• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS STRUKTURALISME GENETIK NOVEL 5 cm

4.1.5 Tema

Tema adalah pokok persoalan dalam sebuah cerita. Setiap cerita dalam karya sastra harus mempunyai tema. Pengarng tidak sekadar bercerita namun di balik itu ada hal yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Tema dijabarkan pengarang menjadi sebuah karya yang baik. Abrams (1981: 111) mengatakan,

“Theme is sometimes used interchangeably with motif, but the term is more usefully applied to an abstract claim, or doctrine, wheter implicit or asserted, which an imaginative work is designed to incorporate and make persuasive to reader.”

‘Tema itu kadang-kadang disamakan artinya dengan motif, tetapi istilah tema lebih digunakan untuk sesuatu tuntutan yang abstrak, atau ajaran apakah tersembunyi atau tidak sebuah karya yang imajinatif dirancang untuk menyatukan dan meyakinkan pembaca.’  

 

Tema tidak selalu dinyatakan secara eksplisit atau nyata, kadang ada kalanya secara implisit atau tersirat. Untuk itu diperlukan ketajaman pembaca untuk

dipaparkan Sumardjo (1984: 57) bahwa cerita bukan hanya sekadar berisi rentetan kejadian yang disusun dalam sebuah bagan, tetapi harus mempunyai maksud tertentu. pengalaman yang dibeberkan dalam sebuah cerita harus mempunyai permasalahan.

Tema dalam sebuah karangan semestinya mengandung nilai-nilai yang baik bagi kehidupan. Maksudnya, sebuah karya sastra setelah selesai dibaca akan meninggalkan kesan bagi pembaca. Dan dasar pemikiran pengarang dalam menuangkan sebuah karya sastra bertumpu pada tema yang telah ada dalam pikirannya.

Novel 5 cm. secara keseluruhan bercerita tentang cinta, cita-cita, mimpi, impian, harapan, dan persahabatan. Terutama tentang mimpi dan keinginan. Akan ada selalu jalan ketika setiap orang berusaha dengan sungguh-sungguh mencapai keinginannya dan memiliki keyakinan yang teguh untuk keinginannya tersebut. Sehingga ia akan dengan sungguh-sungguh berusaha mewujudkannya.

“Cerita ini bicara tentang cinta, mimpi, keyakinan, cita-cita, dan mudah-mudahan bisa lebih dari sekadar “She loves me, she loves me not...” atau “You lived in Beverly Hills, I lived in Nothing Hills.” Ini adalah cerita tentang mimpi manusia dan keajaiban-keajaiban hatinya.” (5 cm., Hlm. 2)

“Semuanya gara-gara mimpi... “ (5 cm., Hlm. 3)

Tentang persahabatan, bahwa seorang sahabat akan menjadi sahabat terbaik bagi sahabatnya. Seorang sahabat tidak akan suka menjelek-jelekkan dan menjatuhkan sahabatnya, melainkan saling menerima dan saling mengoreksi untuk bersama-sama menjadi lebih baik. Sebuah persahabatan yang berlangsung seumur hidup.

“Jangan jelek-jelekin orang ya,” kata Genta pelan. Genta saklek sama prinsip keempat sahabatnya ini.

“Intinya aja deh...,” Riani ikutan ngomong akhirnya.

“Dan jangan lebih dari tiga menit,” Genta memperjelas, “Supaya cepet.” (5 cm., Hlm. 41)

“”Tapi kan ada yang lebih penting dari sekadar selera..., “ Genta ngomong pelan dan melanjutkan, “yang penting kan kita bareng-bareng terus berlima... menghargai pendapat semuanya, selera semuanya, ketawa buat semuanya, sedih buat semuanya. Lagian kita jangan pernah saklek bilang

nggak suka sama sesuatu karena nggak ada yang saklek dan pasti di dunia ini; semuanya berubah. Satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian,” Genta berfilosofi sendiri mengutip kata-kata dari Albert Einstein.” (5 cm., Hlm. 50)

“” Lo inget nggak? Dulu waktu kita nongkrong di sekolah, kita ngayal nanti kalo udah punya anak, kayak gimana yah? Bayangin anak kita masing-masing pada becanda kayak bapaknya, pasti ancur.”

“Ini kejadian!”

“Hahahah...”” (5 cm., Hlm, 373)

Kecintaan terhadap tanah air Indonesia, sebagai anak muda yang harus memiliki kecintaan terhadap tanah air, rasa bangga sebagai pemuda Indonesia dan keinginan untuk mengabdikan diri untuk tanah air Indonesia.

“Mereka berenam berpelukan dalam rangkulan membentuk lingkaran kecil. “Sebuah kehormatan bagi saya. Saya... Genta telah mendaki Mahameru bersama kalian tercinta... di Tanah Air tercinta ini. kehormatan ini tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.”

Genta mengucapkan kalimat tadi sambil berkaca-kaca menatap teman-temannya. Pelukan mereka tambah erat.

“Suatu kehormatatan juga bagi saya dan kehormatan itu buat kita semua... saya Arial, seorang yang sangat mencintai tanah ini.”

Biar saja ku tak seharum bunga mawar Tapi selalu kucoba tuk mengharumkanmu Biar saja ku tak seelok langit sore

Tapi selalu kucoba tuk meng-indahkanmu

“Juga bagi saya... Arinda, Indonesiaku, saya mencintaimu sepenuhnya.” “Semuanya berawal dari sini...” Zafran menunjuk keningnya, “Saya Zafran, saya mencintai negeri indah dengan gugusan-gugusan pulaunya sampai saya mati dan menyatu dengan tanah tercinta ini.” (5 cm., Hlm. 348)

Cinta, bahwa cinta bisa datang kapan saja dan cinta terkadang tidak harus dimiliki karena di atas nama cinta masih ada persahabatan yang selayaknya dipertahankan. Cinta justru membuat bisa menerima keputusan orang yang dicintai ketika cinta tersebut tidak bersambut. Cinta adalah ketika melihat kebahagiaan orang yang disayangi.

“Genggaman tangan Riani semakin keras, membuat Genta tidak percaya pada apa yang dikatakan Riani. Dengan jujur, kata-kata kembali tumpah di bibir lembut Riani. Dengan sabar dia ceritakan semuanya malam itu ke Genta yang sudah Riani anggap lebih dari seorang sahabat. Seorang sahabat terbaik yang pasti sangat mengerti Riani. Riani terus bercerita penuh kelembutan, terus bercerita, dan nama seorang sahabat pun terucapkan di situ.” (5 cm., Hlm. 366)

“Genta menunjuk ke rasi bintang yang dibuatnya untuk Riani. Rasi bintang yang paling indah buat Genta. Riani menceritakan bagaimana Zafran sering berpuisi sok tahu khas Zafran, tentang bintang-bintang yang membuat mereka tertawa lepas. Melam itu keduanya bahagia sekali. Genta tidak pernah melihat Riani sebahagia itu dan bagi Genta itu sudah cukup... sangat cukup. Semua bebannya selama ini yang tidak terkatakan ke Riani seperti lepas, dan yang membuat Genta bahagia sekali adalah akhirnya dia masih punya kesempatan dan belum terlambat untuk menyatakan segala perasaannya ke Riani. Itu adalah sebuah anugerah dari cinta yang tak terkatakan. Bagi Genta, itu sudah cukup. Riani tidak menitikkan setetes air mata walaupun matanya berkaca-kaca, kekuatan Riani telah meluluhkan Genta. Genta dan Riani tidak akan pernah melupakan malam yang indah ini di hari mereka selamanya.” (5 cm., Hlm. 367)

“Dan, cinta sekali lagi membuktikan kekuatannya malam itu kalau cinta ada untuk mereka sendiri, bukan untuk Genta, bukan untuk Dinda, bukan untuk Riani, bukan untuk Zafran. Cinta memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-pelajaran kehidupan manusia selanjutnya. Cinta akan membuat manusia lebih mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya. Dan, dengan penuh rasa syukur akhirnya manusia menyadari bahwa tidak ada cinta yang lebih besar di dunia ini kecuali cinta Sang Pencipta- yang tidak pernah berpaling dari manusia dan selalu mencintai makhluk terbaik ciptaan-Nya. Sang Pencipta tidak akan pernah memberikan apa yang manusia pinta, seperti cinta... Ia memberi apa yang manusia butuhkan.” (5 cm., Hlm. 368)

Cinta juga tak selalu harus diungkapkan karena kadang ada norma yang membatasinya, seperti Riani yang menyimpan baik rasa cintanya karena merasa

seorang perempuan kurang pantas mengumbar rasa suka dan memulai menyatakan rasa suka.

“Dan semuanya pun mengalir deras dari hati Riani , tentang teman-teman gilanya yang bikin kangen, 14 Agustus, dan yang paling lama dan bikin Citra terbengong-bengong adalah bagaimana Riani sangat menyayangi salah satu dari mereka. Bagaimana selama ini Riani selalu menyimpannya dengan baik beralaskan harap, berbungkus mimpi ceria dan

kerinduan...nggak berani mengungkapkan semuanya atas nama wanita.” (5 cm., Hlm. 84)

Setiap orang harus memiliki mimpi-mimpi untuk membuat hidupnya terus berjalan, terus bersemangat. Dengan mimpi tersebut dan keyakinan untuk meraihnya, setiap orang akan dibawa semakin dekat kepada semua mimpi-mimpi tersebut.

‘“Semua ini kerja keras kamu selama dua bulan, nggak ada kata nyerah di kamus kamu ya,” kata sang dosen sambil tersenyum.

“Itu kan bapak juga yang ngajarin.”

“Saya Cuma perantara. Kamu sendiri dengan izin dari yang Mahakuasa berhasil membawa diri kamu sendiri ke situ dan mengambil keputusan yang tepat.”

Ian tertunduk. “Untung juga ada Mas Fajar yang bantu saya di kuisioner. Hoki banget saya, Pak! Coba kalo nggak ada Mas Fajar sore itu, gawat juga. Mungkin nggak selesai,” Ian berkata senang.

“Ian… Bapak… minta… kamu… jangan… percaya.. sama… hoki.” Sebelum meneruskan bicaranya, sang dosern menarik nafas dan menatap Ian tajam, “Mas Fajar ada di situ, sore itu, bukan karena kamu hoki, tapi kerja keras kamu selama ini telah kamu tanam dengan terus tekun dan pantang menyerah dalam menjalankannya. Apa yang kamu kerjakan itu akhirnya menumpuk dan mennggu untuk dibalas.” (5 cm., Hlm 133-134) “”Kamu taruh di sini... jangan menempel di kening.

Biarkan... Dia...

Menggantung... Mengambang... 5 centimeter...

Di depan kening kamu...”

“Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apapun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan nggak bisa menyerah. Bahwa

sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri...”

“... Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung menggambang di kening kamu. Dan... sehabis itu yang kamu perlu... Cuma...”

“Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat keatas.”

“Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja...” “Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya...” “Serta mulut yang akan selalu berdoa..."

“Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan cuma seonggok daging hanya karena punya nama. Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja, bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Tapi seorang yang akan selalu percaya akan keajaiban mimpi keajaiban cita-cita, dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terkalkulasikan dengan angka berapa pun... Dan kamu nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu harus mempercayainya.” “Percaya pada... 5 centimeter di depan kening kamu.” (5 cm., Hlm. 362-363)

Dokumen terkait