• Tidak ada hasil yang ditemukan

TENTANG KUALITAS PARA PENGGUGAT (ONBEVOEG)

Mahkamah Agung Republik Indonesia(2) Revitalisasi Ruko Banceuy Permai merupakan kebijakan Pemerintah

II. DALAM POKOK PERKARA

2. TENTANG KUALITAS PARA PENGGUGAT (ONBEVOEG)

Bahwa, sertipikat-sertipikat Hak Guna Bangunan atas nama Para Penggugat yang merupakan pecahan dari Sertipikat HGB No.284/Kelurahan Braga yang terbit di atas Hak Pengelolaan No.1/Kelurahan Braga telah berakhir jangka waktunya sehingga sertipikat-sertipikat HGB atas nama Para Penggugat sudah tidak berlaku lagi dan status tanahnya kembali pada Hak Pengelolaan

Halaman 52 dari 98 Putusan Perdata Gugatan Nomor 152/Pdt.G/2015/PN.Bdg.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Negara, pemegang Hak Pengelolaan atau pemegang Hak Milik sesudah Hak Guna Bangunan itu hapus; (5) Menyerahkan Sertipikat Hak Guna Bangunan yang telah hapus kepada

Kepala Kantor Pertanahan

Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas maka sudah jelas Para Penggugat harus segera mengembalikan lahan tersebut Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat sebagai pemegang Sertipikat Hak Pengelolaan No. 1 /Kelurahan Braga dan Para Penggugat mempunyai kewajiban untuk menyerahkan sertipikat HGB atas nama Para Penggugat yang telah hapus tersebut kepada Tergugat 111;

Hal demikian juga terdapat pada Pasal 38 Peraturan Pemerintah No.40 Tahun 1996, yang mengatur sebagai berikut:

"apabila Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan atau atas tanah Hak Milik hapus sebagaimana dimaksud Pasal 35, maka bekas pemegang Hak Guna Bangunan wajib menyerahkan tanahnya kepada pemegang Hak Pengeloiaan atau pemegang Hak Milik dan memenuhi ketentuan yang sudah disepakati dalam perjanjian penggunaan tanah Hak Pengelolaan atau perjanjian pemberian Hak Guna Bangunan atas Hak Milik".

10. Bahwa, mengenai hapusnya HGB diatur dalam Pasal 36 ayat (2) Peraturan Pemerintah No.40 Tahun 1996, mengatur sebagai berikut: "Hapusnya Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan sebagaimana dimaksud datam Pasal 35 mengakibatkan tanahnya kembali ke dalam penguasaan pemegang Hak Pengelolaan11.

Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas. status tanah obvek perkara a quo kembali kepada Hak Pengelolaan yaitu Sertipikat Hak Pengelolaan No.1 / Kelurahan Braga atas nama Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. 11. Bahwa, mengenai sanksi yang dapat dilakukan terhadap pemegang HGB diatur

pada Pasal 37 Undang-Undang No.40 Tahun 1996 selengkapnya sebagai berikut Pasal 37

(1) Apabila Hak Guna Bangunan atas Tanah Negara hapus dan tidak diperpanjang atau tidak diperbaharui maka bekas pemegang Hak Guna Bangunan wajib membongkar bangunan dan benda-benda yang ada diatasnya dan menyerahkan tanahnya kepada Negara dalam keadaan kosong selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun sejak hapusnya Hak Guna Bangunan;

(2) Dalam hal bangunan dan benda-benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) masih diperlukan, maka kepada bekas pemegang hak diberikan ganti rugi yang bentuk jumlahnya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden;

(3) Pembongkaran bangunan dan benda-benda sebagaimana dimaksud dalam

Halaman 56 dari 98 Putusan Perdata Gugatan Nomor 152/Pdt.G/2015/PN.Bdg. Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

No.1/Kelurahan Braga atas nama Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat yang mana perencanaan, pengelolaan dan penggunaannya keimbali kepada pemegang Hak Pengelolaan in casu Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

Selain hal tersebut, Para Penggugat mendalilkan bahwa terdapat perjanjian antara Tergugat I dengan Tergugat II dan dituangkan ke dalam suatu Surat Perjanjian tanggal 17-4-1984 No.011/3700/Huk yang telah berakhir sejak tanggal 17-4-2014.

Hal ini berarti hubungan kerja sama antara Tergugat I dengan Tergugat II yang mengikatkan diri dalam kerja sama tersebut telah berakhir sejak tanggal 17-4-2014. Dalil Para Penggugat sangat kabur karena Para Penggugat sebagai pembeli yang tidak terlibat sama sekali dalam perjanjian tersebut merasa haknya dirugikan dengan adanya surat pemberitahuan dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat tanggal 22-4-2013 No.593/1917/PBD.

Sehubungan dengan hal-hal sebagaimana tersebut di atas, maka sudah jelas bahwa Para Penggugat tidak mempunyai kualitas untuk mengajukan gugatan mengingat sertipikat-sertipikat HGB atas nama Para Penggugat telah berakhir dan surat perjanjian terdahulu telah berakhir. Oleh karena itu maka sudah selayaknya Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara a quo untuk menyatakan gugatan Para Pengugat ditoiak seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet onvantkelijk verklaard). 3. TENTANG GUGATAN PARA PENGGUGAT KABUR (OBSCURE LIBELLE)

Bahwa, dalil Para Penggugat mengenai kronologis yang berkaitan dengan perjanjian antara Tergugat I dengan Tergugat II adalah dalil yang sangat berlebihan mengingat Para Penggugat sama sekali tidak terlibat dalam Surat Perjanjian tanggal 17-4-1984 No.011/3700/Huk yang telah berakhir sejak tanggal 17-4-2014. Bagaimana mungkin Para Penggugat dapat mengetahui kronologis dari saat perencanaan penggunaan, tukar menukar dengan Lembaga Pemasyakatan (LP Banceuy) sampai dengan dituangkannya perjanjian antara Tergugat I dengan Tergugat II.

Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas, maka sudah sepantasnya agar Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara a quo untuk menyatakan menolak gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Para Penggugat tidak dapat diterima (niet onvantkelijk verklaard).

DALAM POKOK PERKARA

1. Bahwa, mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa, menangani dan memutus perkara ini agar apa yang telah Tergugat III kemukakan dalam Eksepsi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam pokok perkara ini;

2. Bahwa, Tergugat ill menolak dalil-dalil surat gugatan Para Penggugat kecuali

Halaman 53 dari 98 Putusan Perdata Gugatan Nomor 152/Pdt.G/2015/PN.Bdg. Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

terhadap hal-hal yang diakui secara tegas dan nyata demi kepentingan Tergugat III;

3. Bahwa, di atas Sertipikat Hak Pengelolaan No.1/Kelurahan Braga Kecamatan Bandung Wetan Kotamadya Bandung tercatat atas nama Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat telah diterbitkan Sertipikat Hak Guna Bangunan No.284/Kelurahan Braga, Sertipikat terbit tanggal 11-08-1986, Surat Ukurtanggal 28-11-1985 No.3244/1985 seluas 10.305 M2, tercatat atas nama PT.INTERNA PERMAI Berkedudukan di Bandung, terletak di JI.Banceuy Kelurahan Braga, Kecamatan Bandung Wetan, Kotamadya Bandung, berakhir haknya tanggal 17-04-2014 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 13-06-1986 No. SK.411/HGB/DA/86;

4. Bahwa, terhadap Sertipikat Hak Guna Bangunan No. 284/Kelurahan Braga tersebut telah dipisah-pisah/displit sampai habis, antara lain menjadi beberapa Sertipikat HGB atas nama Para Penggugat sebagai berikut:

1) SHGB No. 290 Kelurahan Braga terakhir tertulis atas nama Liem Iman Chandra (dh. Liem Chang Chiang seluas 90 m2 ;

2) SHGB No. 338/Kelurahan Braga terakhir tertulis atas nama Yinadi (dh. Wong Fie Poeng) seluas 90 m2 ;

3) SHGB No. 339/Kelurahan Braga terakhir tertulis atas nama Djiauw Ho Hoa

seluas 128 m2 ; 4} SHGB No.433/Kelurahan Braga terakhir tertulis atas nama Deddy Supardi

seluas 90 m2 ;

5. Bahwa, Tergugat HE menolak dalil gugatan Para Penggugat halaman 7 yang mendalilkan bahwa Para Penggugat menguasai tanah obyek perkara adalah sangat tidak berdasarkan hukum karena sebagaimana diatur pada angka 35 ayat (1) Undang-Undang No.5 Tahun 1960 disebutkan bahwa :

"Hak Guna Bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 tahun".

Dengan demikian sudah sangat jelas bahwa Para Penggugat dahulu mempunyai hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan saja tetapi tidak termasuk kepemilikan tanahnya dan pemberian hak guna bangunan tersebut telah berakhir jangka waktunya sehingga Para Penggugat tidak mempunyai hak terhadap bangunan-bangunan tersebut serta status tanahnya kembali kepada Sertipikat Hak Pengelolaan No. 1 /Kelurahan Braga atas nama Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat;

6. Bahwa, Para Penggugat dalam posita gugatannya hanya mendalilkan dan mencantumkan peraturan dengan pasal yang menguntungkan bagi dirinya saja tidak mengungkapkan pasal-pasal lainnya, bahwa mengenai pemberian Hak Guna Bangunan diatur pula pada Peraturan Pemerintah Rl No.40 Tahun 1996

Halaman 54 dari 98 Putusan Perdata Gugatan Nomor 152/Pdt.G/2015/PN.Bdg.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah pada Pasal 21 menyebutkan sebagai berikut:

Pasal 21

Tanah yang dapat diberikan dengan Hak Guna Bangunan adalah a. Tanah Negara; b. Tanah Hak Pengelolaan; c. Tanah Hak Milik.

7. Bahwa, mengenai terjadinya Hak Guna Bangunan diatur pada Pasal 22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Rl No.40 Tahun 1996 bahwa :

"Hak Guna Bangunan atas Hak Pengelolaan diberikan dengan keputusan pemberian hak oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk berdasarkan usul pemegang Hak Pengelolaan".

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka sudah jelas bahwa permohonan HGB di atas Hak Pengelolaan, bergantung pada perencanaan pemegang Hak Pengelolaan in casu Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat sebagai pemegang Sertipikat Hak Pengelolaan No. 1/Kelurahan Braga disesuaikan dengan rencana peruntukkan dan penggunaan lahan tersebut.

8. Bahwa, mengenai perpanjangan maupun pembaharuan HGB diatur dalam Pasal 26 ayat (2) Peraturan Pemerintah No.40 Tahun 1996 bahwa : "Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan diperpanjang atau diperbaharui atas permohonan pemegang Hak Guna Bangunan setelah mendapat persetujuan dari pemegang Hak Pengelolaan

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka sudah sangat jelas bahwa apabila Para Penggugat ingin mengajukan perpanjangan atau pembaharuan HGB harus mendapat persetujuan (rekomendasi) terlebih dahulu kepada pemegang Hak Pengelolaan in casu Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat sebagai pemegang Sertipikat Hak Pengelolaan No.1/Kelurahan Braga. Apabila pemegang Hak Pengelolaan tidak memberi ijin adanya permohonan perpanjangan/ pembaharuan HGB maka permohonan tersebut tidak dapat dilakukan.

9. Bahwa, terhadap pemegang HGB mempunyai beberapa kewajiban sebagaimana diatur pada Pasal 30 Peraturan Pemerintah No.40 Tahun 1996 sebagai berikut Pasal 30

(1) Membayar uang pemasukan yang jumlah dan cara pembayarannya ditetapkan dalam keputusan pemberian haknya;

(2) Menggunakan tanah sesuai dengan peruntukannya dan persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam keputusan dan perjanjian pemberiannya; (3) Memelihara dengan baik tanah dan bangunan yang di atasnya serta menjaga

kelestarian lingkungan hidup;

(4) Menyerahkan kembali tanah yang diberikan Hak Guna Bangunan kepada

Halaman 55 dari 98 Putusan Perdata Gugatan Nomor 152/Pdt.G/2015/PN.Bdg.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia