Usaha pengelolaan makanan yang meliputi jasa boga atau katering, rumah makan dan restoran, depot air minum, kantin, dan makanan jajanan. TPM yang terdaftar yang tercatat diwilayah kerja puskesmas atau kantor kesehatan pelabuhan dan didukung dengan aspek legal hukum baik yang memenuhi persyaratan maupun yang tidak memenuhi persyaratan higiene sanitasi usaha atau kegiatan pengelolaan makanan yang disajikan di luar tempat usaha atas dasar pesanan yang dilaksanakan oleh badan hukum atau perorangan. Setiap usaha komersial yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan makanan dan minuman untuk umum di tempat usahanya. Salah satu jenis usaha jasa pangan yang bertempat di sebagian atau seluruh bangunannya yang permanen dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan, penyajian dan penjualan makanan dan minuman bagi masyarakat umum ditempat usahanya. Usaha industri yang melakukan proses pengolahan air baku menjadi air minum dan menjual langsung kepada konsumen.
Salah satu jenis usaha jasa makanan yang lokasinya berada di lingkungan institusi dan sebagaian besar konsumennya adalah masyarakat di institusi tersebut, seperti kantin sekolah, kantin yang berada di kantor dll. Usaha makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan/atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasaboga, rumah makan/restoran, dan hotel. TPM yang memenuhi persyaratan higiene sanitasi dengan bukti dikeluarkannya sertifikan laik higiene sanitasi. Secara lengkap jenis pengelolaan makanan yang dibina dapat dilihat pada tabel 64 - 65.
Gambar 4.15
BAB V
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
A. SARANA KESEHATAN
Pada bagian ini diuraikan tentang sarana kesehatan diantaranya puskesmas, rumah sakit, sarana produksi dan distribusi farmasi dan alat kesehatan, sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), dan institusi pendidikan tenaga kesehatan.
a. Puskesmas
Jumlah Puskesmas di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015 tidak mengalami penambahan, yaitu sebanyak 180 puskesmas. Terdiri dari 45 puskesmas perawatan dan 135 puskesmas non perawatan. Bila mengacu pada konsep wilayah kerja puskesmas, dimana sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata adalah 30.000 jiwa penduduk, di Provinsi Bengkulu pada tujuh tahun terakahir jumlah rata-rata atau rasio puskesmas per 30.000 jiwa penduduk, tidak mengalami perubahan yaitu sebesar 3 puskesmas per 30.000 penduduk, artinya selama tujuh tahun terakhir, pada tahun 2008, hingga tahun 2015, 30.000 jiwa penduduk Provinsi Bengkulu sudah dapat dilayani 3 Puskesmas atau 1 puskesmas sudah dapat mellayani 10.000 jiwa penduduk, dengan demikian di Provinsi Bengkulu saat ini masalah sarana puskesmas sudah tercukupi. Gambaran Jumlah Puskesmas pada tahun 2004 s.d 2015 serta jumlah puskesmas per Kabupaten/Kota pada tahun 2015 dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 5
48
Gambar : 5.2Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015
Untuk jumlah puskesmas pembantu di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015 belum mengalami penambahan masih berjumlah 469 pustu sama dengan tahun sebelumnya. Dengan Rasio 1 pustu per 2.500 jiwa penduduk.
Berdasarkan konsep wilayah kerja puskesmas pembantu, dimana sasaran penduduk yang dilayani oleh 1 unit puskesmas pembantu adalah rata-rata 2.500 penduduk, maka di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015, rata-rata puskesmas pembantu per 2.500 penduduk yaitu 1 unit Puskesmas Pembantu per 2.500 jiwa penduduk. Artinya 2.500 penduduk sudah dilayani 1 unit Puskesmas Pembantu, ini berarti di Provinsi Bengkulu jumlah puskesmas pembantu sudah sesuai dengan konsep wilayah kerja yang ditentukan. Gambaran jumlah puskesmas pembantu di Provinsi Bengkulu dirinci per Kabupaten/Kota pada tahun 2015 adalah sebagai gambar berikut:
Gambar : 5.3
Dengan jumlah puskesmas pembantu sebanyak 464 unit dan puskesmas sebanyak 180 unit, maka Rasio puskesmas pembantu terhadap puskesmas di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015 adalah rata-rata 3 artinya setiap puskesmas rata-rata di dukung oleh 3 puskesmas pembantu dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
b. Rumah Sakit
Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Bengkulu sampai dengan tahun 2015 sebanyak 20 unit, Rumah Sakit Pemerintah sebanyak 13 unit (RSUD M. Yunus Bengkulu, RSUD Manna, RSUD Curup, RSUD Argamakmur, RS Terapung Enggano, RSUD, RSUD Kaur, RSUD Seluma, RSUD Mukomuko, RSUD Lebong, RSUD Kepahiang, RSUD Bengkulu Tengah, RSUD Kota Bengkulu dan RSJ&KO Soeprapto, 1 Rumah Sakit Bhayangkara, 2 Rumah Sakit DKT (Kota Bengkulu dan Curup), dan 3 Rumah Sakit Swasta (RS Raflesia, RS Tiara Sella dan Caritas dan RS Ummi). Cakupan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan digambarkan pada persentase pemakaian tempat tidur yaitu: jumlah hari perawatan rumah sakit perperjumlah tempat tidur X jumlah hari dalam 1 tahun X 100% disebut BOR (Bed Occupancy Rate), Frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu (biasanya dalam periode 1 tahun). Indikator ini memberikan tingkat efisiensi pada pemakaian tempat tidur disebut BTO (Bed Turn Over) yaitu : Jumlah pasien keluar (hidup/mati)/Jumlah tempat tidur, Rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati dari saat terisi ke saat terisi berikutnya disebut TOI (Turn Over Interva) yaitu : (Jumlah tempat tidur x jumlah hari dalm setahun) dikurangi Jumlah hari perawatan/jumlah pasien keluar (hidup + mati), Rata-rata lama rawat (dalam satuan hari) seorang pasien ALOS (Average Length of Stay) yaitu : Lama dirawat/jumlah Pasien Keluar (hidup + Mati).
Pada tahun 2015 berdasarkan data yang ada, persentase pemakaian tempat tidur (BOR) seluruh rumah sakit di Provinsi Bengkulu sepanjang tahun 2015 adalah 40% Pasien. Hari dalam 1 tahun X 100% disebut BOR (Bed Occpancy Rate) sedagkan frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode BTO adalah 43, rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati dari saat terisi ke saat terisi berikutnya TOI adalah 5, dan rata-rata lama rawat (dalam satuan hari) seorang pasien ALOS adalah 3. Angka kematian pasien dirumah sakit (angka kematian umum untuk tiap-tiap 1000 pasien keluar) atau GDR (Gross Death Rate) adalah 2,3% per 1000 pasien keluar (hidup+mati) dan angka kematian ≥ 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 pasien keluar atau NDR (Net Death Rate) sebesar 1,3% pasien keluar (hidup + mati). Lihat table 55.