BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Hasil Penelitian
1. Hasil Content Analysis Pengungkapan Islamic Social Reporting Dalam penelitian ini, pengungkapan tanggung jawab sosial pada Bank Umum Syariah diukur dengan nilai (score) yang mengacu pada indeks Islamic Social Reporting yang sudah ditetapkan oleh Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI). Indeks Islamic Social Reporting yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Othman, et al (2009).
Nilai Islamic Social Reporting didapatkan dari content analysis terhadap seluruh sampel penelitian. Karena sampel yang dipilih adalah Bank Umum Syariah, maka menggunakan indeks Islamic Social Reporting adalah pilihan yang tepat karena di dalam indeks Islamic Social Reporting memuat 48 indikator yang sesuai dengan perspektif syariah.
Metode content analysis dilakukan dengan memberikan nilai 1
apabila indeks Islamic Social Reporting diungkapkan dalam laporan tahunan Bank Umum Syariah, dan nilai 0 apabila indeks Islamic Social Reporting tidak diungkapkan. Kemudian setelah penilaian dilakukan, score yang didapatkan oleh setiap masing-masing Bank Umum Syariah dijumlahkan kemudian dibagi dengan total score maksimum, yaitu 48. Berikut adalah tabel hasil content analysis Pengungkapan Islamic Social Reporting pada Bank Umum Syariah periode 2014-2019:
Tabel 4. 3
Nilai Islamic Social Reporting pada Bank Umum Syariah periode 2014-2019
No Nama Bank
Tahun
Rata-rata
2014 2015 2016 2017 2018 2019
Nilai Rasio Nilai Rasio Nilai Rasio Nilai Rasio Nilai Rasio Nilai Rasio Nilai Rasio
1.
Sumber: Hasil olah data, 2021
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat kita lihat adanya peningkatan Pengungkapan Islamic Social Reporting indeks yang dilakukan oleh Bank Umum Syariah pada setiap tahunnya. Luas rata-rata Pengungkapan Islamic Social Reporting indeks pada tahun 2014 yaitu sebesar 26,4 item atau sebesar 55%, kemudian meningkat pada tahun 2015 menjadi 27,8 item atau sebesar 57,77%. Tahun 2016 rata-rata Pengungkapan Islamic Social Reporting indeks yang diungkapkan oleh Bank Umum Syariah adalah sebesar 30 item
sebesar 66,10%, tahun 2018 sebesar 33,1 item atau sebesar 68,94%. Dan pada tahun 2019, rata-rata Pengungkapan Islamic Social Reporting yang dilakukan oleh Bank Umum Syariah pada laporan tahunannya menunjukkan sebesar 33,3 item atau sebesar 69,32%.
Gambar 4.1
Rata-rata Pengungkapan Islamic Social Reporting pada Bank Umum Syariah Periode 2014-2019
Sumber: Hasil olah data, 2021
Dari Gambar 4. 1 di atas dapat dilihat rata-rata Pengungkapan Islamic Social Reporting yang dilakukan oleh Bank Umum Syariah selama periode 2014 sampai 2019. Bank Muamalat
0.00%
10.00%
20.00%
30.00%
40.00%
50.00%
60.00%
70.00%
80.00%
90.00%
BMI BVS BRIS BJBS BNIS BSM BMS BPS BSB BCAS MSI
Rata-rata
peringkat tertinggi dalam Pengungkapan Islamic Social Reporting, yaitu memperoleh score sebesar 79,17%. Kemudian untuk Bank Umum Syariah yang menduduki peringkat terendah dalam Pengungkapan Islamic Social Reporting adalah Bank Victoria Syariah, yaitu memperoleh score sebesar 45,48%. Adanya perbedaan yang cukup jauh dalam hal Pengungkapan Islamic Social Reporting ini disebabkan karena belum adanya regulasi secara khusus yang mengatur bahwa Bank Umum Syariah harus mengungkapkan Islamic Social Reporting dalam laporan tahunannya. Sehingga, Pengungkapan Islamic Social Reporting yang dilakukan oleh Bank Umum Syariah masih bergantung pada kebijakan manajemen masing-masing Bank Umum Syariah.
Dalam penelitian ini, metode content analysis dilakukan pada sejumlah indeks Islamic Social Reporting, yaitu sebanyak 48 item. Indeks Islamic Social Reporting terdiri dari enam tema, yaitu tema pendanaan dan investasi, tema produk dan jasa, tema karyawan, tema masyarakat, tema lingkungan hidup, dan tema tata kelola perusahaan. Berikut adalah tabel hasil content analysis Pengungkapan Islamic Social Reporting berdasarkan tema:
Tabel 4. 4
Nilai Content Analysis Pengungkapan Islamic Social Reporting Berdasarkan Tema
No. Tema
Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 2019
1. Pendanaan dan Investasi 38 40 40 44 46 46
2. Produk dan Jasa 26 27 30 33 33 33
3. Karyawan 44 47 62 64 69 74
4. Masyarakat 51 52 51 54 58 56
5. Lingkungan Hidup 5 8 12 17 20 19
6. Tata Kelola Perusahaan 127 131 135 137 138 138
Total 291 305 330 349 364 366
Sumber: Hasil olah data, 2021
Berdasarkan Tabel 4.4 di atas, dapat kita lihat dari setiap tema dalam indeks Islamic Social Reporting yang diungkapkan oleh Bank Umum Syariah dari periode 2014 sampai 2019 mengalami peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan pengungkapan indeks Islamic Social Reporting setiap tahunnya menandakan bahwa Bank Umum Syariah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas Pengungkapan Islamic Social Reporting di dalam laporan tahunannya.
Dari Tabel 4.4 dapat kita lihat bahwa tema tata kelola perusahaan (corporate governance) menjadi tema yang paling banyak dan sering diungkapkan oleh Bank Umum Syariah di dalam laporan tahunannya. Hal ini dikarenakan terdapat peraturan yang mengikat mengenai pelaksanaan Good Corporate Governance di Bank Umum Syariah yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Adanya peraturan yang mengikat tersebut mengharuskan Bank Umum Syariah mengungkapkan pelaksanaan Good Corporate Governance di laporan tahunan mereka.
Sementara itu tema yang masih kurang diungkapkan oleh Bank Umum Syariah adalah tema lingkungan hidup. Penilaian pada tema lingkungan hidup terdiri dari lima indikator, yaitu diungkapkannya konservasi lingkungan hidup, kegiatan mengurangi efek pemanasan global, pendidikan mengenai lingkungan hidup, penghargaan dan sertifikasi lingkungan hidup, dan sistem manajemen lingkungan. Jumlah tema lingkungan yang diungkapkan oleh Bank Umum Syariah dalam laporan tahunannya masih terbilang kurang dibandingkan dengan tema lainnya. Masih banyak Bank Umum Syariah yang belum menerapkan konservasi
lingkungan dan kegiatan mengurangi efek pemanasan global dalam kegiatan operasionalnya.
Walaupun industri perbankan bukan termasuk the leading sector sebagai industri yang menyumbang pencemaran lingkungan yang tinggi seperti halnya industri manufaktur, pengolahan, pertambangan, rumah sakit, dan lainnya. Namun, industri perbankan tetaplah tidak terlepas dalam menimbulkan pencemaran lingkungan dalam kegiatan operasionalnya. Sebagai lembaga intermediasi yang memberikan pinjaman atau pembiayaan kepada pelaku usaha, bank turut serta dalam menimbulkan degradasi lingkungan secara tidak langsung.
Pada masa lalu, pihak yang harus bertanggungjawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan adalah pelaku usaha yang melakukannya. Namun, kini hal tersebut sudah bergeser di mana bank sebagai pihak yang memberikan pembiayaan tersebut juga ikut serta bertanggungjawab dalam dampak yang ditimbulkan. Dengan demikian, bank harus melakukan seleksi dengan mempertimbangkan apakah kegiatan yang dijalankan oleh debiturnya akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan atau tidak (Perkumpulan Prakarsa, 2014).
Oleh karena itu, saat ini perbankan diharapkan dapat melakukan transformasi dalam kegiatan operasinya yaitu dengan menerapkan konsep Green Banking. Pada dasarnya prinsip Green Banking adalah untuk memperkuat manajemen risiko bank, khususnya dalam hal lingkungan hidup. Green Banking diharapkan dapat mendorong perbankan untuk memenuhi konsep berkelanjutan dan meningkatkan portofolio pembiayaan yang ramah lingkungan (Anggraeni dkk, 2020).
Untuk itu, Bank Indonesia mendorong perbankan nasional untuk mempertimbangkan faktor kelayakan lingkungan hidup dengan mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum.
Namun pada implementasinya, masih banyak Bank Umum Syariah yang kurang memperhatikan persoalan lingkungan hidup dan juga belum mengungkapkan tanggung jawab sosialnya ke dalam laporan tahunan mereka.
Walaupun demikian, dari content analysis yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa terdapat beberapa Bank Umum Syariah yang sudah berkomitmen untuk mengelola aspek lingkungan dengan mencanangkan Green Campaign dalam kegiatan operasionalnya. Seperti Bank Muamalat Indonesia yang secara konsisten berkomitmen untuk berfokus dalam menjaga lingkungan dengan berbagai bentuk aksi nyata yang telah
dilakukan, seperti membuat gedung kantor yang ramah lingkungan (green building) yang dirancang dengan memaksimalkan pencahayaan matahari, melakukan efisiensi dalam pemanfaatan energi, air, dan kertas. Bank Muamalat Indonesia juga berinisiatif untuk mengimbangi emisi gas CO2 yang dihasilkan dengan memastikan seluruh unit kerja bank telah menerapkan Ruang Hijau Terbuka (RHT), yaitu dengan menanami berbagai tanaman yang memiliki daya serap CO2 yang tinggi, seperti pohon palem, pohon kurma, pohon pucuk merah, dan spesies tanaman lainnya.
2. Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dan diolah dengan alat analisis statistik deskriptif. Statistik deskriptif memberikan gambaran atau mendeskripsikan suatu data yang dapat dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (kemencengan distribusi) dari masing-masing variabel penelitian.
Berikut adalah hasil analisis statistik deskriptif pada variabel Ukuran Dewan Pengawas Syariah, Ukuran Dewan Komisaris, Ukuran Komite Audit, Profit Sharing Ratio (PSR), dan Islamic Social Reporting (ISR) sebagai berikut:
Tabel 4. 5
Hasil Statistik Deskriptif
N Range Minimum Maximum Mean
DPS 66 2.00 2.00 4.00 2.4394
DK 66 3.00 3.00 6.00 3.9394
KA 66 5.00 2.00 7.00 3.8485
PSR 66 .99 .01 1.00 .4935
ISR 66 .48 .35 .83 .6326
Valid N (listwise) 66
Sumber: Hasil Olah Data, 2021
Keterangan:
DPS merupakan jumlah anggota Dewan Pengawas Syariah dalam Bank Umum Syariah
DK merupakan jumlah anggota Dewan Komisaris dalam Bank Umum Syariah
KA merupakan jumlah anggota Komite Audit dalam Bank Umum Syariah
PSR merupakah Profit Sharing Ratio dalam Bank Umum Syariah
ISR merupakan Pengungkapan Islamic Social Reporting
Berdasarkan Tabel 4.5 diatas dapat terlihat bahwa variabel independen pertama yaitu Ukuran Dewan Pengawas Syariah, yang diukur dengan jumlah anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang menduduki di setiap Bank Umum Syariah menghasilkan rata-rata (mean) sebesar 2,44, itu berarti rata-rata-rata-rata Bank Umum Syariah memiliki anggota Dewan Pengawas Syariah sebanyak 2 sampai 3 orang. Adapun nilai minimum dari variabel Ukuran Dewan
Pengawas Syariah (DPS) yaitu sebesar 2,00, dan nilai maksimum sebesar 4,00.
Variabel independen kedua yaitu Ukuran Dewan Komisaris, yang diukur dengan jumlah anggota dewan komisaris yang menduduki di setiap Bank Umum Syariah menghasilkan rata-rata (mean) sebesar 3,94, itu berarti rata-rata-rata-rata Bank Umum Syariah memiliki anggota dewan komisaris sebanyak 3 sampai 4 orang.
Adapun nilai minimum dari Ukuran Dewan Komisaris adalah sebesar 3,00 dan nilai maksimum sebesar 6,00.
Variabel independen ketiga yaitu Ukuran Komite Audit, yang diukur dengan jumlah anggota komite audit yang menduduki di setiap Bank Umum Syariah menghasilkan rata-rata (mean) sebesar 3,85, ini berati rata-rata Bank Umum Syariah memiliki anggota komite audit sebanyak 3 sampai 4 orang. Adapun nilai minimum dari Ukuran Komite Audit yaitu sebesar 2,00 dan nilai maksimum sebesar 7,00.
Variabel independen keempat yaitu Profit Sharing Ratio (PSR), yang diukur dari hasil penjumlahan pembiayaan mudharabah ditambah dengan pembiayaan musyarakah kemudian dibagi dengan total pembiayaan menghasilkan rata-rata (mean) sebesar 0,50. Nilai minimum dari Profit Sharing Ratio (PSR) yaitu sebesar 0,01 dan nilai maksimum sebesar 1,00.
Sementara itu hasil penelitian untuk variabel dependen, rata-rata Bank Umum Syariah telah melakukan Pengungkapan Islamic Social Reporting pada laporan tahunannya sebesar 0,6326 atau 63,26% dari total 48 indikator yang ada. Dalam penilaian tingkat Pengungkapan Islamic Social Reporting digunakan pendekatan yang mengacu pada penelitian Munawaroh (2007) dalam Apip, dkk (2016) di mana skor Pengungkapan Islamic Social Reporting diklasifikasikan dalam empat kategori yang bisa dilihat pada Tabel 4.6 di bawah ini:
Tabel 4. 6
Predikat Tingkat Pengungkapan Islamic Social Reporting
Predikat Nilai Indeks
Sangat Informatif 81% - 100%
Informatif 66% - 80%
Kurang Informatif 51% - 65%
Tidak Informatif 0% - 50%
Sumber: Munawaroh (2007)
Berdasarkan klasifikasi predikat yang tertera dalam tabel di atas, Pengungkapan Islamic Social Reporting yang dilakukan Bank Umum Syariah masih tergolong dalam predikat kurang informatif.
Hal ini dikarenakan rata-rata Pengungkapan Islamic Social
Reporting yang dilakukan Bank Umum Syariah masih sebesar 63,26%.
Adapun nilai minimum dari variabel Islamic Social Reporting yaitu sebesar 0,35 atau 35%, yang merupakan nilai dari laporan tahunan Bank Syariah Mega Indonesia periode 2015.
Sementara itu, nilai maksimum dari variabel Islamic Social Reporting yaitu sebesar 0,83 atau 83%, yang merupakan nilai dari laporan tahunan Bank Muamalat Indonesia periode 2019.
Adanya perbedaan Pengungkapan Islamic Social Reporting yang sangat jauh tersebut disebabkan karena Pengungkapan Islamic Social Report masih bersifat sukarela dan belum menjadi suatu keharusan meskipun bank tersebut berjalan sesuai dengan prinsip syariah. Besarnya pengungkapan Islamic Social Reporting pada Bank Umum Syariah masih bergantung pada kebijakan masing-masing bank tersebut.
3. Hasil Analisis Uji Asumsi Klasik
Untuk dapat melakukan uji analisis regresi berganda, maka perlu dipenuhi beberapa syarat uji asumsi klasik terlebih dahulu.
Uji asumsi klasik yang perlu dipenuhi terdiri atas uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.
a) Uji Normalitas
Pengujian normalitas dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik non parametik Kolmogorov-Smirnov (K-S).
Metode ini dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen dan variabel dependen ataupun keduanya memiliki distribusi normal atau tidak. Jika suatu variabel tidak berdistribusi normal, maka statistik yang dihasilkan akan mengalami penurunan. Syarat ketentuan data yang memiliki distribusi normal yaitu apabila memiliki nilai signifikansi diatas 5% atau 0,05, sedangkan apabila nilai signifikansi dibawah 5% atau 0,05 maka data tersebut dinyatakan tidak berdistribusi normal. Berikut adalah data hasil Uji Kolmogorov-Smirnov (K-S) dalam penelitian ini:
Tabel 4. 7
Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov (K-S) One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 66
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation .10388861
Most Extreme Differences Absolute .076
Positive .064
Negative -.076
Test Statistic .076
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber: Hasil Olah Data, 2021
Berdasarkan Tabel 4.7 di atas dapat terlihat bahwa data penelitian sudah berdistribusi normal, yang telah dibuktikan dengan nilai Asymp. Sig sebesar 0,200. Nilai Asymp. Sig yang dihasilkan sudah memenuhi nilai signifikansi yaitu 0,05 yang menyatakan bahwa data penelitian ini sudah berdistribusi normal, sehingga dapat digunakan untuk uji selanjutnya, yaitu uji model regresi berganda.
b) Uji Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas bertujuan mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen atau variabel bebas. Untuk mengetahui apakah terindikasi multikolinearitas, dapat dilakukan dengan melihat besarnya tolerance value dan Variance Inflation Factor (VIF).
Berikut adalah hasil pengujian multikolinearitas dalam penelitian ini:
Tabel 4. 8
Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa
Model
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 DPS .645 1.550
DK .620 1.614
KA .855 1.169
PSR .914 1.094
a. Dependent Variable: ISR
Sumber: Hasil Olah Data, 2021
Pada Tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa nilai VIF dari semua pengujian variabel tidak ditemukan variabel yang memiliki nilai VIF lebih besar dari 10. Nilai VIF dari DPS sebesar 1.550; nilai VIF dari DK sebesar 1.614; nilai VIF dari KA sebesar 1.169; dan nilai VIF dari nilai VIF PSR sebesar 1.094. Sama halnya dengan hasil pengujian nilai tolerance, tidak ada satupun variabel yang memiliki nilai tolerance di bawah 0,10. Nilai tolerance dari DPS sebesar 0,645; nilai tolerance dari DK sebesar 0,620; nilai tolerance dari KA sebesar 0,855; dan nilai tolerance dari PSR sebesar 0,914.
Berdasarkan nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan tolerance value yang diuji maka dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi multikolinearitas. Dengan demikian, pengujian selanjutnya dapat dilakukan karena model
regresi telah memenuhi syarat pengujian asumsi klasik, yaitu tidak terjadi multikolinearitas.
c) Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Apabila variance dan residual dari pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut homoskedastisitas. Sedangkan jika variance dan residualnya berbeda maka disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik ialah yang tetap yaitu homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.
Dalam penelitian ini, uji Heteroskedastisitas dilakukan dengan Uji Scatterplot dan Uji glejser. Uji Heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat gambar plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi adanya heteroskedastisitas dapat dilihat apabila tidak terdapat pola yang jelas, serta titik-titik yang tersebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y.
Gambar 4. 1 Hasil Uji Scatterplot
Sumber: Hasil Olah Data, 2021
Hasil uji heteroskedastisitas model scatterplot dapat dilihat pada Gambar 4.1 di atas. Terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar, baik diatas maupun dibawah titik 0 pada sumbu Y. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas dalam persamaan regresi.
Hasil uji heteroskedastisitas dengan model scatterplot ini diperkuat dengan uji statistik yang lebih dapat menjamin keakuratan hasil pengamatan, yaitu dengan uji glejser. Uji glejser dilakukan untuk mengetahui apakah sebuah model regresi memiliki indikasi heteroskedastisitas dengan cara meregres absolut residual. Dasar pengambilan keputusan pada uji glejser yaitu apabila tingkat signifikansi menunjukkan nilai diatas 0.05.
Tabel 4. 9 Hasil Uji Glejser
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) .196 .040 4.862 .000
DPS -.013 .017 -.113 -.762 .449
DK -.013 .009 -.221 -1.465 .148
KA -.002 .006 -.048 -.375 .709
PSR -.043 .028 -.193 -1.552 .126
a. Dependent Variable: ABRESID
Sumber: Hasil Olah Data, 2021
Dari Tabel 4.9 di atas dapat dilihat bahwa semua variabel independen menunjukkan nilai signifikansi diatas 0.05. Dengan demikian, kesimpulan semakin diperkuat bahwa pada persamaan regresi ini tidak terjadi heteroskedastisitas karena sudah lolos Uji Scatterplot dan Uji Glejser.
d) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi, peneliti menggunakan Uji Durbin Watson dan Runs Test.
Ghozali (2018:120) menyatakan bahwa Runst Test sebagai bagian dari statistik non parametik dapat digunakan untuk
Runs Test digunakan dengan tingkat signifikansi 0.05. Jika antar residual tidak terdapat hubungan korelasi, maka dikatakan bahwa residual adalah acak atau random.
1. Uji Durbin Watson Tabel 4. 10
Hasil Uji Durbin Watson
Sumber: Hasil Olah Data, 2021
Hasil Uji Durbin Watson dapat dilihat pada Tabel 4.10 yaitu sebesar 1,866. Penelitian ini menggunakan 66 sampel dengan jumlah variabel independen sebanyak empat. Pada Tabel 4.11 dijelaskan mengenai hasil analisis Durbin Watson sebagai berikut:
Tabel 4. 11
Hasil Analisis Durbin Watson
Keterangan Nilai
N 66
K 4
dL (66,4) 1,476
dU (66,4) 1,732
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .605a .366 .324 .10724 1.866
a. Predictors: (Constant), PSR, DPS, KA, DK b. Dependent Variable: ISR
4 – dU 2,524
4 – dL 2,268
d – stat 1,866
Sumber: Hasil Olah Data, 2021 Keterangan:
N : Banyaknya sampel
K : Banyaknya variabel independen dL : Batas bawah tabel DW
dU : Batas atas tabel DW
Sumber: Hasil Olah Data, 2021
Gambar 4.2 menunjukkan daerah pengambilan keputusan Uji Durbin Watson. Nilai d-stat adalah 1,866 berada pada daerah tidak ada korelasi. Hal ini dikarenakan 1,866 > dU yang memiliki nilai 1,732 dan < 4 – dU yang memiliki nilai 2,524. Dengan
Korelasi Positif
Tidak
Tahu Tidak ada korelasi
Tidak Tahu
Korelasi Negatif
0 1,476 1,732 2,524 2,268 4 Gambar 4. 2
Dasar Pengambilan Keputusan Durbin Watson
demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t sebelumnya.
2. Runs Test
Tabel 4. 12 Hasil Runs Test
Sumber: Hasil Olah Data, 2021
Dari Tabel 4.12 dapat dilihat bahwa data residual dalam penelitian ini terjadi secara random, yang dibuktikan dengan nilai Asymp Sig sebesar 0,215 yang mana hasil tersebut lebih besar dari nilai signifikansi yaitu sebesar 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penelitian terjadi secara random atau tidak sistematis, maka data tidak terjadi autokorelasi. Sehingga, data ini dapat digunakan dalam pengujian model regresi berganda.
Runs Test
Unstandardized Residual
Test Valuea -.00214
Cases < Test Value 33
Cases >= Test Value 33
Total Cases 66
Number of Runs 29
Z -1.240
Asymp. Sig. (2-tailed) .215
a. Median
4. Analisis Regresi Berganda
Dalam penelitian ini terdapat empat variabel independen yaitu Ukuran Dewan Pengawas Syariah, Ukuran Dewan Komisaris, Ukuran Komite Audit, dan Profit Sharing Ratio (PSR) terhadap satu variabel dependen yaitu Pengungkapan Islamic Social Reporting. Hasil regresi linier berganda dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4. 13
Uji Regresi Linier Berganda Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) .325 .076 4.262 .000
DPS -.039 .031 -.160 -1.258 .213
DK .069 .017 .537 4.146 .000
KA .026 .012 .247 2.242 .029
PSR .062 .053 .126 1.181 .242
a. Dependent Variable: ISR
Sumber: Hasil Olah Data, 2021
Berdasarkan pada Tabel 4.13 di atas dapat diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
ISR = 0,325 – 0,039DPS + 0,069DK + 0,026KA + 0,062PSR 5. Hasil Analisis Uji Hipotesis
a) Uji Parsial (Uji-t)
Uji statistik t pada dasarnya bertujuan untuk menunjukkan
seberapa jauh signifikansi pengaruh dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Uji hipotesis ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh Ukuran Dewan Pengawas Syariah (DPS), Ukuran Dewan Komisaris (DK), Ukuran Komite Audit (KA), Profit Sharing Ratio (PSR) terhadap Pengungkapan Islamic Social Reporting secara individual. Hasil uji t dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4. 14 Uji Parsial (Uji-t)
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) .325 .076 4.262 .000
DPS -.039 .031 -.160 -1.258 .213
DK .069 .017 .537 4.146 .000
KA .026 .012 .247 2.242 .029
PSR .062 .053 .126 1.181 .242
a. Dependent Variable: ISR
Sumber: Hasil olah data, 2021
Berdasarkan pada Tabel 4.14 di atas, berikut adalah hasil pengujian parsial (sendiri) terhadap hipotesis:
1. Ukuran Dewan Pengawas Syariah (DPS) terhadap Pengungkapan Islamic Social Reporting
Variabel Ukuran Dewan Pengawas Syariah (DPS) memiliki nilai
sebesar -1,258 < 2,000. Karena < dan nilai signifikansi sebesar 0,213 > α (0,05). Dapat disimpulkan bahwa
variabel Ukuran Dewan Pengawas Syariah tidak berpengaruh terhadap Pengungkapan Islamic Social Reporting pada Bank Umum Syariah.
Dengan demikian, “Ukuran Dewan Pengawas Syariah (DPS) berpengaruh positif terhadap Pengungkapan Islamic Social Reporting”
ditolak.
Hasil penelitian ini mendukung beberapa penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa Ukuran Dewan Pengawas Syariah (DPS) tidak berpengaruh pada Pengungkapan Islamic Social Reporting.
Diantaranya adalah penelitian Pratiwi & Andriyani (2019) dan Wardani & Sari (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak berpengaruhnya Dewan Pengawas Syariah (DPS) terhadap Pengungkapan Islamic Social Reporting disebabkan karena keberadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam Bank Umum Syariah masih hanya terbatas untuk menegakkan peraturan yang mewajibkan bahwa di setiap Lembaga Keuangan Syariah (LKS) harus memiliki DPS.
Selain itu, peran Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam Bank Umum Syariah masih hanya terfokus pada tugas dan tanggungjawabnya dalam hal kegiatan operasional bank, sehingga Dewan Pengawas Syariah (DPS) belum optimal dalam melakukan pengawasannya mengenai pengungkapan tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh bank
Selain itu, peran Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam Bank Umum Syariah masih hanya terfokus pada tugas dan tanggungjawabnya dalam hal kegiatan operasional bank, sehingga Dewan Pengawas Syariah (DPS) belum optimal dalam melakukan pengawasannya mengenai pengungkapan tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh bank