• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Temuan Khusus

1. Penyebab Siswa Underachiever

Siswa underachiever, dipandang sebagai siswa yang memiliki prestasi belajar yang rendah di sekolah, karena secara potensial mereka memiliki kemungkinan untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi. Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan pra-research. Pra-research ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana upaya guru bimbingan dan konseling

dalam mengatasi siswa underachiever di MTs. Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung. Kemudian data-data yang diperoleh dari pra-research dicek dengan hasil wawancara.

Hasil wawancara di MTs. Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, dapat diketahui bahwa siswa underachiever bukan dikarenakan anak tersebut tidak mampu atau IQ-nya di bawah rata-rata, akan tetapi ada faktor-faktor yang mempengaruhi. Sebagaimana hasil wawancara dengan Ibu Krida selaku guru bimbingan dan konseling, mengatakan:

“Kebanyakan anak-anak underachiever, bukan dikarenakan dia tidak mampu atau IQ-nya di bawah rata-rata, akan tetapi karena adanya faktor lain yang mempengaruhi, yang mana faktor ini menyebabkan prestasi atau nilainya tidak sesuai, kadang siswa yang underachiever ini IQ-nya di atas rata-rata dan dia juga termasuk anak yang mampu akan tetapi prestasinya menurun. faktor yang menyebabkan siswa menjadi underachiever itu seperti siswa kecanduan kepada hp dan tidak mengulang kembali pelajaran sekolahnya dirumah, tidak adanya motivasi dari orangtua siswa juga faktor lingkungannya dan kurangnya pantauan dari orang tua siswa. Kalau sekolah ini hanya berapa persen yang di dapat siswa, sekarang semuanya kembali kepada lingkungan rumah, masyarakat, dan diri siswa itu sendiri”.34

Data yang diperoleh dari hasil wawancara menunjukkan bahwa faktor penyebab siswa underachiever di MTs Al-Jam’iyatul Wasliyah Tembung yaitu:

a) Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan ini yang menyebabkan menurunnya prestasi siswa MTs. Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, sehingga siswa tersebut menjadi underachiever, faktor tersebut yaitu:

34Wawancara dengan Ibu Krida, Guru Bimbingan dan Konseling MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, tanggal 19 Juni 2019.

1) Lingkungan Keluarga

Kondisi keluarga sangat mempengaruhi dalam proses belajar siswa, karena dengan kondisi keluarga yang tentram dan damai seorang anak dapat berkonsentrasi dalam belajarnya, akan tetapi sebaliknya kondisi rumah yang tidak mendukung, ketidak harmonisan hubungan antara ayah dan ibu atau bisa juga karena rendahnya kehidupan ekonomi keluarga dapat mengganggu konsentrasi anak dalam belajar.

Dalam hal ini peneliti juga melakukan wawancara dengan ibu Krida selaku guru bimbingan dan konseling, mengatakan:

“Ada beberapa faktor dari lingkungan keluarga yang bisa mempengaruhi siswa menjadi malas dalam belajar yaitu kondisi rumah yang tidak mendukung adalah orang tua yang tidak ada memotivasi anak untuk giat belajar, karena anak kalau tidak ada yang memperhatikannya untuk belajar, anak tersebut bisa menjadi terlena dengan kesibukannya sendiri, seperti anak itu sibuk dengan gadgetnya dan sehingga lupa untuk belajar dan menjadi kecanduan terhadap gadgetnya sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajarnya disekolah. Dan orang tua yang terlalu memanjakan anaknya juga bisa berpengaruh terhadap prestasi anak dalam belajar”.35

2) Lingkungan Sekolah

Untuk fasilitas sarana dan prasarana di MTs. Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, sudah bisa dikatakan sangat memadai dan sangat mendukung untuk proses belajar mengajar, akan tetapi semua itu tidak menjamin proses belajar bisa berjalan dengan baik, masalah belajar bisa muncul dari keadaan kelas yang terlalu ramai, sehingga siswa

35Wawancara dengan Ibu Krida, Guru Bimbingan dan Konseling MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, Tanggal 19 Juni 2019.

tidak bisa berkonsentrasi dalam menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan siswa underachiever di MTs. Al-Jam’iyatul Wahliyah Tembung, peneliti juga mewawancarai siswa kelas tujuh untuk memperkuat data yang diperoleh, pengkhususan ini karena penelitian beralasan bahwa kelas tujuh adalah masa siswa-siswi dimana kenakalannya mulai tampak, susah diatur, malas belajar dan hanya mencari kesenangan dengan temannya. Dalam hal ini peneliti mengambil kelas VII sebagai informan, yang mana menurut guru Bimbingan dan Konseling, kelas tersebut ada sebagian siswa yang mengalami underachiever.

Hasil jawaban siswa siswi kelas VII, yang menyebabkan siswa

underachiever mereka alami dikarenakan lingkungan yang

mempengaruhi mereka, baik itu lingkungan sekolah, masyarakat tempat siswa itu tinggal, bahkan ada yang dikarenakan keluarganya, kondisi rumahnya yang kurang mendukung, akan tetapi itu hanya sebagian kecil. Kalau dari lingkungan sekolah, biasanya kelas terlalu berisik sehingga mereka kurang konsentrasi dalam menerima pelajaran di kelas, metode yang digunakan guru dalam mata pelajaran tertentu kurang menyenangkan, karena itu untuk menghindari mata pelajaran tersebut mereka tidak masuk kelas.

b) Faktor Diri Sendiri

MTs. Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, faktor yang muncul dari dalam diri siswa itu ada berbagai macam, diantaranya tidak dapat

berkonsentrasi dalam menerima pelajaran, kurang bisa memahami dalam berberapa mata pelajaran.

Dalam hal ini sebagaimana ungkapan dari siswa kelas VII yang mengatakan bahwa:

“Yang menyebabkan prestasi menjadi rendah karena tidak bisa konsentrasi di dalam menerima pelajaran atau materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini dikarenakan keadaan kelas yang berisik, sehingga siswa sulit untuk memahami pelajaran yang disampaikan guru mata pelajaran, dalam hal ini bukan karena lingkungan yang mempengaruhi akan tetapi murni karena faktor yang ada di dalam diri anak tersebut, seperti kurangnya rasa percaya diri dalam menghadapi situasi yang ada atau karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki”.36

Hal ini juga diperkuat dengan ungkapan Ibu Krida selaku Guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan:

“Siswa yang underachiever ini IQ-nya di atas rata-rata dan dia juga termasuk anak yang mampu akan tetapi prestasinya menurun. Hal ini, dipengaruhi faktor-faktor yang ada disekitar atau di dalam dirinya sendiri, kadang siswa merasa percaya dirinya hilang, tidak siap menghadapi permasalahan dan juga keadaanya, sehingga mentalnya itu tidak siap menghadapi sesuatu yang baru, jadi secara tes psikologi hasilnya bagus, tetapi ketika menghadapi permasalahan dia tidak kuat.”37

2. Upaya Guru BK dalam Mengatasi Siswa Underachiever

Adapun yang dimaksud dengan upaya guru Bimbingan dan Konseling dalam mengatasi siswa underachiever adalah usaha-usaha yang dilakukan guru Bimbingan dan Konseling dalam membantu siswa untuk menyelesaikan masalah belajarnya, sehingga siswa bisa memperbaiki prestasinya. Upaya tersebut adalah dengan memberikan bimbingan dan pengarahan kepada siswa sesuai dengan faktor apa yang melatarbelakangi siswa tersebut menjadi underachiever.

36

Wawancara dengan Siswa Kelas VII MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, yang berinisial N.R, tanggal 20 Juni 2019.

37Wawancara dengan Ibu Krida, Guru Bimbingan dan Konseling MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, Tanggal 19 Juni 2019.

Secara umum, upaya Bimbingan dan Konseling dalam mengatasi siswa underachiever tidak jauh beda dengan upaya yang dilakukan terhadap siswa yang mempunyai masalah lain, yang membedakan adalah pada proses pendekatannya. Adapun tahap-tahap tersebut adalah:

1) Mencari Data Siswa-Siswi

Pencarian data dimaksudkan untuk mengetahui siswa-siswi yang mengalami underachiever, sehingga guru Bimbingan dan Konseling bisa mengetahui faktor-faktor penyebabnya. Guru Bimbingan dan Konseling dapat menentukan bagaimana membantu permasalahan siswa.

Untuk mengetahui data-data siswa, guru Bimbingan dan Konseling melihat dari:

a. Absensi. b. Daftar nilai.

c. Data-data dari wali kelas atau guru.

Sebagaimana hasil wawancara dengan Ibu Krida selaku guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan:

“Untuk mengetahui siswa yang bermasalah kita melihat dari absensi, prestasi belajar, catatan dari wali kelas, kemudian baru dipanggil ke ruang BK.”38

38

2) Siswa Dipanggil Ke Ruang BK

Setelah mengetahui siswa-siswi yang mengalami underachiever, kemudian guru Bimbingan dan Konseling memanggil siswa tersebut ke ruang guru, dalam hal ini guru Bimbingan dan Konseling tidak menanyakan langsung kepada siswa tentang permasalahan yang dialaminya, guru Bimbingan dan Konseling hanya mengajak siswa tersebut ngobrol.

Dalam hal ini, peneliti melakukan wawancara dengan Ibu Krida selaku guru bimbingan dan konseling, mengatakan:

“Kalau misalnya ada siswa yang bermasalah, kita panggil siswa tersebut secara individu keruang bk. Akan tetapi tidak kita korek atau kita tanya permasalahannya apa, tetapi kita ajak ngobrol supaya siswa menceritakan sendiri permasalahannya. Setelah siswa menceritakan permasalahannya, kemudian diberikan arahan, motivasi dibimbing dan ditanya malas dalam belajarnya itu letaknya dimana dan dalam pelajaran apa, dan kalaupun siswa tersebut tidak mau mendengarkan bimbingan dan arahan dari guru bk maka kita kembalikan kepada orangtua siswa karena keluarga adalah termasuk faktor penentu dalam proses belajar”.39

Untuk mengetahui permasalahan siswa underachiever ini, guru Bimbingan dan Konseling melakukan pendekatan dengan siswa tersebut, dalam pendekatan ini, guru Bimbingan dan Konseling menyesuaikan dengan faktor penyebabnya. Di bawah ini akan dijelaskan upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi siswa underachiever, dalam hal ini guru bimbingan dan konseling melakukan pendekatan sesuai dengan faktor penyebabnya. Di bawah ini akan dijelaskan upaya guru Bimbingan dan Konseling dalam mengatasi siswa underachiever:

39Wawancara dengan Ibu Krida, Guru Bimbingan dan Konseling MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, Juni 2019.

1) Upaya yang dilakukan untuk Faktor Yang Muncul dari Lingkungan Keluarga

Masalah keluarga merupakan masalah yang sangat sensitif untuk dibicarakan. Dalam hal ini guru Bimbingan dan Konseling harus hati-hati. Sebagaimana yang telah diungkapkan Ibu Krida selaku guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan:

“Kalau masalah tersebut dari keluarga, kita harus hati-hati karena masalah keluarga adalah masalah yang sensitif jadi jangan sampai salah bicara, misalnya keluarga yang broken home, mereka yang seperti itu kita tanamkan kepada mereka prinsip hidup yang kokoh sehingga mereka bisa menerima keadaan, kalau kita biarkan terus maka masalah tersebut tidak akan selesai, karena siswa tersebut belum waktunya berpikir seperti itu dan kalau dibiarkan seperti itu maka ada pengaruhnya terhadap prestasi sekolah. Maka kita ajari atau kita tanamkan untuk menerima keadaan tersebut dan kita cari solusinya yaitu tanamkan aqidah atau agama yang kuat terhadap siswa tersebut, karena dasar agama dalam kehidupan itu penting, dan kita beri motivasi supaya kita bisa memicu meningkatkan prestasinya dan akhirnya untuk dia sendiri”.40

2) Upaya yang dilakukan Untuk Faktor yang Muncul dari Lingkungan Sekolah

Kebanyakan siswa MTs. Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung menjadi underachiever, bukan karena fasilitas sekolah yang kurang akan tetapi keadaan lingkungan sekolah yang mempengaruhi, faktor ini muncul dari keadaan di dalam kelas, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya suasana kelas yang berisik, metode yang digunakan guru kurang menyenangkan, hal-hal seperti itulah yang menjadi penyebab siswa underachiever.

Untuk mengatasi permasalahan yang muncul dari guru bidang studi, maka guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan guru

40Wawancara dengan Ibu Krida, Guru Bimbingan dan Konseling MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, Juni 2019.

bidang studi tertentu, agar guru tersebut merubah metode pengajaran di kelas, yakni metode yang dapat diterima oleh siswa, sehingga siswa merasa nyaman di kelas dan belajar bisa tenang. Guru Bimbingan dan Konseling juga mengarahkan siswa untuk mengikuti ekstrakulikuler bidang studi yang ada di MTs. Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung.

Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dengan Ibu Krida selaku guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan:

“Terkadang masalah ini timbul karena metode belajar di kelas. Dalam hal ini guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan guru bidang studi dalam mengatasi siswa yang berprestasi rendah, kalau dari wali kelas atau guru kelas, anak-anak diberikan latihan-latihan, kadang-kadang anak itu minat belajarnya kurang. Oleh karena itu kita mengorek keterangan, mengapa anak tersebut minat belajarnya kurang pada bidang studi tertentu. Biasanya jawaban dari mereka adalah gurunya, cara menjelaskannya kurang enak, dari situ kita bisa memberikan masukan kepada guru yang bersangkutan sehingga cara atau metode mengajarnya harus dirubah, dan mengarahkan siswa untuk mengikuti ekstrakulikuler bidang studi tertentu yang ada di sekolah”.41

Mengenai masalah ini, peneliti juga melakukan wawancara dengan Bapak Amri Nasution selaku Wakil Kepala Sekolah, mengatakan: “Selain memberi bimbingan kepada anak, guru Bimbingan dan Konseling juga membekali anak-anak dengan menanamkan dasar agama, dan juga memberikan wawasan kepada anak supaya dia berpikir mandiri dan menyelesaikan permasalahannya sendiri secara dewasa, dan kebijakan untuk siswa, yang dimaksud disini adalah memberikan kebijakan kepada siswa yang prestasinya menurun karena faktor keluarga, terkadang ada siswa yang latar belakangnya dari keluarga yang tidak mampu sehingga dapat juga mempengaruhi semangatnya dalam belajar.”42

41Ibid, Juni 2019.

42Wawancara dengan Bapak Amri Nasution, Wakil Kepala Sekolah MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, 03 Juli 219.

3) Upaya yang dilakukan untuk Faktor yang Muncul dari Lingkungan Masyarakat

Dalam hal ini guru Bimbingan dan Konseling tidak bisa memfokuskan penyelesaiannya pada satu objek tertentu dari masyarakat tempat siswa tinggal, karena faktor lingkungan yang banyak mempengaruhi adalah teman bermain.

Upaya yang dilakukan guru Bimbingan dan Konseling dalam mengatasi siswa underachiever sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan Ibu Krida selaku guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan: “Anak-anak yang underachiever biasanya diberi bimbingan, membuka suatu wawasan menyadarkan mereka memberi suatu prinsip yang ada dipikiran mereka sesuai dengan keinginan yang benar-benar mereka butuhkan, sekarang memang belum terasa tetapi suatu saat atau kalau mereka sudah keluar dari MTs mereka akan terasa, prinsip-prinsip tersebut kita masukkan ke dalam pikirannya supaya mereka sadar. Jadi mencari suatu penyelesaian sendiri dengan memberikan pandangan-pandangan keluar kepada siswa, biar anak bisa berpikir, kami memberi kepercayaan penuh kepada anak untuk berpikir secara mandiri, jadi yang kami berikan hanya membuka wawasan mereka”.43

4) Upaya yang dilakukan untuk Faktor yang Muncul dari dalam Diri Siswa

Faktor ini muncul bukan karena dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar siswa tersebut, akan tetapi muncul dari dalam diri siswa itu sendiri yang menyebabkan prestasinya menurun atau underachiever.

Untuk mengatasi masalah yang timbul dari dalam diri siswa sendiri, guru Bimbingan dan Konseling melakukan pendekatan dan mengarahkannya serta memberikan motivasi agar anak tersebut mempunyai semangat kembali untuk belajar. Karena nilai atau angka

43Wawancara dengan Ibu Krida, Guru Bimbingan dan Konseling MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, Juni 2019.

tidak bisa menjadi patokan kemampuan seorang siswa, setelah mengetahui prestasi siswa-siswi yang rendah, guru Biombingan dan Konseling tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa siswa tersebut tidak mampu, akan tetapi prestasi siswa menurun dikarenakan faktor-faktor tertentu seperti yang dijelaskan pada pemaparan sebelumnya.

Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dengan Ibu Krida selaku Guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan:

“Siswa yang tergolong underachiever ini bukanlah termasuk kategori yang IQ-nya rendah, akan tetapi prestasi yang ia peroleh di bawah rata-rata atau rendah. Dalam hal ini guru tidak harus beranggapan bahwa siswa tersebut tidak mampu. Karena nilai atau angka tidak bisa jadi patokan atas kemampuan seorang anak, bisa jadi siswa tersebut dipengaruhi oleh faktor lain”.44

Dalam mengatasi permasalahan yang muncul dari dalam diri siswa, perlu pendekatan yang lebih dalam untuk mengetahui karakteristik anak tersebut, karena karakteristik anak yang satu dengan yang lain itu berbeda. Sebagai guru Bimbingan dan Konseling, hal ini harus diperhatikan dengan seksama agar pelaksanaan bimbingan dapat berjalan maksimal adalah:

a. Memberikan Surat Peryataan Kepada Siswa

Surat pernyataan ini diberikan kepada siswa yang masih tetap melakukan pelanggaran, seperti meninggalkan kelas pada jam pelajaran. Untuk menghindari mata pelajaran tertentu. Setelah siswa dipanggil, diberi pengarahan tapi siswa tersebut masih tetap tidak berubah, maka guru Bimbingan dan Konseling memberikan surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh siswa yang bermasalah

tersebut. Dengan adanya surat peringatan tersebut, siswa diharapkan dapat berubah lebih baik, karena kalau tetap tidak berubah dia harus siap menerima konsekuensi apapun yang akan diberikan guru Bimbingan dan Konseling kepadanya.

b. Panggilan Orang Tua

Panggilan kepada orang tua siswa yang bermasalah ini, sebagai salah satu upaya yang dilakukan guru Bimbingan dan Konseling. Karena kebanyakan siswa yang bermasalah, justru di rumah dia baik-baik saja sehingga orang tua menganggap anaknya tidak ada masalah.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibu Krida selaku guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan:

“Sebagai guru Bimbingan dan Konseling kita selalu memberikan informasi sedikit apapun, seburuk apapun, minimal lewat telpon. Setelah lewat tepon tidak mampu, maka kita mendatangkan orang tua, kalau ingin lebih jelasnya maka orang tua kami mohon untuk menemui guru Bimbingan dan Konseling”.

Panggilan orang tua ini, agar orang tua mengetahui keadaan anaknya di sekolah, jadi selain guru Bimbingan dan Konseling yang memantau, orang tua juga bisa memantau anaknya, sehingga ada kordinasi antara orang tua dengan guru Bimbingan dan Konseling.

Hal ini juga diperkuat dengan ungkapan siswa MTs Al- Jam’iyatul Washliyah Tembung yang berinisial S.A, mengatakan:

“Iya bu, memang disekolah ini kalau ada siswa yang mengalami permasalahan, guru bk memberikan informasi sama orangtua siswa atau memberikan SPO kepada siswa yang bermasalah agar orangtua siswa yang bermasalah mau hadir kesekolah untuk menemui guru bk nya.”45

45Wawancara dengan siswa MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, berinisial S.A, Tanggal 03 Juli 2019.

c. Melakukan Layanan Orientasi

Dalam mengatasi siswa underachiever guru Bimbingan dan Konseling memberikan layanan orientasi kepada siswa yang underachiever agar siswa terlebih dahulu dapat memahami tentang bimbingan dan konseling sebagai pemahaman dan untuk beradaptasi.

Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dengan Ibu Krida selaku Guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan:

“Selaku guru Bimbingan dan Konseling, untuk mengatasi siswa underachiever terlebih dahulu saya memberikan layanan orientasi kepada siswa agar siswa mengetahui apa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling tersebut dan siswa dapat beradaptasi, saya juga menjelaskan kepada siswa mengenai hal yang di maksud dengan siswa underachiever tersebut.”

d. Melalukan Layanan Bimbingan Kelompok

Dalam mengatasi siswa underachiever guru Bimbingan dan Konseling melakukan layanan bimbingan kelompok kepada siswa yang underachiever agar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya disekolah dengan memberikan semangat belajar, memotivasi, juga memberikan arahan kepada siswa.

Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dengan Ibu Krida selaku Guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan:

“Selaku guru Bimbingan dan Konseling, saya melakukan layanan bimbingan kelompok untuk mengatasi siswa underachiever. Saya memanggil siswa underachiever keruang BK dan mengumpulkan siswa underachiever untuk melakukan layanan bimbingan kelompok dengan memberikan materi tentang semangat untuk mengikuti proses belajar mengajar, dari sini saya memberikan motivasi dan semangat kepada siswa yang berprestasi rendah

untuk meningkatkan hasil belajarnya juga memberikan arahan untuk siswa”.46

Hal ini juga diperkuat dengan ungkapan siswa MTs Al- Jam’iyatul Washliyah Tembung yang berinisial R.D, mengatakan: “Ada bu, kami dipanggil keruang BK, setelah diruang BK, ibu guru BK nya ngajak kami untuk melakukan layanan bimbingan kelompok, kami disuruh kumpul dan disitu kami di beri arahan sama guru BK dan dinasehati bu, supaya rajin belajar agar mendapatkan hasil prestasi yang tinggi. Tapi itu dilakukan tidak rutin bu.47

Dalam hal ini peneliti juga melakukan wawancara dengan siswa MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung yang berinisial S.A, mengatakan:

“Iya bu, guru bimbingan dan konseling pernah melakukan layanan bimbingan kelompok dengan memberikan nasehat dan motivasi kepada siswa, juga membahas tentang meningkatkan semangat belajar siswa bu. Kata guru BK agar siswa dapat meningkatkan hasil prestasi belajar siswa bu. Ya walaupun layanan bimbingan kelompok itu tidak dilakukan secara rutin bu.”48

Dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok ini guru Bimbingan dan Konseling juga melibatkan wali kelas, guru Bimbingan dan Konseling sebagai pimpinan kelompok, dan bekerjasama kepada kordinator BK, dan siswa.

Sebagaimana hasil wawancara dengan Ibu Krida selaku guru Bimbingan dan Konseling, mengatakan:

“Dalam melakukan bimbingan kelompok ini yang dilibatkan ya terutama wali kelas, guru BK sebagai pimpinan kelompok, dan bekerjasama kepada kordinator BK karena kami sebagai guru

46

Wawancara dengan Ibu Krida, Guru Bimbingan dan Konseling MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, Tanggal 17 Juni 2019.

47Wawancara dengan siswa MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, berinisial R.D, Tanggal 04 Juli 2019.

48

Wawancara dengan siswa MTs Al-Jam’iyatul Washliyah Tembung, berinisial S.A, Tanggal 03 Juli 2019.

Bimbingan dan Konseling harus konsultasi terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan bimbingan dan menjelaskan apa program yang akan dilakukan guru BK, dan juga melibatkan siswa yang mengalami permasalahan”.49

Dokumen terkait