi

Lingkungan sosial masyarakat Identifikasi Preservasi

Kampung Adat Pulo

Makam Dalem Arif Muhammad & Sunan

Pangadegan

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

KESIMPULAN & SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada bab empat, maka penulis dapat mengambil kesimpulan, sebagai berikut :

Kampung Adat Pulo merupakan salah satu kampung budaya yang ada di Jawa Barat. Kampung Adat Pulo memilki karakteristik yang unik yang membedakannya dengan kampung budaya lainnya. Kekarakteristikannya itu tercermin dari kebudayaan yang dimilkinya baik dari segi agama, adat istiadat, bahasa, kesenian, mata pencaharian dan lain sebagainya. Kebudayaan yang dimiliki Kampung Adat Pulo ini menjadi salah satu kekayaan yang dimilki oleh Jawa Barat khususnya dan juga menjadi potensi tersendiri bagi daya tarik wisata di Kampung Adat Pulo khususnya yang tentunya perlu tetap dijaga kelestariannya. Potensi tersebut adalah Calung, Silat, Reog, Rudat Leles, Tari Yapong, Tari Mulatwangi, Tari Gembira Raihan dan Tari Dewi.

Preservasi budaya lokal yang dimilki oleh Kampung Adat Pulo memberi kesempatan untuk mempelajari kearifan lokal dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi di masa lalu. Kearifan lokal tersebut seringkali diabaikan, dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan. Melestarikan berarti memelihara untuk waktu yang sangat lama. Jadi upaya pelestarian warisan budaya kampung Adat Pulo berarti upaya memelihara warisan budaya lokal untuk waktu yang sangat lama. Karena upaya preservasi merupakan upaya memelihara

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

untuk waktu yang sangat lama maka perlu dikembangkan pelestarian sebagai upaya yang berkelanjutan (sustainable).

Dalam pelestarian Kampung Adat Pulo langkah-langkah yang dapat diperhatikan adalah :

a. Aspek sosial, dalam pelestarian nilai-nilai tradisi Kampung Adat Pulo ini tidak dapat dipisahkan dari peran serta atau partisipasi masyarakat adat Kampung Pulo. Pemberdayaan masyarakat muncul secara partisipatif sebagai alternatif terhadap pendekatan pembangunan serta sentralisasi dan bersifat Bottom-up.

b. Pengoptimalan kegiatan seni dan upacara adat.

c. Merealisasikan preservasi Kampung Pulo secara berkelanjutan.

d. Menginventarisasi nilai-nilai budaya masayarakat lokal, menumbuhkan kembali nilai-nilai budaya masyarakat lokal.

e. Mempertahankan kondisi budaya dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

f. Menggiatkan kembali promosi Kampung Adat Pulo melalui internet. g. Memberikan program pelatihan kepada masyarakat dengan cara

mendirikan organisasi kemasyarakatan.

h. Memberikan pelatihan daalm rangka peningkatan kualitas SDM. i. Mengadakan sosialisasi oleh pemerintah mengenai pariwisata

khusunya wisata budaya.

j. Peran sertapemerintah dalam upaya preservasi buday khususnya preservasi Kampung Adat.

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

k. Membuat kebijakan sebagai rujukan preservasi antara pemerintah dan masyarakat Kampung Pulo.

l. Mempertahankan kebudayaan yang sudah dimilki dengan cara meminimalisir kebudayaan asing yang masuk.

m. Mempertegas jati diri Kampung Pulo sebagai kampung adat.

n. Preservasi yang disesuaikan dengan kondisi yang ada pada Kampung Adat Pulo.

Dalam langkah preservasi yang bertujuan untuk aktifitas wisata, kampung adat Pulo memilki potensi yang sangat besar, namun faktor penghambat yang dihadapi oleh Kampung Adat Pulo adalah kurangnya sarana dan prasarana akomodasi, aksesibilitas, tingkat sumber daya manusia yang masih kurang, minimnya dana dari pemerintah dalam upaya preservasi, kurangnya kesadaran masyarakat akan pariwisata. Sedangkan keberhasilan sebuah kawasan menjadi objek wisata salah satunya adalah denngan memenuhi saran dan prasarana yang menunjang.

Terdapat faktor-faktor yang mendukung Kampung Adat Pulo sebagai daya tarik wisata, diantaranya komplek rumah adat Kampung Pulo, Candi Cangkuang, Makam Keramat Dalem Arif Muhammad, Situ Cangkung dan panorama-panorama alam yang dimilki. Dapat disimpulkan bahwa kekayaan potensi kebudayaan dan sumber daya alam yang dimilki oleh kampung adat Pulo dapat dijadikan kawasan desa wisata yang berbasis budaya, dengan cara melestarikan nilai-niali tradisi yang dimilki oleh kampung adat Pulo yang bertujuan untuk pengembangan pariwisata budaya berkelanjutan.

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tujuan dari preservasi dalam upaya pengembangan Kampung Adat Pulo sebagai salah satu objek wisata alternatif sebagai pengganti wisata konvensional adalah agar kebudayaan yang dimilki oleh kampung adat Pulo tetap lestari, dalam hal ini upaya preservasi terhadap budaya dan sumber daya alam, dengan mengajarkan mengenai kebudayaan setempat dan kearifan lokal masyarakat Kampung Adat Pulo sehingga akan bermanfaat pada kampunng Adat Pulo sebagai objek wisata budaya.

B. Saran

Untuk meningkatkan peran serta masyarakat kampung adat Pulo dalam menjaga tatanan kehidupan masyarakat yang harmonis, seimbang antara preservasi dengan pengembangan pariwisata buday berkelanjutan. Peran masyarakat lokal terhadap perwujudan kelestarian kampung adat Pulo, dapat ditinjau dan dijelaskan dari aspek-aspek berikut :

1. Untuk masyarakat setempat agar tetap menjaga kelestarian nilai-nilai tradisi yang dimilki, sehingga jati diri kampung adat Pulo sebagai kampung Budaya tidak tereksploitasi terhadap kebudayan asing yang dibawa oleh wisatawan.

2. Meningkatkan kesadaran masayarakat Kampung Adat Pulo bahwa kelestarian budaya Kampung Adat Pulo adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat kampung Adat Pullo, dan harus dijaga kelestariannya.

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Meningkatkan peran serta masyarakat kampung Adat Pulo untuk menggali dan memahami nilai-nilai ynag trekandung dalam budaya Adat Pulo.

4. Meningkatkan kemampuan masyarakat lokal untuk mengelola perekonomian dan sumber-sumber kekayaan alam secara terkendali untuk kelangsungan kehidupan masyarakat kampung adat Pulo.

5. Meningkatkan kebersamaan dan kesetiakawanan sosial masyarakat kampung adat Pulo yang dapat mengatasi perpecahan atau pergeseran nilai-nilai leluhur yang sudah mereka miliki.

6. Meningkatkan kemampuan masyarakat kampung adat Pulo untuk mengakses berbagai peluang yang ada.

7. Memberdayakan masyarakat sekitar dengan menjadikan mereka sebgai bagian dari preservasi Kampung Adat Pulo, dengan pemberdayaan masyarakat tersebut akan berdampak pada rasa memilki dan merasakan keuntungan yang dapat diterima oleh masyarakat setempat.

8. Denagn preservasi Kampung Adat Pulo, diharapkan menjadi salah satu kawasan wisata bernuansa budaya yang berkelanjutan (Sustainable Cultural Tourism).

9. Pemerintah yang terkait dalam hal ini, hnedaknya mampu berperan aktif dalam preservasi, yang ditunjukan dengan membuat peraturan daerah, pendanaan secara berkelanjutan dalam upaya pelestarian, membangun dan melengkapi sarana dan prasarana yang menunjang untuk tujuan preservasi maupu untuk aktifitas wisata, membuat

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kebijakan dan membuat undang-undang yang berkenaan dengan preservasi budaya.

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Anwar, Idochi. 2008. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Alfabeta, Jakarta.

Bakker, JWM. 1999. Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar. Kanisius, Yogyakarta.

Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Koentjaraningrat. 2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Djambatan, Jakarta.

Marpaung, Happy dan Bahar Herman. 2002. Pengantar Pariwisata. Alfabeta, Bandung.

Marpaung, Happy. 2002. Pengantar Pariwisata. Alfabeta, Bandung.

Munawar, Zaki. 2002. Cagar Budaya Candi Cangkuang. Garut.

Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Bandung.

Pariwisata Kabupaten Garut. Ayo Tamasya! Jelajahi Garut. [ Online ]. Tersedia: http://www.pariwisata.garutkab.go.id/index.php?option=com_conte nt&view=article&id [7 Maret 2011]

Pendit, Nyoman S. 2003. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Pradya Paramita, Jakarta.

Pitana, Gde Gayatri, Putu G. 2005. Sosiologi Pariwisata. Andi, Denpasar.

Rangkuti, Sofia H. 2002. Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Teori dan Konsep. Dian Rakyat, Jakarta.

Suharsini, Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Penelitian. Rineka Cipta, Bandung.

Ersa Restiani, 2014

Preservasi Tradisi Kampung Adat Pulo Di Desa Cangkuang Kabupaten Garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Departemen Pariwisata Budaya Republik Indonesia, Jakarta.

Usman, H dan Setiady Akbar P. 2006. Metodologi Penelitia Sosial. Bumi Aksara, Jakarta.

Widagdho, Djoko dkk. 2008. Ilmu Kebudayaan Dasar. Bumi Aksara, Jakarta.

Wikipedia. Artikata. [ Online ]. Tersedia: http://www.artikata.com [ 9 maret 2011 ]

Wikipedia. Kabupaten Garut. [ Online ]. Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/kabupaten_Garut [ 7 Mei 2011 ]

Yoeti, Oka A. 2008. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Pradya Paramita, Jakarta.

Dokumen terkait