• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tema dan Jenis – Jenis Cerita Pada Tari Legong

PEMAHAMAN TENTAG PUSAT PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN KESENIAN PELEGONGAN DI GIANYAR

2.3.2 Tema dan Jenis – Jenis Cerita Pada Tari Legong

Tari legong mempunyai banyak tema dan jenis cerita. Adapun tema – tema

dan cerita pelegongan yang ada antara lain :

1. Malat (cerita Panji), khusus cerita Perabu Lasem.

2. Kunti (kunti), Kisah Subali dan Sugriwa sewaktu kecil.

3. Jobog, kisah Subali dan Sugriwa sewaktu setelah dewasa.

4. Legod Bawa, kisah Lingga Manik yang menampilkan tokoh Brahma, Wisnu,

Tugas Akhir

Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan di Gianyar 13

5. Kuntul, kisah burung kuntul / bangau.

6. Pelayon, merupakan tarian dengan gerak – gerak tari abstrak.

7. Candrakanta, kisah mengenai bulan dan matahari.

8. Raja Cina, kisah putri dan raja Cina.

9. Kupu – kupu tarum, kisah kehidupan kupu – kupu.

10.Gowak macok, kisah kehidupan burung gagak.

11.Bramara, kisah kehidupan kumbang atau tambulilingan.

12.Gadung Melati, kisah bunga gadung yang sangat harum.

13.Bapang, jenis tarian yang menunjukan ekspresi gagah.

14.Sudarsana, menampilkan cerita penyalonarangan.

15.Samaradana, kisah asmara Betara Ratih dan Betara Seamare yang di bakar

oleh Betara Siwa, kemudaian abunya ditebarkan kebumi sebagai awal cinta kasih manusia.

Dari kelimabelas tema / cerita yang dipakai sebagai pelegongan hanya enam diantaranya yakni Lesman, Kuntir, Jobog, Legodbawa, Sudarsana, dan Semaradana yang memakai cerita utuh, (lakon dimainkan lengkap), sedangkan sisanya merupakan kisah atau peniruan dari keindahan gerak binatang, bunga serta kearifan alam semesta lainnya.

(Arini 2011: 9/10)

2.4Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan

Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan merupakan tempat

yang nantinya akan menyediakan fasilitas – fasilitas kesenian yang akan

mewadahi produk seni tari khususnya tari legong, dimana kesenian tari legong nantinya akan dijaga dan dilindungi keberadaannya. Adapun kagiatan yang nantinya akan mewadahi produk tari khususnya legong menjadi produk seni yang dapat dilestarikan dan dikembangkan sebagai berikut:

1. Pembentukan Sanggar Tari

Sanggar merupakan suatu tempat atau sarana yang digunakan untuk berkegiatan seni seperti, seni tari, seni lukis, seni kerajinan, seni musik, yang dilakukan oleh suatu komunitas atau kelompok tertentu. Kegiatan yang ada dalam sebuah sanggar seni berupa kegiatan pembelajaran yang berkecimpung

Tugas Akhir

Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan di Gianyar 14

didalam ruang lingkup seni, yang meliputi proses didalam pembelajaran, penciptaan hingga produksi dan semua prosesnya itu sebagaian besar dilakukan di sanggar.

2. Pembantukan Kelompok Kesenian (sekehe)

Upaya didalam pembentukan kelompok atau sekehe termasuk kedalam upaya didalam melestarikan suatu seni maupun kebudayaan pada suatu daerah, didalam hal ini klompok atau sekehe yang dimagsud adalah klompok yang memeng terbentuk kusus untuk melestarikan kesenian tari pelegongan di Bali. Dalam kelompok tersebuat juga terbagi atas dua sekehe yaitu sekehe tabuh dan sekehe tari. Sekehe tabuh nantinya bertugas untuk mengiringi instrument tarian pelegongan, sedangkan sekehe tari lebeih di fokuskan kepada tarian saja.

3. Penyelenggaraan Museum

Penyelenggaraan Museum legong ini bertujuan untuk memperkenalkan jenis

– jenis varian legong yang pernah ada di Bali, sejarah penari – penari legong

dari masa kemasa selain itu kostum, patung dan juga gambelan pengiring tarian legong juga ditampilkan. Museum ini bersifat edukasi bagi masayarakat serta wisatawan dimana dari setiap unsurnya memberikan pengetahuan tentang bagaimana pentingnya pelestarian kesenian kuno kususnya kesenaian legong.

4. Pengadaan Perpustakaan

Pengadaan perpustakaan bertujuan untuk memberikan informasi secara

inovatip terhadap tari legong melalui buku, majalah maupun jurnal – jurnal

yang berkaitan dengan kesenian tari khususnya tari legong yang dilakukan melalui kegiatan perpustakaan.

5. Festival Tari Legong

Festival tari – tarian yang salah satunya melibatkan tarian legong merupakan

salah satu upaya untuk melestarikan kesenian tari pelegongan. Untuk mengekspresikan suatu karya seni, melalui festival ini juga menjadi penunjang utama dari sector pariwisata kususnya di Bali, selaian itu juga menjadi ajang promosi kesenian tari pelegongan yang diharapkan nanti lebih di kenal oleh banyak kalangan masayarakat.

Tugas Akhir

Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan di Gianyar 15

2.5 Teori Bangunan yang Berkaitan Dengan Pelestarian & Pengembangan

Adapun beberapa teori yang nantinya akan menjadi dasar perencanaan dan perancangan Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan yang akan menyediakan fasilitas khusus untuk menunjang produk seni tari legong sebagai berikut :

2.5.1Teori Mengenai Tempat Pementasan (Kalangan)

Tempat atau areana pementasan yang bisanya disebuat kalangan merupakan

suatu elemen penting yang berpengaruh bagi kelancaran dan kesuksesan suatu pertunjukan seni di Bali. Kalangan sendiri diangap sangat penting, dalam tarian di Bali yang memiliki konsep dan aturan tersendiri.

Berdasarkan tata letak ruang pentas, kalangan dapat dibedakan menjadi tiga tipe yaitu:

1. Kalangan Ngelanjur

Kalngan ngelanjur adalah tempat pementasan dengan ruang pentas yang ukuran lebarnya lebih kecil dari ukuran panjannya. Panggung terbuka Ardha

Candra dan Kalngan Ayodya adalah dua contoh tempat pementasan yang

menggunakan bentuk kalangan ngelanjur, untuk lebih jelasnya dapat di lihat

pada Gambar 2.3 berikut.

Gambar 2.3 Denah Kalangan Ngelanjur Sumber : Dibia (2013:99)

Tugas Akhir

Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan di Gianyar 16

2. Kalangan Ngeleng atau Ngompek

Kalangan ngeleng atau ngampek adalah tempat pementasan dengan ruang pentas yang ukuran panjangnya lebih panjang dari lebar, kalngan ini kebalikan dari kalangan ngelanjur. Panggung terbuka Niritya Mandala ISI Denpasar,

Balai Budaya Gianyar, Stage tertutup Krisnawa (Art Centre), adalah contoh

tempat pementasan yang di golongkan kedalam jenis kalangan ngeleng atau ngompek, untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada Gambar 2.4 berikut.

Gambar 2.4 Denah Kalangan Ngeleng atau Ngompak Sumber : Dibia (2013:99)

3. Kalangan Merepat

Klangan marapat merupakan tempat pementasan yang ruang pentasanya

berbentuk segi empat (panjang dan lebarnya relatife sama). Stage Natya Mandala ISI Denpasar, panggung tertutup Balai Budaya Gianyar, dan Stage Geoks Singapadu adalah tempat pementasan yang termasuk kedalan golongan kalngan marapat, untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada Gambar 2.5 berikut.

Gambar 2.5 Denah Kalangan Merepat Sumber : Dibia (2013:99)

Tugas Akhir

Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan di Gianyar 17

Didalm tempat pertunjukan atau pementasan haruslah memperhitungkan bagaimana kenayamanan penenton didalam menikmati pertunjukan yang disuguhkan serta kelancaran bagi kegiatan yang dilakukan didalamnya, maka dari itu diperlukan seting ruang yang dapat mendukung segala aktivitas dan civitas didalam ruang pementasan ini adapaun seting ruang tersebut akan dijelasakan pada Gambar 2.6 berikut.

Gambar 2.6 Bangku Penonton dan Denah Ruangan Pertunjukan Sumber : Neufert Arsitek Data Jilid 2 :138/139

Pada gambar 2.6 menjelasakan tentang standar bangku penonton dan besaran sirkulasi pada area penonton, denah sendiri menggambarkan sudut dimana seting ruang yang baik memberikan kenyamanan bagi penonton didalam menikmati pertunjukan seni. Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 2.7 berikut:

Gambar 2.7 Seting Area Penonton dan Panggung Sumber : Neufert Arsitek Data Jilid 2 :138/139

Panggung Area Penonton

Tugas Akhir

Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan di Gianyar 18

Untuk sistem penerangan sangat mempengaruhi seting ruang untuk tempat pementasan selain itu pencahyaan yang baik memberikan nilai estetika yang tinggi bagi pertunjukan yang disuguhkan, pada ruang pertunjukan memerlukan

konsep penerangan yang khusus, yaitu menggunakan artificial light sistem, untuk

medapatkan efek cahaya khusus pada ruang pertunjukan. Selain itu juga

mengunakan sistem pencahayaan base light yaitu penerangan dasar yang

diarahkan secara tidak langsung ke atas dan juga menggunakan beberapa tipe blok

– blok lampu yang di gantung shingga penyinaran dapat dimungkinkan dari

berbagai arah untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.8 berikut.

Gambar 2.8 Tampilan Pencahayaan Ruang Pertunjukan Sumber : Neufert Arsitek Data Jilid 2 :138/139

2.5.2Teori Mengenai Museum

Museum tidak hanya dipakai sebagai tempat untuk mengadakan pameran melainkan juga sebagai pusat kebudayaan, ilmu pengetahuan, sejarah, serta tempat belajar bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk ruangan museum umumnya harus:

a. Terlindung dari gangguan pencuri, kelembaban, kering dan debu.

b. Mendapatkan cahaya yang terang, baik secara alami maupun buatan

sebagai bagian dari ruang museum yang baik.

Suatu ruang meseum yang baik harus dapat dilihat oleh publik dengan nyaman dan tanpa rasa lelah, dengan seting ruang yang baik memberikan kesan nyaman terhadap pengunjung sehingga rasa lelah tidak dirasakan setelah

Tugas Akhir

Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan di Gianyar 19

berkeliling. Adapun seting ruang tersebuat akan dijelaskan pada Gemabar 2.9 berikut:

Gambar 2.9 Seting Ruang Museum Sumber : Neufert Arsitek Data Jilid 2 : 205

2.5.3Teori Mengenai Perpustakaan

Untuk ruang perpustakaan terbagi menjadi 2 macam yaitu ruang untuk menaruh koleksi berupa buku atau majalah dan ruang untuk membaca. Dari ruang tersebut memerluka seting ruang yaitu dibagian pencahayaan untuk ruang koleksi

memerlukan 250 – 500 Lx sedangkan utuk ruang baca memerlukan 300 – 850 Lx,

untuk penghawaan pada ruang koleksi dan ruang baca memerlukan kelembaban

sekitar 20 – 22oC. untuk ruang koleksi memerlukan rak untuk menaruh buku atau

majalah koleksi dan pada ruang baca memerlukan kursi dan meja untuk ukurannya sendiri akan dijelasakan pada Gambar 2.10 berikut:

Gambar 2.10 Seting Ruang Perpustakaan Sumber : Neufert Arsitek Data Jilid 2 :1/3

Lampu

Tugas Akhir

Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Pelegongan di Gianyar 20

2.5.4Tinjauan Mengenai Langgam Arsitektur

Dalam kaitannya pada penentuan tema dan langgam arsitektur maka perlu dialakukan tinjauan teori untuk mendasari terbentuknya tema yang akan diterapkan nantinya pada konsep maupun rancangan arsitektur. Adapun tema langgam arsitektur yang nantinya akan dipakai adalah langgam arsitektur Neo Vernakular. Arsitektur Neo Vernakular tumbuh dari Arsitektur rakyat, yang lahir dari masyarakat. Dengan demikian Arsitektur tersebut sejalan dengan paham kosmologi, pandangan hidup, gaya hidup dan memiliki tampilan khas sebagai cerminan jati diri yang dapat dikembangkan secara inovatif dan kreatif. Arsitektur Neo Vernakular merupakan aliran arsitektur yang memasukkan langgam serta ciri khas daerah tertentu yang dikemas kedalam style yang lebih baru. Arsitektur Neo Vernakular hanya mengambil langgam atau ornamennya saja, tapi tidak mengambil keseluruhan konsepnya.

(Toffler dalam Wiranto, 2008:15)

Dokumen terkait