Pemikiran hukum Islam sebagai hasil (produk) dari pemahaman dari pesan-pesan teks al-Quran dan al-Sunnah selalu mengalami perkembangan. Hal ini tidak lepas dari kondisi dan tuntutan masyarakat yang terus berkembang dan sarat akan dinamika. Oleh karenanya, maka peran ijtihad sebagai upaya untuk menelaah dan menggali serta mengembangkan hukum Islam menjadi sangat urgen.16 Metodologi ijtihad sangat menentukan terhadap hasil ijtihad yang memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan baru yang senantiasa muncul.
Dalam menjawab berbagai persoalan baru yang berhubungan dengan hukum Islam, para ahli akan mengalami kesulitan manakala hanya mengandalkan tentang ilmu tentang fikih, hasil ijtihad masa lalu. Hal ini dikarenakan, ternyata warisan fikih yang terdapat dalam buku-buku klasik, belum menjangkau berbagai persoalan baru yang belum ada sebelumnya serta dimungkin terdapat pendapat-pendapat yang kurang relevan abad kemajuan saat ini. Maka untuk menjawab persoalan baru tersebut, ijtihad sebagai ruh dari syariat Islam tidak boleh stagnan atau bahkan mati. Apabila proses ijtihad terjadi stagnanisasi, maka persoalan baru mengenai fikih tidak dapat terpecahkan dengan baik.
Hal ini yang kemudian mendorong untuk mengkaji lebih dalam terkait metodologi yang seharusnya diterapkan dalam menghadapi berbagai persoalan kontemporer.
Dalam kaitannya metodelogi ijtihad ada beberapa penelitian seperti Abd. Madjid AS, “Ijtihad dan Relevansinya dalam Pembaharuan Pemikiran Hukum Islam, Studi atas Pemikiran Yusuf Qardawi”.Secara garis besar, terdapat tiga konsep ijtihad kontemporer M. Yusuf Qardawi yaitu Pertama, Ijtihad Intiqa’i (selektif) ialah memilih suatu pendapat dari beberapa pendapat terkuat yang terdapat pada warisan fikih Islam yang
16 Amir Muallim dan Yusdani, Ijtihad dan Legislasi Muslim Kontemporer. (Jakarta : UII Press, 2005), hlm. xv.
8 dipandang lebih sesuai dengan kehendak syari, kepentingan masyarakat dan kondisi zaman. Kedua, Ijtihad Insya’i (kreatif) adalah pengambilan konklusi hukum baru atas persoalan yang belum ditegaskan sama sekali dasar hukumnya oleh ulama terdahulu.
Ketiga, Ijtihad Integratif antara ijtihad intiqa’i dan ijtihad insya’i yaitu memilih berbagai pendapat para ulama terdaulu yang dipandangn lebih relevan dan kuat, kemudian dalam pendapat tersebut ditambahkan unsur-unsur ijtihad baru.17
Karya tulis ilmiah seperti “Metodologi Abdullahi Ahmed An-Na’im (Studi atas Poligami; Dontrin Agama dan Problem Masyarakat)”. Dalam skripsi tersebut disebutkan terkait metode evolusi syariah dan teori naskh yang dipelopori oleh Abdullahi Ahmed an-Naim khususnya dalam pandagannya terhadap persoalan poligami.
Ia menawarkan adanya rekontruksi terhadap nash dilihat dan dipahami dengan proses metode evolusi; setiap ayat dalam al-Quran berevolusi dan berkembang sesuai dengan perkembangan yang ada. An-Naim berpendapat bahwa ayat-ayat Makkiyah lebih tepat diterapkan dalam konteks masyarakat modern agar nash dapat berjalan selaras dengan perkembangan zaman.18
Adapun karya ilmiah yang mengupas pemikiran hukum Islam M. Quraish Shihab seperti Ahmad Maftuhin, “Pandangan M. Quraish Shihab tentang Kedudukan Perempuan dalam Islam, Studi atas Buku Perempuan : dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Muth’ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru”.19 Secara garis besar dalam skripsi tersebut dibahas mengenai pandangan M. Quraish Shihab terhadap konsep kepemimpinan perempuan dan hak kewarisan perempuan.
Karya Ilmiah yang juga mengupas pemikiran M. Quraish Shihab adalah Mizanul Hasan, “Perempuan Sebagai Isteri, Telaah terhadap Pemikiran M. Quraish Shihab”.
Secara garis besar, dalam penelitian tersebut hanya dikemukakan pandangan Quraish
17 Abd. Madjid AS, “Ijtihad dan Relevansinya dalam Pembaharuan Pemikiran Hukum Islam, Studi atas Pemikiran Yusuf Qardawi”, Jurnal Penelitian Agama, Vol. XVII (Mei-Agustus 2008), hlm. 454.
18 Im’an, Metodologi Abdullahi Ahmed An-Na’im: Studi atas Poligami; Dontrin Agama dan Problem Masyarakat (Yogyakarta: Skripsi Program Hukum Islam Universitas Islam Indonesia, 2003), hlm, vi.
19 Ahmad Maftuhin, Pandangan M. Quraish Shihab tentang Kedudukan Perempuan dalam Islam, Studi atas Buku Perempuan: dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Muth’ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru (Yogyakarta: Skripsi Program al-akhwal asy-Syakhsiyyah UIN Sunan Kalijaga, 2010), hlm. abstraksi ii.
9 terhadap kedudukan perempuan yang memiliki hak yang sama dalam ranah keluarga dan masyarakat. Lebih lanjut, hasil penelitian itu disimpulkan bahwa tidak melibatkan perempuan dalam kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat berarti menyia-nyiakan paling tidak setengah dari potensi masyarakat. Kesimpulan tersebut berdasarkan atas penafsiran M. Quraish Shihab terhadap ayat-ayat tentang perempuan seperti an-Nisa [4]
: 34, al-Ahzab [33] : 33, dan al-Baqarah [2] : 228.20
Kemudian, Imam Mustakim, “Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Perkawinan Studi Terhadap Pemikiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah”.21 Penelitian ini menguraikan tentang gagasan Quraish tentang hak dan kewajiban suami-isteri dalam perkawinan. Selanjutnya, ada Adi Priyanto, ”pandangan Quraish Shihab tentang Poligami”.22 Penelitian ini menyoroti persalan poligami yang menjadi isu sosial di masyarakat, utamanya oleh kalangan feminis. Penelitian ini kemudian menyimpulkan pendangan M. Quraish Shihab terhadap kemungkinan poligami yang dilakukan oleh laki-laki.
Adapun mengenai penelitian yang menyorot pemberlakuan peraturan Hukum Keluarga Islam di Indonesia seperti Imas Masturoh, “Problematika Ahli Waris dalam Kompilasi Hukum Islam”. Hasil penelitian tersebut menyebutkan kekurangan KHI dalam pembahasan Waris. Misal, dalam KHI tidak memberikan alasan penjelas tentang jumlah ahli waris yang cenderung lebih sedikit dibanding kitab-kitab waris yang ada, sehingga kerap menimbulkan persoalan. Permasalahan lainnya seperti ahli waris pengganti, kontroversi wasiat wajibah dan keumuman penjelasan terhadap pasal 174 ayat 2 mengenai halang-menghalangi dalam mewaris.23
Dari beberapa penelitian tersebut di atas, pembahasan mengenai metode ijtihad keindonesian masih minim dilakukan sehingga skripsi mengenai “Metode Ijtihad M.
20 Mizanul Hasan, Perempuan Sebagai Isteri, Telaah terhadap Pemikiran M. Quraish Shihab, (Yogyakarta: Skripsi Program Al-Akhwal Asy-Syahsiyyah UIN Sunan Kalijaga, 2009), hal, ii.
21 Imam Mustakim, Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Perkawinan Studi Terhadap Pemikiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah (Yogyakarta: Skripsi Program Al-Akhwal Asy-Syahsiyyah, UIN Sunan Kalijaga, 2005), hlm. abstraksi.
22 Adi Priyanto, Pandangan Quraish Shihab tentang Poligami (Yogyakarta: Skripsi Program Al-Akhwal Asy-Syahsiyyah, UIN Sunan Kalijaga, 2008), hlm. abstraksi.
23 Imas Masturoh, Problematika Ahli Waris dalam Kompilasi Hukum Islam, (Yogyakarta: Skripsi Program Peradilan Agama IAIN Sunan Kalijaga, 2001), hlm. 85-86.
10 Quraish Shihab dan Kontribusinya dalam Hukum Keluarga di Indonesia” dipandang perlu untuk dilakukan. Penelitian ini berupaya memberikan gambaran bagaimana proses pengambilan hukum yang dilakukan M. Quraish Shihab serta mengetahui metode Ijtihadnya dalam pengembangan hukum keluarga di Indonesia yang lebih akomodatif serta memperhatikan prinsip-prinsip kemashlahatan yang lebih universal.