PT UNITEX Tbk dalam menyimpan sampah padatnya hanya menggunakan sebuah ruangan terpisah. Sampah ini pada umumnya berupa limbah B3 padat sebagai sisa dari produksi industri. Menurut Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Penyimpanan adalah kegiatan menyimpan limbah B3 yang dilakukan oleh penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara. Kemudian menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 30 tahun 2009 tentang Tata Laksana Perizinan Dan Pengawasan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun Serta Pengawasan Pemulihan Akibat Pencemaran Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun Oleh Pemerintah Daerah. Penyimpanan limbah B3 adalah kegiatan menyimpan limbah B3 yang dilakukan oleh penghasil, pengumpul, pemanfaat, pengolah dan/atau penimbun limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara.
Untuk dapat melakukan penyimpanan limbah B3 sementara harus mendapatkan izin. Berikut data minimal yang harus dilampirkan agar mendapatkan izin penyimpanan limbah B3 sementara:
Selain itu lokasi untuk penyimpanan limbah B3 yang dimiliki oleh PT UNITEX Tbk dinilai sudah memenuhi persyaratan teknis, dimana persyaratan
24
teknis ini akan meminimalkan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitarnya. Persyaratan teknis tersebut antara lain:
1. Letak lokasi TPS berada di area kawasan kegiatan; 2. Merupakan daerah bebas banjir;
3. Letak bangunan berjauhan atau pada jarak yang aman dari bahan lain yang mudah terkontaminasi dan/atau mudah terbakar dan atau mudah bereaksi atau tidak berdekatan dengan fasilitas umum.
Kemudian syarat-syarat bangunan yang dapat digunakan untuk menyimpan limbah B3 sementara antara lain sebagai berikut:
1. Bangunan untuk tempat pengumpulan dan tempat penyimpanan sementara limbah B3 harus memenuhi persyaratan teknis antara lain:
a) memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis, karakteristik dan jumlah limbah B3 yang disimpan.
b) bangunan beratap dari bahan yang tidak mudah terbakar, dan memiliki ventilasi udara yang memadai.
c) terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung.
d) memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai.
e) lantai harus kedap air, tidak bergelombang, kuat dan tidak retak.
f) mempunyai dinding dari bahan
yang tidak mudah terbakar.
g) bangunan dilengkapi dengan simbol
h) dilengkapi dengan penangkal petir jika diperlukan.
i) bila tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan limbah B3 yang mudah terbakar maka bangunan tempat penyimpanan limbah B3 harus:
25
1) tembok beton bertulang atau bata merah atau bata tahan api
2) lokasi harus dijauhkan dari sumber pemicu kebakaran dan atau sumber panas
j) Bila tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpanan limbah B3 yang mudah meledak maka bangunan tempat penyimpanan limbah B3 harus:
1) kontruksi bangunan baik lantai, dinding maupun atap harus dibuat dari bahan tahan ledakan dan kedap air. Kontruksi lantai dan dinding harus lebih kuat dari kontruksi atap, sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas (tidak kesamping). 2) suhu dalam ruangan harus dapat dikendalikan tetap dalam kondisi
normal.
k) Bila tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpanan limbah B3 yang mudah reaktif, korosif dan beracun maka bangunan tempat penyimpanan limbah B3 harus:
1) kontruksi dinding harus dibuat mudah lepas, guna memudahkan pengamanan limbah B3 dalam keadaan darurat.
2) kontruksi atap, dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api.
l) dan hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah:
1) Jika yang disimpan 100% limbah B3 berupa fasa cair, maka tempat penyimpanan memerlukan bak penampung (untuk menampung jika terjadi bocor/tumpahan) dengan volume minimal 110% dari volume kemasan terbesar yang ada.
2) lokasi bak penampungan sebaiknya berada didalam tempat penyimpanan dan jika bak penampung berada diluar tempat penyimpanan, maka:
a. bak penampung harus dalam keadaan tertutup; b. bak penampung harus dibuat kedap air;
c. saluran dari lokasi tumpahan dalam tempat penyimpanan menuju bak penampung harus dalam keadaan tertutup dan
26
dibuat melandai dengan kemiringan minimal 1% menuju bak penampung.
3) Penyimpanan limbah B3 fasa cair yang mudah menguap dalam kemasan, harus menyisakan ruang 10% dari total volume kemasan;
a. Jika yang disimpan berupa fasa padat, maka :
b. tempat penyimpanan tidak memerlukan bak penampung. c. lantai tempat penyimpanan tidak perlu ada kemiringan.
m) Jika yang disimpan limbah B3 yang memiliki sifat self combustion, perlu dipertimbangkan untuk mengurangi kontak langsung dengan oksigen. n) Jika limbah B3 yang disimpan berupa fasa padat dimana kandungan air
masih memungkinan terjadi rembesan atau ceceran (misal sludge IPAL), maka:
1) tempat penyimpanan memerlukan bak penampung dengan volume bak penampung disesuaikan dengan perkiraan volume ceceran. 2) bak penampung harus dibuat kedap air.
3) kemiringan lantai minimal 1% menuju saluran bak penampung. o) Jika yang disimpan berupa limbah B3 dengan karakteristik berbeda, maka:
1) perlu ada batas pemisah antara setiap jenis limbah yang berbeda karakteristik.
2) memerlukan bak penampung dengan volume yang disesuaikan. 3) bak penampung harus dibuat kedap air.
4) kemiringan lantai minimal 1% mengarah ke saluran bak penampung.
p) Jika bangunan tempat penyimpanan berada lebih tinggi dari bangunan sekitarnya, maka diperlukan penangkal petir;
q) Luas area tempat penyimpanan: Luas area tempat penyimpanan disesuaikan dengan jumlah limbah yang dihasilkan/dikumpulkan dengan mempertimbangkan waktu maksimal penyimpanan selama 90 hari .
2. Jika menyimpan dalam jumlah yang besar per satuan waktu tertentu seperti fly ash, bottom ash, nickel slag, iron slag, sludge oil, drilling cutting maka tempat penyimpanan dapat didesain sesuai dengan kebutuhan tanpa memenuhi sepenuhnya persyaratan yang ditetapkan pada butir 1 (satu) di atas.
27
3. Tempat penyimpanan limbah B3 dapat berupa tanki atau silo.
Sementara itu terdapat beberapa dasar hukum yang mengatur tentang penyimpanan sementara limbah B3, yang antara lain:
1. Undang-Undang RI No.32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1999, tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 85 Tahun 1999, tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
4. Peraturan MENLH Nomor 18 Tahun 2009, tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
5. Peraturan MENLH Nomor 30 Tahun 2009, tentang Tata Laksana Perizinan dan Pengawasan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun serta Pengawasan Pemulihan Akibat Pencemaran Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun oleh Pemerintah Daerah.
6. Keputusan Kepala Bapedal Nomor 1 Tahun 1995, tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
7. Keputusan Kepala Bapedal Nomor 2 tahun 1995 , tentang Dokumen Lingkungan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Gambar 4.10 Adanya titik koordinat TPS, Standar Operasional Prosedur (SOP), Panduan tindakan darurat Kebakaran, serta Kotak P3K didalam bangunan TPS
28
8. Keputusan Kepala Bapedal Nomor 5 Tahun 1995 + Lampiran Kepka Bapedal No.5 th 1995, tentang Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
9. Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 8 Tahun 2003, tentang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup.
PT UNITEX Tbk mengaku limbah B3 yang dihasilkan selama 1 bulan berkisar 100m3 atau rata-rata 10 karung dengan daya tampung 10m3. Limbah B3 ini akan dikirim ke Badan Pengolah B3 yang bertanggung jawab terhadap proses pemusnahan limbah B3 PT UNITEX Tbk. Harga yang biasanya dibayarkan adalah Rp 600.000 per ton.
29
BAB V PENUTUP
Dari kunjungan lapangan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa PT UNITEX Tbk berstatus layak operasi. Hal ini dapat diketahui dengan melakukan kajian pada kesesuaian lokasi industri dengan tata ruang, membandingkan proses produksi yang dilakukan dengan dampak yang ditimbulkan, serta tingkat kepedulian terhadap lingkungan.
Saran yang dapat diajukan yakni perlunya pembaruan pada utilitas IPAL yang dinilai sudah terlampau tua, serta perlunya peningkatan upaya kesehatan preventif dan promotif terhadap keberlangsungan kegiatan operasional di PT UNITEX Tbk.
30
Lampiran 1
Wawancara Tukang Bubur
Keterangan: M: Mahasiswa A: Pak Apud
M: Bagaimana pendapat anda mengenai keberadaan PT Unitex Tbk di wilayah anda?
A: Biasa aja, karena saya kurang paham di dalam seperti apa.
M: Apakah anda merasakan dampak positif atau negatif dari adanya PT Unitex Tbk?
A: Biasa-biasa saja
M: Apakah anda merasakan terganggu dengan keberadaan PT Unitex Tbk?
A: Kadang-kadang ya, kadang-jadang tidak. Dulu sempet ngga boleh jualan disini. Saya jualan dari tahun 90-an. Dulu sebelum pemimpin perusahaan ganti saya boleh jualan keliling di dalam sampai komplek. Sekarang ga boleh, bahkan sempat ingin diusir dari sini tapi saya berdalih ini (tempat pak apud jualan) punya PEMDA bukan PT.Unitex jadi saya teta disini. Dulu sempat disuruh pindah ke dalam, tapi pendapatan saya menurun karena karyawan jarang yang beli dan orang yang lewat dipinggir jalan ga tau saya jualan di dalam. Akhirnya saya pindah lagi keluar, pendapat lebih naik walau tidak sebanyak dulu keliling
M: Di PT Unitex Tbk menghasilkan limbah, apakah anda terganggu dengan limbah tersebut?
A: Tidak
M: Dengan adanya PT Unitex Tbk, apakah anda merasakan adanya polusi udara yang berubah di daerah anda?
A: Tidak
M: Jika adanya pencemaran dari PT Unitex Tbk, apa yang anda lakukan? A: tidak tahu, tidam begitu paham
M: Apakah ada anggota keluarga anda yang bekerja di PT Unitex Tbk? A: tidak
31
M: Dari segi ekonomi, apakah ada peningkatan dalam pendapatan keluarga? A: iya, karena saya berjualan disekitar PT. Unitex
M: Apakah lingkungan mengalami perubahan sebelum dan sesudah ada PT. Unitex?
A: Tidak tahu, baru berjualan sekitar tahun 90-an, dimana PT.Unitex sudah berdiri, sebelumnya saya tinggal di Tasik.
32
DAFTAR PUSTAKA
Andalusia, 2006. Mempelajari Pengolahan Air Bersih (Water Treatment) dan Pengolahan Pengolahan Air Limbah (Wastewater Treatment) PT. UNITEX, Bogor. [Skripsi]. Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara : Medan.
Bangun, Ekayana Putri P. 2008. Analisis Inkonsistensi Tata Ruang dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Penggunaan Lahan di Kota Bogor. Fakultas Pertanian Institusi Pertanian Bogor.
CRS Group Engineers In . 97 . Operator’s Po ket Guide to A tivated Sludge. Houston Texas.
Irawan, Iwan. 2006. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PT. UNITEX [Skripsi]. Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor: Bogor. 40 hlm.
Jamhari. 2006. Mempelajari Penerapan Teknologi dan Penanganan Limbah Industri Tekstil di PT. UNITEX, Ciawi – Bogor, Jawa Barat. [Skripsi]. Departemen Teknologi dan Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 1995. Tentang Baku Mutu Limbah Cair Kegiatan Industri.
Kristianto, P. 2002. Ekologi Industri. Yogyakarta: Andi. Online. Tersedia: http://library.um.ac.id/free-contents/index.php/buku/detail/ekologi-industri-philip-kristanto-25873.html diakses pada 25 Desember 2014.
Mahida, U. N 1981. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Alih Bahasa : G.A Ticoalu. C.V. Rajawali. Jakarta.
MetCalf and Eddy. 2004. Wastewater Engineering Treatment and Use. 4th edition. McGraw-Hill Companies, Inc : NewYork. 1542 hlm.
Putra, Y. 2011. Pengelolaan Limbah Rumah Tangga (Upaya Pendekatan Dalam Arsitektur). Skripsi. Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas
Sumatra Utara. Tersedia:
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:k-33
TRlL0nf0MJ:download.portalgaruda.org/article.php%3Farticle%3D60911% 26val%3D4187+&cd=3&hl=en&ct=clnk
Rachmawati, T. S. 1994. Efisiensi Sistem Pengolahan Air Limbah PT. UNITEX dan Kontribusi Air Limbah Terolah Terhadap Perairan. [Skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor: Bogor. Hlm 143
Sugiharto, 1987.Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 190 hlm.
Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 6 Tahun 1999 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Kegiatan Industri di Jawa Barat
Suratmo, F. G. 1991. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Online. Tersedia:
http://library.um.ac.id/free-contents/index.php/buku/detail/analisis-mengenai-dampak-lingkungan-f-gunarwan-suratmo-21298.html diakses
pada 25 Desember 2014.
Suryani, Novita. Kajian Efisiensi Sistem Pengolahan Air Limbah PT. UNITEX Serta Dampaknya Terhadap Perairan. Bogor : departemen manajemen sumberdaya perairan. Fakultas perikanan dan ilmu kelautan. Institut pertanian bogor. Skripsi
Sormin, Kety Rohani. 2012. Hubungan Karakteristik dan Perilaku Pekerja yang Terpajan Debu Kapas dengan Kejadian ISPA di PT Unitex Tahun 2011. Skripsi S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia: Depok.
Suryani, Novita. 2010. Kajian Efisiensi Sistem Pengolahan Air Limbah PT. UNITEX Serta Dampaknya Terhadap Perairan. Tesis. Fakultas Ilmu kelautan dan Perikanan Institut Pertanian Bogor. Tersedia:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/62807 diakses pada 25
Desember 2014
Utami, Devy Nandya. 2009. Plasma dalam Industri Tekstil. (Online) Terdapat di http://majarimagazine.com/2009/05/plasma-dalam-industri-tekstil/ diakses pada 25 Desember 2014.
34
UNITEX. Kegiatan Produksi. (Online) Terdapat di http://www.unitex.co.id/kegiatan_produksi.htm diakses pada 25 Desember 2014.
UNITEX. Bagian Dyeing. (Online) Terdapat di www.unitex.co.id/detil_dyeing.htm diakses pada 25 Desember 2014.
UNITEX. Sumber Daya Manusia. (Online) Terdapat di http://www.unitex.co.id/sdm.htm diakses pada 25 Desember 2014.
UNITEX. Kepegawaian. Online. Diakses dari http://www.unitex.co.id/index.htm pada 25 Desember 2014