• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan Sumatera Utara.

Penelitian dilaksanakan dalam periode waktu 4 bulan, dimulai dengan penelusuran kepustakaan, konsultasi judul, penyusunan proposal, seminar proposal, pengumpulan data, analisis data dan penulisan akhir hasil penelitian.

3.3. Populasi, Sampel, Kriteria Inklusi dan Eksklusi, dan Besar Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi target penelitian adalah semua penderita yang didiagnosis sebagai penderita COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik Medan.

3.3.2 Sampel

Sampel penelitian adalah sebahagian dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

3.3.3 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Sebagai kriteria inklusi sampel kasus dari penelitian ini :

a. Pasien yang terdiagnosis COVID-19 berdasarkan hasil RT-PCR

b. Pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, radiologi maupun laboratorium.

Sebagai kriteria eksklusi sample kasus dari penelitian ini:

a. Data rekam medis yang tidak lengkap

b. Pasien COVID-19 yang belum terkonfirmasi berdasarkan hasil RT PCR

3.3.4 Besaran Sampel

Adapun rumus untuk menghitung besar sampel dalam penelitian ini adalah Rumus Slovin :

Dimana :

N : Adalah total populasi yang sesuai dengan kriteria inklusi e : Presisi

Sehingga didapat :

n = 277 1+(277x0,052) = 163,66

Maka dari hasil di atas didapati jumlah sampel adalah sebanyak 164 orang.

3.4 Identifikasi Variabel

Penelitian ini menggunakan dua variabel. Variabel tergantung (dependent) adalah COVID-19 terkonfirmasi derajat Berat-kritis. Variabel bebas (independent) antara lain pasien COVID-19 derajat berat dan kritis dengan koagulopati dengan outcome berupa hidup atau meninggal.

1 Ne2

n N

 

1 Ne2

n N

 

3.4 Defenisi Operasional

Penelitian ini terdapat variable bebas yaitu pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang dipengaruhi oleh beberapa hal seperti D-dimer, PT (Prothrombine time), Fibrinogen, dan Trombosit dengan outcome berupa hidup atau meninggal dunia, seperti yang dapat dilihat pada tabel.

Table 3.1 Definisi Operasional

3 Fibrinogen Adalah senyawa protein (polipeptida)

4 Trombosit Adalah komponen darah yang

perdarahan dengan cara adhesi dan agregasi

5. Outcome Hasil rawatan saat pasien keluar dari ruang rawatan COVID-19

Melihat data pada rekam medis

1. Hidup 2. Meninggal Dunia

Nominal

3.6 Kerangka Kerja Penelitian

Semua penderita COVID- 19 di ruang isolasi RSUP HAM

Pengumpulan rekam medis pasien

Pemilihan sampel sesuai kriteria inklusi

Pengumpulan data

Analisis Data

Uji statistik

Hasil penelitian

3.7 Prosedur Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data akan dimulai setelah peneliti memenuhi syarat penelitian, demikian disampaikan beberapa prosedur pengumpulan data:

1. Sebelum penelitian dimulai, peneliti meminta keterangan lulus kaji etik (ethical clearance) dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Data diambil dari rekam medis penderita COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang dirawat di RSUP H. Adam Malik Medan, kemudian dicatat nilai dari D-dimer, PT, Fibrinogen dan Trombosit dan bagaimana outcome setelah rawatan.

3.8 Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan akan diolah dengan menggunakan perangkat lunak statistik. Data yang dikumpulkan akan diolah dan dianalisa secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi subyek penelitian berdasarkan karakteristik.

Kemudian dilanjutkan dengan analisis inferensial. Uji yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara variable bebas dan terikat adalah uji Chi Square.

3.9 Etika Penelitian

Sebelum dilakukan pengumpulan data terhadap sampel penelitian, peneliti mengajukan ethical clearance terlebih dahulu kepada Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Fakultas Kedokteran USU, Medan.

3.10 Perkiraan Biaya Penelitian

Adapun biaya yang dikeluarkan dalam penelitian ini meliputi

1. Pengumpulan Kepustakaan Rp. 500.000,-

2. Biaya Etik Rp. 1.000.000,-

3. Biaya Administrasi Rp. 500.000,-

4. Seminar Proposal Rp. 1.500.000;-

5. Pembuatan dan penggandaan laporan Rp. 750.000,-

6. Biaya ATK Rp. 1.000.000.-

Total Biaya Rp. 5.250.000,-

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Hasil Penelitian

Setelah dilakukan penelitian pada 164 penderita yang didiagnosis sebagai penderita COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik Medan, diperoleh hasil seperti yang dijabarkan dibawah ini.

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Sampel Penelitian

Karakteristik N (%)

D-Dimer < 1500 ng/dL 89 (54.3%)

≥ 1500 ng/dL 75 (45.7%)

PT Memanjang 100 (61%)

Tidak Memanjang 64 (39%)

Fibrinogen Rendah 12 (7,3%)

Normal 71 (43,3%)

Meningkat 81 (49,4%)

Trombosit < 150.000/μL 24 (14,6%)

> 150.000/ μL 140 (85,4%)

Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium ditemukan nilai D-dimer

<1500 ng/dL pada 89 orang (54.3%) dan 75 orang lainnya (45.7%) dengan nilai D-dimer ≥ 1500 ng/dL. Pada PT dijumpai 100 orang (61%) PT memanjang dan 64 orang (39%) PT tidak memanjang. Untuk fibrinogen, 81 orang (49,4%) tampak meningkat, 71 orang (43,3%) normal dan 12 orang (7,3%) tampak menurun. Jumlah trombosit pada 140 orang (85,4%) dengan jumlah > 150.000/μL dan 24 orang (14,6%) < 150.000/μL.

Tabel 4.2. Hubungan D-dimer dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis dengan Koagulopati

D Dimer

Outcome P value

Meninggal

Dunia Hidup Total 0.085

n % n % n %

< 1500 ng/Dl 39 43.8% 50 56.2% 89 100.0%

≥ 1500 ng/Dl 43 57.3% 32 42.7% 75 100.0%

Pada pasien dengan hasil D-dimer <1500 ng/dL ditemukan 39 orang (43.8%) meninggal dunia dan 50 orang (56.2%) hidup. Sedangkan pada hasil D-dimer ≥ 1500 ng/dL ditemukan 43 orang (57.3%) meninggal dunia dan 32 orang (42.7%) hidup. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, tidak ditemukan hubungan kadar D-dimer dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,085 (p>0.05).

Tabel 4.3. Hubungan Prothrombin Time (PT) dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis dengan Koagulopati

PT

Outcome P value

Meninggal

Dunia Hidup Total 0.115

n % N % N %

Memanjang 53 53.0% 47 47.0% 100 100.0%

Tidak Memanjang 21 39.6% 32 60.4% 64 100.0%

Pada pasien dengan hasil PT memanjang ditemukan 53 orang (53%) meninggal dunia dan 47 orang (47%) hidup. Sedangkan pada hasil PT yang tidak memanjang ditemukan 32 orang (60.4%) hidup dan 21 orang (39.6%) meninggal dunia. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, tidak ditemukan hubungan kadar PT dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,115 (p>0.05).

Tabel 4.4. Hubungan Trombosit dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis dengan Koagulopati

Trombosit

Outcome

Nilai p

Meninggal Dunia Hidup Total

N % N % N %

<150000 μL 11 45.8% 13 54.2% 24 100.0%

0.659

>=150000 μL 71 50.7% 69 49.3% 140 100.0%

Pada pasien dengan jumlah trombosit <150000/μL ditemukan 13 orang (54,2%) hidup dan 11 orang (45,8%) meninggal. Sedangkan pada pasien dengan jumlah trombosit >150000/μL tampak 69 orang (49,3%) hidup dan 71 orang (50,7%) meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, tidak ditemukan hubungan jumlah trombosit dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,659 (p>0.05).

Tabel 4.5. Hubungan Fibrinogen dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis dengan Koagulopati

Fibrinogen

Outcome

Nilai p

Meninggal Dunia Hidup Total

n % N % N % dan 8 orang (66,7%) meninggal. Sedangkan pada pasien dengan fibrinogen normal tampak 32 orang (45,1%) hidup dan 39 orang (54,9%) meninggal. Namun pada pasien dengan peningkatan fibrinogen ditemukan 42 orang (31,9%) hidup dan 39 orang (48,1%) meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, tidak ditemukan hubungan kadar fibrinogen dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,344 (p>0.05).

Tabel 4.6. Hubungan Usia dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis dengan Koagulopati

Usia

Outcome

Nilai p

Meninggal Dunia Hidup Total

N % N % n %

<40 tahun 9 28.1% 23 71.9% 32 100.0%

0.005

>=40 tahun 73 55.3% 59 44.7% 132 100.0%

Dinilai berdasarkan Outcome pasien ditemukan 23 orang (71,9%) pasien berusia < 40 tahun dan 59 orang (44,7%) berusia > 40 tahun bertahan hidup. Namun 9 orang (28,1%) pasien berusia < 40 tahun dan 73 orang (55,3%) berusia > 40 tahun meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square ditemukan hubungan usia dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,006 (p<0.05).

Tabel 4.7. Hubungan Jenis Kelamin dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis dengan Koagulopati

Jenis Kelamin

Outcome

Nilai p

Meninggal Dunia Hidup Total

N % N % n %

laki-laki 49 51.0% 47 49.0% 96 100.0%

0.751

perempuan 33 48.5% 35 51.5% 68 100.0%

Dinilai berdasarkan Outcome pasien ditemukan 47 orang (49,0%) pasien berjenis kelamin laki-laki dan 35 orang (51,5%) berjenis kelamin perempuan bertahan hidup. Namun 49 orang (51,0%) pasien berjenis kelamin laki-laki dan 33 orang (48.5%) berjenis kelamin perempuan meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square , tidak ditemukan hubungan jenis kelamin dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p

= 0,751 (p>0.05).

Tabel 4.8. Hubungan Komorbiditas dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis dengan Koagulopati

Komorbid Outcome

Nilai p

Meninggal Dunia Hidup Total

n % N % n %

Ada 62 50.4% 61 49.6% 123 100.0%

0.318

tidak ada 12 40.0% 18 60.0% 30 100.0%

Dinilai berdasarkan Outcome pasien ditemukan 64 orang (47,8%) dengan komorbiditas dan 18 orang (60,0%) tanpa komorbiditas berhasil bertahan hidup.

Namun 70 orang (52,2%) dengan komorbiditas dan 12 orang (40%) tanpa komorbiditas meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square , tidak ditemukan hubungan komorbiditas dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,226 (p>0.05).

Tabel 4.9. Hubungan Status Merokok dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis dengan Koagulopati

Status merokok

Outcome

Nilai p

Meninggal Dunia Hidup Total

n % N % n %

Dinilai berdasarkan Outcome pasien ditemukan 54 orang (67,5%) tidak merokok, 3 orang (50,0%) IB ringan, 22 orang (56,4%) IB Sedang dan 3 orang (7,7%) IB berat berhasil bertahan hidup. Namun 26 orang (32,5%) tidak merokok, 3 orang (50,0%) IB ringan, 17 orang (43,6%) IB Sedang dan 36 orang (92,3%) IB berat meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, ditemukan hubungan riwayat merokok dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,000 (p<0.05).

BAB V PEMBAHASAN

COVID-19 dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas yang relevan, khususnya jika ditambah oleh SARS, berkembang pesat menuju sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) atau tromboemboli vena (VTE). (Micco PD dkk, 2021) Peningkatan tajam D-dimer, PT memanjang, jumlah trombosit <100 x 109 dan fibrinogen <2,0 g/L memerlukan perawatan di rumah sakit dan pemberian profilaksis (Tromboprofilaksis) heparin berat molekul rendah (LMWH) atau heparin tak terfraksi (UFH) pada semua pasien ( kritis dan non-kritis) bahkan tanpa adanya komorbiditas lain dan kontraindikasi absolut (perdarahan aktif atau trombositopenia berat). Nilai D-dimer saat perawatan adalah biomarker yang akurat untuk memprediksi kematian pada pasien dengan COVID-19.Nilai D-dimer kurang dari 0,5 g/mL dianggap normal, dan nilainya meningkat seiring bertambahnya usia dan pada kehamilan. 1,5 g/ml adalah nilai batas optimal D-dimer untuk memprediksi kematian pada pasien COVID-19. (Poudel A, dkk. 2021)

5.1 Pembahasan

Pasien pada penelitian ini Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium ditemukan nilai D-dimer <1500 ng/dL pada 89 orang (54.3%) dan 75 orang lainnya (45.7%) dengan nilai D-dimer ≥ 1500 ng/dL. Pada PT dijumpai 100 orang (61%) PT memanjang dan 64 orang (39%) PT tidak memanjang. Untuk fibrinogen, 81 orang (49,4%) tampak meningkat, 71 orang (43,3%) normal dan 12 orang (7,3%) tampak menurun. Jumlah trombosit pada 140 orang (85,4%) dengan jumlah >

150.000/μL dan 24 orang (14,6%) < 150.000/μL.

D-dimer pada penelitian ini, pasien dengan hasil D-dimer <1500 ng/dL ditemukan 39 orang (43.8%) meninggal dunia dan 50 orang (56.2%) hidup.

Sedangkan pada hasil D-dimer ≥ 1500 ng/dL ditemukan 43 orang (57.3%) meninggal dunia dan 32 orang (42.7%) hidup. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, tidak ditemukan hubungan kadar D-dimer dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,085 (p>0.05). Poudel dkk menunjukkan 126 dari 182 pasien dengan D-dimer saat memulai perawatan < dari 1,5 μg /ml, di mana 10 pasien (7,9%) meninggal selama perawatan di rumah sakit dan 116 dipulangkan (termasuk satu pemulangan atas

permintaan pasien). Dari 56 pasien dengan D-dimer dengan dengan > 1,5 μg /ml, 24 (42,9%) meninggal dan 32 dipulangkan (termasuk satu yang tidak sesuai anjuran medis). Rerata D-dimer di antara pasien yang selamat adalah 1,067 μg /ml (±1,705 μg /ml), sedangkan di antara pasien yang meninggal adalah 3,208 μg /ml (±2,613 μg /ml). Hal ini ditemukan perbedaan yang sangat signifikan secara statistik (p<0,001, uji-T sampel independen). Sebuah studi yang dilakukan oleh Zhang et.

Al. di Cina melibatkan 343 pasien menyimpulkan bahwa D-dimer dapat menjadi penanda awal yang bermanfaat untuk memprediksi kematian di rumah sakit pada pasien. Mereka menemukan titik potong optimal untuk D-dimer adalah 2 μg/ml.

Serupa dengan studi lain di Cina menemukan bahwa nilai D-dimer pada saat masuk lebih dari 2 μg /ml dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan kematian (Odds Ratio 10,17 (95% CI 1,10-94,38). (Poudel A, dkk. 2021)

D-dimer adalah produk degradasi fibrin yang meningkat pada kejadian trombotik dan menunjukkan terjadinya fibrinolisis. Peningkatan nilai D-dimer berkontribusi pada prognosis yang buruk dan tingkat kematian yang tinggi pada pasien.Kadar D-dimer >2660 μg/L menunjukkan sensitivitas 100% dan spesifisitas 67% untuk kejadian pulmonary emboli (PE). (Eljilany I & Elzouki AN; 2020) De Monye W dkk, menyatakan bahwa dalam kondisi fisiologis seperti kehamilan dan kondisi patologi seperti keganasan, peradangan, dan pembedahan, peningkatan D-dimer juga dapat terjadi. (De Monye W dkk, 2002) hal tersebut mungkin menjadi salah satu penyebab perbedaan pada hasil penelitian ini dengan penelitian yang sebelumnya. Bahwa pada penelitian ini, beberapa subjek penelitian juga dalam kondisi hamil, keganasan (kanker lambung, kanker payudara, tumor adnexa, kanker serviks, kanker paru, dan tumor mediastinum), dan pasien pasca operasi. Favaloro et al, juga menyatakan beberapa hal mengenai pengukuran dan kualitas pelaporan D-dimer seperti metode pengukuran, nilai cut-off, atau unit D-dimer [D-dimer unit (DDU)] dapat menyebabkan hasil penelitian yang berbeda. (Favaloro et al, 2020)

Selain itu beberapa peneliian sebelumnya juga menyebutkan bahwa ATIII juga berpengaruh dalam proses koagulopati pada COVID-19, dimana ATIII sendiri adalah inhibitor endogen trombin yang penting, dan selain mempengaruhi intrinsic, extrinsic dan common pathway dari kaskade koagulasi, ATIII juga merupakan agen

anti-inflamasi yang kuat. Penelitian yang dilakukan oleh Gazzaruso et al menunjukkan bahwa kadar ATIII berhubungan dengan outcome pasien CVOD-19 dimana dari penelitian ini ATIII ditemukan lebih rendah pada kelompok pasien non-survivor di antara pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. (Gazzaruso et al, 2020) Hal tersebut mungkin menjadi salah satu penyebab hasil dari penelitian sebelumnya dengan penelitian ini berbeda, namun pada penelitian ini kadar ATIII tidak diperiksakan pada pasien yang menjadi subjek penelitian.

Untuk nilai Prothrombine Time (PT) pasien dengan hasil PT memanjang ditemukan 53 orang (53%) meninggal dunia dan 47 orang (47%) hidup. Sedangkan pada hasil PT yang tidak memanjang ditemukan 32 orang (60.4%) hidup dan 21 orang (39.6%) meninggal dunia. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, tidak ditemukan hubungan kadar PT dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,115 (p>0.05).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Henry et al, dimana diperoleh nilai faktor koagulasi pada pasien COVID-19 derajat sedang berat dengan Mean + SD PT adalah 14,11 + 1,82 dan setelah pengujian untuk menilai hubungan faktor koagulasi dan kejadian thrombosis, tidak ditemukan hubungan yang signifikan pada semua variable faktor koagulasi terhadap thrombosis (p>0,05). Micco PD dkk sendiri menunjukkan pada COVID-19 tingkat Mean PT INR adalah 1,13 (1,07-1,21) dengan rasio APTT 0,99 (0,90-1,11), D-dimer 637 μg /ml (412-964) dan Fibriongen 589 mg/dl (461-721) namun perbedaan ini tidak menunjukkan signifikansi secara statistic. (Micco PD dkk, 2021).

Perpanjangan PT dapat terjadi pada pasien COVID-19 yang berat, namun peningkatannya tidak seberat yang diamati pada sepsis bakteri dan DIC. Meta-analisis yang dilakukan oleh Henry et al. menemukan bahwa pasien dengan COVID-19 yang berat dan fatal memiliki parameter koagulasi (terutama PT) yang secara signifikan lebih tinggi. Penelitian Bintoro dkk dimana terjadi peningkatan aPTT (tetapi tidak signifikan secara statistik) dan peningkatan PT yang signifikan dengan p<0,05 pada kelompok pasien meninggal. Mekanisme perubahan ini masih belum sepenuhnya dijelaskan, namun perpanjangan uji koagulasi, yaitu,

peningkatan PT, dapat dianggap sebagai penanda keparahan penyakit dan aktivasi kaskade koagulasi serta badai sitokin yang diinduksi oleh virus. (Bintoro dkk, 2021) Pada penelitian ini nilai trombosit <150000/μL ditemukan 13 orang (54,2%) hidup dan 11 orang (45,8%) meninggal. Sedangkan pada pasien dengan jumlah trombosit >150000/μL tampak 69 orang (49,3%) hidup dan 71 orang (50,7%) meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, tidak ditemukan hubungan jumlah trombosit dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,659 (p>0.05).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Seyit et al, bahwa saat masuk ICU sekelompok penderita COVID-19 yang diintubasi dengan jumlah trombosit normal, APTT memanjang serta fibrinogen plasma didapati meningkat (Seyit et al, 2020). Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Fan et al, yang juga mengungkapkan sebagian besar pasien yang di rawat di ICU dengan infeksi COVID-19 mempunyai nilai trombosit normal. Hal tersebut dikarenakan tidak terjadi adanya agregasi trombosit pada pasien dengan infeksi COVID-19.

(Fan, et al, 2020) Namun penelitian yang dilakukan oleh Wool dkk menunjukkan hal yang berbeda yaitu trombositopenia terdeteksi pada 5-41,7% pasien COVID-19 (insiden bervariasi sesuai dengan tingkat keparahan penyakit), dan biasanya ringan (jumlahnya berkisar antara 100-150 × 109/L). Trombositopenia ringan terdeteksi pada 58-95% kasus COVID-19 yang parah; rata-rata, pasien dengan penyakit berat memiliki jumlah trombosit 23 × 109/L hingga 31 × 109/L lebih rendah dibandingkan dengan penyakit tidak berat. Trombositopenia pada pasien COVID-19 dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian rawat inap 4,24 kali lipat dalam sebuah penelitian dari Wuhan. (Wool GD & Miller JL, 2021)

Trombosit berperan penting dalam sinyal inflamasi serta dalam respon infeksi. Dengan menggabungkan fungsi perekrutan trombotik dan imunitas, trombosit dapat membantu fokus hemostasis dan respons imun terhadap agen infeksi potensial untuk mencegah invasi mikroba. Trombosit dan produk yang dilepaskannya mampu menekan infeksi virus dan mendukung persistensi virus, tergantung pada infeksi tertentu. Trombosit juga tampaknya berperan dalam merekrut dan mengaktifkan leukosit yang bersirkulasi pada permukaan endotel,

yang menyebabkan diapedesis sel darah putih. Interaksi antara sel endotel, trombosit, dan leukosit berperan penting dalam efek prokoagulan infeksi virus.

Trombositopenia, sekresi trombosit, dan interaksi dengan leukosit mungkin memiliki konsekuensi imun yang merugikan atau protektif pada infeksi virus.

(Wool GD & Miller JL, 2021)

Pada penelitian ini fibrinogen rendah ditemukan 4 orang (33,3%) hidup dan 8 orang (66,7%) meninggal. Sedangkan pada pasien dengan fibrinogen normal tampak 32 orang (45,1%) hidup dan 39 orang (54,9%) meninggal. Namun pada pasien dengan peningkatan fibrinogen ditemukan 42 orang (31,9%) hidup dan 39 orang (48,1%) meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, tidak ditemukan hubungan kadar fibrinogen dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,344 (p>0.05).

Fibrinogen adalah kompleks glikoprotein yang secara enzimatik diubah oleh trombin menjadi fibrin pada saat jaringan cedera, menyebabkan darah membeku dan menghentikan pendarahan.Giannis dan Ziogas meneliti efek COVID-19 pada kaskade koagulasi secara in vitro dan menemukan peningkatan ekspresi gen untuk faktor prokoagulan fibrinogen (FGB, FGG) dalam sel mononuklear yang terinfeksi oleh virus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fibrinogen >7.0 g/L pada 5,7% pasien dengan penyakit ringan dibandingkan dengan 19,1% dengan penyakit berat. (Eljilany I & Elzouki AN; 2020)

Temuan Micco menunjukkan kemungkinan peran pemeriksaan tingkat fibrinogen untuk mengidentifikasi derajat keparahan COVID-19 yang berat secara klinis saat masuk ke unit gawat darurat; khususnya, cut-off 617 mg/dL dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya ARDS, dengan sensitivitas 76% dan spesifisitas 79%. (Micco PD dkk, 2021)

Sui dkk juga mengatakan kadar fibrinogen 528,0 mg/dl merupakan batas optimal untuk memprediksi keparahan penyakit, dengan sensitivitas dan spesifisitas 66,7% dan 70,3%. Peningkatan fibrinogen berkorelasi dengan peradangan yang berlebihan, keparahan penyakit, dan masuk ICU pada pasien COVID-19. (Sui dkk, 2021) Perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin dibutuhkan cut off point Fibrinogen yang lebih tinggi untuk menentukan outcome pasien dengan

koagulopati pada pasien covid 19 derajat berat-kritis yang dirawat di RSUP H.

Adam Malik Medan

Pada penelitian ini juga dapat dilihat bahwa ditemukan 23 orang (71,9%) pasien berusia < 40 tahun dan 59 orang (44,7%) berusia > 40 tahun bertahan hidup.

Namun 9 orang (28,1%) pasien berusia < 40 tahun dan 73 orang (55,3%) berusia >

40 tahun meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square ditemukan hubungan usia dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,006 (p<0.05). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Micco dkk, dimana pada penelitian ini menunjukkan semua sampel penelitiannya dengan usia > 40 tahun sebanyak 81 orang (86%) dan 4 orang berusia < 40 tahun (5%). (Micco PD dkk, 2021). Poudel dkk melakukan penelitian pada 182 kandidat pasien COVID-19 yang memenuhi syarat dan ditemukan usia rata-rata peserta yang terdaftar adalah 58,16 tahun (±15,65 tahun) dan terdapat 34 (18,7%) pasien meninggal selama perawatan di rumah sakit. (Poudel dkk, 2020) Pouw dkk, juga mengatakan pasien berusia > 70 tahun memiliki mortalitas yang tinggi, baik di bangsal (52,4%) maupun di ICU (47,4%). (Pouw dkk, 2020)

Begitu pula halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuan dkk, dimana pasien dengan koagulopati lebih banyak dijumpai pada kelompok usia yang lebih tua (>65 tahun). Menurut Yuan dkk, pada orang dengan usia lebih tua keadaan hiperkogulasi lebih sering terjadi dikarenakan peradangan sistemik yang terjadi pada orang berusia tua sangat berlebihan jika dibandingkan dengan kelompok dengan usia yang lebih muda berdasarkan dari hasil parameter koagulasi. (Yuan X, dkk. 2020)

Untuk jenis kelamin pada penelitian ini, ditemukan bahwa 47 orang (49,0%) pasien berjenis kelamin laki-laki dan 35 orang (51,5%) berjenis kelamin perempuan bertahan hidup. Namun 49 orang (51,0%) pasien berjenis kelamin laki-laki dan 33 orang (48.5%) berjenis kelamin perempuan meninggal. Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square, tidak ditemukan hubungan jenis kelamin dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p

= 0,751 (p>0.05). Analisis dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Khan dkk menunjukkan kecenderungan penurunan mortalitas (40%) pada wanita

dibandingkan dengan pria, namun, hasilnya tidak signifikan secara statistik. Sebuah tinjauan literatur mengungkapkan penelitian yang menunjukkan tingkat keparahan penyakit dan kematian yang lebih tinggi pada pria. Satu studi mengungkapkan bahwa pada kelompok usia yang sama, pria dengan covid-19 lebih cenderung memiliki hasil yang merugikan dibandingkan dengan wanita. (Khan dkk, 2021)

Wenham C, 2020, menjelaskan bahwa jenis kelamin terbukti menjadi salah satu faktor resiko kematian COVID-19 yang lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan wanita. Hal ini disebabkan perbedaan mendasar dalam sistem imunologi pria dan wanita, perbedaan gaya hidup, dan prevalensi merokok. (Wenham C, 2020) Sedangkan menurut Ahmed and Dumanski, hal ini dapat disebabkan oleh enzim angiotensin 2 (ACE2), yang merupakan bagian integral dari sistem renin-angiotensin-aldosteron manusia (RAAS), adalah reseptor fungsional yang memungkinkan SARS-CoV-2 untuk menyerang sel epitel alveolus manusia. Pada laki-laki menunjukkan aktivitas RAAS yang lebih besar dibandingkan dengan perempuan secara keseluruhan (17,62). (Ahmed dan Dumanski, 2020)

Pada penelitian ini juga ditemukan 64 orang (47,8%) dengan komorbiditas dan 18 orang (60,0%) tanpa komorbiditas berhasil bertahan hidup. Namun 70 orang (52,2%) dengan komorbiditas dan 12 orang (40%) tanpa komorbiditas meninggal.

Setelah dilakukan analisis dengan uji chi square , tidak ditemukan hubungan komorbiditas dengan outcome pasien COVID-19 terkonfirmasi derajat berat-kritis yang signifikan dengan nilai p = 0,226 (p>0.05). Penelitian yang dilakukan oleh Magdalena dkk, membuktikan bahwa pasien dengan komorbid cenderung mengalami gejala yang lebih berat dibandingkan dengan pasien tanpa komorbid.

(Magdalena dkk, 2021)

Penelitian Khan menunjukkan prevalensi DM yang tinggi di antara total pasien (40,4%), yang merupakan prevalensi tertinggi di antara semua penelitian yang dilaporkan sejauh ini, dengan insiden berkisar dari 7,4% -20% sebelumnya.

(Khan dkk, 2021). Penelitian yang dilakukan oleh Bintoro dkk, dimana dari 217 pasien yang COVID-19 dengan koagulopati didapati lebih dari separuh subjek (63.7%) memiliki penyakit komorbid atau penyakit penyerta, yaitu dengan tiga

penyakit komorbid yang memiliki persentase terbanyak diabetes melitus (34%), hipertensi (32.5%), dan gagal ginjal kronis (22.7%). (Bintoro, dkk. 2021).

Status merokok pasien pada penelitian ini ditemukan 54 orang (67,5%) tidak merokok, 3 orang (50,0%) IB ringan, 22 orang (56,4%) IB Sedang dan 3 orang

Status merokok pasien pada penelitian ini ditemukan 54 orang (67,5%) tidak merokok, 3 orang (50,0%) IB ringan, 22 orang (56,4%) IB Sedang dan 3 orang