Menurut Mulyadi (2003: 59) tenaga kerja (man power) adalah penduduk pada usia kerja (15-64 tahun) atau seluruh penduduk dalam suatu negara yang
dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga mereka, dan bila mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut. Menurut UU No.25 Tahun 1997 tentang ketentuan-ketentuan pokok ketenagakerjaan disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang laki-laki atau wanita yang sedang mencari pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang terlibat ataupun berusaha terlibat dalam kegiatan produksi barang dan jasa. Sedangkan yang bukan angkatan kerja adalah mereka yang masih bersekolah, ibu rumah tangga, dan golongan lain-lain atau penerima pendapatan.
Menurut Mulyadi (2003: 62-68) keadaan dari tenaga kerja Indonesia dapat dilihat dari :
a. Tingkat partisipasi angkatan kerja b. Upah tenaga kerja
c. Produktivitas pekerja d. Tingkat pengangguran.
Menurut Mulyadi (2003: 58-59) terdapat dua teori penting dari mengenai masalah ketenagakerjaan, yakni:
a. Teori Lewis yang mengemukakan kelebihan pekerja adalah kesempatan yang bukan merupakan suatu masalah. Karena kelebihan pekerja akan memberikan andil terhadap pertumbuhan output serta penyediaan pekerjaan di sektor lain. Terdapat dua struktur dari perekonomian negara
berkembang yakni sektor subsisten terbelakang dan dan sektor kapitalis modern. Menurut Lewis sektor subsisten terbelakang tidak hanya terdiri dari pertanian, tetapi juga sektor informal seperti pengecer koran.
Kelebihan dari sektor subsisten terbelakang adalah penawaran tenaga kerja dan tingkat upah di pedesaan relatif lebih murah dibandingkan sektor kapitalis modern. Hal tersebut mendorong pengusaha yang ada di perkotaan memanfaatkan pekerja tersebut dalam pengembangan industri modern perkotaan. Ketika proses industrialisasi berlangsung, maka kelebihan penawaran tenaga kerja di sektor subsisten terbelakang akan terserap. Bersamaan dengan itu, maka pada suatu saat tingkat upah di pedesaan akan meningkat. Perbedaan tingkat upah ini akan mengurangi ketimpangan pendapatan antara perkotaan dan pedesaan.
b. Teori Fei-Ranis yang berkaitan dengan negara berkembang. Ciri-cirinya adalah sumber daya alamnya belum dapat diolah, kelebihan buruh, mayoritas penduduknya bertani, memiliki banyak pengangguran, serta tingkat pertumbuhan yang tinggi. Menurut teori ini ada tiga tahap pembangunan dalam kondisi kelebihan buruh, yang pertama di mana para penganggur semu dialihkan ke sektor industri dengan upah yang sama. Tahap kedua pekerja pertanian menambah output tetapi memproduksi lebih kecil dari upah institusional yang mereka peroleh karena dialihkan pada sektor industri. Tahap ketiga ditandai dengan awal pertumbuhan swasembada pada saat buruh pertanian menghasilkan output lebih besar dari pada perolehan upah institusional. Kelebihan
yang ada pada pekerja terserap pada sektor jasa dan industri yang meningkat sejalan dengan pertambahan output dan perluasan usaha secara terus menerus.
Menurut Mulyadi (2004: 71-72) struktur ketenagakerjaan dapat dilihat dari struktur lapangan kerja utama, struktur jenis pekerjaan utama, dan status dari para pekerja. Lapangan pekerjaan utama seseorang adalah bidang kegiatan utama dari pekerja. Lapangan pekerjaan dapat digolongkan atas (a) pertanian, perburuan, kehutanan dan perikanan, (b) pertambangan dan penggalian, (c) industri pengolahan, (d) listrik gas dan air, (e) bangunan, (f) perdagangan besar eceran dan rumah makan, (g) angkutan, pergudangan dan komunikasi, (h) keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan dan tanah, serta jasa perusahaan,dan (i) jasa kemasyarakatan.
Adapun jenis pekerjaan seseorang merupakan macam pekerjaan yang dilakukan pekerja tersebut. Jenis pekerjaan dapat digolongkan atas (a) tenaga profesional, teknisi dan sejenisnya, (b) tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan, (c) tenaga tata usaha dan tanaga yang sejenis, (d) tenaga usaha penjualan (e) tenaga usaha jasa, (f) tenaga usaha pertanian, perburuan dan perikanan, dan (g) tenaga produksi, operator alat-alat angkutan dan pekerja pasar.
Status pekerjaan utama merupakan jenis kedudukan seseorang dalam melakukan pekerjaan. Status pekerjaan utama ini dibagi atas (a) Buruh/ karyawan adalah pekerja yang bekerja pada orang lain dan
menerima upah baik uang dan barang, (b) Berusaha sendiri, apabila pekerja tersebut bekerja atas resikonya sendiri dan tidak memperkerjakan orang lain dalam usahanya, (c) Berusaha dengan dibantu pekerja keluarga atau buruh tidak tetap, (d) Pekerja keluarga, yakni pekerja yang tidak mendapat upah uang maupun barang, (e) Berusaha dengan buruh tetap, bila pekerja tersebut bekerja atas resiko sendiri dan dalam melaksanakan usahanya memperkerjakan buruh tetap.
Menurut Arfida (2003: 44) hal-hal yang mempengaruhi permintaan :
a. Tingkat upah
Apabila tingkat upah semakin tinggi, maka permintaan tenaga kerja akan semakin sedikit. Begitu pula sebaliknya.
b. Teknologi
Kemampuan dalam menghasilkan produksi bergantung pula terhadap teknologi yang berkembang. Maka semakin efektif teknologi, akan memberikan arti semakin besar bagi tenaga kerja dalam mengaktualisasikan keterampilan dan kemampuannya.
c. Produktivitas
Produktivitas bergantung pada modal yang dipakai. Keleluasaan modal dapat menaikkan produktivitas tenaga kerja.
d. Kualitas tenaga kerja
Latar belakang dari pendidikan, keadaan gizi dan pengalaman berusaha merupakan indeks dari kualitas tenaga kerja.
e. Fasilitas modal
Suatu produk yang dihasilkan dari sumbangan modal dan tenaga kerja tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hal ini karena peranan input lain merupakan faktor penentu lainnya.
2.7 Pendidikan
Menurut Tirtaraharja dan Sulo (2005: 33) pendidikan seperti sifat sasarannya yaitu manusia mengandung beberapa aspek yang bersifat kompleks.
Karena hal tersebut maka tidak terdapat batasan yang jelas untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli berbeda-beda dengan kandungan yang berbeda pula. Perbedaan tersebut dapat dikarenakan falsafah yang diyakini, aspek yang menjadi tekanan dan lain sebagainya. Menurut pengertian BPS, pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Menurut Arfida (2003: 77) pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan untuk menambah keterampilan, pengetahuan, dan meningkatkan kemandirian maupun pembentukan kepribadian seseorang.
Menurut Tirtaraharja dan Sulo (2005: 33-37) beberapa batasan pendidikan berdasarkan fungsinya yakni :
a. Pendidikan sebagai Proses dari Transformasi budaya
Pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewaris budaya dari satu generasi ke generasi lain. Nilai-nilai budaya memiliki proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yakni nilai yang pantas diteruskan, misalnya nilai kejujuran, rasa tanggung jawab dan lain-lain, nilai yang tidak cocok diperbaiki, misalnya tata cara dari perkawinan, dan nilai yang tidak cocok diganti. Menurut pernyataan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, rasa dan karsa bangsa Indonesia.
b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
Hal ini diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah pada bentuk kepribadian peserta didik. Bagi masyarakat dewasa dituntut adanya pengembangan diri agar kualitas kepribadian dapat meningkat sejalan dengan meningkatnya tantangan hidup. Posisi manusia sebagai makhluk yang serba terhubung pembentukan kepribadiannya meliputi pengembangan penyesuaian diri terhadap lingkungan, terhadap diri sendiri dan pada Tuhan.
c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warga Negara
Diartikan sebagai kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik menjadi warga negara yang baik. Istilah baik memiliki arti relatif tergantung pada tujuan nasional dari suatu bangsa dikarenakan falsafah yang berbeda-beda.
d. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja
Kegiatan membimbing peserta didik agar dapat memiliki bekal dasar dalam bekerja. Bekal dasar dapat berupa pengetahuan, pembentukan sikap dan keterampilan.
e. Defenisi Pendidikan menurut Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).
Pada GBHN 1988 (BP 7 Pusat, 1990: 105) memberikan batasan mengenai pendidikan nasional yakni : Pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila serta UU Dasar 1945 yang diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan dan harkat juga martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, dan mandiri sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Menurut Arfida (2003: 77) jenjang pendidikan di Indonesia yang dipakai oleh Biro Pusat Statistik adalah:
1. Tidak sekolah
2. Tidak tamat sekolah dasar 3. Sekolah Dasar
4. Sekolah Menengah Pertama Umum 5. Sekolah Menengah Pertama Kejuruan 6. Sekolah Menengah Atas Umum
7. Sekolah Menengah Atas Kejuruan 8. Program Diploma (DI,DII,DIII) 9. Universitas.
Menurut Tirtaraharja dan Sulo (2005: 37-38) tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar dan indah untuk kehidupan. Pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Sebagai suatu komponen pendidikan, tujuan pendidikan mempunyai posisi yang penting dalam komponen pendidikan lainnya.
Hal ini dikarenakan segenap komponen pendidikan diarahkan untuk pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian kegiatan yang dianggap menyimpang dengan tujuan tersebut dianggap tidak relevan, menyimpang, dan tidak fungsional sehingga dapat dianggap salah dan harus dicegah. Jadi, pendidikan dapat dikatakan memiliki unsur normatif yang mengandung unsur norma yang bersifat memaksa, namun tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima masyarakat sebagai nilai hidup yang baik. Tujuan pendidikan bersifat abstrak karena nilai-nilainya bersifat abstrak.