BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
C. Temuan Penelitian
1. Motivasi Beribadah pada Jamaah IPKA Salatiga
Hakikat dari motivasi beribadah adalah suatu penyebab seseorang melakukan perintah Allah SWT melalui lisan para Rasul-Nya. Penyebabnya adalah rasa semangat, cinta, dan gairah untuk melakukan suatu prasarana peribadahan. Di era sekarang ini sangat diperlukan yang namanya motivasi beribadah, karena banyak sekali orang islam namun
masih malas dan berleha-leha dalam hal beribadah. Lain halnya pada jamaah IPKA semangat beribadah ini sungguh di perlukan di massa tua mereka, memaknai motivasi beribadah seperti ini diungkapkan oleh MJ. (1) “Setiap kelompok dari individu-individu dapat saling tukar pengalaman, saling mengisinsecara musawarah, saling memberi, sehingga dapat menimbulkan semangat cita-cita untuk beribadah yang lebih sempurna dan benar menurut syariat”.(Wawancara 28 Juli 2016, pukul 08.30 WIB).
Dilanjutkan oleh TW yang menyatakan.
(2) “Motivasi ibadah adalah menyembah Allah SWT”(Wawancara 10 Agustus 2016, pukul 14.15 WIB).
Sedangkan menurut UF adalah.
(3) “menyembah Allah itu adalah motivasi yang nomer satu dalam hidup, dengan itu bisa buat pesangon kita sehabis mati nanti”(Wawancara 11 Agustus 2016, 15.00).
Dari beberapapenyampaian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi beribadah merupakan hal pokok atau tujuan dari setiap jamaah IPKA yang sangat melekat di hati mereka, karena itulah yang diharapkan oleh agama, semua bentuk ibadah harus berdasarkan dorongan suci karena Allah semata, ikhlas (Hasan, 2000:58).
2. Perilaku Sosial pada Jamaah IPKA Salatiga
Perilakusosial yang ada pada jamaah IPKA adalah sebagai tolak ukur bagaimana menghadapi perilaku-perilaku dari tetangga sekitar, masyarakat sekitar, dan lebih lagi kepada keluarga mereka sendiri. Sehingga ada
beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku sosial pada jamaah IPKA ini supaya berhasil, diantaranya :
a. Sopan santun tetangga
Para jamaah IPKA kota Salatiga juga menerapkan rukun tetangga dan bahkan saling tolong menolong dalam urusan dunia ataupun urusan agama.
Ahmad Mustafa Al-Maragi menambahkan dalam tafsir Al- Maragi menafsirkan QS. An-Nisa: 36 sebagai berikut: bahwa tetangga adalah satu macam dari kau kerabat, karena dekatnya tempat. Terkadan, orang lebih cinta kepada tetangga dekatnya dari pada kepada saudaranya seketurunan. Oleh karena itu, hendaknya dua keluarga bertetangga saling tolong-menolong, membina kasih sayang dan kebaikan antar mereka(Al Maragi, 1992:66).
b. Menciptakan lingkungan yang bersih, rapi, dan indah
Dalam memaknai perilaku sosial berikutnya adalah menciptakan lingkungan sekitar rumah yang bersih, rapi, dan indah untuk orang lain yang numpang lewat di depan rumah para jamaah IPKA Salatiga. Oleh sebab itu, kebersiahan lingkungan diciptakan untuk suasana nyaman bagi diri sendiri dan orang lain.
Tentu saja lingkunga yang dalam kondisi bersih serta sehat akan membuat para penghuninya dan para pejalan kaki nyaman, sehingga kesehatan tubuh terjaga dengan baik. Alasan itulah yang
mengarah pada jamaah IPKA untuk menjaga lingkungan mereka masing-masing.
c. Mengayomi keluarga dengan cinta dan kasih sayang
Penguatan cinta dan kasih sayang di dalam keluarga merupakan faktor pembangu motivasi sosial di luar rumah, jika di dalam rumah terjalin keharmonisan maka di luar rumah akan ikut harmonis namun jika di dalam rumah saja sudah kacau maka di luar rumahpun akan ikut kacau. Dengan demikian itu menjadi alasan jamaah IPKA untuk selalu mengayomi keluarga terlebih dahulu dari pada hal yang lain.
3. Faktor Penghambat dan Pendorong Motivasi Beribadah pada Jamaah IPKA Salatiga
Tak semua yang dilakukan semudah seperti perkiraan rencana untuk melakukan ibadah oleh jamaah IPKA Salatiga yang rata-rata sudah berusia lanjut. Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam melaksanakan ibadah tersebut, diantaranya:
a. Faktor internal
Faktor internal ini biasanya kecapekan yang dialami jamaah IPKA yang sudah lanjut usia, sebagaiman yang diungkapkan oleh TW. (1) “faktornya adalah apabila badan capek dan kurang sehat, tidak bisa melakukan ibadah sunnah sebanyak hari biasa.(10 Agustus 2016, pukul14.45 WIB).
Ditambah oleh UM.
(2) “Faktor penghambat dalam beribadah sehari-hari yaitu apabila kondisi badan sedang tidak sehat, karena hal tersebut mengganggu sekali untuk melaksanakan ibadah”(11 Agustus 2016, pukul 15.05 WIB).
TH juga berpendapat tentang faktor penghambat motivasi beribadah: (3) “karena kurangnya mental keagamaan sehingga masih sibuk mengejar kepentingan dunianya”.(27 Agustus 2016, pukul 11.00 WIB) UF, juga berpendapat tentang hal-hal yang menjadi faktor penghambat Pada jamaah IPKA, yakni iklim, dikarenakan tidak seluruh anggota jamaah IPKA memiliki mobil sehingga tatkala musim hujan tiba maka banyak anggota IPKA yang tidak bisa aktif manghadiri pertemuan anjangsana ke rumah teman jamaah yang sedang mendapat jatah ketempatan; terlebih lagi apabila lokasi yang ditempati diwilayah kumpulrejo. Hal demikian itu terasa sangat menghambat dan menjadi penghalang motivasi beribadah jamaah IPKA.
Jelas bahwa kendala yang dia alami oleh jamaah IPKA Salatiga dalam hal internal hampir sama semua,adapun kendala itu ada pada diri individu itu sendiri.
MS, dari Grogol Dukuh, Sidomukti, Salatiga juga mendiskripsikan. “Bagaimana seluruh anggota IPKA bisa terdorong aktif mangaji, sementara tiap-tiap akhir bulan kebutuhan finansial para pensiunan sudah habis? Jadi dana juga hal nyata yang ikut menghambat motivasi beribadah pada jamaah. Hanya sekilas 38% jamaah yang dapat dengan tepat membagi penghasilan (pensiunan) sesuai dengan proporsi skala prioritas, dan ternyata dengan minimnya dana, paling kuat menjadi faktor
penghambat motivasi ibadah jamaah IPKA
Salatiga.(wawancara, 30 Agustus 2016, 16:38)
SG, juga menambahkan tentang faktor penghambat internal yaitu:
Pengurus harian kurang gesit atau kurang cekatan
menyampaikan informasi-informasi keseluruh jamaah IPKA. Bonomento juga sering tertinggal informasi-informasi aktual dan faktual.
RN menegaskan, hal yang ikut menghambat:
Pertama, kesehatan yang menurun, kedua, banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, ketiga, adanya tamu yang datang tidak sesuai waktu mertamu.
MJ menegaskan faktor penghambat motivasi beribadah jamaah IPKA Salatiga adalah:
Latar belakang pribadi-pribadi yang berbeda-beda seperti kondisi fisik, umur, ekonomi,pengetahuan, dan kondisi yang mayoritas lanjut usia, kesemua hal tersebut menjadi faktor penghambat motivasi beribadah jamaah IPKA Salatiga.
NS menegaskan, faktor penghambat motivasi beribadah yaitu:
Satu, ketidakmampuan membagi waktu, dua, tidak optimis dan tiga, kemampuan berkomunikasi rendah.
b. Faktor ekternal
Untuk faktor eksternal yang menjadi kendala jamaah IPKA, adalah jarak yang jauh untuk pergi mengaji.
Seperti yang dikemukakan oleh MJ, bahwa:
(1) “Dari latar belakang pribadi-pribadi yang berbeda sehingga kondisi fisik, umur, ekonomi,dan pengetahuan sangat mempengaruhi ibadah. ”(28 Juli 2016).
Dalam hal ini jamaah lain juga mengemukakan faktor penghambat dari motivasi beribadah mereka. Seperti yang dikemukakan oleh TW. (2) Hal-hal yang menghambat motivasi beribadah anggota IPKA Salatiga yaitu kesibukan merawat cucu dan modal berupa pemahaman nilai-nilai ajaran agama yang hanya pas-pasan bahkan sedikit agak rendah bila dibanding pengetahuan yang dipunyai kawan-kawannya, hal ini sering menjadi penghambat eksternal(10 Agustus 2016).
Dari pengalaman ke dua jamaah di atas jelas bahwa motivasi itu sebenarnya masih dibarengi dengan masalah-masalah yang muncul, namun setelah melakukan wawancara yang mendalam kepada para jamaah jawaban mereka akan faktor penghambat ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan motivasi mereka menyembah Allah secara giat dan sempurna di setiap harinya. Selain itu jamaah IPKA juga terjalin perilaku sosial dengan keluarga. Perilaku sosial itu ada tiga yaitu:
1. Perilaku Diri Sendiri
Perilaku diri sendiri yaitu mempunyai akhlak terpuji yang diterapkan kepada orang yang lebih tua maupun yang lebih muda, dengan akhlak terpuji maka orang lainpun akan merasa terhormati dan motivasi berbuat baik pun dari orang lain akan muncul. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah adalah Rasul yang mempunyai sifat Ustwatun khasanah atau suri tauladan yang baik. Dalam Al-qur’an juga dijelaskan tentang hal tersebut, yaitu Qs. Al Ahzab ayat 21:
0#
! (
*!
1
$
$ %$
&
0#
%
2
%&3
%
!$'
4/
21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Ayat di atas merupakan contoh perilaku sosial pada diri sendiri dengan menjadi suri tauladan yang baik dalam suatu perkumpulan. Banyak dari golongan jamaah IPKA sudah menerapkan hal ini
dikehidupan sehari-hari, mulai dari merawat cucu, menerima tamu dengan menjamunya, dan menjalankan ibadah sunnah.
2. Perilaku Sosial pada Keluarga
Perilaku sosial pada keluarga adalah perilaku yang pertama kali harus dibangun di dalam rumah, mendidik istri, mendidik anak, mendidik cucu dan mendidik keluarga yang lainnya. Hal ini terbentuk dengan jelas ketika besuk anak atau cucu sudah beranjak dewasa barulah akan terlihat perilaku sosialnya dari pendidikan selama ini di dalam keluarga tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa jamaah IPKA Salatiga bahwa perilaku sosial di dalam keluarga diajarkan kepada anak dan cucu secara terus menerus, semua perhatian kepada dan cucu banyak diketahui oleh para jamaah baik itu dari ksehatan mental maupun dari kesehatan fisik. Para jamaah IPKA sadar akan pendidikan keluarganya masing-masing sehingga anak cucu mereka menjadi generasi penerus yang berakhlak dan berpendidikan. Dari itulah peneliti memasukkan penemuan ini sebagai salah satu perilaku sosial.
Semakin banyaknya keluarga di luar sana yang mengalami banyak kehancuran dari anak dan cucu mereka diakibatkan karena pemberian pendidikan sosial yang salah atau sembarangan oleh ayah atau kakek mereka. Jamaah IPKA tidak mau hal itu terjadi pada keluarga mereka, dengan memberikan pendidikan yang layak jamaah IPKA ingin menjadikan anak keturunnya lebih baik.
3. Perilaku Sosial pada Lingkungan
Perilaku sosial pada lingkungan adalah perilaku yang banyak dipengaruhi dari lingkungan luar. Perilaku sebagai tingkat kecenderungan yang bersifat positif atau negatif berhubungan dengan objek psikologi. Objek psikologi disinimeliputi, simbol, kata-kata, orang, lembaga dan ide-ide. Penerapan pada jamaah IPKA pada lingkungan adalah ikut berbaur dengan masyarakat, bergotong royong, menjenguk tetangga yang sakit, dan ikut berorganisasi dengan lingkungan sekitar.
Penerapan yang sudah dilakukan oleh jamaah IPKA disambut baik oleh masyarakat dan disambut baik pula oleh jamaah yang lainnya.
Komunitas jamaah IPKA memiliki beberapa faktor pendorong, diantaranya:
a. Meningkatkan Amalan Ibadah
Setiap seorang muslim dihadapkan pada sekian banyak amalan yang ingin ia kerjakan semuanya, namun terkadang kesempatan, waktu dan fisik tidak memungkinkannya untuk menuntaskan segala amalan sholeh yang diinginkan.Apalagi kondisi sudah berkeluarga,mempunyai anak, dan mempuyai cucu.
Kondisi yang demikian, dipandang perlu agar seorang muslim mengetahui beberapa kaidah dalam beramal sholeh untuk memudahkan dirinya, seperti yang diungkapkan oleh TH.
“Meningkatkan amalah-amalan ibadah adalah kewajiban seorang hamba yang nantinya berguna untuk dunia dan akhirat”(Wawancara 27 Agustus 2016, pukul 11.00 WIB).
Pernyataan TH ini menunjukkan bahwa amalan-amalan ibadah haruslah selalu ditingkatkan untuk nanti bekal di kehidupan selanjutnya. Disamping itu, juga tingkatan mengikuti Rasulullah saw dalam beribadah.
b. Selalu Ingat Kepada Kematian
Semua yang hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Kematian akan menyapa siapa saja, baik ia orang sholeh atau durhaka, seorang yang turun kemedan perang ataupun yang duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang semangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan.
c. Banyak Mengkaji Kajian Al-Qur’an
Berdasarkan hasil wawancara dengan SP, mengatakan:
Anggota jamaah IPKA tekun membaca dan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an untuk meningkatkan amal shaleh dan nilai ibadah.
Sedangkan TW berkata:
Mengkaji Al-Qur’an dapat mendatangkan hikmah dan ilmu yang selalu bertambah.
Berdasarkan realitas jamaah IPKA Salatiga sebagian besar hanyalah membaca teks mushaf Al-Qur’an, dan hanya sebagian kecil yang membaca sekaligus mengkaji isi-isi dan kandungan ayat Al- Qur’an. Akan tetapi baik jamaah yang hanya sebatas membaca saja, maupun jamaah yang membaca sekaligus mengkaji namun kesemuanya dalam kehidupan sehari-hari tampak bekas-bekas Qur’ani dalam pribadi jamaah IPKA Salatiga.
Selanjutnya dalam kehidupan bermasyarakat, anggota jamaah IPKA Salatiga mencerminkan perilaku sosial dan akhlak yang Qur’ani, memandang saudara-saudara dan lingkungan sekitarnya sebagai ladang ibadah. Pembiasaan membaca dan mengkaji Al-Qur’an terkandung secara khusus modal pendidikan yang layak diteladani.
Jamaah IPKA Salatiga sebagai umat muslim yang sejati wajiblah memperdalam kajian Al-Qur’an secara sungguh-sungguh dan benar. Perbanyak membaca dan mengkaji kitab Al-Qur’an akan menerangi jalan hidup di dunia, adapun pahala orang yang membaca Al-Qur’an itu berbeda-beda.
d. Bersilaturrohmi
Silaturrohmi merupakan salah satu cara untuk berhubungan dengan orang lain untuk menciptakan kondisi yang lebih baik dan menciptkan segala keberhasilan yang dilakukan dalam kegiatan sosial. Kebanyakan orang yang melakukan silaturohmi itu akan mendapat
banyak riski dan memperpanjang umur, sebab mereka selalu berdoa dengan lebih baik.
Berdasarkan wawancara, dalam jamaah IPKA Salatiga terangkum pendapat:
GZ, mengatakan:
Jamaah IPKA Salatiga gemar bersilaturrohmi terutama kepada sesama anggota jamaah, dengan keyakinan akan dapat menambah pertemanan semakin akrab.
UF, menyatakan:
Silaturrohmi akan menambah Iman.
Realitas dalam jamaah IPKA Salatiga anggota-anggotanya gemar melakukan silaturrohmiyang dapat menambah jalinan keakraban antar sesama anggota jamaah IPKA. Bahkan kebiasaan bagus tersebut dapat menjadi anutan jamaah lain bahkan sangat menginspirasi kaum muda yang masih punya kekuatan fisik untuk bersilatirrohmi.
e. Menambah Wawasan
Pada setiap pertemuan jamaah IPKA ada kegiatan yang namanya sharing tentang ilmu agama. Sharing ilmu agama ini yaitu berupa tafsir ayat dan membahas tentang hukum Islam.
4. Solusi Mengatasi Faktor-Faktor Penghambat Motivasi Beribadah Pada Jamaah IPKA Salatiga
Adapun solusi-solusi yang ditawarkan untuk mengatasi beberapa kendala di atas, menurut UM.
(1) “Untuk mengatasi penghambat dalam motivasi beribadah seperti badan kurang enak yaitu dengan melakukan ibadah dengan perasaan gembira.demikian cara yang paling ampuh agar ibadah tetap terlaksana”(11 Agustus 2016, pukul 15.05 WIB).
Kemudian dilanjutkan menurut MJ adalah:
(2) “Kalau setiap dari kita ada yang sakit, capek, atau yang lain maka berniat baik sajalah terhadap kendala itu. Karena setiap niat yang baik itupun sudah merupakan ibadah.”(28 Juli 2016, pukul 08.40 WIB).
Ditambahkan oleh TW.
(3) “Kemalasan beribadah itu haruslah dilawan dengan niat yang sungguh-sungguh bahkan tidak boleh malas karena ini perkara ibadah, selain itu kita benar-benar harus meluangkan waktu untuk beribadah itu secara khusus”(10 Agustus 2016, pukul 14.30 WIB).
Kemudian ditambahkan lagi oleh NS.
(4) “Mencari itu ya solusi dari masalah yang baru kita hadapi bukannya malah bingung mencari maklum dari orang lain, ya dengan begitu insaallah beribadah jadi lebih khusuk”(19 Agustus 2016, pukul 13.50 WIB).
Dari solusi-solusi yang dinyatakan oleh beberapa pengurus dan anggota jamaah IPKA di atas bahwa setiap individu mengalami masalah yang berbeda untuk menuju beribadah kepada Allah, baik dari masalah yang ada pada diri mereka masing-masing ataupun masalah yang datang menghampiri mereka dari luar. Dari faktor pada diri mereka sendiri solusi yang ditawarkan pun berbeda-beda di antaranya niat yang sungguh- sungguh, tidak pernah mengeluh dan selalu semangat, ada pula niat baik itu sudah merupakan sebuah ibadah. Sedangkan faktor dari luar yang menjadi penghambat itu diantaranya merawat cucu, menengok tetangga yang
sedang sakit, badan yang capek, untuk itu solusi yang diberikan adalah meluangkan waktu sebentar, menengok tetangga dan mendoakan biar lekas sembuh dan semangat hati untuk melawan rasa malas pada diri.
BAB IV