• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat tinggal Yang Maha Tinggi

DUKUNGAN DARI HARAPAN

2. Tempat tinggal Yang Maha Tinggi

Ini juga terjadi pada Bangsa Israel, yang mana iman akan Allah tidak menghindarkan mereka dari kesulitan-kesu-litan dalam sejarah. Beriman bukan seperti mengambil vaksin yang mengimunisasi sekali untuk selamanya, seperti yang mungkin kita kehendaki – dengan mengandalkan cit-ra iman yang berkucit-rang –. Tidak ada vaksin yang membuat kita kebal dari kesulitan-kesulitan hidup. Seluruh sejarah Israel mencatat ini.

Asal mula Bangsa Israel adalah perjanjian yang ditetap-kan Allah dengan Abraham: “Akulah Allah Yang Maha-kuasa: / hiduplah di hadapan-Ku / dengan tidak bercela. / Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau /

11 M. Vargas Llosa, «La “ley Celaá” es un disparate absoluto», wawan-cara oleh P.G. Cuartango, ABC, 17 Januari 2021. Terjemahan sendiri.

dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.”12 Namun demikian, perjanjian ini diuji dalam sejarah, di hadapan pe-ristiwa-peristiwa tak terduga, dalam keadaan-keadaan yang menyulitkan. Maka, kita mungkin dapat bertanya, apakah tidak ada perbedaan antara hidup dengan memiliki iman dan harapan, dan hidup tanpa memilikinya? Perbedaan itu memang ada, tetapi tidak terletak pada kualitas atau kuan-titas dari tantangan-tantangan, tetapi dalam cara mengha-dapinya yang berbeda, sesuai dengan kebaruan yang dibawa oleh Allah yang memasuki sejarah dan menjadikan ketu-runan Abraham sebagai bangsa-Nya, sebuah bangsa yang dalam menghadapi hal-hal mendesak dan kesulitan-kesu-litan memiliki Seseorang untuk berpaling untuk didukung dalam pengharapan.

Musa telah menerka itu. Setelah melihat Tuhan secara langsung dan mendapatkan kasih karunia di mata-Nya, tidak akan membebaskan dia dari keharusan menghadapi semua tantangan yang akan muncul dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian. Jan Dobraczyński, dalam novel-nya Deserto (Padang Gurun), dengan cara yang gamblang mengembalikan perjalanan Musa dan orang-orang Israel kepada kita, yang tidak jelas sama sekali atau lurus. Ber-katalah Musa kepada Tuhan: ““Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” [...] Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku menge-nal engkau”.”13 Tetapi bahkan janji yang dibuat Allah untuk mendampingi mereka dan keajaiban-keajaiban yang mere-ka lihat segera setelah meremere-ka memulai perjalanan, dengan

12 Kitab Kejadian 17:1-2.

13 Kitab Keluaran 33:15.17.

kekalahan tentara Firaun, tampaknya tidak cukup. Segera muncul kerapuhan kepercayaan mereka akan hadirat Tu-han: kekurangan makanan membuat mereka menangisi bawang merah Mesir. Di sinilah Allah segera menanggapi rasa lapar mereka dengan manna. Tapi ini juga tidak cu-kup. “Orang-orang mulai meludahi manna dan menuntut daging. Jeritan mereka terdengar begitu keras kepala se-hingga tiba-tiba Musa merasa bahwa dia tidak akan mampu lagi menanggung beban itu.”14 Allah campur tangan lagi.

“Tuhan menjawab Musa: “Apakah kuasa-Ku terbatas? Seka-rang, kamu akan melihat apakah perkataan-Ku itu menjadi kenyataan atau tidak”.”15 “Lalu bertiuplah angin yang dari Tuhan asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perke-mahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari perjalanan ja-uhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi. Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu.”16

Namun, terlepas dari tanda-tandanya, kerapuhan dari kesetiaannya selalu muncul ke permukaan lagi sepanjang sejarah. Alih-alih berharap kepada Tuhan, yang memba-wa mereka keluar dari Mesir, yang memimpin mereka di sepanjang padang gurun dan memberikan karunia tanah perjanjian kepada Abraham, bangsa ini terus-menerus me-nyerah pada godaan untuk mencari kepastian dari harapan mereka di tempat lain, dalam patung-patung berhala yang dibangun atau dalam aliansi dengan bangsa-bangsa yang

le-14 J. Dobraczyński, Gurun. Novel Musa, Morcelliana, Brescia 1993, h. 225-226.

15 Kitab Bilangan 11:23.

16 Kitab Bilangan 11:31-32.

bih kuat. Dan sifat ilusi dari upaya-upaya itu segera terlihat.

Nabi Yesaya menulis:

“Kami menanti-nantikan terang, tetapi hanya kegelapan belaka,

menanti-nantikan cahaya, tetapi kami berjalan dalam kekelaman.

Kami meraba-raba dinding seperti orang buta, dan meraba-raba seolah-olah tidak punya mata;

kami tersandung di waktu tengah hari seperti di waktu senja,

duduk di tempat gelap seperti orang mati.

Kami sekalian meraung seperti beruang, suara kami redup seperti suara burung merpati;

kami menanti-nantikan keadilan, tetapi tidak ada, menanti-nantikan keselamatan, tetapi tetap jauh dari kami”.17 Di hadapan kesulitan-kesulitan, pengharapan dari bangsa ini menunjukkan dirinya dalam segala kelemahannya. Jika tidak terus-menerus didukung oleh para nabi, itu akan run-tuh. Tanda-tanda yang sudah ada tidak cukup, sejarah masa lalu tidak cukup untuk menopang pengharapan di masa sekarang. Ada kebutuhan untuk pembaruan terus-menerus dari sebuah dukungan. Bagaimana kita tidak memahami situasi bangsa Israel, dimulai dari pengalaman kita, dari pe-mahaman akan kelemahan kita!

Mungkin tantangan paling besar terhadap harapan yang telah harus dihadapi bangsa Israel adalah pengasing-an di Babel. Mereka telah kehilpengasing-angpengasing-an tiga karunia besar dari Tuhan: tanah, kerajaan, bait suci. Dimanakah Allah mereka? Pengasingan dengan demikian menjadi penentu

17 Yesaya 59:9-11.

bagi iman bangsa Israel, karena itu menyoroti perbedaan antara Allah Abraham dan allah-allah lainnya. Ketika bangsa-bangsa lain dikalahkan mereka meninggalkan allah mereka karena tidak cukup kuat untuk membe-baskan mereka dari kekalahan. Sebaliknya Allah bangsa Israel tidak dikalahkan dari kekalahan rakyat. Marilah kita bertanya: pengalaman apakah yang telah dilalui Isra-el tentang Allah untuk tetap mIsra-elekat padaNya bahkan di pengasingan? Perbedaan dari Allah mereka terlihat pada harapan yang dibangkitkanNya.

Untuk mendasari pengharapan, telah kita katakan, diperlukan sebuah kehadiran yang lebih kuat daripada kerapuhan apa pun, sebuah kehadiran yang tidak per-nah gagal: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, / sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti”. Itu bisa menjadi suatu kalimat kosong, tetapi bagi bangsa Yahudi itu penuh dengan sebuah pengalaman yang berulang-ulang. Mazmur melanjutkan: “Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut. / Sekalipun ribut dan berbuih airnya, / sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya”. Mengapa ada rasa aman ini, tidak adanya rasa takut ini? Karena ada “kediaman Yang Mahatinggi. / Allah ada di dalamnya: kota itu tidak akan goncang; / Al-lah akan menolongnya menjelang pagi. / Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang; / Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. […] / Pergilah, pan-danglah pekerjaan Tuhan .”18

18 Mazmur 46 (45),2-9.