• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN-TEMUAN PADA MASING-MASING FASILITAS SURVEILANS ILI

1. Laboratorium Virologi Pusat BTDK

- Organisasi:

Laboartorium Virologi Pusat BTDK virology berfungsi sebagai laboratorium regional ILI dan juga sebagai Laboratorium Rujukan Nasional ILI. Sebagai lab regional, laboratorium ini melakukan pemeriksaan parallel PCR_RT dan sub-typing atas semua aliquot spesimen yang dikirim oleh semua lab regional dan bila perlu dilanjutkan dengan isolasi virus. Sebagai lab regional laboratorium ini menerima spesimen langsung dari 4 puskesmas yaitu dari Palu, Ambon, Bengkulu,

Palangkaraya yang ditetapkan sebagai puskesmas ILI sejak September 2011.

- Rata-rata jumlah spesimen yng diterima oleh Pusat BTDK adalah 45 – 72 spesimen :

• Dari 4 Puskesmas binaan::4 x 5-8 spesimen = 20 -32 spesimen per bulan . • Dari 5 lab regional : 5 x 5-8 spesimen = 25 – 40 spesimen per bulan.

Saat tiba spesimen dikeluarkan dari cold box dan wadah pralon, kemudian diperiksa kondisinya. Spesimen dicatat dalam buku log yang berisi informasi mengenai ID spesimen termasuk suhu saat diterima (bila termometer disertakan). Tidak ada pencatatan mengenai waktu yang dibutuhkan dalam pengiriman dari lab regional sampai diterima di BTDK .

Spesimen kemudian ditaruh dalam rak dan disimpan dalam deep freezer (–) 80oC di tempat penrimaan spesimen sampai dikirim ke lab virologi. Selain pegecekan visual pada display suhu yang build in pada freezer tidak dilakukan pencatatan suhu harian.

- Pengiriman spesimen ke Pusat BTDK:

Spesimen dikemas sejak dari puskesmas dan kemudian dilanjutkan oleh lab regional menggunakan sarana pengemasan yang terdiri dari cold box disertai 6 ice pack dan bila ada disertai termometer Mueller. Spesimen dalam klip plastik dikemas dalam pipa pralon lalu semuanya dimasukkan dalam cold box.

Kedua spesimen usap dimasukkan dalam cryotube berisi VTM kemudian dikemas dalam plastik klip lalu dimasukkan dalam wadah pipa pralon bertutup. Pengiriman disertai dokumen berupa form surveilans namun tidak ada form kondisi spesimen dan suhu saat dikirim dari puskesmas /lab regional (kecuali lab regional

Banjarmasin yang kadang-kadang menyertakan form kondisi dan suhu spesimen (kartu monitoring suhu ILI).

Secara teori perusahaan kurir yang dikontrak (Caraka untuk P.Jawa dan Indonesia bagian barat dan Mega cargo untuk wilayah timur) harus menjemput cold box dari puskesmas dan lab regional setiap hari tertentu (Rabu/Kamis) setiap minggunya. Namun seringkali jadwal ini tidak ditepati dan menyebabkan kelambatan pengiriman atau tiba ditujuan diluar jam kerja atau hari hari libur yang menyebabkan spesimen terpapar suhu ruang sampai diterima oleh laboratorium pemeriksa.

- Penanganan spesimen di lab virologi:

Spesimen disimpan dalam lemari es domestik jenis auto-defrost tanpa dilengkapi termometer di dalamnya. Ada form pencatatan suhu yang dilekatkan di pintu lemari es namun pemantauan tidak dilakukan rutin, catatan terakhir Maret 2009 (deep freezer) dan Maret 2010 (lemari es domestik).

Dari spesimen yang diterima 1 aliquot dipakai untuk pemeriksaan dan sisanya disimpan dalam deep freezer of (-)70o – (-) 80oC di lab virologi.

- Sarana pengemasan dan peralatan pembantu:

Sarana pengemasan dan peralatan pembantu yang dipakai untuk pengiriman spesimen ILIdan diterima oleh BTDK adalah:

• 1 Cold box ± 6 L

• 1 wadah pipa pralon dengan tutup ukuran panjang 15 cm dan diameter 2.5 inch

• 6 ice pack ± 0.6 L

• 1 Termometer Mueller (tidak selalu ada) • Form survilans

• Form mengenai kondisi dan suhu saat dikirim (Kartu monitoring suhu ILI tapi hanya diterima dari Banjarmasin walaupun tidak pada setiap pengiriman.). Bila ice pack dibekukan lebih dari 24 jam, spesimen diharapkan ada dalam kondisi baik sampai tiba di BTDK sebelum 24 jam. Semua perangkat pengemasan dikirim kembali ke puskesmas/Dinas Kota dan termometer yang pecah akan diganti.

Pengiriman kembali ini seringkali terlambat diterima puskesmas sehingga

pengiriman berikutnya akan terhambat (puskesmas hanya punya 2 set pengemas tanpa ada cadangan).

- Kondisi dan kapasitas Cold chain:

Cold chain untuk penyimpanan spesimen ILI di BTDK terdiri atas 1 buah deep freezer (juga untuk SARI) di tempat penerimaan spesimen , 1 buah lemari es domestik dan 1 buah deep freezer di lab virology.

Kapasitas yang ada memadai untuk penyimpanan spesimen ILI (135 L untuk lemari es domestik dan +/- 350 L untuk setiap freezer).

- Penanganan limbah medis:

Limbah laboratorium dikumpulkan dalam kantong plastik hitam, di otoklaf dan kemudian dijemput oleh perusahaan yang dikontrak untuk mengangkut limbah dari BTDK secara berkala. Tidak diketahui dimana pembuangan terakhir dari limbah tersebut.

Kantong yang dipakai belum mengikuti panduan WHO mengenai penggunaan kantong berwarna dan bertanda berdasar jenis limbah medis.

- Supervisi suportif:

Tidak ada supervisi rutin kepada lab regional ataupun puskesmas sentinel oleh pusat BTDK mengenai manajemen cold chain untuk spesimen ILI.

2. Laboratorium Mikrobiologi RS FK UNHAS (Rumah Sakit Fakultas

Kedokteran Universitas Hasanuddin) yang berfungsi sebagai Lab Regional

ILI di Makassar

- Organisasi:

Laboratorium Mikrobiologi dri RS FK Unhas adalah lab regional ILI di Makassar untuk melakukan pemeriksaan PCR-RT dan subtyping terhadap spesimen yang dikirim oleh 5 puskesmas sentinel di Sudiang (Makassar), Manado (Sulawesi Utara), Jayapura dan Merauke ( Papua) dan Balikpapan (Kalimantan Timur).

Laboratorium ini juga melakukan sub-typing dan isolasi virus terhadap spesimen positif influenza A.

Laboratorium ini merupakan divisi mikrobiologi untuk pelayanan di RS FK Unhas yang baru dan mulai berfungsi sejak April 2011. Untuk pendidikan mahasiswa dilakukan di bagian Mikrobiologi di komplek lama FK Unhas. Lab ini menggunakan peralatan yang dipindahkan dari lab mikrobiologi lama dan masih terus

berlangsung. Beberapa peralatan seperti deep freezer belum dapat dipindahkan karena keterbatasan ukuran lift di RS.

Laboratorium ini memiliki 4 divisi yaitu Bakteriologi, Virologi, Mikologi dan Biomolekuler.

Lab virologi mempunyai 2 teknisi untuk tugas ILI (Safri and Desi) secara penuh.

- Penerimaan spesimen:

Laboratorium Mikrobiologi RS FK UNHAS menerima spesimen sebanyak:

5 x 5-10 spesimen = 25 -50 pesimen setiap minggu dari 5 puskesmas cakupannya. Seharusnya spesimen diterima tiga kali seminggu (Selasa, Rabu dan Kamis) namun kiriman dari luar propinsi seringkali jadwal tidak dipenuhi karena tergantung pada pengaturan kurir yang dikontrak (Mega cargo dianggap lebih baik dari Caraka), sedang spesimen dari puskesmas Sudiang spesimen dijemput dan dikemas dengan sarana yang disediakan oleh staf Dinas Kota (Sdr. Samsul).

Seringkali spesimen dikirimkan diluar jam kerja atau hari libur sehingga baru diterima hari berikutnya hari Senin dengan akibat spesimen diterima oleh staf RS atau di kantor kurir dan dibiarkan pada suhu ruang 1-3 hari.

• Saat assessment kiriman tiba dari Jayapura dengan ice pack sudah tidak dingin dan suhu dalam cold box adalah 28ºC. Tidak ada informasi berapa lama keadaan ini sudah berlangsung.

Spesimen yang tiba dari Jayapura di lab regional, ice pack sudah hangat dan termometer menunjukkan suhu 28ºC

Saat tiba, spesimen dikeluarkan dari wadah pipa pralon, dicek kondisi serta suhu bila disertai termometer. Namun tidak semua pengiriman disertai termometer atau termometer pecah saat diterima.

Volume spesimen juga bervariasi karena beberapa terjadi kebocoran diduga karena stik terlalu panjang mematahkannya sehingga tutup cryotube tidak rapat dan

mengakibatkan bocor. Beberapa spesimen diterima dengan warna larutan Hanks berwarna kuning, namun diduga tidak berkaitan dengan hasil tes.

Setelah itu ID spesimen dicatat dalam log book dan suhu akan dicatat bila disertai termometer dalam kemasan. Spesimen kemudian di buat dalam 2 aliquot, satu untuk BTDK yang disimpan dalam lemari es domestik (saat dicek suhu antara 1 – 4,8 °C) sampai dikirim ke BTDK. Aliquot kedua (300 - 400 ul) ditampung dalam tabung mikro Eppendorf untuk pemeriksaan setempat dan disimpan dalam freezer (-) 20ºC (dalam telaah suhu (-)17º sampai (-)19ºC).

Lemari es tidak dilengkapi termometer dan freezer hanya memiliki termometer display yang build-in pada freezer. Tidak ada pencatatan suhu harian baik pada lemari es maupun freezer.

Ice pack yang diterima disimpan dalam freezer (-) 20ºC saat tiba agar siap untuk pengiriman ke BTDK.

- Pengiriman spesimen ke Pusat BTDK:

Aliquoted spesimen dalam cryotube dikemas ulang di lab regional dengan material yang diperoleh dari puskesmas yaitu wadah: pipa pralon panjang 15 cm dan diameter 2.5 inch, 6 ice pack yang dibekukan kembali dan termometer Mueller bila ada. Formulir surveilans disertakan dalam pengiriman dan formulir kondisi

spesimen yang berisi informasi mengenai kondisi, warna dan suhu spesimen saat diterima oleh lab regional dan saat dikirim ke BTDK . Form ini dibuat sendiri oleh lab regional. Spesimen kemudian dikirimkan ke BTDK melalui kurir.

Pipa Pralon dan termometer yang pecah dan rusak tidak diganti oleh lab regional karena mereka tidak mempunyai stok.

- Penanganan spesimen di lab virologi:

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, spesimen untuk pemeriksaan setempat disimpan dalam freezer dan spesimen untuk BTDK disimpan dalam lemari es domestik jenis auto-defrost, namun tidak ada monitoring dan pencatatan suhu antara lain karena tidak memiliki termometer untuk ditempatkan di dalam lemari es. Spesimen untuk pemeriksaan setempat disimpan dalam freezer (-) 20ºC. Sejak 1 bulan yang lalu lab ini tidak melakukan pemeriksaan PCR karena tidak memiliki stok primer. Sudah melaporkan ke BTDK namun diberi suplai baru. Lab regional juga bermasalah dengan safety cabinet dan memerlukan pemeriksaan oleh teknisi luar. - Peralatan pengemasan:

Peralatan pengemasan untuk spesimen ILI yang diterima di lab FK Unhas terdiri atas :

• Cold box ± 6 L

• 1 wadah pipa pralon dengan tutup ukuran panjang 15 cm dan diameter 2.5 inch

• 6 ice pack ± 0.6 L (atau gel atau es dalam kantong plastik) • 1 termometer Mueller (seringkali tidak ada/tidak disertakan) • Formulir berisi ID spesimen tanpa informasi suhu saat dikirimkan. Keseluruhan peralatan pengemasan yang diterima dari puskesmas saat

mengirimkan spesimen ke lag regional dipakai kembali untuk pengiriman spesimen ke BTDK, walaupun termometer atau tutup pralon pecah. Semua puskesmas /dinas memiliki 2 set peralatan pengemasan namun seringkali pengiriman kembali dari BTDK terlambat atau ada yang rusak.

- Kondisi dan kapasitas Cold chain:

Fasilitas penyimpanan dingin untuk spesimen ILI di RS FK Unhas terdiri dari 2 freezer (1 untuk spesimen dan 1 untuk membekukan ice pack serta spesimen yang sudah diperiksa sejak permulaan proyek yang belum dimusnahkan karena

menunggu pedoman dari BTDK). Satu buah lemari es domestik jenis auto-defrost untuk simpan spesimen yang akan dikirim ke BTDK. Total kapasitas (135 L untuk lemari es domestik dan 482 L untuk masing masing freezer) sangat memadai untuk penyimpanan spesimen ILI.

- Penanganan limbah medis:

Limbah non-infectious dikumpulkna dalam tong sampah dengan kantong plastik yang disediakan bagian safety rumah sakit dan dijemput secara berkala oleh petugas RS. Limbah infeksius dikumpulkan dalam kotak limbah kuning denagn kantong plastik merah yang disediakan rumah sakit dan berisi cairan chlorine dan dikumpulkan oleh divisi safety RS untuk di-insinerasi di Wahidin atau RS Dadi.

- Supervisi suportif:

Tidak ada supervisi ke lab regional maupun puskesmas oleh Pusat BTDK mengenai manajemen cold chain dari spesimen ILI.

3. Puskesmas Sentinel Sudiang di Kota Makassar

- Organisasi:

Puskesmas Sudiang adalah puskesmas sentinel ILI . Puskesmas ini adalah salah satu puskesmas pelayanan primer (puskesmas kunjungan tanpa tempat perawatan) yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Kota Makassar.

Kepala puskesmas adalah Dr. Muhammad Sofyan dan sebagai koordinator ILI adalah Dr. Martha.

- Pengambilan spesimen dan pengiriman ke lab regional:

Total kunjungan rata rata 150 pasien per hari. Secara rata-rata jumlah spesimen adalah 5- swab nasal dan tenggorok per hari yaitu 75 % dari 10 kasus tersangka ILI sedang 25% lain menolak pengambilan usapan.

Tersangka kasus di diagnosa di poliklinik oleh Dr. Martha dan setelah interview dan penandatanganan formulir consent pasien dirujuk ke lab untuk pengambilan usapan oleh teknisi lab. Spesimen dimasukkan dlam cryotube berisi larutan Hanks,

dibungkus parafilm dan kertas tisu kemudian dimasukkan ke dalam kantong klip plastik. Spesimen kemudian disimpan dalam lemari es domestik jenis auto-defrost yang dilengkapi dengan termometer Mueller (pinjaman dari program Imunisasi) dan suhu dicatat setiap hari. Pengambilan spesimen dilakukan setiap hari dan dijemput serta dikemas oleh staf Dinas Kesehatan Kota (sdr. Samsul)setiap hari Rabu. Peralatan dan pengemasan dilakukan sepenuhnya oleh Dinas Kesehatan Kota. Kemudian diantar ke lab regional dengan menggunakan motor. Puskesmas hanya

bertugas mengambil spesimen dan menyertakan form surveilans yang berisi mengenai data pasien.

- Peralatan pengemasan:

Pada umumnya peralatan pengemasan yang dipakai untuk mengirim spesimen dari puskesmas ke lab regional disediakan oleh staf Dinas Kesehatan Kota saat

menjemput spesimen dari puskesmas terdiri dari: • 1 Cold box ± 6 L

• 1 wadah pipa pralon dengan tutup ukuran panjang 15 cm dan diameter 2.5 inch

• 6 Ice pack ± 0.6 L ( atau gel atau es dalam kantong plastik) • 1 Termometer Mueller (tidak selalu ada )

• Form surveilans berisi data pasien

- Kondisi dan kapasitas Cold chain:

Fasilitas penyimpanan dingin spesimen ILI menggunakan lemari es domestik jenis auto defrost dengan kapasitas sekitar 135 L yang cukup memadai untuk

menyimpan spesimen ILI.

Kondisi lemari es kurang bersih dan terdapat jamur pada karet seal pintu lemari es, hal ini menunjukkan kurangnya perawatan yang dilakukan pada lemari es.

Pemantauan suhu dilakukan dengan termometer pinjaman dari program imunisasi dan pencatatan suhu belum dilakukan.

- Penanganan limbah medis:

Limbah medis infeksius maupun non-infeksius semuanya dikumpulkan dalam keranjang sampah rumah tangga tanpa diberi kantong plastik dan dibakar dekat puskesmas bersama sampah lain.

- Supervisi suportif:

Tidak ada supervisi ke puskesmas oleh Pusat BTDK atau lab regional mengenai manajemen cold chain dari spesimen ILI.

4. Laboratorium Biologi Molekuler FK Udayana Denpasar,sebagai

laboratorium regional ILI

- Organisasi:

Laboratorium Biologi Molekuler FK Udayana adalah laboratorium yang

diperuntukkan riset dan penelitian dan merupakan lab regional ILI di Denpasar untuk pemeriksaan PRT dan subtyping ILI. Lab ini menerima spesimen dari 3 puskesmas sentinel yaitu Puskesmas I Denpasar Selatan (Denpasar), Mataram (NTB) dan Kupang (NTT).

Lab Biologi molekuler FK Unud dipimpin oleh Dr. Nyoman Sri Widayanti, SPMK, Staf yang bertanggung jawab dalam proyek ILI adalah:

1. Nyoman Sri Handayani, SSi sebagai koordinator

2. I Ketut Sucipta, melaksanakan penerimaan, penyimpanan dan pengiriman spesimen ke BTDK.

3. Wahyu Hidayati SKM dan Ketut Nani Astuti, teknisi yang melaksanakan pemeriksaan lab.

- Penerimaan spesimen:

Rata-rata laboratorium regional ini menerima 15 – 30 spesimen ILI per minggu dari ke 3 puskesmas sentinel.

Penerimaan spesimen dari puskesmas diatur sebagai berikut: 1. Rabu: dari Puskesmas I – Denpasar Selatan,

2. Kamis – Sabtu: Kupang dan Mataram,

Semua pengiriman dilakukan oleh kurir kontrak Caraka dan sebagian besar jadwal dapat dipenuhi.

Hanya pada permulaan surveilans ditemui kebocoran VTM karena tangkai swab masih terlalu panjang sehingga cryotube tidak tertutup dengan baik atau tidak menggunakan parafilm, namun hal itu sudah tidak terjadi lagi.

Setibanya di lab regional spesimen dikeluarkan dari wadah pralon dan diperiksa kondisi serta suhunya (bila ada termometer). Data spesimen dicatat dalam logbook ILI. Spesimen kemudian di aliquot menjadi 2, satu untuk BTDK yang kemudian disimpan dalam lemari es domestik sampai dikirim ke BTDK. Aliquot ke 2 (± 300 ul) disimpan dalam tabung miro Eppendorf untuk pemeriksaan setempat dan disimpan dalam freezer (–) 80ºC.

Ice pack dibekukan dalam freezer (–) 20º C yang khusus untuk mempersiapkan ice pack.

- Peralatan pengemasan spesimen:

Peralatan pengemasan untuk spesimen ILI yang diterima di lab regional umumnya terdiri atas:

• 1 Cold box ± 6 L

• 1 wadah pipa pralon dengan tutup ukuran panjang 15 cm dan diameter 2.5 inch

• 6 ice pack ± 0.6 L

• 1 Termometer Mueller (lebih sering tidak disertakan)

• Form berisi ID spesimen namun tidak disertakan form mengenai kondisi dan suhu spesimen saat dikirim oleh puskesmas.

Seringkali pengiriman tidak disertai termometer

dalam

cold box. Dari penelaahan, sejak Agustus 2011 sampai 15 Desember 2011 ditemukan bahwa:

Dari 41 pengiriman, 21 pengiriman (> 50%) dilakukan tanpa menyertakan termometer (Denpasar Selatan 3 dari16 karena termometer pecah, Mataram 6

dari 12 dan Kupang 12 dari 13 pengiriman). Hal ini mungkin karena tidak ada cukup termometer pada puskesmas atau pengembalian dari BTDK lambat. Akibatnya lab regional tidak mengetahui suhu spesimen yang diterima untuk dicatat dalam logbook.

Selain itu, lab regional hanya dapat menggunakan sarana pengemasan yang diterima dari puskesmas untuk melakukan pengiriman ke BTDK, sehingga jika tidak ada maka pengiriman ke BTDK juga tidak menggunakan termometer, begitu juga bila termometer dan pralon rusak atau pecah tidak ada penggantian.

- Pengirimkan spesimen dari lab regional ke Pusat BTDK:

Aliquoted spesimen dalam cryotube dikemas ulang di lab regional dengan material yang diperoleh dari puskesmas dan disertakan form surveilanss dari puskesmas . Disarankan agar ditambahkan form mengenai keadaan spesimen dan suhu sejak dari puskesmas – lab regional dan saat diterima di BTDK. Pengiriman dilakukan lewat kurir kontrak.

Pipa pralon dan termometer yang rusak/pecah tidak diganti karena lab regional tidak memiliki persediaan.

- Kondisi dan kapasitas Cold chain:

Penyimpanan spesimen di lab regional FK UNUD terdiri atas 1 freezer (-) 80ºC (untuk simpan spesimen, kapasitas 519 L ) dan 1 freezer (-) 20ºC kapasitas 274 L yang digunakan untuk membekukan ice pack dan menyimpan spesimen yang sudah diperiksa sejak dimulainya surveilans. Kedua freezer sudah penuh.

Disarankan agar BTDK memberikan pedoman penghapusan spesimen > 3 tahun kecuali spesimen positif.

Lemari es domestik dengan kapasitas 135 L tipe auto-defrost dipakai menyimpan spesimen ILIyang akan dikirim ke BTDK. Pemeliharaan dilakukan dengan benar, Beberapa bahan biologis disimpan pada bagian pintu lemari es, hal ini tidak direkomendasikan oleh WHO karena risiko overheating.

Suhu lemari es domestik saat telaah ada pada kisaran suhu (-)1 ºC sampai (+) 5ºC dan freezer antara (-) 20º to (-)26ºC.

Tidak ada termometer dalam lemari es domestik, maka tidak ada monitoring dan pencatatan suhu harian. Freezer memiliki termometer dispaly yang build in dan ada pencatatan suhu walau tidak dilakukan setiap hari.

- Penanganan limbah medis:

Limbah medis infeksius diletakkan dalam wadah kecil dengan kantong plastik di dalamnya yang didisinfeksi dengan sinar UV selama 1 jam dalam safety cabinet sebelum dikumpulkan dalam kantong plastik besar untuk insinerasi di RS. Sanglah (biaya Rp 9.000/kg).

- Supervisi suportif:

Tidak ada supervise rutin mengenai manajemen cold chain spesimen oleh lab regional atau Pusat BTDK terhadap lab regional maupun puskesmas .

5. Puskesmas sentinel ILI I Denpasar Selatan di Denpasar

-

O

rganisasi:

Denpasar Selatan I adalah puskesmas sentinel ILI. Puskesmas ini adalah salah satu puskesmas pelayanan primer tanpa perawatan yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar.

Puskesmas dipimpin.oleh Pjlt. Ketut Pawarte dan coordinator ILI adalah Dr. Wulan Putri dan teknisi lab Tarmanta.

- Pengambilan spesimen usap dan pengiriman ke lab regional: Jumlah kunjungan poliklinik sekitar 150 pasien per hari.

Rata rata 4 usap hidung dan tenggorok kasus tersangka dikumpulkan setiap hari (sekitar 2 % kunjungan).

Tersangka kasus di diagnosa di poliklinik oleh Dr. Wulan Putri dan setelah didiagnosa, wawancara dan pengisian formulir inform consent dirujuk ke

laboratorium untuk pengambilan usapan. Spesimen dimasukkan dalam cryotube berisi VTM dan setelah diberi parafilm dan tisu dimasukkan ke dalam kantong plastik klip. Kemudian dimasukkan dalam wadah pralon. Spesimen yang akan dikirim ke BTDK dimasukkan dalam lemari es domestik. Pengambilan spesimen dilakukan setiap hari kerja. Pada setiap hari Rabu dijemput oleh kurir Caraka untuk dikirim ke lab regional.

- Peralatan pengemasan spesimen

Pengemasan dilakukan sesuai prosedur dengan menggunakan: • 1 Cold box ± 6 L

• 1 wadah pipa pralon dengan tutup ukuran panjang 15 cm dan diameter 2.5 inch

• 6 Ice pack ± 0.6 L

• 1 termometer Mueller (saat ini tidak ada stok termometer karena rusak) • Form surveilans berisi ID spesimen

Dalam 3 pengiriman terakhir puskesmas tidak menggunakan termometer karena termometer rusak dan beberapa kali menggunakan termometer yang dibeli sendiri (merk OneMed) oleh puskesmas juga rusak.

- Kondisi dan kapasitas Cold chain

Cold chain untuk spesimen ILI adalah lemari es domestik jenis manual defrost dengan kapasitas sekitar 135 L. Perawatan lemari es kurang optimal, terdapat bunga es yang tebal pada bagian freezer. Termometer diletakkan di dalam lemari es untuk memonitor suhu dan pencatatan suhu dilakukan dengan menggunakan grafik pencatatan suhu. Pembekuan ice pack dilakukan di freezer (-) 20°C merk Modena dan kapasitas +/- 100 L milik program imunisasi.

- Penanganan limbah medis

Limbah medis infeksius dan non infeksius dikumpulkan di keranjang sampah rumah tangga dan memakai kantong plastik didalamnya. Limbah akan dikirim ke RS Wangaya untuk insinerasi.

- Supervisi suportif

Tidak ada supervisi rutin mengenai manajemen cold chain untuk spesimen ILI yang dilakukan baik oleh BTDK maupun lab regional untuk puskesmas sentinel ILI dan Dinas Kesehatan Kota.

Bunga es yang tebal, harus dilakukan defrosting agar

kinerja lemari es lebih optimal

Memantau suhu dengan menggunakan termometer

Suhu dicatat setiap hari dengan menggunakan grafik

6. Laboratorium Bagian Mikrobiologi Klinik FK Universitas Indonesia,

Jakarta, sebagai lab regional ILI

- Organisasi:

Laboratorium Mikrobiologi FKUI terdiri atas beberapa divisi yaitu: Bacteriology (Klinik dan Lingkungan), Virologi, Mikologi, Serologi dan. Divisi Diagnostik Molekuler. Laboratorium ini berfungsi sebagai lab riset dan juga memberikan pelayanan untuk RSCM dan RS lain di Jakarta.

Divisi Diagnostik Molekuler ditugaskan untuk melaksanakan pemeriksaan PCR-RT dan subtyping spesimen ILI sejak 2009.

Spesimen berasal dari 6 puskesmas sentinel yaitu puskesmas Utan Kayu Utara (Jakarta Timur), dan puskesmas sentinel diluar Jakarta : Tangerang (Banten), Banda Aceh (Aceh), Bandung (Jawa Barat), Pontianak (Kalimantan Barat), dan

Banjarmasin (Kalimanatan Selatan).

Pimpinan Lab Mikrobiologi Klinik adalah Dr. Anis Karuniawati PhD. Untuk proyek surveilans ILI dilaksanakan oleh:

1. DR. Andi Yasmon, kepala divisi Diagnostik Molekuler dan koordinator ILI. 2. Alfian AMD, penaggung jawab penerimaan, dokumentasi, penyimpanan dan

pengemasan spesimen untuk BTDK dan sekaligus bertanggung jawab untuk pemeriksaan PCR dan sub-typing

3. Nila and Lolita, teknisi lab yang membantu penerimaan, aliquoting dan pemeriksaan spesimen.

- Penerimaan spesimen:

Rata rata jumlah spesimen yang diterima 6-20 spesimen per minggu berasal dar 6

Dokumen terkait