1. Pengaruh IFRS terhadap Manajemen Laba
Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Yunita Eka P (2014) yang meneliti mengenai pengaruh adopsi IFRS, leverage, size terhadap praktik manajemen laba dalam laporan keuangan, hasil penelitian menujukan bahwa adopsi IFRS tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, hal ini dikarenakan revisi PSAK dibawah program konvergensi IFRS tidak menyebabkan perubahan kebijakan akuntansi dalam perusahaan. Murtini dan Lusiana (2013) meneliti manajemen laba dan relevansi nilai sebelum dan sesudah adopsi IFRS di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas akuntansi yang berhubungan dengan manajemen laba, dan nilai relevansi dari beberapa perusahaan di Indonesia. Sampel pada penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia pada tahun 2010 hingga tahun 2013. Peneliti mengasumsikan bahwa dalam hipotesis terdapat perbedaan manajemen laba sebelum dan setelah penerapan IFRS begitu pula dengan relevansi nilai tetapi hasil penelitian membuktikan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara manajemen laba sebelum dan setelah adopsi dari IFRS yang diukur dengan akrual diskresioner. Sianipar dan Marsono (2013) meneliti mengenai analisis komparasi kualitas informasi akuntansi sebelum dan sesudah pengadopsian IFRS penuh di Indonesia yang diukur dengan manajemen laba, relevansi nilai dan pengakuan kerugian tepat waktu, hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa tidak ada perbedaan dalam manajemen laba antara sebelum dan sesudah pengadopsian penuh IFRS artinya IFRS tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, begitu pula dengan relevansi
nilai dan pengakuan kerugian tepat waktu yang tidak menunjukan adanya perbedaan sebelum dan sesudah penerapan IFRS. Penelitian yang dilakukan oleh Claudia dan Budiartha (2014) mengenai analisis perbedaan kualitas akuntansi sebeleum dan sesudah IFRS yang diukur dengan tingkat manajemen laba, pengukuran ketepatan waktu dan relevansi nilai pada perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2006, 2007, 2011 dan 2012, hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan manajemen laba sebelum dan sesudah konvergensi IFRS.
Menurut hasil penelitian ternyata professional judgement maupun pembatasan metode akuntansi yang ada pada IFRS tidak mampu mengubah tingkat manajemen laba, selain itu pengukuran pada variabel independen yaitu IFRS tidak mempengaruhi pengaruh terhadap manajemen laba, penelitian sebelumnya menggunakan pengukuran dengan dummy variabel yaitu 0 sebelum konvergensi IFRS ditentukan dengan cut off tahun dan 1 setelah konvergensi IFRS tidak menujukan adanya pengaruh yang sigmifikan, begitu pula dengan pengukuran menggunakan skoring berdasarkan revisi PSAK yang dikonvergensi IFRS menunjukan hasil yang bermacam-macam disetiap perusahaan dan diharapkan membawa pengaruh tetapi hasil penelitian menujukan tidak adanya pengaruh yang signifikan terhadap praktik manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen. Hasil penelitian juga menolak teori agensi, karena konvergensi IFRS tidak perpengaruh terhadap pengungkapan informasi perusahaan sehingga tetap terjadi informasi asimetri yang berdampak terhdap manajemen laba.
2. Variabel Kontrol
a. Manajemen Laba Terhadap Ukuran Perusahaan (Size)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa size berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba. Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin rendah manajemen laba pada perusahaan tersebut. Semakin besar ukuran perusahaan maka dapat menurunkan manajemen laba karena menurut penelitian Teuta Llukani (2013) perusahaan besar memiliki reputasi yang baik dalam pasar sehingga perusahaan memperhitungkan hal tersebut untuk tidak melakukan manajemen laba.
b. Manajemen Laba Terhadap Leverage
Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage berpengaruh positif
manajemen laba. Hasil penelitian ini sesuai dengan Prasetyorini (2013) menyebutkan bahwa leverage yang tinggi dapat diartikan bahwa perusahaan sedang mengalami tahap pengembangan dan para investor yakin nantinya pengembangan tersebut akan memengaruhi masa depan perusahaan. Hal itu akan memengaruhi manajemen untuk melakukan manajemen laba. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Santy et al. (2012) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh terhadap manajemen laba, dan didukung pula oleh penelitian Halim et al. (2005).
c. Manajemen Laba Terhadap Growth
Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan perusahaan atau nilai growth yang didapatkan dari harga saham dibagi dengan nilai buku per ekuitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap mnajemen laba. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Agustina Dewi (2015) menyatakan bahwa growth tidak berpengaruh terhadap manajemen laba
3. Pengaruh IFRS pada Hubungan Antara EPS dan BVPS Terhadap Relevansi Nilai
Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian Cahyonowati, Nur dan Dwi Ratmono. (2012) yang meneliti mengenai adopsi IFRS dan relevansi nilai informasi akuntansi di Indonesia yang diukur dengan menggunakan price model, sampel dari penelitian ini adalah perusahaan publik yang terdaftar pada BEI tahun 2008-2011, hasil dari penelitian ini adalah adopsi IFRS di Indonesia tidak mempunyai pengaruh pada gabungan relevansi nilai yaitu laba bersih dan nilai buku ekuitas yang dimoderasikan dengan IFRS yaitu menggunakan dummy variabel. Menurut hasil penelitian Sianipar dan Marsono (2013) bahwa tidak ada perbedaan dari relevansi nilai sebelum dan sesudah adopsi IFRS karena relevansi nilai sebelum dan sesudah IFRS tidak ada yang lebih baik sehingga adopsi IFRS tidak berpengaruh signifikan terhadap relevansi nilai di Indonesia. Hasil penelitian juga didukung oleh Anas Dwi Wahyuli (2010) yaitu meneliti apakah penerapan IFRS pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2009-2012 berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi dan hasil penelitian menujukan bahwa penerarapan IFRS tidak berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar Bursa Efek Indonesia. Hal ini berarti relevansi nilai yang diukur menggunakan model harga
dengan analisis R square yaitu periode sebelum dan sesudah penerapan IFRS maupun dengan menggunakan variabel moderasi tidak berpengaruh signifikan terhadap relevansi nilai. Hasil penelitian menolak teori sinyal, investor tidak menangkap sinyal perusahaan yang menerapkan IFRS, nilai EPS dan BVPS yang kebanyakan diperhatikan oleh investor ketika menggambil keputusan.