PERMASALAHAN DAN ISU –ISU STRATEGIS BIDANG KESEHATAN
3.2 TelaahanVisi,Misi dan Program Kepala Daerah danWakil Kepala Daerah Terpilih
Rencana Pembangunan Jangka Menengah adalah desain pembangunan yang dirancang sebagai bagian dari pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Panjang. Penyusunan rencana pembangunan tersebut disusun berdasarkan pertimbangan analisis konteks yang berkembang. Untuk kepentingan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2017 - 2022 beberapa dokumen penting menjadi acuan antara lain : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Tahun 2005- 2025, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJPN) Tahun 2015 – 2019, Rencana Tata Ruang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan visi-misi kepala daerah terpili, sedangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sendiri adalah bagian dari capaian Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah.
Visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)Provinsi Kepulauan Bangka Belitungperiode 2005- 2025 adalah “ PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG YANG MAJU, SEJAHTERA DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN 2025 ”. yang ditempuh melalui 5 (lima) misi RPJPD yaitu :
1. Mengembangkan potensi ekonomi lokal berbasis agri-bahari.
2. Meningkatkan kualitas dan daya saing SDM.
3. Mewujudkan pemerintahan yang amanah.
4. Mewujudkan pembangunan yang merata dan berkeadilan
5. Mewujudkan pembangunan berwawasan lingkungan danberkelanjutan Fokus pembangunan RPJPD Provinsi Kepulauan 2005-2025 saat ini memasuki tahap kelima tahun ketiga, prioritas pembangunan jangka panjang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung difokuskan pada upaya untuk menjaga dan meningkatkan perekonomian daerah serta upaya pemenuhan kapasitas dan kualitas SDM.
Pada akhir tahap ketiga ini, kondisi perekonomian daerah diharapkan dapat terus meningkat, pertumbuhan PDRB sebagai indikator dari kondisi perekonomian daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ditargetkan dapat tumbuh sebesar 5,25 , sementara itu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mengindikasikan tingkat kualitas SDM diharapkan meningkat menjadi 71,05.
Pada sasaran pokok terpenuhinya kapasitas dan kualitas SDM, arah kebijakan yang dilaksanakan adalah :
1. Peningkatan akses pelayanan pedidikan, peningkatan mutu pendidikan serta peningkatan relevansi dan daya saing;
2. Peningkatan kesadaran masyarakat dalam berperilaku hidup bersih dan sehat;
3. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar dan kesehatan rujukan;
66 4. Pemenuhan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan.
Visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD)Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2017 - 2022 adalah:“ BABEL SEJAHTERA, PROVINSI MAJU YANG UNGGUL DIBIDANG INOVASI AGROPOLITAN DAN BAHARI DENGAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN DAN PELAYANAN PUBLIK YANG EFESIEN DAN CEPAT BERBASIS TEKNOLOGI “
Pernyataan visi ini mengandung lima makna yaitu:
1. ProvinsiKepulauan Bangka Belitungadalah wilayah administratif yang terbentukberdasarkanUndang-UndangNomor 27 Tahun 2000 yang didalamnyaterdapatmasyarakat yang harusdilayaniPemerintah.
2. SejateramenunjukkanbahwamasyarakatProvinsiKepulauan Bangka Belitung dengantingkatpendapatanmasyarakatnyameningkat dan kesenjanganpendapatanantarmasyarakatmengecil.
3. MajuadalahkeinginanmasyarakatProvinsiKepulauan Bangka Belitung yang terusmembangun, berpikirjauhkedepan dan kreatifbukanhanyasetaradengandaerah lain di Indonesia tetapi juga sejajardengandaerah di negara-negara maju yang dilakukanmelaluipeningkatankualitas SDM dan ketatapemerintahan yang baik (good governance).
4. Ungguldimaknaisebagaikapasitas dan kemampuanberkompetisi yang dihasilkanProvinsiKepulauan Bangka Belitung untukmenghadapisegalatantanganpembangunandalamrangkamewujud kankesejahteraanmasyarakat Bangka Belitung yang Unggul di BidangInovasiAgropolitan dan Baharidengandukungansemuasektor.
5. Teknologidimaknai Tata Kelola Pemerintahan dan PelayananPubliksertauntukpencapaianVisi&Misi yang Efisien dan Cepatsertaberdayasaingberbasisteknologi
Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Dalam upaya untuk mencapai visi pembangunan di atas, maka ada 6 (enam) Misi pembangunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Periode 2017 – 2022, yaitu:
1. Meningkatkan pembangunan ekonomi berbasis potensi daerah 2. Mewujudkan Infrastruktur dan konektifitas daerah yang berkualitas
3. Meningkatkan sumber daya manusia unggul dan handal 4. Meningkatkan kesehatan masyarakat
5. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan pembangunandemokrasi
6. Meningkatkan pengendalian bencana dan kualitas lingkungan hidup Dalam hal ini Dinas Kesehatan mendukung misi nomor 4dan misi nomor 5.
Misi ke-4 dengan Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat, melalui sasaran (1)Meningkatnya Pelayanan Kesehatan yang Bermutu dan (2)Meningkatnya Perilaku Masyarakat Babel Sadar Sehat. Sedangkan misi ke-5 dengan Mewujudkan Reformasi Birokrasi Perangkat Daerah melalui sasaran (3) Meningkatkan Tata Kelola Internal Perangkat Daerah.
Tabel 3.2
Faktor Penghambat dan Pendorong Pelayanan Dinas
KesehatanProvinsiKepulauan Bangka Belitung Terhadap Pencapaian Visi, Misidan Program Gubernur dan Wakil GubernurTerpilih
VISI: Babel Sejahtera, ProvinsiMaju,yangUnggul di BidangInovasiAgropolitan dan Baharidengan Tata Kelola Pemerintahan dan PelayananPublik yang Efisien dan CepatBerbasisTeknologi
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
1 2 3 4 5
Meningkat kan Kesehatan Masyarak at
1. Masih
rendahnyakinerja pelayananpublic
1. Kompetensi SDM kurang 1. jumlah SDM yang cukup 2. leadership lemah 2. letak yang strategis 3. komitmenkurang 3. saranafisik yang baik 4. kreatifitaskurang 4. prasarana yang lengkap 5. reward kepegawaikurang 5. pelayanna yang baik 6. kemuncuankompetitor/pesaing 6. reputasi yang baik
7. keadaanmakroekonomi 7. jumlahpenduduk yang banyak 8. perubahanteknologi 8. sedikitcompetitor
9. legislasi
9.
kebutuhanmasyarakatakanmutula yanan
10. sosial- budaya 10. perkembanganteknologi 11. pasar tenagakesehatancukup 2. Masih
kurangnyakesad aranmasyarakatu ntukhidupsehat
1. mutasipegawai 1. adanyainpres No. 1 Tahun 2017 tentangGermas
2. kurangnyakomitmen 2. Permenkes No. 43 Tahun 2016 3. ketersediaansarprassanitasi
yang tidaksesuaistandar
3. VisimisiGubernurterpilihTahun 2017 -2022
4. kurangsinergitas dan
kolaborasipelaksanaan program dengankabupaten/kota
4. kerjasamalintassektorbaik
5.
kegiatanedukasimasyarakattentan gkesehatan yang masihrendah
3. Masih tingginyaangkakesakitanakibatpenyakitmenular dan tidakmenular
a. Masih 1. belumterjalinnyakerjasama dan 1. ketersediaan dana pemerintah,
68
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
kurangnyapenem uan dan
tatalaksanakasus TB
koordinasi yang
baikantarapuskesmas dan RS maupunpraktekswasta
APBN, APBD dan GF AtM
2. surveilans TB belum optimal
2. adanyatenagauntuk program TB baik PNS maupun non PNS dari dana hibh GF ATM
petugasrangkapjabatan
3. adanyafasilitaspenunjang di unit
pelaynaankesehatanpuskesmas dan rumahsakituntuktatalaksana TB
3. kurangpedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang
terlibatdalam program TB
4. adanyakebijakan OAT gratis
4. kurangataurendahnyakesadaran dan
pengetahunamasyarakatterhadapp enyakit TB
sehinggatidakdatangkepalayanank esehatan
5. SDM/wasor TB yang sudahterlatih
5 faktorresikoterhadap TB yang tidakdapatdideteksidini
6 maraknya media
teknologiinformasi di masyarakat 7. integrasidenganlintas program dan lintasektor
b. Masih kurangnyapenem uankasus HIV dan AIDS
1. belumterjalinnyakerjasama dan koordinasi yang
baikantarapuskesmas dan RS maupunpraktekswasta
1. ketersediaan dana pemerintah, APBN, APBD dan GF AtM
2. surveilans HIV AIDS belum optimal
2. adanyatenagauntuk program HIV baik PNS maupun non PNS dari dana hibh GF ATM
3. petugasrangkapjabatan 3. adanyafasilitaspenunjang di unit
pelaynaankesehatanpuskesmas dan rumahsakituntuktatalaksana HIV AIDS
4. kurannyasarana dan
prasaranauntukklinik KT HIV dan
PDP 4 adanyakebijakanobat HIV gratis
5. masihkurannya SDM terlatih program HIV AIDS
5. SDM program HIV AIDS yang sudahterlatih
6. kurangpedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang
terlibatdalam program HIV
6.
ketersediaankebijkanpemerintahu ntukpenanggulngan HIV aIDS 7. kurangataurendahnya dan
pengetahuanmasyarakatterhadapp enyakit HIV
sehinggatidakdatangkepelayanank esehatan
7. adanyapedoman -pedomanterkait program pengendalian HIV aIDS 8. faktorresikoterhadap HIV yang
tidakdapatdideteksidini
8. banyak LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibat dan menduungdalam program HIV AIDS
9. pemanfaatan dan hibah GF ATM untuk HIV yang
mempunyaidayaungkit program 10. adanyakader yang
membantukegiatan program 11. maraknya media
teknologiinformai di masyarakat 12. integrasidenganlintas program
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
dan lintassektor c. Masih
ditemukannyape nderitabarukusta di
Kabupaten/Kota
1. Belum terjalinnyakerjasamadan koordinasi yang
baikantarapuskesmas dan RS maupunpraktekswasta
1. Adanyatenagawasorkusta di Kabupaten/kota yang
sudahterlatih program kusta 2. Surveilankustabelum optimal 2. Adanyafasilitaspenunjang di
unit
stadalammendiagnosakusta 3. AdanyaKebijakanObatKusta gratis
4. Kurang pedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibatdalam program kusta
4. Adanyadukungan dana untukkegiatanpencegahan dan pengendalianpenyakitkusta 5. Kurang
ataurendahnyakesadaran dan pengetahuanmasyarakatterhadapp enyakitkusta
5. Banyak LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibat dan mendukungdalam program kusta 6. Faktorresikoterhadapkusta yang
tidakdapat di deteksidini
6. Adanyakader yang membantukegiatan program 7. Adanyapenderitakusta yang
tidakmaumenyelesaikanpengobata nnya
7. Maraknya media
teknologiinformasi di masyarakat d. Masih
ditemukannyape nderita ISPA, Diare dan kematiankarenap nemoni
1. Belum terjalinnyakerjasama dan koordinasi yang
baikantarapuskesmas dan RS maupunpraktekswasta
1. Keputusan menterikesehatan RI
nomor:1537A/Menkes/SK/XII/200 2
tentangpedomanpemberantasanp enyakit ISPA
2. Surveilan ISPA dan diarebelum optimal
2. Adanyafasilitaspenunjang di unit
pelayanankesehatanPuskesmas Dan RumahSakituntuktatalaksana ISPA dan diare
3. Rotasipetugas/mutasipetugas yang sudahterlatih
3. Adanyatenagakesehatan yang sudahterlatihuntukmelaksanakanp engendalian ISPA pnemonia dan diare
4.masih terbatasnyalogistik p2 ISPA pneumonia (RDT, BHP,HBIG, dan media KIE)
4. Kurang pedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibatdalam program ISPA dan diare
5.masih terdapattenagamedis yang
belummemperolehpengetahuanter kinitentangtatalaksanakasus ISPA pneumonia
5. Kurang
ataurendahnyakesadaran dan pengetahuanmasyarakatterhadap penyakit ISPA dan diare
6. Kurang pedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibatdalam program ISPA dan diare
6. Faktorresikoterhadap ISPA dan diare yang tidakdapat di
deteksidini 7. Kurang
ataurendahnyakesadaran dan pengetahuanmasyarakatterhadapp enyakit ISPA dan diare
7. Budaya PHBS yang tidakdilakukanmasyarakat
8. Faktorresikoterhadap ISPA dan
70
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
diare yang tidakdapat di deteksidini
9. Budaya PHBS yang tidakdilakukanmasyarakat e. Deteksidini
Hepatitis B dan C pada Ibu hamil dan
masyarakatberes ikobelumterlaksa na
1. Belum terjalinnyakerjasama dan koordinasi yang
baikantarapuskesmas dan RS maupunpraktekswasta
1. PERMENKES
tentangpengendalian hepatitis nomor 45 tahun 2015
2. Surveilan hepatitis belum optimal
2. Adanyafasilitaspenunjang di unit
pelayanankesehatanPuskesmas Dan RumahSakituntuktatalaksana hepatitis
3. Rotasipetugas/mutasipetugas yang sudahterlatih
3. Adanyatenagakesehatan yang sudahterlatihuntukmelaksanakanp engendalian hepatitis
4.masih terbatasnyalogistik hepatitis (RDT, BHP dan HBIG)
4. Integrasi denganlintas program dan lintassektor (swasta)
5.masih terdapattenagamedis yang
belummemperolehpengetahuanter kinitentangtatalaksanakasus Hepatitis
5. Adanyakader yang membantukegiatan program
6. Kurang pedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibatdalam program hepatitis
6. Maraknya media
teknologiinformasi di masyarakat 7. Kurang
ataurendahnyakesadaran dan pengetahuanmasyarakatterhadapp enyakit hepatitis
7. Dukungan dana APBN utk program p2 hepatitis
8. Faktorresikoterhadap hepatitis yang tidakdapat di deteksidini 9. Budaya PHBS yang tidakdilakukanmasyarakat 10. Masyarakat
menganggapbahwa HIV-AID'S lebihmenakutkandibandingkan hepatitis
11. Hepatitis
masihterbilangtopikbarudimasyara katsehinggamasyarakatkurangped uli
f. Masih
terjadinyapenular an malaria setempat (indegenous)
1. Belum terjalinnyakerjasama dan koordinasi yang
baikantarapuskesmas dan RS maupunpraktekswasta
1. Ketersediaan dana pemerintah, APBN, APBD dan GF NFM
2. Surveilan malaria yang belumberjalanmaksimal
2. Adanyatenagauntuk program malaria baik PNS maupun Non PNS dari dana hibah GF NFM 3. Kurang
maksimalnyapengendalianjentik malaria
3. Adanyafasilitaspenunjang di unit
pelayanankesehatanPuskesmas Dan RumahSakituntuktatalaksana malaria
4. Kurang pedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibatdalam program malaria
4. AdanyaKebijakanobat malaria gratis
5. Kurang
ataurendahnyakesadaran dan pengetahuanmasyarakatterhadapp enyakit malaria
5. Pengelola program malaria yang sudahterlatih
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
sehinggaterlambatdatangkepelaya nankesehatan
6. Masih
banyaknyadesadenganreseptif malaria
6. 12. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/Menkes/SK/IV/2009 tentangEliminasi Malaria Di Indonesia
7. PeraturanGubernurKepulauan Bangka Belitung nomor 35 tahun 2009 tentangeliminasi malaria di ProvinsiKepulauan Bangka Belitung
8. Banyak LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibat dan mendukungdalam program malaria
9. Pemanfaatan dana hibah GF NFM untuk malaria yang mempunyaidayaungkit program 10. Adanyakader yang
membantukegiatan program 11. Maraknya media
teknologiinformasi di masyarakat 12. Integrasi denganlintas program dan lintassektor Masih
terjadinyapenular an dan kematian pada anak-anakkarenapeny akit DBD
(demamberdarah dengue)
1. Belum terjalinnyakerjasama dan koordinasi yang
baikantarapuskesmas dan RS maupunpraktekswasta
1. Adanyatenaga di Kabupaten/kota yang sudahterlatih program DBD 2. Surveilan DBD belum optimal 2. Adanyafasilitaspenunjang di
unit
pelayanankesehatanPuskesmas Dan RumahSakituntuktatalaksana DBD
3. Tidaktersediavaksin DBD di pelayanankesehatan
3. AdanyaKebijakanlaporan DBD 1 X 24 JAM
4.Pengetahuan
Penentuandiagnosa DBD yang belumbanyak di
ketahuipetugaskesehatan di puskesmas dan RS
4. Adanyadukungan dana untukkegiatanpencegahan dan pengendalianpenyakit DBD
5.Angka BebasJentik DBD yang tidakmencapai 100%
5.
Ketersedianlogistikpengendalian DBD yang terjamin
6. Kurang pedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibatdalam program DBD
6. Banyak LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibat dan mendukungdalam program DBD 7. Kurang
ataurendahnyakesadaran dan pengetahuanmasyarakatterhadapp enyakit DBD
7. Adanyakader yang membantukegiatan program
8. Masyarakat
kurangpeduliuntukPemberantasan sarangnyamuk (PSN) dengan 3m Plus
8. Maraknya media
teknologiinformasi di masyarakat
9. berantasansarangnyamuk (PSN) dengan 3m Plus
Masih
terjadinyapenular
1. Belum terjalinnyakerjasama dan koordinasi yang
1. Ketersediaan dana pemerintah, APBN, APBD
72
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
ankasuspenyakit filariasis (kaki gajah) dan kecacingan
baikantarapuskesmas dan RS maupunpraktekswasta 2. Surveilan filariasis yang belumberjalanmaksimal
2. Adanyatenagaterlatih 3. Kurang
maksimalnyapengendalianvektor filariasis
3. Adanyafasilitaspenunjang di unit
pelayanankesehatanPuskesmas Dan RumahSakituntuktatalaksana filariasis
4. Kurang pedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibatdalam program filariasis
4. AdanyaKebijakanobat filariasis dan kecacingan gratis
5. Kurang
ataurendahnyakesadaran dan pengetahuanmasyarakatterhadapp enyakitfilariasi dan
kecacingansehinggaterlambatdata ngkepelayanankesehatan dan minumobat
5. Banyak LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibat dan mendukungdalam program filariasis
6. Budaya PHBS yang tidakdilakukanmasyarakat
6. Pemanfaatan dana APBN untuk filariasis yang
mempunyaidayaungkit program 7. Adanyakader yang
membantukegiatan program 8. Maraknya media
teknologiinformasi di masyarakat Kejadiankasuspe
nyakit zoonosis (H5N1/Flu Burung, Rabies, Antrak,
Leptospirosis dll) masihmenjadianc amanberarti
1. Belum terjalinnyakerjasama dan koordinasi yang
baikantarapuskesmas dan RS maupunpraktekswasta
1. Ketersediaan dana pemerintah APBD
2. Surveilan zoonosis yang belumberjalanmaksimal
2. Adanyatenagaterlatih 3. Tidak di
updatenyarumahsakitrujukan flu burung
3. Adanyafasilitaspenunjang di unit
pelayanankesehatanPuskesmas Dan RumahSakituntuktatalaksana zoonosis
4. tidak di
updatenyatimpenanggulangan flu burung
4.
Ketersediaanlogistikpengendalian zoonosis (vaksin rabies, obat flu burungdll)
5. Tidaktersedia dana APBN untuk babel dalampengendalian
zoonosis
5. Banyak LSM, lembaga dan sektor, swasta yang terlibat dan mendukungdalam program zoonosis
6. Kurang pedulinya LSM, lembaga dan sektorswasta yang terlibatdalam program zoonosis
6. Pemanfaatan dana APBD untuk zoonosis yang
mempunyaidayaungkit program 7. Kurang
ataurendahnyakesadaran dan pengetahuanmasyarakatterhadapp enyakit zoonosis
7. Adanyakader yang membantukegiatan program
8. Budaya PHBS yang tidakdilakukanmasyarakat
8. Maraknya media
teknologiinformasi di masyarakat Meningkatnyakas
1. Minimnyainformasi yang diterimamasyarakatmengenaikank erserviks dan payudara
1. Banyaknyamasyarakat yang mengetahuibahayanyakankerservi ks dan payudara
2.
Minimnyapengetahuanmasyarakat mengenaikankerserviks dan payudara
2.
Adanyadukungandaripemerintahu ntukmemperhatikanmasalahkanke rseperti :
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
- Kebijakan - Pedoman dan
juknistentangkankerserviks dan payudaraserta
- Dukungan dana 3.
Minimnyakesadaranmasyarakatunt ukmelakukandeteksidini
3. Adanya SDM yang
terlatihuntukmelakukandeteksidini kankerserviks dan payudara 4. Tidakmeratanyainformasiseperti
seminar ataukegiatan lain
gunamenginformasikanseputarkan kerserviks dan payudaraterutama di kalanganremaja
4.
Globalisasimemudahkanuntukme ncariinformasimengenaikankerser viks dan payudarasertabahayanya 5.
Tidakadanyabimbinganseksualitas yang benardari orang
tuakarenamasyarakatbiasanyame nganggap tabu untukdibicarakan
5. Media informasibaik audio dan visual
menyebarkaninformasimengenaik ankerserviks dan payudara 6. Cakupanpemeriksaan yang
masihrendah
6. Melaluisosialisasi dan
kampanyedapatberkesempatanm emberitahukanmengenaiinformasi kankerserviks dan
payudarakepadamasyarakat 7. MinimnyaRumahSakit dan
komunitassosial yang
mendukunggerakanpencegahanka nkerserviks
7.
Dapatmengantisipasiremajauntukt idakmelakukanhubunganintimseb elumusiamatang, tidakberganti – gantipasangan
8.
Minimnyadukungandarilembagaso sialmasyarakatuntukmemperhatika nremajadalamkasuskanker 9. TerbatasnyaBahanHabisPakai dan alatkriotherapy
10. Terbatasnya SDM berkualitas dan terlatihsepertidokterspog 11. Sudahbeberapa kali
menginformasikanmengenaikanke rservikstetapidampaktidakterlalube sarsehinggaadanyapendekatan yang lebihspesifik.
12. Terdapatmasyarakat yang mungkintidaktertarikmengenaikank erserviks dan payudara.
13. Perkembanganremaja yang dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk
14. Dunia informasi yang
menggesermoralitasdalamperilaku remaja yang
mengakibatkanpergaulanbebas, inidapatmenyebabkanterjadinyaka nkerserviks dan payudara.
Sekitar 2/3 penderitatidakme ngetahuibahwadi rinyamenderita PTM
1. Terbatasnya SDM berkualitas dan terlatihsepertidokterspog
1.
AdanyadukungandariPemerintahu ntukmemperhatikanmasalah PTM : Kebijakan - kebijakan, pedoman - pedoman, dan dana yang disediakan
2. Kurang
meratanyasosialisasiatau seminar mengenai PTM kemasyarakat
2. Peran
Pemerintahmelaluipengembangan dan penguatanpengendalian FR
74
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
PTM 3.
Kurangnyapelaksanakegiatanposb indu
4. Integrasi dengan Lintas Program dan Lintas Sektor 4. Kurang
tersosilisasinyakeberadaan POSBINDU sebagaideteksidini FR PTM di masyarakat
5. Mengembangkan dan
memperkuatpengendalianFaktorR esiko PTM melaluiPosbindu PTM 5.
Kurangnyakesadaranmasyarakatu ntukdatangkePosbindu
6. Mengembangkan dan
memperkuatkegiatandeteksidinifa ktorrisikohipertensi,obesitas dan DM di msyarakat dan
fasilitaskesehatantingkatpertama 6.
Kurangnyapengetahuanmengenai PerilakuHidupCerdik
7. Pola perilakuhidupmasyarakat yang tidakbaik
Integrasi layanankeswa di fasyankes primer sertapenguatansi stemrujukan
1. SDM (Kualitas dan Kuantitas) 1. PedomanJuknissudahada 2. Kondisigeografis yang
sulitterjangkau
2. Bimtek dan Monev 3. Faktorekonomi, sosial dan
budaya
3. Dana Dekonsentrasi 4. PengelolaanPencegahan dan
Penanggulangan (Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif) belummaksimal
4. UU 35/2009 (Narkotika)
5. Kerjasama Lintas Program maupun Lintas Sektor yang masihlemah
5. UU 18/2014 (Kesehatan Jiwa)
6. Masalahakseslayanan dan kesenjanganpengobatan (treatment Gap
6. PerdaProv.Kep.Bangka Belitung No 5 tahun 2015 tentangpenanggulanganpenyalah gunaanNapza
7. Kurangnyapengetahuan dan dukungankeluarga dan
masyarakat (stigma keluarga dan masyarakat yang salah)
7. PeraturanGubernurKep.
Bangka Belitung No. 49/2014 TentangPedomanPelaksanaanPe nangananBebasPasung di Prov.
Kep.Bangka Belitung.
8. Mobilitaspenduduk yang tinggi 8. Perjanjian Kerjasama Dinas kesehatanProv.Kep.Babel;
RumahSakit Jiwa Prov.Kep.Babel;
Badan Narkotika Nasional ProvinsiKep. babel; Dinas Pendidikan Prov. Kep.Babel;
Dinas Kesejahteraan Sosial Prov.
Kep. Babel; Dinas Tenaga kerja dan transmigrasi Prov. Kep. Babel Nomor Program
RehabilitasiKomprehensif dan BerkelanjutanBagiPecandu/Penya lahgunaNapza di
Prov.Kep.BabelNomor : 440/2366/DINKES; Nomor : 445/1503/ RSJD/ 2016; Nomor PKS/001/ XI/ KA/ 2016/ BNNP; 5.
Nomor : 420/ 917/ DISDIK/ 2016;
Nomor : 462/ 02/
PRS-DINKESSOS/ 2016; Nomor : 005/
944/ TK.T/ 2016; Tentang Kerjasama Program
rehabilitasiKomprehensif dan BerkelanjutanbagiPecandu/Penyal
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
ahgunaNapza di
provinsiKep.Bangka Belitung .
9. Persaingan dan kebutuhanhidup yang meningkat
Keterbatasan SDM Surveilan dan dan puskesmasberupa Sweeping, DOFU (Drop Out Follow Up) dan Backlog Fighting
untukmeningkatkancakupanimuisa si
1.
PermenkestentangPenyelenggara anImunisasi, surveilan,
krisiskesehatan, penyakitInfeksi Emerging dan penyeenggaraan haji
2.
Penolakanimunisasidenganalasan kepercayaan dan
ketidaktahuanmanfaatimunisasi
2. SDM ( Kualitas&Kuantitas) belumsesuaistandar : Petugasada yang tugasrangkap, petugasbaru Kegiatansurveila indicator yang telahditentukan
1. Program InternasionalEradikasi Polio (ERAPO) dan Eliminasi Tetanus
1. Visi dan
MisiGubernurKepulauan Bangka Belitung
2. PengelolaanRantaiDingin dan Logistik yang
menyalahiproseduratautidakmeme nuhisyarat
2. Sarana &Prasarana : Peralatan Cold Chain (Coldroom di
Provinsitidakberfungsi)
Belum
adatimterpaduSis tempenanganank asus PD3I tingkatprovinsi, Kabupaten/
kotasampaipuske smas
1. Program nasionalImunisasi Dasar Lengkap dan UCI Desa,
1. Komitmenkadermendukung program imunisasi dan survey mawasdiri
2. Keterbatasanpersediaanvaksin dan logistic
2.
PengetahuanpengelolaanVaksinm asihkurang
Belum
siapnyatim dan saranaprasarana pendukunguntuk pencegahan, deteksidini dan penanggulangan penyakitInfeksi Emerging
1. Respontinggi (antusias) calonjamaah haji
untukmengikutipemeriksaankeseh atan dan pemeriksaaankebugaran.
1. Integrasi Lintas Program Imunisasidengan program (KIA, UKS) dan Lintas Sektor (PKK, BPMPD, Pramuka)
2. Potensimunculnya KLB beberapapenyakit yang termasuk PD3I maupunpenyakitInfeksi Emerging
2. Pencatatan dan Pelaporan program imunisasitidaklengkap dan tidaktepatwaktu
Menurunnya Kinerja
PetugasImunisas i di Tingkat Kabupatenmaup unPuskesmas
1. Program krisiskesehatan (bencana) menjadi SPM kepaladaerah
1.
KesiapsiagaantimSistemPenangg ulanaganGawatDaruratTerpadu (SPGDT)
Calon jamaah dan keluarga yang telahmenjalanipemeriksaankeseha tan dan
kebugaranakanprotesjikabelumbis aberangkat haji
dalamtahunberjalan
2. Program
Surveilantidaktermasuk SPM maupun program prioritas
Penyelenggaraan pemeriksaankese hatanawal dan pemeriksaankeb ugaranbagicalonj emaah haji segerasetelahcal onjemaahmenda
1. Daerah Bangka Belitung termasukkecilpotensikejadianbenc ana
1. Tim penanggulanganprovinsi dan kabupaten / kota yang siapsiagaberkoordinasiuntukpena nggulangankirisiskesehatanjika di butuhkan
2. Calon jamaah dan keluarga yang
telahmenjalanipemeriksaankeseha 2.
DukungananggaranDekonsntrasi dan APBD provinsi, kab/kota
76
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
patnomorporsidar iKemenag
tan dan
kebugaranakanprotesjikabelumbis aberangkat haji
dalamtahunberjalan
3. Calon jamaah haji dan keluarga yang
telahmenjalanipemeriksaankeseh atan dan
pengukurankebugaranmengangga
4. Petugaspengelola program merangkaptugasbeberapa program lainnya
5. Laporancakupan program darikabupaten/kotatidaktepatwakt u
6. Sarana
prasaranarumahsakituntukruangis olasikhususpenyakitinfeksi emerging belumada
7. Tenaga SDM terlatihmasih sangat terbatas
4. Belum meningkatnyapel ayanankesehata ndasar dan rujukan
1.
Kesadaranmasyarakatmasihrenda hdalammendukung program kesehatan
1. UU No.36 tahun 2099 tentangkesehatan
2. Pemerataantenagakesehatan di pelayanankesehatan
2. UU No.44/2009 tentangRumahsakit 3.
Kurangnyakuantitastenagakesehat an, sertaperansertamasyarakat yang belum optimal
dalammendukung program dan kegiatanbidangkesehatan
4. Peraturanpemerintah , Permenkes,
Kepmenkesdalampelayanankeseh atan
5. Penempatantenagakesehatan yang belumsesuaikompetensi
5. Kebijakanpemerintahdaerah yang
mendukungkegiatanpelayanankes ehatan pada masyarakat
6. Ego sektoral yang
masihdominandalampembiayaanp embangunan
6. Ketersediaan SDM kesehatan 7. 11. Komitmenpemerintahdaerah yang
mendukungakselerasipembangun ankesehatantermasukpembiayaan kesehatan
NO MISI
PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN
FAKTOR
PENGHAMBAT PENDORONG
5. Belum
maksimalnyapeni ngkatankualitas dan
kuantitassumber dayakesehatan (SDK)
1. Tempatpelatihan yang adabanyakterdapatdiluardaerah
1. Anggaran yang mendukung (APBN dan APBD)
2.
Peminatmengikutipendidikanmele watibatasusia yang diisyaratkan
2. Banyaknyapeminatnakes yang inginmengikutipendidikan dan pelatihan
3. Distribusinakes yang tidakseimbang/tidakmerata
3. Masih banyaknyamasyarakat yang
membutuhkanpelayanankesehata n
4. Banyak yang
mengikutitespendidikan yang tidak lulus
4.
Sumberdayamanusiakesehatanm empunyaijenistenagakesehatan yang beragam
5. Akan adanyanakesdariluar negara RI yang masuk
5. Regulasi yang
adamemungkinkanmendukungunt ukpeningkatanpengetahuan dan keterampilannakes
6. Banyak daerah yang
mampumemberikaninsentifkepada nakeskhusus (drSpesialis/Sub Spesialis)
6.
Adanyakerjasamadenganbalaipel atihan dan perguruantinggi 7.
Banyaknyapromosipelayananterba ikdari negara lain
7.
Memberikankesempatanputradaer ahuntukmendapatbeasiswapendid ikankesehatan
8. Munculjenispenyakitbaru dan meningkatnyapenyakittidakmenula r
8. Rekrutmen CPNS nakes yang sesuaidengankebutuhandaerah
3.3 TelaahanRenstra Kementerian Kesehatan dan RenstraDinas Kesehatan Provinsi
Dalam dokumen Renstra Dinas Kesehatan Provinsi haruslah memuat sinkronisasi kebijakan pembangunan kesehatan nasional dan pembangunan kesehatan daerah, serta menetapkan strategi dalam upaya penguatan kinerja program, dan juga memiliki tolak ukur yang menjadi target kinerja pembangunan nasional sehingga dapat dijadikan dasar bagi Provinsi maupun kabupaten/kota dalam menjalankan program-program yang telah ditetapkan,sehingga keselarasan dalam pencapaian target program yang telah diprioritaskan dapat sejalan dengan target-target yang akan dicapai oleh suatu instansilembaga terkait. Pencapaian keberhasilan dalam penanggulangan permasalahan kesehatan didaerah dapat lebih mudah diatasi bila ada sinkronisasi dan keselarasan dalam pelaksanaan program kegiatan, sehingga percepatan keberhasilan pembangunan kesehatan dapat segera dirasakan oleh masyarakat.
78 Adapun peran Dinas Kesehatan Provinsi dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan adalahmelakukan pembinaan, pengembangan, dan pelaksanaan pembangunan kesehatan yang dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari panduan arahkebijakanpembangunankesehatan Nasional, Pembangunan kesehatan Nasional yang tercantum pada Renstara Kementerian Kesehatantahun 2015-2019 difokuskan pada penguatanupayakesehatandasar(Primary Health Care) yang berkualitas,terutamamelaluipeningkatanjaminankesehatan,
peningkatanakses dan mutupelayanankesehatandasar dan rujukan, yang
didukungdenganpenguatansistemkesehatan dan
peningkatanpembiayaankesehatan yang juga
dituangkankedalamdokumenRencanaStrategis Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2017 - 2022.
Strategi pembangunankesehatan Nasional tahun 2015-2019 meliputi : 1. AkselerasiPemenuhanAksesPelayanan Kesehatan Ibu, Anak, Remaja,
dan LanjutUsia yang Berkualitas.
2. MempercepatPerbaikanGizi Masyarakat.
3. MeningkatkanPengendalianPenyakit dan PenyehatanLingkungan.
4. MeningkatkanAksesPelayanan Kesehatan Dasar yang Berkualitas.
5. MeningkatkanAksesPelayanan Kesehatan Rujukan yang Berkualitas.
6. MeningkatkanKetersediaan, Keterjangkauan, Pemerataan, dan KualitasFarmasi dan Alat Kesehatan.
7. MeningkatkanPengawasanObat dan Makanan.
8. MeningkatkanKetersediaan, Penyebaran, dan MutuSumberDayaManusia Kesehatan.
9. MeningkatkanPromosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.
10. MenguatkanManajemen, Penelitian dan Pengembangan, sertaSistemInformasi Kesehatan.
11. MemantapkanPelaksanaanSistemJaminanSosial Nasional (SJSN) Bidang Kesehatan/JKN
12. Mengembangkan dan MeningkatkanEfektivitasPembiayaan Kesehatan.
Dalammendukungkeberhasilanpencapaiansasaranpembangunankesehata nnasionalsesuaiKebijakanoperasionalpembangunankesehatandalamperiod e 2015-2019 akandifokuskan pada 4 (empat) area prioritas, yakni:
1. Penurunanangkakematianibu(AKI) dan angkakematianbayi (AKB).
2. Perbaikangizi Masyarakat,
khususnyauntukpengendalianprevalensibalitapendek (stunting).
3. Pengendalianpenyakitmenular, khususnyaHuman Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV-AIDS), Tuberkulosis (TB), dan malaria.
4. Pengendalianpenyakittidakmenular, khususnyahipertensi, diabetes mellitus, obesitas, dan kanker (khususnyaleherrahimdan payudara) dan gangguanjiwa.
4 (empat) area prioritas pembangunan kesehatan nasional juga diimplementasikan pada target Indikator Kinerja Program (IKP) pada Dokumen Renstra Dinas Kesehatan Provinsi periode 2017- 2022.
Beberapa upaya yang akan dilaksanakanberfokus pada area prioritas adalah melaluipeningkatanjangkauansasaranterutama pada keluarga, tanpamengabaikanpendekatan-pendekatan lain yang selamainisudahberhasildilaksanakanyaitumenjangkausasaranberbasis:
Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat(UKBM), menjangkausasaranberbasis: UKS (Usaha Kesehatan Sekolah), menjangkausasaranberbasisUpaya KesehatanKerja(UKK), dan untuksasarankelompokusialanjutdenganpendekatanPosbinduUsila.
Prioritasperencanaan dan penganggarandiarahkan pada pemenuhankebutuhankegiatan-kegiatanpromotif dan preventif.
Pemenuhankebutuhankegiatan-kegiatankuratif dan rehabilitatifdilakukansetelahkebutuhankegiatan-kegiatanpromotif dan preventifdipenuhi.Arah kebijakan strategi pembangunan kesehatan nasional juga dijadikan panduan dan pedoman yang tertuang pada perencanaan bidang kesehatan, dalam bentuk akselerasi dan sinkronisasi program kegiatan yang mendukung percepatan pencapaian target kinerja nasional sesuai yang tercantum pada Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2015 – 2019.
80
Sumberdayamanusia (SDM) adalah modal
utamadalampembangunankesehatan. Oleh karenaitu, kualitas SDM akanterusditingkatkansehinggamemilikidayasaingtinggi, yang antara lain ditandaidenganmeningkatnyaIndeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Gender (IPG), dan IndeksKesetaraan Gender (IKG).
Peningkatantersebutdilaksanakanmelaluipengendalianjumlahpenduduk, peningkatantarafpendidikan, sertapeningkatanderajatkesehatan.
Untukituharusdiantisipasiberbagaitantangan yang ada.
3.4 TelaahanRencana Tata Ruang Wilayah (RTW) dan Kajian LingkunganHidupStrategis (KLHS)
Kebijakan Nasional penataanruangsecara formal ditetapkanbersamaandenganUndang-Undangnomor 24 tahun 1992
tentangPenataan Ruang (UU 24/1992), yang
kemudiandiperbaharuidenganUndang-UndangNomor 26 Tahun 2007.
Kebijakantersebutditujukanuntukmewujudkankualitas tata ruang Nasional yang semakinbaik dandinyatakandengankriteriaaman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Namunsetelahlebihdari 25 tahundiberlakukannyakebijakantersebut, kualitas tata ruangmasihbelummemenuhiharapan, bahkancenderungsebaliknya, justru yang
belakanganinisedangberlangsungadalahindikasidenganpenurunankualitas
dan dayadukunglingkungan. Pencemaran dan
kerusakanlingkunganbahkanmakinterlihatsecarakasatmata, baikdikawasanperkotaan, maupundikawasanpedesaan.
DengandiberlakukannyaKebijakan Nasional yang didukung oleh penguatanKebijakanDaerah terhadappenataanruangtersebut, makatidakadalagi tata ruang wilayah yang tidakdirencanakan. Tata ruangmenjadiprodukdarirangkaian proses perencanaan tata ruang, pemanfaatanruang dan pengendalianpemanfaatanruang. Oleh karenaitu, penegasansanksiataspelanggaran tata ruangsebagaimanadiaturdalamUU Nomor 26 Tahun 2007 menuntut proses perencanaan tata
ruangharusdiselenggarakandenganbaik, agar
penyimpanganpemanfaatanruangbukandisebabkan oleh
rendahnyakualitasrencana tata ruang wilayah. Guna membantumengupayakanperbaikankualitasrencana tata ruang wilayah maka Kajian LingkunganHidupStrategis (KLHS) atau strategi Environmental Assesment (SEA) menjadi salah satupilihanalatbantumelaluiperbaikankerangkapikir(framework of
thingking)perencanaan tata ruang wilayah
untukmengatasipersoalanlingkunganhidup.
KLHS adalahsebuahbentuktindakan strategidalammenuntun, mengarahkan, dan menjamintidakterjadinyaefeknegatipterhadaplingkungan dan berkelanjutandipertimbangkansecarainherndalamkebijakan, rencana dan program (KRP), posisinyaberada pada relungpengambilankeputusan.
Oleh karenaitutidakadamekanismebakudalamsiklus dan bentukpengambilankeputusandalamperencanaan tata ruang, makamanfaat KLHS bersifatkhususbagi masing-masing hirarkirencana tata ruang wilayah (RTRW). KLHS bisamenentukansubstansi RTRW, dapatmemperkaya proses penyusunan dan evaluasikeputusan, bisadimanfaatkansebagai instrument metedologispelengkap (komplementer), atautambahan
(suplementer) daripenjabaran RTRW,
ataukombinasidaribeberapaatausemuafungsi-fungsidiatas.
Penerapan KLHS dalampenataanruang juga
bermanfaatuntukmeningkatkanefektifitaspelaksanaanAnalisisMengenaiDa mpakLingkunganHidup (AMDAL) dan atau instrument
bermanfaatuntukmeningkatkanefektifitaspelaksanaanAnalisisMengenaiDa mpakLingkunganHidup (AMDAL) dan atau instrument