• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Telaah Pustaka

Literatur yang membahas tentang proyek penafsiran yang berupaya

melahirkan bentuk tafsir yang peka terhadap konteks pewahyuan, pada saat yang

bersamaan peka terhadap kondisi kekinian dan kedisinian sudah sangat banyak.

Karya-karya yang membicarakan tentang hal ini banyak kita temui dalam

diskursus penafsiran al-Qur'an kontemporer yang banyak memanfaatkan beragam

ilmu pengetahuan kontemporer. Salah satu ilmu tersebut adalah hermeneutika,

yang kemudian, setelah bersentuhan dengan tradisi penafsiran al-Qur'an,

mempunyai istilah baru yang dikenal sebagai hermeneutika al-Qur'an.

Tak kurang tokoh yang konsern dalam masalah ini, misalnya Fazlur

Rahman dalam bukunya Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual

Tradition (1982), dalam buku ini Rahman berpendapat bahwa ada kebutuhan

untuk menafsir ulang al-Qur'an. Secara eksplisit Rahman menggunakan istilah

hermeneutika al-Qur'an di samping istilah interpretasi al-Qur'an. Secara kritis, dia

mengevaluasi tradisi keilmuan Islam dilihat dari konteks sosio-historis. Rahman

juga menyatakan adanya kebutuhan untuk mengakui dan memahami perbedaan

antara rujukan al-Qur'an terhadap prinsip-prinsip umum dan respon-pespon

spesifiknya terhadap situasi historis.

34

Muhammad Arkoun dalam bukunya Rethinking Islam: Common

Questions, Uncommon Answers, terutama dalam bab "Revelation" dan

"Exegesis". Arkoun mengkritisi pendekatan tradisional terhadap al-Qur'an dan

penafsiran. Dia mengusulkan untuk memikirkan kembali tradisi penafsiran dilihat

dari perubahan konteks masyarakat modern. Arkoun dikenal banyak terpengaruh

oleh semiotika, meskipun banyak ilmu-ilmu lain yang dia pinjam.

35

Farid Esack dengan bukunya Qur'an, Liberation, and Pluralism: an

Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression (1997).

Esack, melalui buku ini, menawarkan sebuah cara pandang alternatif terhadap

al-Qur'an dalam hubungannya dengan konsep-konsep modern seperti liberalisme

dan pluralisme. Dia berpendapat, al-Qur'an mengakui dan mendukung

gagasan-gagasan tentang kebebasan, toleransi dan pluralisme.

36

Amina Wadud Muhsin dengan karyanya Qur'an and Woman: Rereading

the Sacred Text from a Woman's Perspectives (1999). Dalam pendahuluan buku

ini, Amina Wadud menjelaskan panjang lebar tentang hermeneutikanya, yang

diklaimnya sebagai pendekatan holistik dalam penafsiran al-Qur'an. Dia dikenal

34

Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Muhammad (Bandung: Pustaka, 1985).

35

Mohammed Arkoun, Rethingking Islam: Common Questions, Uncommon Answers, terj. Robert D. Lee (Boulder: Westview Press, 1994).

36

Farid Esack, al-Qur'an, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan yang Tertindas, terj. Watung A. Budiman (Bandung: Mizan, 2000).

sebagai terpengaruh oleh Fazlur Rahman, akan tetapi ada beberapa pembaharuan

yang khas feminis yang membuat hermeneutikanya berbeda dengan Rahman.

Dengan konsepnya tentang prior text, Wadud berpendapat adanya kebutuhan

untuk memberi ruang kepada perempuan dalam menafsirkan al-Qur'an.

Penafsiran yang bercorak patriarkhis di antaranya diakibatkan kebanyakan tafsir

tradisional diproduksi oleh kaum laki-laki sebagai konsekuensi logis dari

dominasi laki-laki terhadap konteks sosio-historis. Dari sini, Wadud mendukung

pembacaan al-Qur'an dari perspektif perempuan.

37

Khaled Abou el-Fadl dalam bukunya Speaking in God's Name: Islamic

Law, Authority and Woman (2006). Melalui buku ini Abou el-Fadl menekankan

peran pembaca otoritatif teks agama. Dia berpendapat bahwa dalam banyak

kasus, banyak pembawa peran ini seolah hendak menggantikan peran Tuhan,

dengan mengatakan tafsirnya sebagai sesuatu yang paling benar dan merupakan

maksud Tuhan. Berangkat dari itu, dia mengklarifikasi posisi subyek dalam

penafsiran al-Qur'an dan selanjutnya menyoroti pentingnya memberikan titik

tekan pada interaksi antara pengarang al-Qur'an dan pembaca, tanggung jawab

pembaca otoritatif, dan menahan diri untuk memaksakan pendapat pribadi.

38

Dari karya-karya di atas, posisi Saeed adalah sebagai figur yang ikut

meramaikan proyek besar kaum kontekstualis, yakni membawa semangat

37

Amina Wadud, Qur'an menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat

Keadilan,terj. Abdullah Ali (Jakarta: Serambi, 2006). 38

Khaled Abou el-Fadl, Atas Nama Tuhan: dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, terj. R. Cecep Lukman Yasin (Jakarta: Serambi, 2004).

Qur'an kepada masa kini tanpa menciderai prinsip-prinsip umum. Sebagaimana

setiap tokoh memiliki aksentuasi dan orientasi tertentu baik dalam fokus kajian

dan metodologi, termasuk juga keragaman latar belakang, Saeed juga dalam

posisi yang demikian. Saeed memfokuskan diri pada kajian terhadap ethico-legal

texts dalam al-Qur'an. Selain itu, Saeed juga sangat konsern dengan term konteks

dan bagaimana memperhatikan hal itu secara serius dalam praktik penafsiran.

Adapun penelitian yang ditulis mengenai Abdullah Saeed

39

yang berhasil

penulis temukan adalah penelitian Syaparuddin dalam tesisnya yang berjudul

"Kritik Kritik Abdullah Saeed terhadap Praktik Pembiayaan Mura>bah}ah". Dalam

tesis ini, Saparuddin berupaya untuk melakukan kritik terhadap kritik Abdullah

Saeed terhadap praktik pembiayaan mura>bah}ah dalam perbankan Islam.

Penelitian ini mencoba menelusuri latar belakang Abdullah Saeed melakukan

kritik terhadap persoalan ini, bentuk kritik yang dilakukan dan implikasi kritik

tersebut dalam dunia perbankan Islam. Melalui metode deduktif induktif dan

komparatif serta pendekatan sosio-historis dan linguistik, Syaparuddin

berkesimpulan bahwa kritik Saeed dilatarbelakangi karena Saeed menganggap

dalam pembiayaan mura>bah}ah, ada kesenjangan antara praktik yang menurutnya

merupakan praktik bunga terselubung. Kritik Saeed ini, menurut Syaparuddin,

39

Penulis mengalami kesulitan menemukan penelitian yang membahas mengenai Abdullah Saeed, di antaranya akibat keterbatasan akses terhadap literatur tersebut. Dalam kaitannya dengan pemikiran Saeed tentang interpretasi al-Qur'an yang dia tulis dalam bukunya Interpreting the Qur'an:

Toward a Contenmporary Approach, ada beberapa review buku ini yang telah ditulis dan diterbitkan

dalam jurnal internasional, misalnya artikel Jason Walsh dalam Reviews in Religion and Theology 13, no. 4 (2006), Neal Robinson dalam Bulletin of Oriental and African Studies 70, no. 1 (2007), dan Hans Zirker (2008) dalam Journal of Semitic Studies 52, no. 2 (2008). Sejauh ini, penulis belum berhasil mengakses tulisan-tulisan tersebut.

mempunyai implikasi yang signifikan dalam hal menimbulkan paradigma bahwa

bank Islam tidak berbeda dengan bank konvensional, karena ia dilaksanakan

seperti pembiayaan konsumen dan kredit pada bank konvensional, artinya pada

praktiknya tradisi mura>bah}ah tidak memiliki perbedaan yang mendasar dengan

sistem bunga.

40

Penelusuran yang penulis lakukan melalui telaah pustaka di atas terhadap

karya-karya yang membahas pemikiran Abdullah Saeed menunjukkan bahwa

pemikiran Saeed yang dibincangkan di ruang-ruang tulisan adalah pemikirannya

tentang ekonomi Islam.

41

Dari itu, penulis belum menemukan karya tulis baik

buku ataupun artikel yang mengkaji tentang persoalan yang diangkat dalam

penelitian ini, yakni model interpretasi kontekstual yang ditawarkan oleh

Abdullah Saeed.

Dokumen terkait