TINJAUAN PUSTAKA
2.1.7 Teknologi mobile
Dalam tiga tahun terakhir ini kemunculan perangkat telepon pintar atau PC tablet mempengaruhi koneksivitas pengguna dengan lingkungan, artinya pengguna ‘always connected’ dengan siapapun dalam waktu hitungan detik. Horizon Report (2011) menyatakan bahwa di Jepang hampir 75% orang menggunakan perangkat mobile sebagai pilihan pertama untuk mengakses sumber informasi di internet dibanding perangkat lainnya. Hal ini menunjukkan akses internet menjadi meningkat dan berbanding lurus dengan kepemilikan perangkat mobile.
Hasil riset yang dilakukan Pew Internet Project 2011, menunjukkan 25% orang dewasa di Amerika Serikat menggunakan smartphone sebagai sarana utama untuk mengakses sumber informasi (Smith, 2010). Kelompok orang dewasa di
perguruan tinggi dengan rentang umur 17- 40 tahun merupakan pasar potensial dalam mengakses internet secara mobile. Smith et al. (2009) menyatakan dalam penelitian ECAR (Educause Center for Applied Research) terdapat 51,2 % mahasiswa mengakses internet melalui perangkat mobile dengan frekuensi per minggu dan sekitar 11,8% responden akan membeli satu perangkat mobile baru dalam satu tahun akan datang. Dari hasil riset di atas, terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan dengan perkembangan teknologi mobile yaitu kapabilitas perangkat mobile, konten berbasis web harus fleksibel serta kehandalan infrastruktur jaringan internet. Kenyataan ini didukung pernyataan Seeholzer dan Salem (2011) bahwa mahasiswa di Amerika lebih berminat menggunakan mobile web device untuk berinteraksi dengan sumber pengetahuan dan layanan perpustakaan dibanding datang ke perpustakaan. Berdasarkan pada kondisi seperti ini perpustakaan perlu memberi perhatian pada pengembangan layanan berbasis mobile agar keterpakaian sumber pengetahuan dan layanan perpustakaan meningkat. Akses layanan perpustakaan setidaknya bersifat multichannel dengan melihat pengguna terbesar perpustakaan perguruan tinggi berasal dari kelompok dewasa.
2.1.8 Perpustakaan Perguruan Tinggi
Lingkungan perguruan tinggi saat ini berubah dengan cepat. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan lingkungan perguruan tinggi seperti teknologi informasi, ekonomi, demografi serta aspek perilaku masyarakat. Wilson dan Tauber sebagaimana dikutip Budd (2005) menyatakan perhatian perguruan tinggi saat ini pada aspek: (a) konservasi pengetahuan dan ide-ide, (b) pengajaran, (c) penelitian, (d) publikasi, (e) perluasan layanan dan interpretasi. Tantangan tersebut jelas mempengaruhi keberadaan perpustakaan. Pemanfaatan teknologi informasi bagi perpustakaan dalam skala global tidak dapat ditawar lagi untuk mengelola sumber-sumber pengetahuan.
Brophy (2005) mengemukakan keberadaan perpustakaan perguruan tinggi seharusnya mendukung kebijakan dan praktek dari lembaga induknya. Keseimbangan penyediaan koleksi berbasis elektronik dan tercetak berpengaruh pada aspek kepemilikan, akses cepat dan layanan. Tren sumber-sumber elektronik
seperti e-journal, e-books, koleksi digital dan sebagainya menjadi kekayaan pengetahuan yang wajib disediakan dalam perpustakaan perguruan tinggi dalam mendukung pembelajaran maupun penelitian.
Peran perpustakaan perguruan tinggi tidak lagi sekedar penyedia ruang fisik, tetapi memfasilitasi kolaborasi sivitas akademika, memunculkan berbagai bentuk interaksi sumber-sumber pengetahuan dengan pengguna perpustakaan. Interaksi yang dapat dibangun perpustakaan salah satunya melalui literasi informasi.
The Association of College and Research Libraries (ACRL) yang dikutip Deleo et al. (2009) mendefinisikan literasi informasi untuk perguruan tinggi sebagai suatu kemampuan seseorang dalam (a) menentukan ruang lingkup informasi yang dibutuhkan, (b) mengakses informasi dengan efektif dan efisien, (c) mengevaluasi informasi dan sumber-sumber secara kritis dan mensintesakan informasi yang telah diseleksi ke dalam sistem pengetahuan dan nilai individu, (d) sebagai individu ataupun anggota suatu kelompok menggunakan informasi dengan efektif untuk menyelesaikan untuk suatu tujuan tertentu, (e) memahami isu ekonomi, hukum dan sosial disekitarnya, dan (f) penggunaan serta akses informasi secara etis dan legal. Kegiatan literasi informasi dijalankan untuk mendukung peran perpustakaan perguruan tinggi sebagai akses ke sumber-sumber pengetahuan.
Fungsi perpustakaan perguruan tinggi menurut DIKTI (2004):
a. Fungsi edukasi, artinya perpustakaan sebagai sumber belajar, dan koleksi yang disediakan dapat mendukung pencapaian aktivitas pembelajaran. b. Fungsi informasi, artinya perpustakaan sebagai sumber informasi yang
mudah diakses oleh pencari dan pengguna informasi.
c. Fungsi riset, artinya perpustakaan menyediakan bahan-bahan primer dan sekunder yang paling mutakhir dalam mendukung penelitian, pengkajian ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
d. Fungsi rekreasi, artinya perpustakaan harus menyediakan koleksi rekreatif yang dapat mengembangkan kreativitas, minat, dan daya inovasi pengguna perpustakaan.
e. Fungsi publikasi, artinya perpustakaan berperan untuk mempublikasikan karya yang dihasilkan warga perguruan tingginya.
f. Fungsi deposit, artinya perpustakaan menjadi pusat deposit untuk seluruh karya dan pengetahuan yang dihasilkan oleh warga perguruan tingginya g. Fungsi interpretasi, artinya perpustakaan seharusnya melakukan kajian dan
memberikan nilai tambah terhadap sumber-sumber informasi yang dimilikinya untuk membantu pengguna dalam melakukan dharmanya. Fungsi-fungsi yang dinyatakan di atas sejalan dengan pendapat Budd (2005), bahwa perpustakaan perguruan tinggi harus memodifikasi fungsi-fungsinya dengan memanfaatkan teknologi informasi sehingga fasilitas dan layanan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Portal perpustakaan dapat dikembangkan dengan mengacu pada fungsi perpustakaan perguruan tinggi seperti pada fungsi informasi, publikasi dan deposit. Fungsi portal mengacu pada perpustakaan yaitu menyediakan sumber pengetahuan yang dapat diakses dengan mudah, cepat melalui titik masuk tunggal, memfasilitasi publikasi pengetahuan, dan sentra untuk deposit serta penyimpanan semua pengetahuan yang dihasilkan sivitas akademika.
Layanan perpustakaan bersifat terintegrasi cenderung lebih banyak dicari oleh pengguna dibandingkan dengan layanan secara terpisah. Perpustakaaan seharusnya menjadi perekat bagi pengguna perpustakaan dengan pengetahuan yang dikelola, sehingga dapat memperkaya pengetahuan penggunanya. Penciptaan pengetahuan baru dapat muncul melalui berbagai aktivitas kolaborasi. Kolaborasi yang dibangun melalui portal diharapkan mampu mengintegrasikan konten dan layanan ke dalam satu wadah tunggal yang mudah diakses oleh pengguna. Teknologi informasi memungkinkan terciptanya kolaborasi tersebut.
2.2 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan berkaitan dengan portal yaitu yang dilakukan Wawan Wiraatmaja (2006) dalam tesisnya yang berjudul Desain dan Implementasi Protipe Sistem Portal E-Government di Indonesia. Tujuan dari penelitian tersebut adalah melakukan kajian teoritis dan konseptual dalam desain portal e-government dan membangun protipe implementasinya untuk kasus di Indonesia. Ruang lingkupnya membahas pada kuantitas dan kualitas portal
pemerintahan yang telah ada dan pada aspek-aspek studi pemerintahan (government studies) dalam basis teknologi informasi dan komunikasi serta implementasi dilakukan dengan melihat skala kebutuhan pengguna dan sistem berbasis open source.
Metode penelitian pada penelitian tesis tersebut menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pengumpulan informasi mengenai e-government dan implementasi sistem portal dengan berbasis open source. Pembahasan dalam penelitiannya dibagi tiga bagian yaitu pengamatan kondisi e-government di Indonesia, solusi dalam bentuk analisis kebutuhan, konsep dan disain sistem serta implementasi (testing dan evaluasi sistem).
Umi Laili Yuhana, Lailatul Hidayah dan Diana Purwitasari (2011) melakukan penelitian dengan judul ‘Implementasi purwarupa web portal berbasis ontologi untuk kolaborasi dari berbagai sistem Moodle’ yang disebut eduPortal. Penelitian ini bertujuan membuat aplikasi berbasis web yang dapat menyajikan kolaborasi materi dari beberapa sistem open source Moodle dengan teknologi web services sehingga pengguna cukup mengunjungi satu portal untuk mengakses materi-materi dalam berbagai situs e-learning. Metode pendekatan dengan melakukan uji coba pada open source Moodle OKTech Web Service dengan menggunakan Software Engineering Body of Knowledge (SWEBOK).
Budi Kaliwanto (2008) melakukan penelitian dengan judul “Perancangan awal portal pengetahuan sebagai penunjang penerapan sistem manajemen pengetahuan (knowledge management) di Biro Perencanaan BATAN. Tujuan penelitian untuk menganalisis kesiapan infrastruktur, prosedur yang berkaitan dengan fungsi portal beserta fitur-fitur melalui pemetaan pengetahuan, identifikasi budaya strategi dan infrastruktur teknologi. Metodologi penelitian dengan menggunakan 10-Step KM Roadmap serta pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner, wawancara, pengamatan langsung serta diskusi.
Wolfram Neubauer dan Arlette Piguet (2009) meneliti dengan judul The knowledge portal, or the vision of easy access to information. Tujuan penelitian dari penelitian mereka untuk mengembangkan sistem akses terpusat dari semua layanan informasi elektronik yang dinamai Knowledge Portal dengan mengintegrasikan semua halaman web perpustakaan. Metode penelitian dengan
mengembangkan aplikasi Knowlegde Portal berbasis pada perangkat lunak Primo. Pengembangan aplikasi Knowledge Portal merupakan proyek kerjasama ETH Libraries (Libraries of The Swiss Federal Institute of Technology) dengan Ex Libris. Integrasi kedua sistem tersebut menghasilkan metasearch terbaru bagi website perpustakaan The Swiss Federal Institute of Technology.
Tim McGeary (2005) meneliti tentang portal perpustakaan yang terintegrasi dengan portal universitas berjudul “MyLibrary: the library’s response to the campus portal’. Tujuan penelitian untuk mengembangkan aplikasi perpustakaan berbasis web yaitu MyLibrary@Lehigh yang diintegrasikan dengan portal Lehigh University. Fungsi aplikasi MyLibrary@Lehigh yaitu mengumpulkan, mengorganisasikan dan mendesiminasi data, informasi yang ditemukan dalam website perpustakaan Lehigh University. Pengembangan MyLibrary@Lehigh menggunakan perangkat lunak berbasis open source (Perl modules), dikembangkan tim pengembang University Libraries of Notre Dame dengan (a) mengintegrasikan sumber-sumber elektronik perpustakaan menjadi satu repositori, (b) sebagai penghubung antara katalog, sumber elektronik, pustakawan dengan pengguna, (c) menjadi penghubung tunggal antara perpustakaan dengan portal kampus Lehigh University, (d) penyediaan single sign on dengan LDAP autentifikasi sebagai akses masuk pada MyLibrary@Lehigh. Hasil yang diperoleh dari implementasi aplikasi portal perpustakaan tersebut, bahwa MyLibrary@Lehigh sebagai sarana untuk mendapatkan sumber-sumber informasi yang baik untuk penelitian mahasiswa Lehigh University.