BAB III LAPORAN OBJEK PENELITIAN
A. Telaah Pustaka
Dalam hal ini peneliti mengambil skripsi atau tugas akhir sebelumnya sebagai penelitian terdahulu. Penulis menggunakan beberapa jurnal penelitian terdahulu sebagai salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian. Hal ini ditujukan agar dapat memperkaya teori dalam mengkaji penelitian.
Kusmiyati ( ) meneliti tentang Risiko Akad dalam Pembiayaan Murabahah pada BMT di Yogyakarta (dari Teori ke Terapan). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pada BMT Amratani Sejahtera, penanganan pembiayaan bermasalah dengan salah satu atau beberapa cara yaitu resceduling, restructuring, kombinasi R (resceduling dan restructuring), dan eksekusi. Resceduling dilakukan dengan cara menjadwal ulang seluruh/sebagian kewajiban anggota (misalnya: jangka waktu dirubah dengan cara diperpanjang, jumlah angsuran dirubah, margin dirubah dengan cara dikurangi atau pemberian discount). Sedangkan restructuring dilakukan dengan merubah komposisi pembiayaan. Tindakan akhir setelah semua cara tidak berhasil adalah dengan eksekusi, yaitu dengan menyita dan melelang barang jaminan untuk menutup kewajiban anggota.
Faiz ( ) meneliti tentang Ketahanan Kredit Perbankan Syariah Terhadap Krisis Keuangan Global. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
bank syariah. Perbankan syariah pada awalnya menunjukkan volatilitas yang
rendah (stabil) tetapi cenderung naik saat terjadi krisis melalui mekanisme
moderate extent. Penelitian ini menggunakan Generailzed Autoregressive
Conditional Heteroskedasticity (GARCH) yang memperkuat hipotesis bahwa
bank Islam cenderung lebih tahan (immune) terhadap gejolak krisis subprime
mortgage serta menunjukkan bahwa bank Islam bukanlah subyek spekulasi
yang mengakibatkan krisis sebagaimana bank konvensional. Tetapi penelitian
ini tidak menafikan bahwa bank syariah pada akhirnya terkena juga imbas
krisis subprime mortgage melalui mekanisme sektor riil karena imbas krisis
yang mengakibatkan kelesuan perekonomian secara umum. Hal ini bisa
dimengerti mengingat operasionalisasi bank syariah sangat tergantung pada
kinerja sektor riil (sebagaimana konsep profit and loss sharing/PLS) sehingga
apabila sektor riil mengalami kelesuan maka bank syariah juga akan terkena
dampaknya. Kondisi ini tentu saja berbeda dengan bank konvensional
(berbasis bunga/interest) yang juga banyak bergantung pada pengambilan
resiko di financial market. Artinya dari penelitian ini dapat pula kita
simpulkan jika bank konvensional turut pula berperan dalam penciptaan krisis
maka bank syariah lebih sebagai korban gelombang krisis keuangan
global.
Wahyuni ( ) meneliti tentang Prosedur Penyelesaian Pembiayaan Mikro Bermasalah pada PT. Bank Syariah Mandiri Kcp Buleleng. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam upaya menghindari terjadinya kredit bermasalah pada pembiayaan mikro, PT. Bank Syariah Mandiri KCP
Buleleng sudah baik, yaitu dapat dilihat dari awal permohonan pengajuan pembiayaan telah dilakukan analisis secara menyeluruh yang pelaksanaannya berpedoman pada prinsip C. Calon nasabah yang pembiayaannya disetujui pembiayaannya merupakan calon nasabah yang benar-benar layak untuk diberi pembiayaan. Akan tetapi tidak adanya denda bagi nasabah yang terlambat melakukan pembayaran, atau pembayaran dilakukan sudah lewat tanggal jatuh tempo angsuran membuat nasabah memiliki kebiasaan untuk terlambat membayar sehingga peluang terjadinya kredit bermasalah masih ada.
Supatra ( ) meneliti tentang Strategi Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah Di KJKS BMT Syariah Sejahtera Boyolali. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penyebab pembiayaan bermasalah adalah faktor ekstern yaitu kondisi usaha nasabah pembiayaan yang lagi menurun, berhutang ditempat lain, adanya i’tikad kurang baik dari nasabah pembiayaan dengan menunda-nunda pembayaran padahal dia mampu untuk membayarnya, nasabah kurang cakap dalam mengelola usahanya, adanya kebijakan pemerintah, bencana alam, dan tindak kriminal, kurang teliti dalam memberikan pembiayaan, kurang hati-hati dalam memberikan pembiayaan, kurangnya komunikasi dengan nasabah.dan cara penyelesain melaksanakan SOP yaitu strategi administrative, strategi rescheduling (mengubah jangka waktu pembayaran, jadwal pembayaran dan jumlah angsuran), jaminan, dan write off. Upaya pencegahan supaya tidak terjadi lagi pembiayaan yang bermasalah di KJKS BMT Syari’ah Sejahtera Boyolali, yaitu melaksanakan
SOP dengan benar yaitu menerapkan C secara tepat, menerapkan prinsip kehati-hatian, nasabah pembiayaan diharapkan membuat rekening di KJKS BMT Syari’ah Sejahtera Boyolali. Melihat prospek usaha nasabah, meningkatkan mutu pelayanan dan skill karyawan, tidak memberikan pembiayaan lagi bagi nasabah yang kena blacklist, meningkatkan pengawasan internal.
Rujiyati ( ) meneliti tentang Analisis Pembiayaan Bermasalah di Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Artha Amanah Ummat Ungaran. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penyebab terjadinya pembiayaan bermasalah adalah faktor dari nasabah dan Lembaga Keuangan` Syariah sendiri, cara penyelesaiannya menggunakan C. Faktor yang menyebabkan pembiayaan bermasalah yang pertama faktor internal, terjadi karena analisa yang tidak akurat dan kemampuan Account Officer yang kurang pandai dalam menganalisa. Hal ini terjadi karena faktor pendidikan dan jam terbang/pengalaman yang kurang dari Account Officer-nya yaitu terjadi karena dua unsur, unsur kesengajaan dan ketidaksengajaan. Unsur kesengajaan terjadi karena nasabah tidak memiliki keinginan/itikad baik untuk mengembalikan dana yang diberikan oleh Lembaga Keuangan` Syariah. Unsur ketidaksengajaan terjadi karena usaha yang dijalani nasabah mengalami musibah, seperti kebakaran, kebanjiran, atau mengalami musibah penipuan, sehingga kemampuan nasabah dalam mengembalikan pembiayaan tidak ada. Strategi pencegahan dan penyelesaian pembiayaan bermasalah yag dilakukan oleh Lembaga Keuangan` Syariah yaitu strategi pencegahan
dilakukan dengan pemilihan nasabah yang tepat melalui prinsip C, yaitu character, capacity, capital, condition, collateral. Pembinaan nasabah dengan cara pengawasan nasabah setelah pencairan, pengawasan terhadap usaha/pekerjaan milik nasabah, dan pengawasan terhadap jaminan. Penyelesaian yang dilakukan terhadap pembiayaan-pembiayaan yaitu pembiayaan lancar, cukup di-monitoring usaha yang dilakukan nasabah, pembiayaan kurang lancar dengan cara rescheduling (penjadwalan ulang), dan reconditioning (memperkecil margin keuntungan). Pembiayaan diragukan dengan cara rescheduling, restructuring, dan reconditioning. Jika pembiayaan sudah macet lembaga keuangan mikro syariah menghapus pembiayaan dan menyita jaminan.
Tanjung ( ) meneliti tentang Penanganan Pembiayaan Bermasalah Di BMT Amanah Mulia Magelang. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penyebab terjadinya pembiyaan bermasalah adalah faktor intern dan cara penyelesain upaya preventif. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah di BMT Amanah Mulia Magelang terdiri dari faktor internal (karyawan belum cakap, faktor kedekatan dengan keluarga, kekurang telitian petugas dalam menganalisis anggota) dan faktor eksternal (kondisi perekonomian yang kurang baik, banyaknya persaingan usaha, sulitnya bahan baku, keengganan anggota dalam kewajiban membayar pinjaman atau anggota beritikad tidak baik, dan terjadinya bencana alam yang tak terduga). Dalam menyelesaiakan pembiayaan bermasalah, BMT Amanah Mulia Magelang melakukan upaya (pencegahan), analisa sebab pembiayaan
bermasalah, dan menggali potensi peminjam, kemudian melakukan tindakan rescheduling (penjadwalan kembali), reconditioning (persyaratan kembali), penyelesaian melalui jaminan (eksekusi), dan write off final (peghapusbukuan dan penghapustagihan).
Berdasarkan penelitian sebelumnya, penyelesaian pembiayaan yang dilakukan adalah dengan cara rescheduling (penjadwalan ulang), dan reconditioning (memperkecil margin keuntungan). Pembiayaan diragukan dengan cara rescheduling, restructuring, dan reconditioning. Jika pembiayaan sudah macet lembaga keuangan mikro syariah menghapus pembiayaan dan menyita jaminan. Sedangkan penelitian tentang teknik perhitungan pembiayaan bermasalah belum pernah dilakukan sebelumnya, dengan demikian penulis melakukan penelitian yang akan membahas tentang teknik perhitungan pembiayaan bermasalah.
Nuriyana ( ) meneliti tentang Strategi Penanganan pembiayaan
Bermasalah Pada Pembiayaan Murobahah di BMT Bina Ihsanul Fikri
Yogyakarta. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa diketahui dalam penanganan terhadap nasabah yang pembiayaannya bermasalah, BMT Bina Ihsanul Fikri menggunakan cara-cara yang lebih bersifat kekeluargaan, seperti melakukan silaturrahim, pembinaan, rescheduling, memberi peringatan, kemudian sita jaminan. Untuk sita jaminan, BMT Bina Ihsanul Fikri belum pernah menerapkannya kepada nasabah yang sudah bermasalah, sekalipun nasabah tersebut sudah macet pembiayaannya.
B.Pengertian Pembiayaan