• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. LANDASAN TEORI

2.6. Tension 1: Profitability vs. Growth

2.6. Tension 1: Profitability vs. Growth

Profitability vs. growth merupakan tension pertama yang menarik perusahaan ke dalam corporate cycle. Batting average pada profitability vs.

revenue growth adalah proporsi tahun sebuah perusahaan berhasil meraih real revenue growth yang positif dan economic profit margin yang positif.

Melakukan diversifikasi ke dalam pasar lain sering kali menyebabkan berkurangnya keuntungan meskipun sulit untuk menjaga pendapatan terus tumbuh dengan portfolio bisnis yang sempit. Hal ini dibuktikan oleh beberapa penelitian yang membuktikan bahwa pertumbuhan melalui diversifikasi akan melemahkan keuntungan, mengikis modal pemilik saham, dan menyebabkan penjualan di bagian bawah jajaran.

(2.1)

Perusahaan berhadapan dengan sebuah tantangan lain: pertumbuhan melalui merger dan akuisisi biasanya tidak akan menguntungkan. Menurut berbagai penelitian, mayoritas akuisisi terbukti menghasilkan lebih sedikit keuntungan dibanding biaya yang telah dikeluarkan. Walaupun menurut kebanyakan penelitian akuisisi bisnis terkait terbukti memiliki peluang lebih besar menghasilkan keuntungan dibanding bisnis yang tidak berkaitan, tetapi tingkat keberhasilannya masih tetap rendah. Menghasilkan pertumbuhan organik tingkat tinggi mungkin akan sangat menantang, tetapi membuat pertumbuhan hasil akuisisi menjadi menguntungkan juga tidak kalah menantang (Dodd dan Favaro, 2007).

Menurut Dodd dan Favaro (2007) kunci meraih nilai batting average lebih tinggi terdapat pada pemahaman mengenai hubungan antara profitability dan growth. Ada banyak cara untuk meningkatkan pendapatan: memperbaiki layanan;

memperluas distribusi untuk menjangkau pelanggan baru; meningkatkan harga untuk meningkatkan pendapatan per pelanggan; mengurangi harga untuk menaikkan pangsa pasar; memperbaiki penawaran pada pelanggan; menambah varian baru pada produk dan layanan; barang pada barang, atau layanan pada layanan; memasuki segmen pasar baru; membeli perusahaan lain; menciptakan pasar baru dengan menemukan sesuatu yang benar-benar baru untuk pelanggan;

dan seterusnya. Begitu juga, ada banyak cara yang bisa dilakukan perusahaan untuk meningkatkan keuntungan: meningkatkan efisiensi kegiatan saat ini;

meningkatkan utilisasi kapasitas; membatasi aktivitas; meningkatkan harga;

mengalihdayakan ke pemasok yang menawarkan biaya lebih rendah;

menggabungkan aktivitas-aktivitas yang terpisah untuk meningkatkan skala setiap aktivitas untuk mendapatkan economies of scale; mengubah bauran bisnis dengan produk, pelangan, kanal, dan geografi yang bermargin tinggi; mengeluarkan produk, pelanggan, kanal, dan geografi yang tidak menguntungkan; dan seterusnya. Yang menentukan apakah para manajer dapat meraih profitability dan growth secara bersamaan bukanlah dapat dilakukannya kedua aktivitas itu pada saat yang sama. Penentunya adalah dampak dari aktivitas tersebut terhadap manfaat pelanggan (customer benefit).

Common Bond dari profitability vs. growth adalah customer benefit.

Customer benefit merupakan imbalan yang diterima pelanggan melalui pengalamannya dalam memilih dan menggunakan produk atau layanan tersebut.

Customer benefit juga sering kali bervariasi tergantung individunya. Manfaat bagi satu pelanggan mungkin tidak akan dianggap sebagai manfaat oleh pelanggan lain.

Customer benefit bervariasi tergantung tipe pelanggan, individu, dan konteks sehingga menyebabkan sangat sulit diukur secara langsung. Tetapi cara mengukurnya lebih mudah yaitu: jika produk atau layanan menghasilkan customer benefit lebih tinggi dibanding produk atau layanan sejenis, maka akan menghasilkan pangsa pasar lebih tinggi, harga lebih tinggi, atau keduanya; jika kedua hal tersebut tidak terjadi, maka boleh jadi produk atau layanan tidak menghasilkan customer benefit yang lebih tinggi.

Namun persoalan utamanya adalah: ada kemungkinan sebuah perusahaan mampu menumbuhkan pendapatan tanpa sekaligus menumbuhkan customer benefit. Jika pendapatan suatu perusahaan tumbuh, bisa saja customer benefit-nya sama sekali tidak berubah. Sebagai contoh, perusahaan bisa saja memperoleh pendapatan baru dengan menggunakan iklan untuk meningkatkan pengenalan produk yang mereka tawarkan, menjadikan produknya lebih tersedia di kanal perdagangan, menaikkan harga, atau dengan membeli kompetitor. Semua tindakan di atas bisa meningkatkan pendapatan. Namun, tidak ada satu pun yang mengharuskan dilakukannya perubahan fundamental pada manfaat yang diterima oleh pelanggan produk perusahaan.

Peningkatan pendapatan yang diperoleh tanpa menumbuhkan customer benefit akan sesuai dengan tingkat keuntungannya, terutama jika produk atau layanan perusahaan itu sejak awal telah banyak menciptakan customer benefit.

Namun, pertumbuhan pendapatan yang tidak didasarkan pada customer benefit yang tinggi atau meningkat pastinya tidak akan sama menguntungkan dibanding pertumbuhan pendapatan yang sebaliknya.

Perusahaan dapat menetapkan harga lebih tinggi kepada pelanggan jika dapat memberikan customer benefit yang tinggi atau meningkat karena pelanggan tidak akan puas dengan harga tinggi jika customer benefit yang diberikan oleh

perusahaan rendah. Pertumbuhan pendapatan yang ditopang dengan customer benefit tinggi atau bertambah akan memiliki peluang menguntungkan jauh lebih besar dibandingkan pertumbuhan pendapatan yang tidak ditopang dengan customer benefit tinggi atau bertambah.

Pelanggan akan bersedia untuk berbagi beban lebih besar, jika sebuah produk memiliki customer benefit yang tinggi bagi pelanggan dan menjadikannya sebagai keuntungan bagi perusahaan. Pelanggan cenderung tidak keberatan dengan harga yang tinggi karena tingginya customer benefit yang diterima;

pelanggan akan melakukan pemasaran dan iklan bagi pelanggan baru melalui rekomendasi dari mulut ke mulut; perusahaan tidak perlu bersikap secara agresif membujuk mereka untuk terus membeli. Customer benefit yang tinggi adalah berarti pangsa pasar yang tinggi juga, yang akhirnya akan memberikan kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan economies of scale.

Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan economic profit margin adalah net profit after all operating costs, depreciation, tax, dan notional charge for the cost of capital dibagi dengan revenue, yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Economic profit margin = profit (loss) – capital charge Revenue

Sedangkan capital charge dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Capital Charge = Equity Invested X Ke (2.3)

Ke = Rf + β(Rm – Rf) (2.4)

Nilai risk free rate adalah rata-rata tingkat suku bunga SBI satu bulan setiap periode selama periode penelitian. Nilai market risk premium menggunakan nilai country risk premium setiap periode selama periode penelitian yang diambil dari situs Professor Damodaran. Untuk analisis profitability vs. growth tension dan today vs. tomorrow tension digunakan nilai Beta dari Bloomberg, sedangkan untuk analisis whole vs. parts tension digunakan nilai Beta dari Bloomberg yang (2.2)

kemudian di hitung rata-rata tertimbang dengan menggunakan total assets, yang dihitung untuk masing-masing perusahaan pesaing yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan bergerak dalam bidang usaha yang sama.

Growth didefinisikan sebagai real revenue growth yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Growth = Revenue year n - Revenue year n-1

- GDP

Growth Revenue year n-1

Sedangkan revenue adalah pendapatan bersih dan data GDP Growth diambil dari situs Biro Pusat Statistik Indonesia.

Batting average Profitability vs. Growth adalah proporsi tahun sebuah perusahaan berhasil meraih positive real revenue growth dan positive economic profit margin, yang dihitung sebagai berikut:

Periode perhitungan batting average profitability vs. growth adalah dari tahun 2004 sampai dengan 2008.