• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKS, KOTEKS, KONTEKS, DAN HASIL PENELITIAN TRADISI MANGUPA ADAT ANGKOLA

4) Teks Mangupa dengan Filosofis Adat Angkola

Penegasan pentingnya memahami tradisi mangupa karena teks mangupa tersebut sarat dengan bahasa yang mengandung filosofis adat, hal tersebut tercermin dengan menggnakan bahasa dengan makna yang cukup tinggi dan jarang digunakan dalam bahasa sehari-hari. Sebagai warisan budaya tradisi mangupa adat Angkola mengandung nilai-nilai filosofis adat yang tercermin pada

budaya adat mengandung nilai filosofis kekerabatan, norma, nilai estetis seta nilai-nilai lainnya.

Pewarisan budaya adat yang memiliki nilai budaya sebagai tradisi-tradisi dengan pandangan hidup masyarakat yang mengandung kearifan, kebenaran, dan ide. Agar dapat dipahami kedua mempelai pada tradisi mangupa. Pada teks mangupa adat Angkola yang disampaikan oleh unsur dalihan na tolu sebagai harapan dan doa agar memiliki kesehatan pada teks: “… Diterima tondi dohot badan munu, bahat rasoki markasehatan ma hita sude, marsehat-sehat.” Yang artinya: “diterima semangat dan tubuh kalian, banyak rezeki, berkesehatanlah kita semua, sehat-sehat.”

Kesehatan sesuatu faktor penting dalam kehidupan sehingga kesehatan sesuatu yang diprioritaskan, begitu pula hidup berumah tangga agar semua yang hadir tetap diberi kesehatan, terutama kedua pengantin yang diupa-upa agar cepat memiliki momongan dan panjang umur. Jadi, semua yang menyampaikan kata-kata pangupa mengharapkan kesehatan sebagai doa pada kalimat mangupa di atas.

Kalimat yang disampaikan suhut sapanggadongan kepada anak dan menantu, ketika menyerahkan sirih (manyurduon burangir) pada tradisi mangupa adat Angkola dengan kalimat; „Jagit bo tulang burangir on, jagit bo nantulang burangir sirara unduk sibontar adop-adop. Sataon so ra buruk, sabulan so ra malos. “Sumurdu burangirnami di hamu, di hananaek ni mata ni ari on,” yang artinya: “Terimalah sirih ini, terimalah nantulang sirih ini, sirih yang merah bagian belakang dan putih bagian depan. Setahun tidak akan busuk, sebulan tidak akan layu. Kami persembahkan sirih kami kepada kamu, ketika matahari mulai

naik.” Kalimat pada teks pangupa yang jarang digunakan dalam bahasa sehari-hari tersebut memiliki perlambang makna bahwa sirih sebulan akan layu.

Begitu pula budaya yang ada di Angkola yang memiliki nilai-nilai hagabeon, hasangapon, hamoraon, hamajuon. Merupakan kalimat yang jarang digunakan kecuali pada upacara adat atau tradisi adat. kalimat tersebut mengandung filosofis adat yang tinggi. Jadi untuk memahaminya harus seorang tokoh adat yang dapat memaknainya. Pada tradisi mangupa adat Angkola hal itu diucapkan oleh orang kaya dengan kalimat pembuka mangupa seperti: maroban sangap dohot tua, anso manaek ma tua, hamomora, hahorasan, dohot, hagabean di hamu na niadopkon ni pangupa on, danjana anso saut dohot tulus na niparsinta ni rohanta i. kalimat nasihat pada pembuka menunjukkan bahasa adat Angkola dan Batak yang memiliki makna filosofis tinggi dan merupakan cita-cita setiap orang.

a) Teks Mangupa dengan Filosofis Sangap

Teks tersebut memiliki makna filosofis seperti: “Maroban sangap dohot tua.” yang artinya: membawa kegagahan dan kewibawaan “Anso manaek ma tua.:

yang artinya: naik pula tuah “Hamomora.” yang artinya: derajad “Hahorasan.”

yang artinya: kesehatan “Dohot, hagabean di hamu na niadopkon ni pangupa on.” yang artinya: dan kejayaan kepada kamu berdua “Jana anso saut dohot tulus na niparsinta ni rohanta i.” Yang artinya: ..agar terlaksana apa yang kita inginkan.

Teks mangupa yang menggunakan filosofis adat dengan kalimat:

“Maroban sangap dohot tua.” yang artinya: membawa kegagahan dan kewibawaan. Makna filosofis adat tradisi mangupa yaitu adanya kemuliaan pada

kata hasangapon, kemuliaan, kewibawaan, kharisma, sebagai nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan. Teks filosofis ini memberi dorongan kuat pada bahasa adat Angkola dan Batak. Orang tua berusaha mendidik anak-anaknya agar dapat meraih jabatan dan pangkat agar mendapat kemuliaan, kewibawaan, dan kharismatik, dengan hal itu akan mengangkat harkat keluarga kepada hasangapon tersebut.

Pada teks mangupa adat Angkola, kata hasangapon sebagai Kehormatan dan Kemuliaan akan muncul dari bias mendapatkan hagabeon dan hamoraon, karena tidak dapat diperoleh sendiri, karena hasangapon tercermin dari sikap dan karakteristik bisuk, artif dan bijaksana. Karakteristik hasangapon sebagai bias dari sikap kharismatik, kewibawaan sehingga akan terpandang dan terhormat akan bermakna pada hasangapon apabila telah memiliki bisuk, arif, dan bijaksana sebagai karakteristik dasar dalam nilai Hasangapon tersebut.

Kata pada teks tradisi lisan mangupa sebagai ungkapan makna yang tinggi sebagai ajaran yang menciptakan hubungan yang harmonis antara tiga unsur Dalihan Na Tolu. Kata pada teks mangupa menyatakan bahwa kerukunan dan kasih sayang persaudaraan adalah salah satu syarat penting untuk menentukan apakah seseorang telah atau belum memiliki hasangapon. Makna bisuk, arif dan bijaksana dinyatakan sebagai kemampuan memelihara kerukunan. Kerukunan hanya dapat dipelihara apabila orang memiliki rasa holong, kasih sayang yang ikhlas. menggambarkan rasa holong (sayang) dinilai sesuatu yang sangat berharga.

b) Teks Mangupa dengan Filosofis Hamoraon

Teks mangupa yang disampaikan tokoh adat dengan kalimat:

“Hamomora.” yang artinya: derajad, kaya raya. Makna hamoraon berarti derajad kaya raya, mengandung filosofis budaya yang mendasari dan mendorong komunitas Angkola dan Batak untuk mencari harta benda yang banyak. Makna filosofis hamoraon, berarti harta kekayaan membuat orang menjadi mulia dan terpandang. Hamoraon dalam kehidupan sehari-hari yang menonjol erilaku ekonomi yang mapan.

Makna filosofis hamoraon adalah dengan berusaha mencari rezeki tetapi yang halal, teks mangupa yang berisikan nasihat-nasihat agar rajin dan giat berusaha disampaikan oleh raja panusunan bulung: “Dohot mambaen rasoki...”

yang artinya: mendapat rezeki, dipertegas kembali dengan kalimat: “Sadoa mahita aso ro nian rasoki anak dohot parumaen. “ yang artinya: satu doa supaya datang rezeki anak dan menantu. Kemudian ditutup dengan kalimat: “Momo paccarion aso...” yang artinya: “Mudah pendapat mata pencaharian agar…”

Rezeki akan dapat diperoleh apabila memiliki kesehatan hal itu diungkapkan pada teks mangupa seperti: “Hahorasan.” yang artinya: kesehatan.“

Fenomena mencari rezeki bagi komunitas Angkola agar terus berjuang dan bekerja keras untuk mencari rezeki sehingga tercapai hamoraon. Orang mengaitkan perilaku seseorang dengan ekonomi ynga mapan kemudian didukung oleh etika yang baik pula, walaupun hal itu tidak selamanya menjadi ukuran.

Kalimat pada teks mangupa hamoraon selalu disampaikan oleh tokoh adat dalam mengungkapkan pada tradisi dan upacara adat Angkola. Makna filosofis hamoraon agar dapat mencapai kemapanan ekonomi dengan kegigihan berusaha mencari rezeki yang halal.

c) Teks Mangupa dengan Filosofis Hagabeon

Teks mangupa yang mengungkapkan bahasa adat yang memiliki filosofis adat hagabeon diungkap pada kalimat: “Hagabean di hamu na niadopkon ni pangupa on.” yang artinya: “Kejayaan kepada kamu berdua di depan pangupa ini.” makna filosofis apa yang ada pada kata hagabeon, mengapa hagabeon ini sering diungkapkan tokoh adat Angkola. Makna teks hagabeon yang berarti memiliki banyak keturunan dan panjang umur. Penggunaan ungkapan kata hagabeon pada tradisi mangupa, memiliki makna yang tinggi.

Makna teks hagabeon, berarti memiliki banyak keturunan dan panjang umur. Pada ungkapan Angkola banyak anak banyak rezeki, karena anak adalah kebanggaan dan kekuatan yang mampu berkarya, pepatah Angkola “Maranak sapulu pitu marboru sapulu onom.” Jadi suatu keluarga memiliki 33 anak berarti kekuatan yang tangguh untuk berkarya tetapi memiliki sumber daya manusia yang baik pula. Umur yang panjang dalam konsep hagabeon disebut saur matua bulung (seperti daun yang gugur setelah tua) pada adat Angkola ungkapan “Sayur matua bulung” (seperti daun yang gugur setelah tua).

Jumlah sumber daya manusia yang diharapkan oleh orang Batak, karena selain setiap keluarga diharapkan melahirkan putra-putri sebanyak 33 orang, yang semuanya diharapkan berusia sangat lanjut. Ukuran hagabeon adalah keluarga yang besar dan usia yang lanjut sekaligus menjadi panutan dan kebanggan di masyarakat.

Makna teks mangupa pada kata, hagabeon berarti keturunan yang banyak dan umur panjang sebagai cita-cita dan idaman. Makna teks hagabeon ini menggambarkan harapan putera-puteri yang banyak, sampai usia lanjut akan

terpandang dan menjadi panutan. Makna filosofis teks hagabeon yang disampaikan tokoh adat kepada pengantin dan kepada generasi muda. Makna filosofis teks hagabeon merupakan permohonan Allah SWT, agar sahala dan tondi pengantin dan seluruh keluarga tetap kuat, karena dengan kekuatan sahala dan tondi sebagai sumber kebahagiaan lahir dan batin. Seperti yang digambarkan dalam ungkapan: “Hagabean di hamu na niadopkon ni pangupa on.” yang artinya: “Kejayaan kepada kamu berdua di depan pangupa ini.” kemudian dilanjutkan dengan kalimat pangupa: “Anso manaek ma tua.: yang artinya: naik pula tuah “Jana anso saut dohot tulus na niparsinta ni rohanta i.” yang artinya:

..agar terlaksana apa yang kita inginkan. Dan ditutup dengan kalimat: “Indahan parjamuan mambutongi tondi dohot badan munu.” Artinya: nasi yang ada di depan kalian ini inilah namanya perjamuan yang mengenyangkan hati dan badan kalian.

d) Teks Mangupa agar Bermasyarakat

Komunitas adat Angkola memiliki hubungan kekerabatan yang cukup dekat antara yang dengan yang lain yang semua hubungan itu diatur dalam tatanan adat. Sebagai makhluk sosial komunitas adat Angkola sangat membutuhkan anggota pada komunitas tersebut, agar dapat memenuhi segala kebutuhannya.

Hubungan baik antar kerabat dan orang lain dikenal dengan istilah bersilaturahim dan bermasyarakat. Hubungan bermasyarakat dengan sanak keluarga dan jiran tetangga (ambar balok) dalam komunitas Angkola mutlak dibutuhkan. Hubungan kekerabatan bagi komunitas Angkola sangat penting agar dapat hidup berdampingan dengan antar masyarakat adat.

Pada nasihat teks pangupa adat yang isinya tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga dan masyarakat diwujudkan dalam kalimat nasihat seperti: “Bisa seperti garam. Jadi, aso berbaur kepada semua masyarakat berbaur ia. Jadi pelengkap, penyedap tanpa garam. Tanpa si Kelli anak ni si....hurang padena imada giotna ate, tai harani si Kelli napade Ritonga i dison ninna ulang songoni.

Tapi ini dimanfaatkan kepada yang positif sangape namaso sonnarikan ah napodo ro si Kelli bah na sai tarbahason anggo nadison si Kelli nahuboto cari kawan ninna. Anggo na dison si Kelli ... nadapot ujungna.”

Artinya: Hiduplah seperti garam, Jadilah, kalian berdua seperti garam ini.

Kalau si pengantin laki-laki di keluarga besar Ritonga kalau belum di sini si Keli tidak lengkap pertemuan ini, kalau tidak disini boru Nasution tidak lengkap pertemuan ini, sehingga di segala bentuk perkumpulan dimasyarakat, di keluarga, di pekerjaan kalau kita tidak berada disitu kurang makna dari suatu pekerjaan itu.

Berkumpul dan bermasyarakat bagi komunitas Angkola sangat penting, karena setiap orang harus mampu memasukkan diri dengan lingkungan. Yaitu dimulai dengan adanya pertemuan pada tradisi mangupa karena adanya kedua mempelai, sehingga tokoh masyarakat dapat berkumpul,. Demikian pula seharusnya pengantin dapat berkumpul di masyarakat, karena bila tidak mampu bergaul dengan masyarakat diangggap sombong dan hal ini berakibat dijauhi oleh masyarakat. Hal itu disamapaikan tokoh adat dengan kalimat: “Jadi, tanamkan niat bagaimana ikut! Tanamkan niat ikuti semua nasehat-nasehat anso hita dihargai halak. Anggo inda disi hita inda sempurna dirasa dongan nakarejoi, anggo inda disi hita marattulan karejoi.” Artinya: tanamkan niat untuk ikut bermasyarakat! Kemudian semua nasihat dikuti, agar kita dihargai orang. Kalau

kita tidak di situ, tidak sempurna pekerjaan di rasa kawan atau pekerjaan itu jadi tidak beres.

Hidup bermasyarakat agar mampu bergaul dengan memahami kerja-kerja sosial, ada pepatah mengatakan: “Tangi siluluton itte siriaon.” Artinya dengan kabar duka cita, dan jangan tunggu datang orang untuk mengundangnya datangilah, dan begitu pula kabar suka cita jangan datang bila tidak diundang.

Pepatah adat Angkola untuk bermasyarakat itu cukup kental diajarkan kepada pengantin ketika tradisi mangupa. Agar mempelai memahami makna hidup bermasyarakat. Tokoh adat mengingatkan kepada kedua mempelai yang sedang di-upa-upa agar bersilaturahim dengan masyarakat.

Teks mangupa, agar kedua mempelai menjalin hubungan dengan masyarakat agar nasihat taati dan diwujudkan dalam kehidupan. sehingga mereka dapat bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat, hal itu dijelaskan pada kalimat nasihat mangupa berikut: jadilah kalian berdua seperti garam ini. tidak lengkap pertemuan ini, sehingga di segala bentuk perkumpulan di masyarakat, di keluarga, di pekerjaan anggo inda disi hita hurang makna ni karejo i.

Kalau sudah ada niat untuk berbaur dengan masyarakat maka tanamkan niat dan mulailah menyusun rencana hal dipetegas dengan kalimat: “Jadi, bia anso songoni tanamkan niat susun rencana-rencana kerja.” Jadi, tanamkan niat bagaimana ikut! Tanamkan niat ikuti semua nasehat-nasehat agar kita dihargai orang lain. Kalau kita tidak berada disitu tidak sempurna perasaan orang lain yang kerja itu, kalau kita tidak disitu pekerjaan itu banyak yang janggal. Jadi, hidup bermasyarakat kemudian berbaur kepada meraka agar mereka mengganggap kita bagian dari mereka, begitu juga kita menganggap mereka adalah bagian dari kita,.

Penggunaan garam sebagai simbol pelengkap, penyedap, tanpa garam tanpa (kita) kurang baiknya. Hal itulah yang diharapkan oleh tokoh adat kepada kedua mempelai.

e) Teks Mangupa agar Rukun dan Damai

Hidup rukun dan damai dipengaruhi oleh banyak faktor, karena dalam rumah tangga banyak hal yang menentukan untuk rukun dan damai. Jadi pada tradisi mangupa adat Angkola nasihat itu juga disampaikan oleh tokoh adat begitu juga orang tua mempelai. Kalimat nasihat yang disampaikan dalihan na tolu dan seluruh kerabat kepada mempelai, terutama suhut sihabolonan biasanya disampaikan dengan penuh keharuan antara bahagia dan sedih. Bahagia karena tugas sebagai orang tua telah selesai mengantarkan putra-puterinya untuk hidup berumah tangga, sedih karena harus melepaskannya untuk hidup dengan keluarga yang dibinanya.

Teks kalimat pangupa yang disampaikan oleh kaum kerabat dalihan natolu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar yang diupa-upa hidup rukun dan damai menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah disampaikan dalam kalimat nasihat. Penyampaian kalimat nasihat menunjukkan kasih sayang orang tua kepada anak yang sangat disayangi sehingga, nasihat yang disampaikan agar anak hidup rukun damai, sehingga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah disampaikan dengan kalimat nasihat: “Satahi hamu.” Artinya: sepakat kalian.

“Marsitutup-tutupkan kamu Artinya: saling menutupi kekurangan masing-masing.

Setiap orang tua mengharapkan kepada anak dan menantu hidup rukun dan damai, sehingga pada tradisi mangupa memberikan nahihat untuk rukun dan damai hidup berumah tangga. Nasihat hidup berumah tangga yang disampaikan

oleh seluruh tokoh adat dalihan na tolu pada upacara mangupa adat Angkola yang bermakna agar hidup rukun dan damai (menjadi keluarga sakinah).

Kemudian dipertegas lagi dengan kalimat pangupa: “Rumah tangga bahagia, rumaha tangga sakinah, rumah tangga yang diridhoi Allah SWT. yang artinya: Kata-kata nasihat, rumah tanggga yang baik, rumah tangga bahagia, rumah tangga sakinah, rumah tangga yang diridhoi Allah SWT. Sebagai kalimat nasihat yang disampaikan tokoh adat kepada mempelai disampaikan dengan kalimat nasihat yang lugas dan jelas sebagai ciri khas luhak Angkola.

Teks mangupa dengan menggunakan kesantunan berbahasa pada bahasa adat Angkola dalam bertutur sapa, sehingga yang mendengar merasa nyaman di telinga dan sejuk dihati untuk melaksanakan seluruh amanah pada tradisi mangupa tersebut. Teks mangupa yang berupa kalimat nasihat hidup berumah tangga bagian kedua yaitu hidup rukun damai sehingga mempelai menjadi keluarga sakinah dengan mengggunakan contoh nabi Muhammad Saw sebagai uswahtun hasanah (contoh teladan).Penggunaan kalimat nasihat dengan contoh mudah dipahami pada teks mangupa agar hidup rukun dan damai (agar menjadi keluarga sakinah).

Teks mangupa pada kalimat nasihat dengan kalimat contoh yang nyata dengan harapan, kedua mempelai yang dinasihati dapat dengan mudah menyerap seluruh pesan-pesan dan tuntunan hidup berumah tangga, agar tercapai keluarga sakinah mawaddah warohmah. Teks mangupa yang isinya agar hidup rukun dan damai dengan kalimat contoh, “seperti pada kalimat pangupa: “Rumah tangga sanga songon dia nadihagioti ni Rasulullah.” Artinya: Rumah tangga sama