• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

B. Tempat dan Waktu Penelitian

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Secara keseluruhan, proses penelitian ini dilaksanakan selama bulan Februari–November 2015. Tahap studi literatur dilaksanakan sejak perte-ngahan bulan Februari 2015 hingga perteperte-ngahan April 2015 di Universitas Sanata Dharma. Selanjutnya, perancangan skema model pembelajaran Fisika bergaya naratif1 dilaksanakan pada akhir bulan April 2015 hingga bulan Mei 2015.

Proses validasi rancangan model pembelajaran dan uji coba terbatas dilakukan pada bulan Juni 2015. Validasi dilakukan oleh 3 ahli, yaitu ahli materi, media, dan bahasa. Hasilnya dapat diamati pada Lampiran 9.

Sebagaimana dapat diamati pada Lampiran 9, ahli materi memberikan total skor angket 48. Skor ini kemudian dikonversi ke dalam kategori kualitas sebagaimana dapat diamati pada Tabel 1.

1

Rancangan skema model pembelajaran Fisika bergaya naratif mulanya dirancang dengan alokasi waktu 12x45 menit. Standar Kompetensi (SK) pembelajaran ialah menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika titik. Kompetensi Dasar (KD) untuk SK tersebut ialah menganalisis keteraturan gerak planet dalam tata surya berdasarkan hukum-hukum Newton. Berdasarkan SK tersebut, materi yang diajarkan dalam rancangan model pembelajaran bergaya naratif ini ialah Hukum Gravitasi Universal Newton, Hukum Kepler, dan kelajuan orbital planet.

Narasi yang digunakan dalam model pembelajaran ini ialah ―Pemenang Sejati (?)‖ dan dapat

diamati pada Lampiran 7. Berkas rancangan model pembelajaran Fisika bergaya naratif dapat diamati pada Lampiran 8.

Tabel 1. Kategori Kualitas Skor Angket Validasi Ahli Materi Skor Kategori 1-16 Sangat kurang 17-32 Kurang 33-48 Baik 49-64 Sangat baik

Berdasarkan tabel 1, kualitas draft ditinjau dari materi Fisika dalam narasi masuk dalam kategori ―Baik‖.

Ditinjau dari segi perspektif media pembelajaran Fisika, narasi dan rancangan model pembelajarannya dinilai oleh ahli media memiliki kualitas ―Baik‖. Kualitas ini diperoleh berdasarkan konversi skor yang diberikan oleh ahli media, yaitu 48 menjadi kategori kualitasnya sebagaimana dapat diamati pada Tabel 2.

Tabel 2. Kategori Kualitas Skor Angket Validasi Ahli Media

Skor Kategori

1-19 Sangat kurang

20-38 Kurang

39-57 Baik

Ditinjau dari segi kebahasaan, ahli bahasa memberikan skor 56 untuk menilai kualitas rancangan narasi dan model pembelajarannya. Karena jumlah butir soal angket validasi ahli bahasa sama dengan ahli materi, maka kategori kualitas penilaian yang diberikan oleh ahli bahasa juga sama dengan ahli materi. Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa skor 56 tergolong dalam kategori ―Sangat Baik‖.

Selain angket validasi, dalam dokumen validasi tersebut, para ahli juga menunjukkan kesalahan dalam rancangan narasi dan model pembelajarannya berikut dengan saran perbaikannya. Pada kolom ―komentar secara umum‖ dalam dokumen validasi, para ahli memberikan komentarnya terkait rancangan model ini. Berdasarkan tinjauan-tinjauan yang telah dilakukan, kemudian para ahli menyimpulkan apakah narasi ini layak digunakan di lapangan dengan revisi, atau tanpa revisi, atau bahkan tidak layak digunakan di lapangan.

Kesalahan dan saran perbaikan yang diberikan oleh para ahli kemudian menjadi masukan bagi peneliti untuk merevisi narasi dan rancangan model pembelajarannya. Secara lengkap, kesalahan dan saran perbaikan ini dapat diamati pada Lampiran 9. Demikian pula dengan komentar-komentar terkait draft narasi dan rancangan model pembelajarannya dapat diamati pada lampiran yang sama.

Berdasarkan tinjauan yang telah dilakukan, ketiga ahli kemudian menyimpulkan bahwa narasi Fisika ini dinyatakan layak digunakan di

lapangan dengan revisi. Revisi tersebut merupakan perbaikan atas kesalahan yang telah ditunjukkan dan pelaksanaan saran yang diberikan. Bersamaan dengan dilakukannya proses validasi rancangan model pembelajaran bergaya naratif dan narasinya, narasi yang telah dipersiapkan oleh peneliti juga diuji cobakan pada 2 orang siswa SMA. Responden yang diminta oleh peneliti untuk membaca narasi Fisika dan skema pembelajarannya seorang siswa Kelas X SMA Kolese De Britto dan siswi Kelas XI IPA SMAN 8 Yogyakarta. Setelah membaca narasi tersebut, mereka diminta untuk mengisi angket yang telah disiapkan oleh peneliti. Berkas yang diujicobakan dan hasilnya dapat diamati pada Lampiran 10.

Pada lampiran tersebut dapat diamati bahwa siswa SMA Kolese De Britto memberikan total skor 13 di angket yang diisi olehnya, sedangkan skor yang diberikan oleh siswi SMAN 8 Yogyakarta ialah 16. Skor yang diperoleh kemudian dikonversi ke dalam kategori kualitas. Dengan total skor ialah 20, berikut adalah kategorisasi penilaiannya:

Tabel 3. Kategori Kualitas Skor Angket Uji Coba Narasi

Skor Kategori

1-5 Sangat kurang

6-10 Kurang

11-15 Baik

Berdasarkan Tabel 3 di atas, dapat diketahui bahwa menurut siswa SMA Kolese De Britto, narasi ini sudah baik. Menurut siswi SMAN 8 Yogyakarta, narasi ini tergolong sangat baik. Pada kolom komentar, siswi ini juga menuliskan bahwa materi yang diberikan cukup menarik. Ia menambahkan bahwa ia ingin mengetahui ceritanya dan menurutnya, materi Fisika yang disisipkan dalam narasi menjadi lebih mudah dipahami. Setelah meninjau hasil validasi dan uji coba tersebut, peneliti kemudian melakukan revisi narasi dan model pembelajarannya. Peneliti merevisi narasi ―Pemenang Sejati (?)‖ dengan melakukan perbaikan pada simbol, notasi Fisika, dan sebisa mungkin mengurangi panjangnya narasi ini.

Namun, pengurangan panjang narasi tidak terlalu signifikan. Hal ini dikarenakan alur, yang menjadi salah satu unsur pembentuk cerita, telah terbentuk dengan mempertimbangkan konflik cerita yang dibangun. Apabila alur ini dirombak ulang agar narasi lebih ringkas, maka sama saja dengan membuat sebuah cerita baru.

Selanjutnya, pada bulan Agustus 2015, instrumen pengukuran hasil belajar dan minat belajar (pretest dan posttest) divalidasi di Universitas Sanata Dharma. Proses ini dilakukan oleh 2 orang ahli. Seorang ahli di bidang pengukuran hasil belajar melakukan validasi instrumen pretest dan

posttest hasil belajar, sedangkan ahli di bidang minat belajar melakukan validasi instrumen pretest-posttest minat belajar.

Setelah skema model pembelajaran dan instrumen divalidasi, peneliti melaksanakan tahap implementasi model selama bulan September– November 2015. Proses ini dilaksanakan di asrama Stella Duce Samirono (untuk selanjutnya, disebut asrama Samirono).