KAJIAN PUSTAKA
A. Televisi Lokal: Terobosan Media Informasi Elektronik Berbasis Lokalitas
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Televisi Lokal: Terobosan Media Informasi Elektronik Berbasis Lokalitas
Di Jawa Timur, sejak delapan tahun terakhir, tercatat lebih dari 400 lembaga penyiaran yang mengajukan izin penyelenggaraan penyiaran kepada KPID Jatim, namun setelah dilakukan pemeriksaan teknis administrasi, tak lebih dari 34 televisi yang lolos dan menjalani proses perijinan. Stasiun-stasiun televisi tersebut, antara lain; JTV, SBO TV, Arek TV, TV9 dan BBS TV. Mereka adalah lembaga penyiaran televisi lokal Surabaya. Televisi-televisi yang berdiri sendiri di Surabaya dan tidak memiliki jaringan tinggal Arek TV dan SBO TV saja.1 Sedangkan lainnya memiliki jaringan, umumnya di Jawa Timur.
Televisi lokal, sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Penyiaran Tahun
2002, harus memuat konten lokal yang berbasis pada kearifan lokal (local wisdom)2dengan
porsi yang lebih besar. Seni budaya tradisional setempat, karakter dan corak keberagamaan di daerah tersebut juga menjadi perhatian dan pertimbangan cukup besar bagi pemilik televisi. Tentu saja amanah Undang-undang tersebut memberikan isyarat bahwa media massa diharapkan mampu menjadi media sosialisasi kebudayaan sebagai kekayaan lokalitas yang menjadi karakter masyarakat setempat untuk selalu dilestarikan.
1Merujuk pada Database Perijinan KPID Jawa Timur tahun 2011, lebih lengkap rujuk pada BAB I.
2Local wisdom sering juga disebut sebagai kearifan lokal yang dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Pengertian di atas, disusun secara etimologi bahwa wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai ‘kearifan/kebijaksanaan’.
Media penyiaran televisi lokal agar menjadi sebuah saluran televisi yang tetap diminati oleh publik dan terus berkembang sesuai dengan basis lokalitas yang menjadi karakter khasnya, maka yang harus dipererhatikan pihak TV adalah prinsip-prinsip dasar yang mampu untuk mempertahankan ciri khas stasiun televisi lokal tersebut. Prinsip-prinsip itu terdiri dari:3
1. Prinsip Kebebasan Berekspresi
Kebebasan berekspresi merupakan sebuah prinsip yang menomor-satukan dan mengimplementasikan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai pertimbangan utama. Tanpa pertimbangan HAM, maka kebebasan berekspresi menjadi hal yang mustahil. Dalam prinsip kebebasan berekspresi terangkum di dalamnya kebebasan lain, antara lain kebebasan berpendapat, kebebasan pers serta kebebasan memperoleh dan memproduksi informasi. Kebebasan semacam ini telah dilegitimasi secara kontitusional melalui konsiderans MENIMBANG dalam UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yang menyatakan bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi melalui penyiaran sebagai perwujudan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyakat, berbangsa dan bernegara. Tentunya, hal ini harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab, selaras, seimbang antara kebebasan dengan kesetaraan menggunakan hak. Sehingga, kebebasan berekspresi dalam prinsip ini bukan bermakna bahwa pelaku penyiaran bebas melakukan penyiaran sesuai keinginanya pribadi, melainkan mereka merdeka untuk memfasilitasi
3Agus Sudibyo, Op. Cit. hal. xvi
masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi melalui media penyiaran.
2. Prinsip Frekuensi Milik Publik4
Spektrum frekuensi yang digunakan oleh televisi lokal sebagai medium penyiaran bukanlah milik pengusaha/perusahaan media penyiaran, melainkan milik publik seperti halnya kekayaan alam. Sehingga, barang/materi/ hal-hal yang bersifat tak terbatas harus dilindungi oleh pemerintah sebagai representasi publik.
3. Prinsip Demokrasi
Jika prinsip demokrasi di ranah politik terwujud melalui sistem multipartai yang mencerminkan beragam persepktif ideologi politik dan komunitas, maka di ranah penyiaran televisi lokal dijalankan dengan sistem keragaman isi
(diversity of content) dan keberagaman kepemilikan (diversity of ownership).
Semakin beragam isi siaran sesuai target segmen pemirsa yang disasar, dan semakin meluasnya distribusi kepemilikan media penyiaran, maka akan semakin demokratislah ranah penyiaran tersebut.5
Prinsip-prinsip lokalitas inilah yang menjadi salah satu prasyarat khusus terhadap televisi-televisi lokal. Tujuannya seperti yang dijelaskan pada poin terakhir diatas, yakni agar terciptanya keragaman kepemilikan dan yang lebih penting lagi adalah keragaman isi/muatan. Konsep keragaman kepemilikan
(diversity of ownership) merujuk pada tujuan agar di masing-masing daerah terjadi
4Ibid, xvii
sentral-sentral perekonomian yang peningkatannya juga didukung oleh keberadaan media televisi. Dengan demikian, percepatan perekonomian antar satu daerah dengan daerah yang lain tidak akan timpang terlalu jauh.6
Kedua konsep di atas telah menegaskan bahwa televisi merupakan lembaga penyiaran yang dewasa ini memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial, budaya, politik dan ekonomi dalam masyarakat, sehingga lembaga penyiaran tersebut mempunyai kebebasan dan tanggung jawab dalam menjalankan perannya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan serta kontrol dan perekat sosial.3 Lembaga penyiaran khususnya televisi menggunakan kekayaan publik berupa spektrum frekuensi sebagai pendukung bekerjanya kegiatan penyiaran. Dalam penyiaran terdapat prinsip demokratisasi yang terimplementasikan ke dalam konsep keragaman kepemilikan dan keragaman isi sebagai manivestasi nilai-nilai Pancasiladan UUD1945.
Media penyiaran merupakan industri yang padat modal, padat kepentingan dan padat kekuasaan (power). Jika tidak diatur kepemilikannya, maka akan terjadi konsentrasi kepemilikan. Semangat Undang–undang Penyiaran, sebagai Undang– Undang yang lahir pasca reformasi, terkait dengan kepemilikan media adalah anti monopoli. Ini berhubungan erat dengan pentingnya regulasi penyiaran yang
6Dalam kaitannya dengan keberagaman pemilik (diversity of ownership), Undang-Undang No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran memberikan ruang kepada siapapun untuk memiliki saham dan pengelolahan sebuah stasiun televisi. Misalnya, Pasal 17 ayat 2 menyatakan Lembaga Penyiaran Swasta dapat melakukan penambahan dan pengembangan dalam rangka pemenuhan modal yang berasal dari modal asing, yang jumlahnya tidak lebih dari 20% (dua puluh per seratus) dari seluruh modal dan minimum dimiliki oleh 2 (dua) pemegang saham. Sedangkan pada Pasal 17 ayat 3 menjelaskan bahwa Lembaga Penyiaran Swasta wajib memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memiliki saham perusahaan dan memberikan bagian laba perusahaan. Selengkapnya lihat pada Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
menginginkan adanya persaingan yang sehat dan tidak adanya pemusatan kepemilikan pada satu atau beberapa orang.7
Diversity adalah konsep keberagaman atas dasar perbedaan-perbedaan,
seperti sosial, politik, gender, etnik dan ras.8 Kepemilikan dimaknai sebagai seperangkat hak untuk menggunakan, mengelola sebuah benda termasuk hak untuk memberikan pada pihak lain. Kepemilikan berimplikasi pada hak penguasaan atas suatu benda. Kepemilikan tidak harus bermakna dominasi absolut, semakin seorang pemilik mengijinkan publik secara umum untuk menggunakannya maka semakin berkurang hak pemiliknya karena penggunaan benda tersebut oleh orang lain.9
Prinsip keragaman kepemilikan ditujukan agar tidak terjadi konsentrasi kepemilikan modal (capital) dalam lembaga penyiaran, serta saat bersamaan diarahkan untuk mendorong adanya pelibatan modal dari masyarakat luas di Indonesia, apalagi dalam konteks televisi lokal, keterlibatan masyarakat dalam pengelolahan menjadi peluang yang sangat demokratis. Oleh karena itu prinsip keragaman kepemilikan menjadi prinsip dasar yang harus dipegang teguh untuk menciptakan sistem persaingan yang sehat, mencegah terjadinya monopoli dan oligopoli, serta memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat luas.10
Keragaman kepemilikan menjadi penting untuk menjamin adanya keadilan informasi yang tidak bias kepentingan “pemilik” suatu media. Selain tentu untuk
7IdyMuzayyad, Prinsip-Prinsip Pengaturan Kepemilikan Media Penyiaran, Hukum dan Etika Penyiaran, (Jakarta: Fakultas Ilmu Komunikasi MercuBuana, Jakarta, 2013), 1-3
8 Aminah, 2012, Media Diversity, Mata Kuliah Ekonomi Politik Internasional UniversitasMuhamadiyah (online), Jakarta, diakses pada tanggal 12 Oktober 2015.
9Kuntari Angrani, Pengaturan Pemusatan Kepemilikan Lembaga Penyiaran Televisi Swasta Dalam Penggunaan Frekuensi Radio Menurut Pasal 18 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran, Skripsi, (Malang, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, 2012), 123.
10Ketentuan Undang-Undang No.32 tahun 2002 tentang Penyiaran terkait Haluan Dasar, Karakteristik Penyiaran, dan Prinsip Dasar Penyiaran di Indonesia
mendorong pemerataan ekonomi bagi media penyiaran di daerah. Sikap kritis terhadap media penyiaran saat ini adalah munculnya dominasi media penyiaran yang hanya berpusat di ibu kota Jakarta dengan sasaran hampir seluruh wilayah di Indonesia. Hal ini dirasa tidak adil dalam pembagian pendapatan iklan yang hanya dikuasai media di Jakarta.11
Salah satu esensi dari demokrasi lainnya adalah adanya jaminan kebebasan bagi munculnya berbagai ragam opini. Melalui prinsip keragaman konten/isi berarti menjamin keberagaman isi siaran, yang selaras dengan semangat dan eksistensi kultur bangsa Indonesia yang heterogen dan pluralis, serta penyesuaiannya terhadap kekayaan-kekayaan kultural yang ada di sebuah daerah tertentu. Hal ini akan dapat secara efektif mengakomodir berbagai kelompok budaya, etnik, agama, ras dan golongan mempunyai posisi dan peluang yang sama dalam penyiaran.12
Konsep diversity of content dalam hal ini dapat diwujudkan dengan keberagaman isi siaran. Tidak saja harus acara musik, berita politik, sinetron, komedi ataupun siaran dakwah yang mengisi acara televisi yang ada. Harus ada tayangan yang menginspirasi dan berisi acara atau berita lokal sehingga warga di seluruh Indonesia tidak harus terus menerus menonton acara yang berasal dari pusat.13
Dasar pemikiran tersebut membuat beberapa stasiun televisi lokal di Surabaya meluncurkan sebuah program yang bertajuk kearifan lokal khas Jawa Timuran, seperti seni budaya ludruk, campur sari, berita (news) yang ditampilkan
11Ade Armando, “Televisi Jakarta Di Atas Indonesia”, 2011 (Jakarta: Bentang), hal. 223. 12Ketentuan UU No.32 tahun 2002 tentang Penyiaran terkait Haluan Dasar, Karakteristik Penyiaran, dan Prinsip Dasar Penyiaran di Indonesia
dengan bahasa daerah, program-program yang juga diistilahkan dengan bahasa “Suroboyoan” juga menjadi menarik untuk diamati, serta adanya fenomena menggeliatnya Kyai-kyai lokal yang mulai tampil di stasiun televisi sebagai bagian dari strategi penyiaran yang berbasis pola keberagamaan masyarakat Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya.14
Keberadaan penyiaran lokal khususnya televisi yang merupakan media massa audio visual harus diperkuat oleh skill insan penyiaran yang kreatif, secara ekonomis lebih efisien karena tidak tergantung pada pusat (Jakarta). Adapun secara politik, relatif lebih demokratis karena sumber dan narasumber berita terdesentralisasi, dan dari sisi budaya lebih multikultur karena diskursus berita diproduksi oleh masing-masing perspektif televisi lokal.
Menengok kenyataaan bahwa ternyata televisi lokal bisa dikembangkan dan diterapkan di Indonesia, khususnya Jawa Timur, maka bukan hal yang mustahil Indonesia akan menjelma menjadi negara yang makin dewasa, terbuka dan demokratis melalui dunia penyiaran televisi sebagai ruang publik. Ruang publik, ketika masyarakat bisa berdiskusi dan bertukar kabar dengan bebas, cepat dengan basis lokalitas.15
14Misalnya saja program di JTV yang menayangkan program berita berbahasa daerah yang berjudul Pojok Kampung, Ludruk Kartolo, Kidung Rek.