Perusahaan adalah suatu organisasi yang mengkombinasikan dan mengorganisasikan berbagai sumber daya dengan tujuan untuk memproduksi barang dan atau jasa untuk dijual (Salvatore, 2005). Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan dalam mengelola sumber daya.
Bagi perusahaan yang menerbitkan saham di pasar modal, harga saham yang ditransaksikan di bursa efek merupakan indikator nilai perusahaan.
Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham merupakan pencerminan nilai perusahaan. Pada dasarnya perusahaan memiliki suatu tujuan yaitu memaksimalkan kesejahteraan pemilik saham perusahaan. Kesejahteraan
pemegang saham yang maksimal tersebut dapat terwujud apabila nilai perusahaan dimaksimalkan. Tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat ditempuh dengan memaksimumkan nilai sekarang atau present value semua keuntungan pemegang saham yang diharapkan akan diperoleh di masa datang (Sartono, 2010).
Nilai perusahaan juga dapat diukur dengan menggunakan nilai wajar pasar saham. Bagi perusahaan yang sudah go public, nilai wajar pasar sahamnya ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran di bursa, yang tercermin dalam listing price. Harga pasar mencerminkan berbagai keputusan dan kebijakan manajemen, sehingga nilai perusahaan merupakan akibat dari tindakan manajemen. Adapun tujuan yang ingin dicapai perusahaan tersebut adalah untuk memaksimalkan nilai pemegang saham. Nilai pemegang saham akan meningkat apabila diikuti dengan peningkatan nilai perusahaan, yang ditandai dengan tingkat pengembalian investasi yang tinggi kepada para pemegang saham. Menurut Solihah (2002), nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan pemilik perusahaan sebab dengan nilai perusahaan yang tinggi akan menunjukan kemakmuran pemegang saham juga tinggi.
Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang – peluang investasi. Adanya peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga akan meningkatkan harga saham, dengan meningkatnya harga saham maka nilai perusahaan juga akan meningkat. Untuk mencapai nilai perusahaan, umumnya para investor menyerahkan pengelolaannya kepada para
profesional. Para profesional diposisikan sebagai manajer ataupun komisaris.
Untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut, manajer membuat keputusan investasi yang menghasilkan net present value positif Rakhimsyah (2011).
Rasio Price Book Value (PBV) adalah mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh Brigham,( 2005). Rasio ini menunjukkan seberapa jauh suatu perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Semakin tinggi rasio tersebut semakin berhasil perusahaan menciptakan nilai bagi pemegang saham Anis, (2004).
.2.2 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain- lain. Pada dasarnya, menurut Suwito dan Herawaty (2005) ukuran perusahaan hanya terbagi dalam 3 kategori yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium-size) dan perusahaan kecil (small firm).
Penentuan ukuran perusahaan ini didasarkan kepada total asset perusahaan.
Ukuran perusahaan mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap nilai perusahaan suatu perusahaan. Dalam hal ukuran perusahaan dilihat dari total assets yang dimiliki oleh perusahaan, yang dapat dipergunakan untuk kegiatan operasi perusahaan. Jika perusahaan memiliki total asset yang besar, pihak manajemen lebih leluasa dalam mempergunakan aset yang ada di perusahaan tersebut. Kebebasan yang dimiliki manajemen ini sebanding dengan kekhawatiran yang dilakukan oleh pemilik atas asetnya. Jumlah asset yang besar akan
menurunkan nilai perusahaan jika dinilai dari sisi pemilik perusahaan. Akan tetapi jika dilihat dari sisi manajemen, kemudahan yang dimilikinya dalam mengendalikan perusahaan akan meningkatkan nilai perusahaan.
Penelitian mengenai hubungan antara ukuran perusahaan dengan nilai perusahaan sudah dilakukan oleh Desemliyanti (2003) dan Vebrianawati (2002).
Ia meneliti tiga variabel yang dianggap mempengaruhi nilai perusahaan, yakni ukuran perusahaan (total aset), hutang dan bunga. Penelitian ini memberikan hasil bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan yang negatif dengan nilai perusahaan, dan bunga memberikan hubungan yang positif dengan nilai perusahaan. Investor dalam penyertakan modalnya juga perlu untuk melihat ukuran perusahaan. Pada penelitian ini jumlah aktivasi log untuk mempersempit perbedaan jumlah dalam skala interval.
Ukuran perusahaan bisa diukur dengan menggunakan total aktiva, penjualan, atau modal dari perusahaan tersebut. Salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan adalah ukuran aktiva dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang memiliki total aktiva besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah mencapai tahap kedewasaan dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama, bahwa keputusan struktur modal ditentukan oleh ukuran perusahaan, selain itu juga mencerminkan bahwa perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total asset yang kecil ,Ismu Basuki (2006).
.2.3 Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan adalah peningkatan atau penurunan total aset yang dimiliki oleh perusahaan. Pertumbuhan perusahaan dihitung sebagai persentase perubahan aset pada tahun tertentu terhadap tahun sebelumnya Suprantiningrum, (2013). Menurut Brigham dan Houston (2009) pertumbuhan perusahaan adalah perubahan (peningkatan atau penurunan) total aset yang dimiliki oleh perusahaan. Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang cepat harus lebih banyak mengandalkan pada dana eksternal. Semakin tinggi pertumbuhan perusahaan maka semakin besar kebutuhan dana untuk pembiayaan ekspansi. Pernyataan tersebut didukung oleh Joni dan Lina (2010) yang berpendapat bahwa pertumbuhan perusahaan pada dasarnya menggambarkan bagaimana perusahaan menginvestasikan dana yang ia miliki untuk kegiatan operasi dan investasi. Peningkatan jumlah aset, baik aset lancar maupun aset jangka panjang membutuhkan dana, dengan alternatif pendanaan internal atau dengan pendanaan eksternal.
Pertumbuhan perusahaan perusahaan mencerminkan pertumbuhan sumber daya berupa aset yang dimiliki perusahaan dan diukur dari perbedaan nilai total aset setiap tahun. Pertumbuhan perusahaan menunjukkan alokasi investasi aset yang dilakukan perusahaan. Pertumbuhan perusahaan dalam penelitian ini di ukur dengan menggunakan rasio Market Value to Book of Assets (MV/BVA) . MV/BVA rasio mencerminkan pertumbuhan perusahaan yang dinyatakan dalam harga pasar. Rasio MV/BVA mencerminkan peluang investasi yang dimilikiperusahaan, semakin tinggi rasio MV/BVA semakin besar asset perusahaan yangdigunakan oleh perusahaan, maka akan semakin tinggi tingkat
pertumbuhan perusahaan. Pemilihan proksi mengacu pada penelitian Anugrah (2009).
Pertumbuhan pada aset perusahaan yang tinggi akan melambangkan perkembangan perusahaan yang baik secara internal maupun eksternal (Dewi dan Sudiartha, 2017). Hal ini menyebabkan banyaknya investasi yang didapatkan perusahaan. Permintaan terhadap saham perusahaan meningkat dan hal tersebut akan menyebabkan nilai perusahaan juga meningkat. (Susanto, 2016). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusumajaya (2011) menjelaskan bahwa variabel pertumbuhan perusahaan memiliki pengaruh yan positif dan juga signifikan pada variabel nilai perusahaan. Febrianti (2012) dan Hestinoviana dkk.
(2012) juga menyimpulkan bahwa pertumbuhan perusahaan memiliki pengaruh yang positif dan juga signifikan pada nilai perusahaan. Hasil dari Hermuningsih (2013) dan Dewi dkk. (2016) yang menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan berpegaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Pada sisi lain, hal yang berbeda ditunjukkan oleh penelitian Shun-Yu dan Li-Ju (2011) yang menjelaskan bahwa variabel pertumbuhan perusahaan memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan pada variabel nilai perusahaan. Penelitian dari Susanto (2016) juga menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.
.2.4 Profitabilitas
Profitabilitas (profitability) merupakan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri (Sartono, 2001). Menurut Kieso dan Weygandt (2011), rasio
profitabilitas merupakan rasio yang mengukur pendapatan atau keberhasilan dari kegiatan operasi perusahaan dalam periode waktu tertentu. Gitman (2009) menyatakan rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan profit dari suatu tingkat tertentu atas penjualan, aset, dan modal. Profitabilitas juga merupakan faktor yang mempengaruhi struktur modal. Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi menggunakan hutang yang kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan Heriyani, (2011).
Tingkat profitabilitas menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan untuk keuntungan dari investasi yang dilakukan. Hal ini dikarenakan, perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung menggunakan hutang relatif kecil karena laba ditahan yang tinggi sudah memadai untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan (Gaol, Ritonga dan Rofika, 2011). Ditambahkan oleh Sunarwi (2009) bahwa pada umumnya perusahaan lebih menyukai pendapatan yang mereka terima digunakan sebagai sumber utama dalam pembiayaan untuk investasi sehingga hal ini akan memberikan dampak positif terhadap nilai perusahaan di mata para investor.
.2.5 Struktur Modal
Struktur modal merupakan perimbangan jumlah hutang jangka pendek yang bersifat permanen, hutang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa.
Sementara itu struktur keuangan adalah perimbangan antara total hutang dengan modal sendiri. Dengan kata lain struktur modal adalah merupakan bagian dari
struktur keuangan. Pada dasarnya tugas manajer keuangan perusahaan adalah berusaha mencari keseimbangan finansial neraca yang dibutuhkan serta mencari susunan kualitatif neraca tersebut dengan sebaik-baiknya. Tujuan struktur modal adalah memadukan sumber pendanaan yang digunakan oleh perusahaan untuk memaksimumkan nilai perusahaan dengan cara memaksimumkan harga saham, meminimumkan biaya modal (cost of capital) dan menyeimbangkan antara risiko dan tingkat pengembalian. Struktur modal (penggunaan hutang) merupakan sinyal yang disampaikan oleh manajer ke pasar. Jika manajer mempunyai keyakinan bahwa prospek perusahaan baik, dan karenanya ingin agar harga saham meningkat dan , ia ingin mengkomunikasikan hal tersebut ke investor.
Struktur modal suatu perbandingan antara utang dengan modal sendiri, sehingga penting bagi perusahaan melakukan pengawasan terhadap persentase utang. Pengawasan struktur modal dapat dihitung dengan salah satu proksi pada debt to equity ratio (DER). Pada penelitian ini DER akan digunakan untuk
mengukur penggunaan utang terhadap total modal suatu perusahaan Wild (2005).
Semakin tinggi rasio DER, maka perusahaan semakin tinggi resikonya karena pendanaan dari unsur hutang lebih besar dari modal sendiri (equity) mengingat dalam perhitungan hutang dibagi dengan modal sendiri, artinya jika hutang perusahaan lebih tinggi dari modal sendiri berarti DER diatas 1, sehingga penggunaan dana yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan lebih banyak menggunakan unsur hutang. Dalam kondisi DER diatas 1 perusahaan harus menanggung biaya modal yang besar, resiko yang di tanggung perusahaan juga meningkat apabila investasi yang dijalankan perusahaan tidak menghasilkan
tingkat pengembalian yang optimal. Oleh karena itu, investor cenderung tertarik dengan tingkat DER yang besarnya kurang dari 1 karena kalau lebih dari 1 menunjukkan resiko perusahaan semakin meningkat.
.2.6 Kebijakan Deviden
Kebijakan dividen menentukan berapa banyak laba yang harus dibayarkan kepada pemegang saham dan berapa banyak yang harus ditanam kembali didalam perusahaan. Pada umumnya sebagian laba tersebut terlebih dahulu dibagikan dalam bentuk dividen sisanya diinvestasikan kembali dalam bentuk laba ditahan lamhot (2012). Menurut Sawir (2004), kebijakan dividen menyangkut keputusan apakah laba akan dibayarkan sebagai dividen atau ditahan untuk reinvestasi dalam perusahaan. Kebijakan dividen merupakan kebijakan yang kontroversial karena : 1. Bila dividen ditingkatkan, arus kas untuk investor akan meningkat, akan
mengungtungkan investor.
2. Bila dividen ditingkatkan, laba ditahan akan direinvestasi dan pertumbuhan masa depan akan menurun, sehingga merugikan investor.
Kebijkaan dividen yang optimal menyeimbangkan kedua hal tersebut dan memaksimalkan harga saham. Kebijakan dividen juga dipengaruhi oleh dua kepentingan yang saling bertolak belakang, yaitu kepentingan pemegang dan kepentingan perusahaan. Dalam kepentingan pemegang saham dividen merupakan salah satu motivator untuk menanamkan dana pasar modal. Selain tujuan pemegang saham bermaksud untuk mendapatkan imbalan jasa atas investasinya yang berupa dividen kas. Sedangkan dari kepentingan perusahaan kebijakan dividen dianggap penting karena dengan membagikan laba sebagai dividen akan
mengurangi laba yang ditahan perusahaan yang selanjutnya akan mengurangi sumber dana internal.
Perusahaan harus mengadopsi kebijakan dividen yang akan menaikkan harga saham. Pertama, saat perusahaan membuat keuntungan, dapat memutuskan untuk mempertahankan keuntungan investasi dalam proyek baru atau membayar ke pemegang saham sebagai dividen Priya (2016). Kebijakan dividen mengacu pada seperangkat aturan atau norma yang diikuti oleh sebuah perusahaan untuk menentukan berapa besarnya keuntungan itu akan dibayarkan kepada pemegang saham.
Indikator yang digunakan untuk mengukur kebijakan dividen dalam penelitian ini adalah Dividend Payout Ratio (DPR) Brigham (2001). Apabila perusahaan meningkatkan pembayaran dividen, maka dapat diartikan oleh investor sebagai sinyal harapan manajemen tentang membaiknya kinerja perusahaan di masa yang akan datang sehingga kebijakan dividen memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Kebijakan dividen melibatkan dua pihak yang memiliki kepentingan berbeda, yaitu pemegang saham dan perusahaan itu sendiri.
Menurut Signalling Theory, dividen dipakai sebagai signal oleh perusahaan. Jika perusahaan merasa bahwa prospek di masa mendatang baik, pendapatan, aliran kas diharapkan meningkat atau diperoleh pada tingkat dimana dividen yang meningkat tersebut bisa dibayarkan, maka perusahaan akan meningkatkan dividen. Pasar akan merespon positif pengumuman kenaikan dividen tersebut. Hal sebaliknya akan terjadi, jika perusahaan merasa prospek di
masa mendatang menurun, perusahaan akan menurunkan pembayaran dividennya.
Pasar akan merespon negatif pengumuman tersebut. Menurut teori tersebut, dividen mempunyai kandungan informasi, yaitu prospek perusahaan di masa mendatang Mamduh, (2014). Hasil ini di dukung oleh Lie (2015) dan Wijayanti &
Sedana (2013) yang menemukan adanya pengaruh positif antara kebijakan deviden dengan nilai perusahaan. Sedangkan Rahmandia (2013) menemukan adanya pengaruh negatif antara kebijakan deviden dengan nilai perusahaan.