• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemilikan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebar dalam ribuan bahkan jutaan lembar saham, yang dimiliki oleh banyak pihak, baik individu maupun korporasi sehingga kepemilikan perusahaan tersebar luas. Pengelolaan perusahaan, akan sulit dilakukan apabila seluruh pemilik menangani perusahaan secara langsung. Oleh sebab itu para pemegang saham (shareholder) ini akan menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada manajer yang mereka tunjuk sesuai kesepakatan bersama. Namun sering terdapat perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajer sehingga muncul agency problem (Jensen dan Meckling 1976).

Tugas manajer pada umumnya adalah mengelola usaha guna meningkatkan kemakmuran shareholder, salah satunya dilihat dari peningkatan nilai perusahaan. Namun kadang memaksimalkan nilai perusahaan bukan merupakan fokus utama dari manajer, melainkan mereka hanya mengejar insentif pribadi atas kinerja mereka. Atas kondisi ini, shareholder perlu memikirkan solusi dari perbedaan kepentingan ini, dimana kepemilikan manajerial dapat menjadi salah satu solusinya (Sulistiono 2010).

Kepemilikan manajerial merupakan persentase saham yang dimiliki oleh manajer atau direksi suatu perusahaan (Rustendi dan Jimmi 2008). Sulistiono (2010) menemukan bahwa kepemilikan manajerial dapat meminimalkan agency problem yang ditimbulkan oleh perbedaan kepentingan antara shareholder dan manajer. Harapannya, semakin kecil agency problem, akan mendorong manajer mengambil keputusan-keputusan yang baik sesuai harapan shareholder, sehingga

6

akan meningkatkan nilai perusahaan dari waktu ke waktu. Salah satu keputusan yang diduga dapat meningkatkan nilai perusahaan adalah dengan meminimalkan agresivitas pajak.

Agresivitas pajak merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan menurunkan beban pajak dengan cara legal maupun ilegal (Frank et al. 2009).

Manajer sedapat mungkin akan meminimalkan beban pajak agar memperoleh insentif atas pembayaran pajak rendah, dimana uang untuk pembayaran pajak nantinya akan ditransfer menjadi kemakmuran bagi shareholder. Namun tindakan pajak agresif ini mengandung risiko didalamnya, yaitu denda dan biaya sengketa pajak di pengadilan apabila ditemukan pelanggaran oleh fiskus di masa depan.

Pemilik perusahaan tentu tidak menginginkan perusahaannya berada dalam kondisi yang berisiko menyebabkan kesulitan di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, agresivitas pajak merupakan salah satu praktik dari agency problem dalam perusahaan.

Nilai Perusahaan

Manajer akan berusaha mengelola perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba yang tinggi, guna meningkatkan kemakmuran shareholder.

Harapannya, mereka akan mendapat insentif atas laba tinggi yang diperoleh tersebut, misalnya bonus tahunan. Di sisi lain, laba yang tinggi ini nantinya akan menarik investor untuk membeli saham, sehingga harga pasar saham perusahaan akan meningkat. Pemilik perusahaan (shareholder) akan cenderung memaksimalkan nilai saham dan memaksa manajer untuk bertindak sesuai kepentingannya melalui pengawasan-pengawasan yang dilakukan (Wahyuni et al.

2013).

7

Terdapat beragam konsep yang dapat menjelaskan nilai perusahaan diantaranya nilai nominal, nilai pasar, nilai intrinsik, nilai buku dan nilai likuidasi (Christiawan dan Tarigan 2007). Apabila dilihat dari peningkatan kemakmuran pemegang saham melalui peningkatan harga saham, maka konsep yang cocok digunakan adalah nilai pasar. Nilai pasar dinilai tepat karena nilai pasar merupakan nilai yang bersedia dibayar oleh calon pembeli yaitu investor melalui pembelian saham perusahaan (Husnan 2000 dalam Kusumajaya 2011). Menurut Sari (2013), nilai pasar merupakan persepsi pasar yang berasal dari investor terhadap kondisi perusahaan yang bisa menjadi ukuran nilai perusahaan.

Peningkatan nilai perusahaan yang tercermin dari peningkatan harga saham, akan semakin menegaskan bahwa manajer telah bekerja sesuai dengan kepentingan shareholder.

Kepemilikan Manajerial dan Nilai Perusahaan

Kepemilikan manajerial merupakan persentase saham yang dimiliki oleh manajer atau direksi suatu perusahaan (Rustendi dan Jimmi 2008). Menurut Christiawan dan Tarigan (2007) manajer yang juga memiliki saham perusahaan akan menselaraskan kepentingan pribadinya dengan kepentingannya sebagai pemegang saham, sedangkan manajer pada perusahaan tanpa kepemilikan manajerial akan cenderung mengutamakan kepentingan pribadinya.

Manajer yang sekaligus bertindak sebagai shareholder akan berusaha meningkatkan nilai perusahaan, karena semakin meningkat nilai perusahaan maka akan semakin meningkat pula kemakmuran dirinya sebagai individu pemegang saham, yang ditandai dengan meningkatnya harga pasar saham (Christiawan dan

8

Tarigan 2007 serta Sofyaningsih dan Hardiningsih 2011). Keputusan yang dihasilkan oleh manajer yang merangkap sebagai shareholder cenderung tidak akan sembarangan, karena manajer juga mempertimbangkan peningkatan nilai perusahaan. Peningkatan nilai ini akan selaras dengan peningkatan kemakmuran dirinya sebagai pemegang saham, yaitu melalui pendapatan capital gain.

Penelitian terdahulu oleh Christiawan dan Tarigan (2007) membuktikan hal ini dengan temuan bahwa nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial cenderung lebih baik dibanding rata-rata nilai perusahaan tanpa kepemilikan manajerial. Penelitian sebelumya oleh Sofyaningsih dan Hardiningsih (2011) juga menghasilkan kesimpulan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Oleh sebab itu dapat dikembangkan hipotesis sebagai berikut.

H1: Kepemilikan manajerial pada perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Kepemilikan Manajerial dan Agresivitas Pajak

Salah satu kebijakan dari dewan direksi untuk meningkatkan laba perusahaan adalah dengan meminimalkan beban, salah satunya dengan agresivitas pajak guna meminimalkan beban pajak. Menurut Frank et al. (2009) agresivitas pajak adalah tindakan yang bertujuan meminimalkan beban pajak melalui perencanaan pajak yang legal (tax avoidance) maupun ilegal (tax evasion).

Menurut Ridha dan Martani (2014) pajak agresif dapat berbentuk apapun selama beban pajak perusahaan menjadi lebih rendah dari yang seharusnya.

9

Kepemilikan manajerial menunjukkan bahwa manajer berperan ganda yaitu sebagai seorang manajer yang juga bertindak sebagai shareholder. Manajer pada umumnya akan meminimalkan beban pajak semaksimal mungkin guna mengejar insentif atas laba tinggi, salah satunya berasal dari pembayaran beban pajak yang rendah. Namun apabila manajer juga berperan sebagai shareholder, diduga manajer akan mempertimbangkan lagi keputusannya dalam menerapkan agresivitas pajak, karena agresivitas pajak mengandung risiko didalamnya, yaitu denda dan biaya sengketa pajak di pengadilan apabila nantinya ditemukan pelanggaran oleh fiskus. Sebagai seorang manajer sekaligus pemegang saham, ia tidak ingin perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan kebangkrutan (Christiawan dan Tarigan 2007). Atas dasar ini maka dapat dikembangkan hipotesis yaitu sebagai berikut.

H2: Kepemilikan manajerial pada perusahaan berpengaruh negatif terhadap agresivitas pajak.

Agresivitas Pajak dan Nilai Perusahaan

Agresivitas pajak yang bertujuan untuk memaksimalkan laba perusahaan tentu akan berdampak pada nilai perusahaan. Semakin rendah beban pajak, akan semakin meningkatkan laba, yang dapat meningkatkan nilai perusahaan di mata investor, namun dengan potensi mengabaikan tingkat complience perusahaan terhadap peraturan perpajakan. Penelitian terdahulu oleh Hanlon dan Slemrod (2009) serta Wahab et. al. (2012) menemukan bahwa agresivitas pajak yang berupa aktivitas perencanaan pajak berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

Hasil ini dikarenakan agresivitas pajak akan berdampak negatif yaitu munculnya

10

resiko denda dan sanksi perpajakan apabila dilakukan pemeriksaan oleh fiskus di masa depan. Oleh sebab itu dapat disusun hipotesis sebagai berikut.

H3: Agresivitas pajak yang dilakukan perusahaan berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

Kepemilikan Manajerial dan Nilai Perusahaan dengan Intervensi Agresivitas Pajak

Manajer yang memiliki saham perusahaan, akan cenderung berpikir seperti seorang pemilik, salah satunya berusaha memaksimalkan nilai perusahaan, guna peningkatan kesejahteraan mereka. Peningkatan nilai ini, ditunjukkan dalam mekanisme pengambilan keputusan-keputusan. Para manajer ini akan cenderung menghindari aktivitas-aktivitas berisiko, karenaa dapat berdampak negatif terhadap nilai perusahaan. Salah satu aktivitas yang berisiko adalah agresivitas pajak. Agresivitas pajak berpotensi menimbulkan resiko denda dan sanksi pajak apabila dilakukan dengan melanggar ketentuan perundang-undangan. Oleh sebab itu, keputusan terkait agresivitas pajak diduga dapat memiliki pengaruh intervening terhadap hubungan kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan,

sehingga dapat disusun hipotesis sebagai berikut.

H4: Agresivitas pajak merupakan variabel intervening dalam hubungan antara kepemilikan manajerial dan nilai perusahaan.

11 Model Penelitian

H4

c & c’

a b

H1

H2 H3

Kepemilikan Manajerial

Agresivitas Pajak

Nilai Perusahaan

12 METODA PENELITIAN

Populasi, Sampel dan Jenis Data

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2012 hingga 2014. Perusahaan manufaktur memiliki sub sektor industri yang beragam sehingga dianggap dapat mewakili industri-industri lainnya. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan tujuan mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Kriteria dari sampel yang ditentukan adalah sebagai berikut.

1. Perusahaan memiliki laba positif, sehingga muncul pembayaran pajak penghasilan badan.

2. Perusahaan memiliki omset diatas Rp 50 Milyar. Hal ini ditetapkan agar objek yang diteliti dikenakan tarif pajak penghasilan badan yang sama yaitu 25%.

3. Perusahaan memiliki data yang dibutuhkan untuk penelitian.

4. Laporan keuangan perusahaan disajikan dalam satuan mata uang Rupiah, agar konsisten dengan elemen lain pada formula Tobin’s Q.

Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012 sampai dengan tahun 2014.

13 Variabel dan Pengukuran Variabel

Variabel dependen dari penelitian ini adalah nilai perusahaan. Metode pengukuran nilai perusahaan yang digunakan adalah Tobin’s Q mengacu pada penelitian Kusumastuti et al. (2007), Shintawati (2011), dan Prasiwi (2015). Nilai Tobin’s Q menggambarkan suatu kondisi peluang investasi yang dimiliki

perusahaan (Lang et. al. 1989 dalam Sudiyatno dan Puspitasari 2010) atau potensi pertumbuhan perusahaan (Tobin dan Brainard 1968 serta Tobin, 1969 dalam Sudiyatno dan Puspitasari 2010). Peluang investasi serta potensi pertumbuhan perusahaan adalah hal yang diharapkan oleh pemilik terhadap perusahaannya.

Harga saham juga mencerminkan citra perusahaan di mata investor. Atas dasar ini rasio Tobin’s Q dipandang cocok digunakan dalam model penelitian ini, untuk dikaitkan dengan kepemilikan manajerial dan agresivitas pajak. Nilai Tobin’s Q dihitung dengan rumus:

Variabel independen dari penelitian ini adalah kepemilikan manajerial.

Kepemilikan manajerial diukur menggunakan persentase kepemilikan saham oleh manajer seperti pada penelitian Wahyudi dan Pawestri (2006) serta Sulistiono (2010).

Variabel intervening dari penelitian ini adalah agresivitas pajak.

Pengukuran variabel agresivitas pajak mengacu pada penelitian Dyreng et al.

14

(2008) yaitu menggunakan Effective Tax Rate (ETR). ETR digunakan karena dianggap dapat merefleksikan tarif pajak efektif yang menjadi beban pajak perusahaan. ETR dirumuskan sebagai berikut.

Effective Tax Rate = ………...…… (2)

Metoda Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan statistik deskriptif dan pengujian hipotesis menggunakan data panel. Sebagai prasyarat dilakukan uji data panel, dilakukan chow test dan hausman test untuk menentukan penggunaan model common effect, fixed effect, atau random effect untuk analisis hipotesis.

Kemudian dilakukan uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah nilai residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Apabila asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali 2006).

Teknik Analisis

Untuk membuktikan hipotesis H1, H2 dan H3 disusun persamaan regresi sebagai berikut:

15

Untuk mengetahui pengambilan keputusan uji hipotesis 1, hipotesis 2, dan hipotesis 3, dilakukan dengan menggunakan software Eviews 8. Hipotesis dibuktikan dengan cara membandingkan p-value dan alpha (0,05), dengan ketentuan jika p-value < alpha (0,05) maka Ha diterima dan jika p-value ≥ alpha (0,05) maka Ha ditolak.

Untuk membuktikan hipotesis keempat (H4) yaitu pengaruh variabel agresivitas pajak terhadap hubungan kepemilikan manajerial dan nilai perusahaan akan menggunakan Sobel test seperti yang digunakan dalam penelitian Preacher dan Hayes (2004) serta Kamil (2012).

Uji Sobel ini dilakukan dengan cara menguji kekuatan pengaruh tidak langsung variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) melalui variabel mediasi (M). Pengaruh tidak langsung X ke Y melaui M dihitung dengan langsung Sab dihitung dengan rumus berikut:

Sab = ... (4)

Untuk menguji signifikansi pengaruh tidak langsung maka kita menghitung z-test dari koefisien ab dengan rumus sebagai berikut:

z-test = ... (5)

16

Jika z-test > 1,96 atau tingkat signifikansi statistik z (p-value) < 0,05, berarti pengaruh tidak langsung variabel independen terhadap variabel dependen melalui mediator, signifikan pada taraf signifikansi 0,05 (Preacher dan Hayes 2004).

17 HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan Sampel Penelitian

Jumlah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia selama tahun 2012-2014 adalah 119 perusahaan. Setelah dilakukan pemilihan sampel berdasarkan kriteria yang ditetapkan, diperoleh 21 perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian. Berikut adalah hasil penghitungan sampel penelitian.

Tabel 1 Sampel Penelitian

Keterangan Jumlah

Jumlah perusahaan manufaktur terdaftar di BEI berturut-turut tahun 2012-2014 119

Jumlah perusahaan yang tidak memenuhi kriteria 98

Jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria tiap tahun 21

Jumlah sampel yang digunakan selama tiga tahun (21 perusahaan × 3 tahun) 63 Sumber: data penelitian (2016)

Statistik Deskriptif

Sumber: data penelitian (2016)

Menurut data statistik deskriptif, kepemilikan manajerial memiliki nilai minimum sebesar 0 persen dan nilai maksimum sebesar 6,6 persen. Rata-rata kepemilikan manajerial pada perusahaan sampel adalah sebesar 0,75381 persen.

Perusahaan dengan kepemilikan manajerial 0 persen berarti direksi tidak memiliki saham perusahaan, yang antara lain pada sampel perusahaan AISA, AKPI, IGAR

18

dan lain-lain. Kepemilikan manajerial tertinggi sebesar 6,6 persen ada pada emiten ALDO. Rata-rata kepemilikan manajerial pada perusahaan sampel adalah sebesar 0,75381 persen, yang berarti rata-rata direksi perusahaan sampel memiliki 0,75 persen saham perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2014 menerapkan kepemilikan saham oleh dewan direksi dengan proporsi yang relatif kecil. kesejahteraan karyawan dan pendapatan yang telah dikenakan pajak final atau bukan objek pajak. ETR tertinggi ada pada emiten STAR tahun 2014 sebesar 0,95.

Hal ini berarti beban pajak yang ditanggung STAR adalah sebesar 95 persen dari laba sebelum pajaknya. Rata-rata nilai ETR pada perusahaan sampel adalah sebesar 0,324762. Tarif yang dikenakan pada PPh Badan adalah sebesar 25 persen atau 0,25. Ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2014 membayar PPh badan diatas tarif yang ditetapkan. Hal ini dapat terjadi karena laba laporan keuangan fiskal lebih besar daripada laba laporan keuangan komersial, serta munculnya beban pajak tangguhan perusahaan. Hasil ini juga menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan manufaktur memiliki tingkat agresivitas pajak yang rendah, karena rata-rata tarif pajak efektif perusahaan sampel lebih tinggi dari tarif PPh Badan yang berlaku.

19

Tobin’s Q yang menunjukan nilai perusahaan, memiliki nilai minimum

sebesar 0,19 dan nilai maksimum sebesar 1,8. Nilai terendah 0,19 ada pada emiten STAR. Angka ini menggambarkan bahwa saham perusahaan dalam kondisi undervalued dan manajemen telah gagal dalam mengelola aktiva perusahaan

karena memiliki nilai lebih kecil dari 1 (Sudiyatno dan Puspitasari 2010). Nilai tertinggi 1,8 ada pada emiten ALDO. Angka ini menggambarkan bahwa saham perusahaan dalam kondisi overvalued (lebih besar dari 1) dan manajemen berhasil dalam mengelola aktiva perusahaan. Rata-rata nilai Tobin’s Q pada perusahaan sampel adalah sebesar 0,675238. Hasil ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan sampel memiliki nilai pasar yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai aset tercatat. Hal ini menunjukkan bahwa pasar menilai perusahaan terlalu rendah (undervalued), karena biaya penggantian aktiva perusahaan lebih tinggi dari harga sahamnya (Kusumastuti 2007).

Chow Test dan Hausman Test

Hasil dari perhitungan Chow test didapatkan hasil p-value sebesar 0,000.

Berdasarkan hasil tersebut, maka metode pendekatannya menggunakan Fixed Effect Model (FEM) karena nilai p-value kurang dari alpha (α). Setelah didapati

metode pendekatan FEM, maka dilanjutkan dengan Hausman test. Hasil dari Hausman test didapati p-value sebesar 0,0793. Berdasarkan hasil tersebut, maka metode pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah Random Effect Model (REM) karena nilai p-value lebih besar dari alpha (α) (Lampiran 2).

20 Uji Normalitas

Dari hasil pengujian normalitas pada data pengamatan yang dipilih, didapati bahwa data terdistribusi normal dengan probability lebih dari alpha (α) yaitu sebesar 0,493350. Hasil uji normalitas menggunakan uji Jarque-Bera.

(Lampiran 3).

Pengujian Data Panel

Pengujian statistik menggunakan data panel dengan software Eviews 8, diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 3 Kepemilikan Manajerial - Nilai Perusahaan 0,047745 0,0264 0,075845 Kepemilikan Manajerial - Agresivitas Pajak -0,001970 0,8818 0,000370

Agresivitas Pajak - Nilai Perusahaan -0,438979 0,0369 0,068309

Sobel test (Z)

Kepemilikan Manajerial - Agresivitas Pajak - Nilai Perusahaan 0,134911 Sumber: data penelitian (2016)

Berdasarkan hasil diatas diketahui bahwa kepemilikan manajerial memiliki pengaruh signifikan dengan arah positif terhadap nilai perusahaan, karena memiliki p-value sebesar 0,0264 (kurang dari α) dan koefisien sebesar 0,047745. Artinya semakin tinggi nilai kepemilikan manajerial pada perusahaan akan semakin meningkatkan nilai perusahaan. Selanjutnya kepemilikan manajerial memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap agresivitas pajak, dengan p-value sebesar 0,8818 (lebih besar dari α). Artinya berapapun nilai kepemilikan manajerial, tidak akan berpengaruh signifikan terhadap tinggi rendahnya agresivitas pajak perusahaan. Adapun agresivitas pajak memiliki pengaruh

21

signifikan dengan arah negatif terhadap nilai perusahaan, dengan p-value sebesar 0,0369 (kurang dari α) dengan koefisien sebesar -0,438979. Artinya semakin tinggi agresivitas pajak perusahaan, akan semakin menurunkan nilai perusahaan.

Hubungan intervening oleh agresivitas pajak antara kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan diuji dengan Sobel test dengan nilai Z sebesar 0,134911. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai Z-test < 1,96, yang berarti pengaruh tidak langsung kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan melalui agresivitas pajak terbukti tidak siginifikan. Dengan kata lain, hubungan langsung antara kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan lebih kuat daripada melalui variabel agresivitas pajak.

Pembahasan

Kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti bahwa Hipotesis 1 didukung oleh hasil penelitian. Temuan ini sejalan dengan penelitian Wahyudi dan Pawestri (2006) serta Christiawan dan Tarigan (2007). Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dikarenakan segala kebijakan yang diambil oleh dewan direksi akan cenderung berhati-hati dan tidak sembarangan dalam mengambil keputusan. Hal ini dikarenakan dewan direksi yang sekaligus sebagai pemegang saham tidak ingin perusahaan mengalami kebangkrutan dan kesulitan keuangan di masa yang akan datang (Christiawan dan Tarigan 2007).

Kepemilikan manajerial berpengaruh tidak signifikan terhadap agresivitas pajak. Hal ini berarti bahwa Hipotesis 2 tidak didukung oleh hasil penelitian.

Dalam tingkat kepemilikan manajerial tertentu, perusahaan bisa saja bertindak

22

agresif maupun tidak agresif dalam perpajakan. LION dan SKBM memiliki kepemilikan manajerial yang relatif tinggi, namun perpajakannya relatif agresif.

Sementara INDS, JECC dan KDSI yang tidak memiliki kepemilikan manajerial juga bertindak relatif agresif. Tindakan agresif sendiri dapat saja dilakukan sesuai koridor aturan pajak maupun melanggar aturan pajak. Namun data penelitian ini tidak dapat dipetakan apakah perusahaan sampel melakukan tindakan agresif yang legal maupun ilegal. Hal ini membuat sulit untuk dilakukan penilaian tentang keterkaitan tindakan agresif tersebut dengan sifat keputusan yang diambil oleh manajer, apakah manajer berniat untuk menjaga reputasi perusahaan atau tidak.

Manajer yang juga memiliki saham perusahaan dapat mengambil keputusan yang berbeda-beda, tergantung sudut pandang mereka masing-masing terhadap agresivitas pajak.

Agresivitas pajak memiliki pengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti bahwa Hipotesis 3 didukung oleh hasil penelitian. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hanlon dan Slemrod (2009) serta Wahab dan Holland (2012). Agresivitas pajak ditemukan berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan disebabkan karena agresivitas pajak berpotensi mengandung risiko, sehingga akan menurunkan nilai perusahaan. Seperti yang terjadi pada pemeriksaan fiskus terhadap PT. Kedawung Setia Industrial Tbk (KDSI). Pada tahun 2013, perusahaan membebankan tagihan pajak kurang bayar atas tahun fiskal 2008 senilai Rp 1.264.230.900. Sanksi atas pajak kurang bayar serta biaya sengketa pajak di pengadilan dapat merugikan perusahaan dan merusak citra baik perusahaan. Hal ini dapat dipandang pasar sebagai hal yang tidak baik sehingga cenderung berpengaruh negatif terhadap nilai pasar saham

23

dari perusahaan tersebut. Rata-rata harga saham emiten KDSI pada tahun 2013 adalah Rp 434 per lembar saham. Sementara tahun 2014 rata-rata harga saham emiten KDSI turun menjadi Rp 355 per lembar saham. Harga saham yang menurun diduga dipengaruhi salah satunya oleh adanya tunggakan perpajakan yang diumumkan dalam catatan atas laporan keuangan (CALK) perusahaan pada tahun 2013.

Berdasarkan hasil penelitian, pengaruh positif kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh agresivitas pajak. Hasil ini didukung dengan perhitungan sobel test yang menghasilkan Z-test sebesar 0,134911. Hal ini berarti bahwa Hipotesis 4 tidak didukung oleh hasil penelitian.

Keputusan dan kebijakan yang diambil oleh dewan direksi perusahaan yang memiliki proporsi kepemilikan saham, akan cenderung berhati-hati dan mengutamakan peningkatan nilai perusahaan, demi kesejahteraan dirinya. Akan tetapi ternyata kepemilikan manajerial berpengaruh tidak signifikan terhadap agresivitas pajak. Oleh sebab itu, belum dapat dibuktikan bahwa kepemilikan manajerial akan meminimalkan aktivitas yang dapat menurunkan nilai perusahaan, yaitu agresivitas pajak.

24 PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemilikan manajerial terbukti memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Namun, pengaruh positif ini tidak dipengaruhi oleh agresivitas pajak (variabel intervening).

Implikasi Teoritis

Berdasarkan hasil penelitian, kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan dengan arah positif dengan nilai perusahaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Wahyudi dan Pawestri (2006) serta Christiawan dan Tarigan (2007).

Kepemilikan manajerial berpengaruh tidak signifikan terhadap agresivitas pajak.

Agresivitas pajak berpengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap nilai perusahaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hanlon dan Slemrod (2009) serta Wahab dan Holland (2012). Pengaruh positif antara kepemilikan manajerial dan nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh agresivitas pajak. Secara keseluruhan, agency problem pada perusahaan dapat dikurangi dengan kepemilikan manajerial,

sehingga meningkatkan nilai perusahaan, namun mekanismenya bukan melalui keputusan terkait agresivitas pajak.

Implikasi Terapan

1. Bagi manajer, hasil penelitian ini berguna bagi pengambilan keputusan terkait agresivitas pajak. Agresivitas pajak yang terbukti berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, sebaiknya diterapkan dengan bijak, sesuai dengan kondisi perusahaan dan dilakukan tanpa melanggar

undang-25

undang perpajakan. Tujuannya, agar nilai saham perusahaan tidak menurun akibat menurunnya citra perusahaan di mata pasar, sehingga nantinya akan berdampak buruk bagi nilai perusahaan.

2. Bagi shareholder, hasil ini berguna bagi pengambilan keputusan terkait penerapan kepemilikan saham oleh manajer perusahaan. Kepemilikan saham oleh manajer, akan mendorong manajer untuk lebih mengutamakan prinsip going concern perusahaan, serta mendorong rasa memiliki

2. Bagi shareholder, hasil ini berguna bagi pengambilan keputusan terkait penerapan kepemilikan saham oleh manajer perusahaan. Kepemilikan saham oleh manajer, akan mendorong manajer untuk lebih mengutamakan prinsip going concern perusahaan, serta mendorong rasa memiliki

Dokumen terkait