II. Potensi Pasar Jepang
1. Tentang Masyarakat Jepang dan Peralatan Telepon, Telepon, dan HP
Peralatan Telepon, Telepon, dan HP, atau dalam bahasa Jepang 電 話 機 ”denwaki”、携帯電話”keitai denwa”、無線電話”musen denwa” adalah segala perangkat elektronik yang berkaitan dengan jalur telepon atau jalur telegrafi, serta beberapa perangkat elektronik yang mampu mentransmisikan sinyal / gelombang. Sejak pertama kali ditemukan sekitar awal abad 20, perangkat telegrafi serta telepon telah mengalami kemajuan pesat hingga saat ini.
Jepang yang dikenal sebagai negara dimana sistem komunikasinya telah maju, juga merupakan salah satu negara yang melakukan inovasi di bidang perangkat serta peralatan elektronik terkait bidang komunikasi. Masyarakat Jepang juga merupakan masyarakat yang tidak bisa lepas dari teknologi komunikasi, khususnya peralatan telepon, telepon, serta HP. Fakta dimana masyarakat Jepang tidak dapat dipisahkan dengan perangkat elektronik komunikasi dapat dinyatakan dengan contoh sederhana dimana setiap hari dapat ditemukan pengguna telepon genggam di tempat – tempat seperti stasiun, kereta, halte bus, dan lain – lain untuk berkomunikasi dengan orang lain baik melalui pesan singkat ataupun jalur telepon.
Tentunya, selain contoh sederhana dengan banyaknya pengguna telepon genggam di Jepang, perangkat telepon berkabel ataupun tanpa kabel di rumah juga sering ditemukan jika berkunjung ke rumah orang Jepang. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat yang erat dengan produk – produk terkait HS 8517.
Penggunaan peralatan HS 8517 di tempat umum di Jepang ataupun di dalam kantor.
5 2. Jenis Peralatan Telepon (HS 8517) di Jepang.
Secara sederhana contoh dari produk HS 8517 adalah mesin telepon baik berkabel ataupun tanpa kabel, serta telepon genggam. Akan tetapi pada kenyataannya, produk dari HS 8517 adalah beragam dan dapat digolongkan menjadi beberapa sub-grup, dimana terdapat peralatan minor ataupun pelengkap dari perangkat elektronik tersebut.
Penggolongan sub-grup tersebut adalah berdasarkan pengkodean 6 digit, yaitu:
HS 851711 yaitu set telepon berkabel dengan handset tanpa kabel.
HS 851712 yaitu telepon untuk jaringan seluler atau untuk jaringan nirkabel lainnya (HP, dan lainnya).
HS 851718 yaitu set telepon di luar kategori HS 851711 dan HS 851712.
HS 851761 yaitu Base Station dari peralatan untuk transmisi atau menerima suara.
HS 851762 yaitu mesin untuk penerimaan, konversi dan transmisi atau regenerasi suara, gambar atau data lainnya, termasuk aparatur untuk switching dan routing.
HS 851769 yaitu mesin untuk penerimaan, konversi dan transmisi atau regenerasi suara, gambar atau data lainnya, termasuk aparatur untuk switching dan routing yang tidak dikategorikan ke dalam HS 851762.
HS 851770 yaitu bagian dari pesawat telepon, telepon untuk jaringan seluler atau untuk lainnya.
Adapun HS 851721 (mesin facsimile), HS 851722 (teleprinter), HS 851730 (telephonic or telegraphic switching apparatus), HS 851750 (apparatus for carrier-current/digital line systems), HS 851780 (electrical apparatus for line telephony/telegraphy nes), HS 851781 (telephonical apparatus nes), dan HS 851790 (parts of electrical apparatus for line telephone or line telegraphy) tidak diikut sertakan ke dalam jenis peralatan telepon HS 8517 yang terdapat di
6 Jepang, dibuktikan dengan tidak terdapatnya penulisan kode – kode 6 digit tersebut pada bagian informasi bea cukai Jepang.
3. Ekspor dan Impor Peralatan Telepon, Telepon, dan HP (Jepang - Dunia).
a. Ekspor HS 8517 Dunia. Berdasarkan data tentang ekspor dunia oleh ITC pada tahun 2014, nilai ekspor peralatan telepon, telepon, dan HP di dunia mencapai US$ 503,2 milyar. Pada Tabel 2.1. yang menunjukkan perbandingan ekspor HS 8517 di dunia pada tahun 2014, terlihat bahwa China merupakan pengekspor peralatan telepon yang paling besar dengan jumlah ekspor sebesar US$ 195,2 milyar, menguasai 38.8% pasar ekspor dunia. Di tempat kedua, menyusul Hong Kong dengan nilai ekspor sebesar US$ 69,5 milyar (13.8%) pada tahun yang sama. Di tempat ketiga ada Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar US$ 33,8 milyar (6.7%).
Vietnam menempati posisi enam dengan nilai ekspor sebesar US$ 25,5 milyar (5.1%) dan Singapura menempati posisi Sembilan dengan nilai ekspor sebesar US$ 8,4 milyar (1.7%). Jepang yang dikenal sebagai negara pengembang teknologi komunikasi, faktanya hanya menempati posisi tujuh belas dengan nilai ekspor sebesar US$ 4,4 milyar (0.9%). Sedangkan untuk Indonesia, walaupun melakukan ekspor sebesar US$ 165 juta, persentase terhadap ekspor dunia adalah kurang dari 0.1%.
38.8%
Tabel 2.1. Ekspor HS 8517 Dunia, 2014
Sumber : ITC (Diolah)
7 Pada Tabel 2.2. dapat dilihat bahwa secara keseluruhan, terjadi kenaikan secara signifikan nilai ekspor HS 8517 dari tahun 2011 sampai tahun 2014.
China masih menduduki peringkat pertama dalam hal ekspor HS 8517 kepada dunia, tetapi kenaikan nilai ekspor oleh Vietnam dalam 4 tahun terakhir menunjukkan tanda awal bahwa Asia Tenggara mampu bersaing dalam pasar HS 8517. Ekspor Indonesia ke dunia, dalam 3 tahun terakhir, mengalami penurunan dari US$ 410 juta pada tahun 2012 menjadi US$ 165 juta pada tahun 2014.
b. Impor HS 8517 Dunia. Pada Tabel 2.3. yang menunjukkan perbandingan impor produk peralatan telepon, telepon, dan HP (HS 8517) di dunia pada tahun 2014, terlihat bahwa Amerika Serikat merupakan pengimpor peralatan telepon, telepon, ataupun HP yang paling besar dengan nilai impor sebesar US$ 96 milyar (17,9%). Di tempat kedua adalah Hong Kong dengan nilai impor sebesar US$ 68,8 milyar (12,8%) pada tahun yang sama. Di tempat ketiga ada China dengan nilai impor sebesar US$ 43,8 milyar (8,1%) dan di tempat keempat ada Belanda dengan nilai impor sebesar US$ 27,4 milyar
0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000
2011 2012 2013 2014
Total
China
Hong Kong U.S.A
Vietnam
Tabel 2.2. Ekspor HS 8517 Dunia
Sumber : ITC (Diolah) Satuan ribu US$
8 (5,1%). Adapun Jepang menempati peringkat kelima dalam hal impor produk HS 8517 dengan nilai impor sebesar US$ 25,5 milyar, menyusun hampir 5% dari impor HS 8517 di dunia. Indonesia menduduki peringkat 26 dalam hal impor HS 8517 dengan nilai impor US$ 4,8 milyar (<1%). Sisa 50% dari nilai impor dunia berasal dari negara – negara lainnya.
Sama halnya dengan nilai total ekspor dunia, pada tabel 2.4. terlihat juga bahwa secara keseluruhan terjadi kenaikan total nilai impor peralatan telepon, telepon, dan HP di dunia, dari tahun 2011 sampai 2014, dengan kenaikan total impor sebesar puluhan milyar dolar setiap tahunnya. Amerika Serikat sebagai negara pengimpor HS 8517 terbanyak pun mengalami kenaikan nilai impor setiap tahunnya. Hal yang sama juga terjadi pada negara – negara seperti Hong Kong dan China yang mengalami kenaikan nilai impor setiap tahunnya. Hal ini berbeda dengan Jepang, dimana semenjak tahun 2012 sampai 2014, nilai impor HS 8517 mengalami stagnansi pada nilai sekitar US$ 25 milyar. Juga tercatat bahwa pada tahun 2014, nilai impor Jepang mengalami penurunan sebesar US$ 480 juta dari tahun 2013.
17.92%
12.85%
8.17%
5.11%
4.76%
0.91%
50.28%
Tabel 2.3. Impor HS 8517 Dunia, 2014
Sumber : ITC (Diolah)
U.S.A Hong Kong China Belanda Jepang Indonesia Lain - Lain
9 c. Ekspor Jepang. Ekspor HS 8517 peralatan telepon, telepon, dan HP Jepang ke Dunia selama periode 2011 – 2014 dapat dilihat pada Tabel 2.5. Ekspor HS 8517 Jepang ke dunia pada tahun 2011 adalah senilai US$ 4,3 milyar, jumlah yang dapat tidak begitu besar jika dibandingkan dengan ekspor yang dilakukan China ke dunia. Ekspor HS 8517 yang dilakukan Jepang kepada dunia terus mengalami penurunan sampai tahun 2012, dimana mencapai nilai US$ 3,6 milyar. Tetapi semenjak tahun 2013 hingga sekarang, nilai ekspor Jepang kepada dunia mengalami peningkatan mencapai US$ 4,4 milyar di tahun 2014. Meskipun sempat mengalami penurunan nilai ekspornya, kenaikan nilai ekspor HS 8517 Jepang dalam dua tahun terakhir menunjukkan Jepang tidak ingin melepas pasar peralatan telepon, telepon, dan HP di dunia. Hal ini ditunjukkan dengan kenaikan nilai ekspor Jepang ke China yang cukup signifikan, mencapai US$ 1,8 milyar pada tahun 2014.
Mungkin saja dalam beberapa tahun ke depan, Jepang dapat meningkatkan nilai ekspornya terkait produk HS 8517 terhadap negara – negara lain yang memiliki potensi ekonomi seperti China.
0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000
2011 2012 2013 2014
Total U.S.A Hong Kong China Jepang
Tabel 2.4. Impor HS 8517 Dunia
Sumber : ITC (Diolah) Satuan ribu US$
10 d. Impor Jepang. Tabel 2.6. menunjukkan perbandingan jumlah impor HS 8517 Peralatan Telepon, Telepon, dan HP Jepang dari berbagai negara pada tahun 2014. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa China menguasai hampir 80% impor yang dilakukan Jepang terkait produk HS 8517, dengan nilai US$ 20,1 milyar. Menyusul China adalah dari Korea Selatan dengan nilai impor sebesar US$ 1,9 milyar (7,6%). Negara sesama Asia Tenggara yang memimpin dan mampu menembus pasar Jepang terkait produk HS 8517 adalah Malaysia dengan nilai impor sebesar US$ 732 juta (2,8%).
Adapun Indonesia hanya mampu memberikan kontribusi yang masih sangat kecil sebesar 0.05% yaitu US$ 11,5 juta.
Sedangkan pada tabel 2.7. menunjukkan kegiatan impor HS 8517 Jepang dari Dunia selama periode 2011 – 2014. Dari data tersebut dapat disimpulkan beberapa hal seperti kenaikan jumlah impor yang dilakukan Jepang dari China selama 4 tahun terakhir. Jepang mengurangi impor dari beberapa negara seperti Korea Selatan, Malaysia, dan juga Amerika Serikat.
Akan tetapi, angin segar seperti berhembus ke negara – negara yang berpotensi memiliki kekuatan ekonomi di waktu mendatang seperti
0
Tabel 2.5. Ekspor HS 8517 ke Dunia
Sumber : ITC (Diolah) Satuan ribu US$
11 Indonesia, ditunjukkan dengan adanya kenaikan impor yang dilakukan Jepang dari Indonesia selama tahun 2013 - 2014. Meskipun pada tahun 2014, nilai impor Jepang dari Indonesis hanya sebesar US$ 11,5 juta, ada kenaikan sebesar US$ 4 juta bukanlah hal yang mustahil jika kelak Jepang melakukan impor yang lebih besar dari Indonesia.
79.18%
7.67%
2.87% 2.80% 1.18%
0.05%
Tabel 2.6. Impor HS 8517 Jepang dari Dunia, 2014
Sumber : ITC (Diolah)
China Korea Selatan Malaysia U.S.A Thailand Indonesia
0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000
2011 2012 2013 2014
China Korea Selatan Malaysia U.S.A Indonesia
Tabel 2.7. Impor HS 8517 Jepang dari Dunia (2011-2014)
Sumber : ITC (Diolah) Satuan ribu US$
12 4. Potensi Pasar Ekspor Peralatan Telepon, Telepon, dan HP Jepang.
a. Potensi Pasar Jepang
Setelah menganalisa data impor dan ekspor peralatan telepon, telepon, HP Jepang dengan Dunia, maka dapat disimpulkan bahwa:
Jepang sampai saat ini masih merupakan negara pengimpor peralatan telepon, telepon, dan HP (HS 8517). Hal ini dibuktikan dengan data impor dunia, dimana jepang menyusun 5% dari dari data impor HS 8517 dunia, juga dapat dikatakan bahwa Jepang adalah negara terbesar kelima dalam hal impor produk HS 8517. Walaupun melakukan ekspor produk Hs 8517, perbandingan antara impor dan ekspor yang dilakukan Jepang adalah rasio 25:4.
Walaupun pasar Jepang masih dikuasai oleh China, namun adanya peningkatan nilai impor dari Indonesia sebesar US$ 4 juta sebagai langkah awal dapat memberi tanda bahwa Indonesia mampu untuk memasuki dan ikut mengambil bagian yang lebih besar pada pasar peralatan telepon, telepon, dan HP di Jepang.
b. Ekspor Indonesia ke Jepang
Ekspor Indonesia ke Jepang sampai tahun 2014 terkait produk peralatan telepon, telepon, dan HP (HS 8517) adalah terfokus pada dua jenis produk, yaitu mesin dengan utilitas menerima dan transmisi data, serta switching dan routing dan berbagai perlengkapan – perlengkapan minor dari peralatan mesin telepon dan sebagainya. Sedangkan untuk produk HS 8517 lainnya, produk Indonesia masih belum dapat memasuki pasar Jepang, dibuktikan dengan nilai ekspor sama dengan US$ 0 sampai saat ini. Walaupun produk telepon tanpa kabel Indonesia berhasil memasuki pasar Jepang, nilai ekspornya hanyalah senilai US$ 3 juta, dibandingkan dengan nilai ekspor negara – negara lain ke Jepang, nilai ekspor Indonesia ke Jepang untuk telepon tanpa kabel adalah masih sangat kecil nilainya.
13 Potensi Ekspor HS 8517 Indonesia ke Jepang
Sumber : ITC (satuan ribu US$)
Kode HS Uraian
`851761 Base stations of apparatus for the transmission or reception of voice
0 9.284 688.034 9.284
`851762 Machines for the reception,
14 switching and
routing apparatus
`851769 Apparatus for the transmission or reception of voice, images (other than
`851762)
0 558 224.140 558
`851770 Parts of telephone sets, telephones for cellular networks or for other
3.464 59.405 2.963.167 55.941
Tabel Potensi Ekspor Hs 8517 Indonesia – Jepang
c. Kesimpulan
Dari tabel diatas, dapat disimpulkan:
Impor yang dilakukan Jepang terhadap produk HS 8517 asal Indonesia masih sangat kecil jumlahnya, ditunjukkan dengan beberapa kolom yang menunjukkan angka 0.
Impor dari Dunia yang paling banyak dilakukan Jepang adalah HS 851712 dengan nominal lebih dari US$ 16 milyar.
Kolom Potensi Trade (Indikatif) menunjukkan nilai ekspor yang dapat ditingkatkan Indonesia untuk mencapai ekspor maksimum ke Jepang atau memberi gambaran sebesar apa ekspor yang dapat dilakukan Indonesia ke Jepang terkait produk peralatan telepon, telepon, dan HP.
Produk HS 851762 dan HS 851770 telah dapat dikatakan memasuki pasar Jepang, akan tetapi nominal yang disebutkan masih terlampau sangat kecil jika melihat jumlah impor yang dilakukan Jepang dari dunia yang mencapai milyar US$.
15 d. Negara Pesaing
Negara pesaing Indonesia terkait produk HS 8517 di pasar Jepang adalah China sebagai negara yang mendominasi hampir 80% pasar ini. Jika melihat negara dengan nilai ekspor yang menyamai Indonesia, tentunya pesaing Indonesia adalah negara – negara seperti Hong Kong, Italia, Irlandia, Republik Ceko dengan selisih senilai US$ 2 sampai 3 juta lebih tinggi dari Indonesia. Untuk negara sesama Asia Tenggara, Indonesia masih belum mampu menyaingi Malaysia ataupun Thailand dengan perbedaan nilai ekspor produk HS 8517 ke Jepang yang hampir sejumlah 70 kali dan 30 kali nilai ekspor Indonesia. Sedangkan untuk produk Indonesia yang telah memasuki pasar Jepang seperti yang disebutkan sebelumnya, pesaing Indonesia adalah Hong Kong dan Estonia, serta Kanada dan Finlandia dalam kategori perlengkapan untuk peralatan telepon, dengan selisih nilai US$ 1 sampai 2 juta lebih tinggi dari Indonesia.
5. Kebijakan Impor Peralatan Telepon, Telepon, dan HP di Jepang.
A. Regulasi pada waktu Impor
Pada umumnya, tidak ada peraturan terkait impor produk – produk radiotelegraph.
B. Regulasi pada waktu Sales
(1) The Telecommunication Business Law
Terkait sifat alami dari kegiatan bisnis telekomunikasi, peraturan ini bertujuan untuk memastikan operasi bisnis yang layak dan reasonable, untuk mengamankan konsistensi dalam penyediaan layanan telekomunikasi, dan untuk melindungi kepentingan para penggunanya dan sehingga menjamin pengembangan suara telekomunikasi untuk kenyamanan dan promosi kesejahteraan masyarakat.
Tidak ada peraturan khusus terkait penjualan produk radiotelegraph.
Akan tetapi, dibutuhkan approval dari Minister of Public Management, Home Affairs, Posts and Telecommunications untuk membuat pengaturan (setting up) sebuah radio station dengan radiotelegraphy, seperti yang disediakan oleh The Telecommunication Business Law.
16 Akan tetapi, regulasi ini tidak dapat diaplikasikan pada gelombang lemah (weak waves). Dealer dari produk yang bersangkutan diwajibkan untuk membuat pemberitahuan tentang sistem lisensi sesuai dengan aturan pemberitahuan nomor 158 (The notification rule of 158) kepada pembeli produk peralatan radiotelegraph yang mungkin menggunakannya untuk radio station ilegal.
(2) Electrical Appliance and Material Safety Law
Standar teknis di Jepang yang telah ditetapkan untuk “Alat Listrik” telah disediakan oleh ketetapan pemerintah di bawah hukum ini dan tugas lain dari badan usaha di masing – masing fase manufaktur, impor, dan penjualan yang telah disediakan untuk.
Radio receivers (termasuk yang hanya menerima broadcast darurat dan yang menggunakan rata – rata voltase dari 100V sampai 300V dan rata – rata frekuensi 50Hz atau 60Hz) telah dinyatakan sebagai “Alat Listrik”
selain dari pada alat listrik spesifik dalam peraturan pemerintah.
Seorang yang mengimplementasikan manufaktur atau impor harus menyerahkan “report for commencing business” kepada director of Economic Industrial Bureau etc. dalam waktu 30 hari dari dimulainya bisnis.
Berdasarkan aturan identifikasi diri, 1) kepatuhan terhadap standar teknis produk, 2) implementasi terkait tes, 3) dokumen terkait tes, dan 4) maintenance terkait report tes, dan lainnya adalah juga dibutuhkan.
Sebagai tambahan, kecuali tertera tanda spesifik, penjualan ataupun display untuk penjualan adalah tidak diizinkan.
(3) Consumer Product Safety Law
Tujuan dari peraturan ini adalah untuk meregulasi manufaktur dan penjualan dari produk yang dimaksud, untuk mempromosikan maintenance yang layak terkait maintenance dari produk terkait, dan
17 untuk mengambil langkah – langkah seperti mengumpulkan dan menyediakan informasi terkait kecelakaan dari produk terkait, sehingga melindungi kepentingan konsumen umumnya, untuk mencegah bahaya yang ditimbulkan oleh produk dari consumer pada nyawa ataupun tubuh dari konsumer.
Menurut revisi dari hukum ini pada 14 Mei 2007, importir diwajibkan untuk melaporkan kepada Ministry of Economy, Trade and Industry dalam 10 hari setelah mengetahui defek ketika kecelakaan serius terjadi pada produk yang digunakan sehari – hari di rumah dan lainnya oleh konsumer.
C. Labelling Procedures
1. Pelabelan berdasarkan Provision of Law
Tidak ada kewajiban pelabelan pada umumnya berdasarkan the law for transceivers, tetapi penggunaan small secondary cells sebagai perlengkapan harus tunduk pada pembatasan hukum.
2. Resources effective use promotion law (Recycle law)
Small secondary cells yang digunakan sebagai perlengkapan dikhususkan sebagai “Recycling product” dalam aturan ini, dan importir serta penjual harus mengimplementasikan pengumpulan dan recycle secara sukarela demikian juga dalam pelabelan yang dibutuhkan untuk pemulihan fraksional.
3. Voluntary Regulation based on Provision of Law 4. Industrial Standarization Law: JIS Mark
Tujuan dari aturan ini adalah untuk berkontribusi dalam peningkatan kualitas produk, untuk meningkatkan efisiensi produksi, untuk rasionalisasi terkait pross produksi, untuk menyebar luaskan perdagangan yang sederhana dan adil, dan untuk rasionalisasi penggunaan dan konsumsi terkait manufaktur produk dan pada waktu yang sama juga mempromosikan kesejahteraan masyarakan dengan membuat dan menegakkan standar industri yang layak dan beralasan untuk produk terkait.
18 Komoditi atau barang dibawah JIS Mark Labelling System diperbolehkan memilih secara sukarela komoditi atau barang untuk JIS Mark Labelling dari semua JIS certifiable products.
* Untuk standar dibawah JIS Mark Labelling System, dapat dilihat di
“Search for registered certification organization” pada home page yang dijalankan oleh Japan Industrial Standards Committee.
* Untuk standar yang tidak dibawah JIS Mark Labeling System, grup industry dan pihak terkait pada sektor privat diperbolehkan secara sukarela mengembangkan sebuah draft tentang standar industry (JIS draft) dan menyerahkan kepada kementerian yang kompeten. Untuk detail lebih lanjut, dapat dilihat pada home page yang dijalankan oleh Japan Industrial Standards Committee.
* Sertifikasi JIS Mark dilakukan oleh pihal ketiga, certification bodies dalam sektor privat yang dirancang oleh pemerintah dengan berdasarkan standar internasional (ISO/IEC Guidelines 65 (equivalent to JIS Q 0065)).
Pabrikan atau lainnya yang telah disertifikasi oleh badan sertifikasi yang terakreditasi boleh menampilakan JIS Mark yang baru pada produk mereka atau lainnya.
* List dari Accredited Certification Bodies:
http://www.jisc.go.jp/acc/jismrk-jasc.html
* JIS Marks
Japanese Industrial Standards Committee http://www.jisc.go.jp/eng/index.html Japanese Standards Association
Http//www.jsa.or.jp/default_english.asp
19 5. Voluntary Labelling based on Industrial Sector
Untuk transmitter dan receiver, tidak ada pelabelan secara sukarela berdasarkan sektor industry.
6. Otoritas terkait
The Telecommunication Business Law: Ministry of Internal Affairs and Communications.
Electrical Appliance and Material Safety Law : Product Safety Division, Consumer Affairs Department, Commerce and Information Policy Bureau, Ministry of Economy, Trade and Industry.
Act on the Promotion of Effective Utilization of Resources: Recycling Promotion Division, Industrial Science and Technology Policy Environment Bureau, Ministry of Economy, Trade and Industry.
Consumer Product Safety Law: Consumer Affairs Agency.
6. Saluran Distribusi Peralatan Telepon, Telepon, dan HP.
Gambar di bawah ini adalah salah satu contoh saluran distribusi produk HS 8517, yaitu telepon genggam. Alur yang sama umumnya berlaku pada produk – produk HS 8517 lainnya, yaitu Telepon dan Peralatan Telepon.
Sebagain contoh, umumnya penjualan produk yang berkaitan dilakukan oleh toko – toko khusus yang menjual produk telekomunikasi. Pabrikan yang berlokasi di luar negeri dapat melakukan ekspor kepada produsen yang berkaitan di Jepang dan melakukan kerja sama sehingga produk tersebut dapat disalurkan kepada toko – toko yang melakukan penjualan. Seperti yang tertera pada gambar, penjualan domestic kepada konsumer ada 3 cara, yaitu melalui retail shop seperti toko HP, toko telekomunikasi, dan sebagainya, lalu penjualan langsung oleh operator / carrier terkait (sebagai contoh NTT Group, KDDI Group, SoftBank Group, Yozan, UCOM, dan lainnya), lalu bisa juga melalui kontrak berkabel (回 線契約) melalui operator / carrier terkait yang telah disebutkan. Yang terpenting adalah bagaimana eksportir (dimana pada kasus ini adalah maker atau pembuat produk bersangkutan) mencapai perusahaan telekomunikasi (operator / carrier)
20 yang berada di Jepang, dimana umumnya perusahaan tersebut adalah perusahaan – perusahaan besar pada pasar domestik Jepang. Bisa juga dengan mencapai toko – toko retailer secara langsung baik skala besar ataupun kecil.
7. Hambatan Lainnya.
(1) Kualitas produk Indonesia.
Melihat data potensi ekspor Indonesia ke Jepang, didapati bahwa dari beberapa kategori HS 8517, masih ada 5 kategori dengan nilai ekspor ke Jepang adalah hampir sama dengan 0. Hal ini mengindikasikan bahwa produk buatan Indonesia masih dapat dipertanyakan kualitasnya. Jepang yang merupakan negara yang menuntut kualitas tinggi untuk kepentingan konsumen, menuntut juga akan kualitas yang sangat baik terhadap produk
21 peralatan telepon, telepon, ataupun HP yang akan diperjual belikan.
Mengingat halnya bahwa pesaing utama di bidang ini adalah China dimana dulunya barang buatan China kurang mendapat penghargaan di mata dunia, akan tetapi mampu menembus pasar ekspor di dunia, termasuk di Jepang.
Untuk saat ini, Indonesia dapat dikatakan tertinggal jauh untuk menguasai pasar ini, kecuali dimulai dengan adanya peningkatan kualitas produk buatan Indonesia.
Jika melihat saluran distribusi di bagian sebelumnya, dapat dilihat bahwa pabrikan atau eksportir akan memberikan supply produk secara langsung kepada toko retailer dan juga perusahaan telekomunikasi di Jepang. Untuk mampu menembus saluran distribusi ini, tentunya syarat utama adalah kualitas produk.
(2) Kurangnya informasi terkait produk Indonesia.
Setelah kualitas produk sudah bukan merupakan masalah lagi, seperti dengan adanya pengakuan terahadap kualitas produk Indonesia oleh negara –
Setelah kualitas produk sudah bukan merupakan masalah lagi, seperti dengan adanya pengakuan terahadap kualitas produk Indonesia oleh negara –