• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tentang Persekongkolan;

Dalam dokumen Putusan 05 KPPU I 2012 24062013 (Halaman 158-163)

Tahap II (dalam Estimated

TENTANG HUKUM

5. Tentang Persekongkolan;

5.1 Bahwa berdasarkan Pedoman Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, persekongkolan dapat terjadi dalam 3 (tiga) bentuk, yaitu persekongkolan horizontal, persekongkolan vertikal, dan gabungan dari persekongkolan horizontal dan vertikal; --- 5.2 Bahwa yang dimaksud dengan persekongkolan horizontal adalah persekongkolan

yang terjadi antara pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa dengan sesama pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa pesaingnya; persekongkolan vertikal adalah persekongkolan yang terjadi antara salah satu atau beberapa pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa dengan panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan; sedangkan gabungan persekongkolan horizontal dan vertikal adalah persekongkolan antara panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan dengan sesama pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa; --- 5.3 Bahwa penilaian dan analisa Majelis Komisi terkait dengan persekongkolan yang

dilakukan oleh para Terlapor adalah sebagai berikut; --- 5.3.1 Tentang Pemberian CTR Man Hour yang telah Terisi pada pre-bid meeting tanggal 7 April 2010 --- 5.3.1.1 Bahwa dalam kesimpulannya, Investigator menyatakan adanya

pemberian CTRs Man Hour dalam sebuah amplop tertutup yang membuat masing-masing peserta tender tidak mengetahui isi dari masing-masing amplop dimana Terlapor II menerima CTRs Man Hour yang telah terisi dari Terlapor I sedangkan PT Wood Group Indonesia menerima CTRs Man Hour tidak dalam keadaan terisi

halaman 159 dari 167

(kosong) menunjukkan adanya perbedaan amplop yang diberikan Terlapor I kepada Terlapor II pada saat pre-bid meeting tanggal 7 April 2010 dengan yang diterima peserta tender lainnya; --- 5.3.1.2 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor I membantah adanya

pemberian CTRs Man Hour yang telah terisi kepada Terlapor II selaku peserta tender pada saat pre-bid meeting tanggal 7 April 2010 dalam sebuah amplop tertutup yang disampaikan melalui hand to hand untuk kemudian disalin (copy paste) untuk dimasukkan ke dalam dokumen penawaran teknis Terlapor II; --- 5.3.1.3 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor I menegaskan bahwa

pemberian CTRs Man Hour dilakukan secara terbuka yang dikuatkan dengan kesaksian Sdr. Heraldo Panjaitan selaku pihak dari PT Bechtel Indonesia dan Sdr. Gangras Shantanu selaku pihak dari Terlapor II yang menyampaikan ketidakhadirannya dalam pre-bid meeting tanggal 7 April 2010 tersebut dan bahkan Sdr. Gangras Shantanu baru terlibat dalam Business Development Team Terlapor II pada bulan November 2010 dimana pada bulan tersebut, tender a quo telah selesai; --- 5.3.1.4 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor I juga turut menjelaskan

kesaksian Sdr. Rajnish Gupta selaku pihak dari Terlapor II dalam menghadiri pre-bid meeting tanggal 7 April 2010 dimana Terlapor I tidak pernah membagikan CTRs Man Hour yang telah terisi kepada Terlapor II, bahkan Sdr. Rajnish Gupta menegaskan bahwa pembagian dokumen tender dilakukan secara terbuka di hadapan semua peserta tender yang hadir; --- 5.3.1.5 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor I menyatakan adanya dokumen

penawaran yang diajukan oleh Terlapor II pada tanggal 5 Mei 2010 yang antara lain berisi proposed man hour, ternyata berbeda dari data jumlah man hour yang dijadikan sebagai acuan oleh Terlapor I dimana pada tahap tersebut, Terlapor I bahkan belum memiliki perkiraan jumlah man hour sesuai format yang nantinya akan digunakan dalam proses penawaran komersial para peserta tender; ---- 5.3.1.6 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor I menyatakan satu-satunya

kriteria yang dapat menyebabkan peserta tender didiskualifikasi adalah apabila peserta tender tersebut tidak memasukkan data (termasuk data proposed man hour) secara lengkap dan/atau mengklarifikasi data yang telah diajukan tersebut dimana pengisian

halaman 160 dari 167

proposed man hour akan merupakan subjek dari klarifikasi dan negosiasi selama proses teknis berlangsung, dengan demikian kalaupun benar Terlapor II menerima CTRs berisi man hour yang telah diisi oleh Terlapor I, quod non, maka hal tersebut tetap saja tidak akan membawa “keuntungan” apapun bagi Terlapor II; --- 5.3.1.7 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor II membantah telah menerima

CTRs Man Hour yang telah terisi dari Terlapor I pada pre-bid meeting tanggal 7 April 2010 dimana pernyataan Sdr. Gangras Shantanu dan Sdri. Sheilawaty Anom pada tahap penyelidikan yang menjadi dasar dugaan KPPU dalam tender a quo ini adalah tidak berdasar, karena yang bersangkutan tidak hadir dalam pre-bid meeting tanggal 7 April 2010, melainkan yang hadir adalah Sdr. Rajnish Gupta sebagaimana tercantum dalam Daftar Hadir pada pre-bid meeting tanggal 7 April 2010 mewakili Terlapor II; --- 5.3.1.8 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor II menyatakan adanya

keterangan Sdr. Rajnish Gupta yang menyampaikan bahwa Terlapor II menerima CTRs Man Hour yang belum terisi (kosong) dan tidak diterima dalam bentuk amplop melainkan diserahkan dalam map disertai dengan CD sebagai petunjuk mengenai pengisian tabel CTR bagi semua peserta, sama seperti yang diterima oleh peserta tender yang lain pada pre-bid meeting tanggal 7 April 2010; --- 5.3.1.9 Bahwa Majelis Komisi berpendapat tidak terdapat bukti yang

meyakinkan terkait adanya pemberian CTRs Man Hour yang telah terisi oleh Terlapor I hanya kepada Terlapor II selaku peserta tender pada saat pre-bid meeting tanggal 7 April 2010;--- 5.3.2 Tentang Pemberian Hypothetical Man Hour yang telah Terisi Distribusi

Ekspatriat dan Nasional untuk kemudian digunakan sebagai Estimated Cumulative CTR Value and Man Hour Summary dalam Dokumen Penawaran Komersial pada tanggal 7 September 2010 --- 5.3.2.1 Bahwa dalam kesimpulannya, Investigator menyatakan adanya

perbedaan perlakuan terhadap pelaku usaha tertentu pada tender a quo yang dilakukan melalui pemberian Hypothetical Man Hour yang telah terisi distribusi ekspatriat dan nasional oleh Terlapor I hanya kepada Terlapor II selaku peserta tender pada tanggal 7 September 2010 untuk kemudian digunakan sebagai Estimated Cumulative CTR Value and Man Hour Summary dalam dokumen penawaran komersial Terlapor II; ---

halaman 161 dari 167

5.3.2.2 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor I tidak pernah memberikan Estimated Cumulative CTR Value and Man Hour Summary kepada Terlapor II yang berbeda dengan yang diberikan kepada PT Wood Group Indonesia, yang didukung dengan kesaksian Sdr. James Tsang dari PT Wood Group Indonesia dan Sdr. Rajnish Gupta dari Terlapor II yang mengaku bahwa keduanya menerima Formulir Estimated Cumulative CTR Value and Man Hour Summary yang sama, dimana distribusi antara ekspatriat dan nasional masih dalam keadaan kosong dan justru menjadi kewajiban PT Wood Group Indonesia dan Terlapor II untuk mengisinya sebagai bentuk penawaran komersial yang diajukan keduanya; --- 5.3.2.3 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor I menegaskan adanya

perbedaan pembagian distribusi ekspatriat dan nasional yang terdapat dalam Owner Estimate tentang Estimated Cumulative CTR Value and Man Hour Summary milik Terlapor I dengan Proposed Man Hour Terlapor II; --- 5.3.2.4 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor II membantah telah menerima

Estimated Cummulative CTR Price and Man Hour yang telah terisi distribusi ekspatriat dan nasional dari Terlapor I pada tanggal 7 September 2010 dimana pernyataan Sdr. Gangras Shantanu dan Sdri. Sheilawaty Anom pada tahap penyelidikan yang menjadi dasar dugaan KPPU dalam tender a quo ini adalah tidak berdasar karena yang bersangkutan tidak hadir dalam pre-bid meeting tanggal 7 September 2010, melainkan yang hadir adalah Sdr. Rajnish Gupta sebagaimana tercantum dalam Daftar Hadir pada tanggal 7 September 2010 mewakili Terlapor II; --- 5.3.2.5 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor II menyatakan adanya

dokumen yang terdapat dalam CD yang dibagikan pada tanggal 7 September 2010 adalah bukti dokumen yang berisi tabel-tabel yang perlu diisi oleh Terlapor II, menunjukkan bahwa Terlapor II menerima Estimated Cumulative CTR and Man Hour Summary yang masih kosong; --- 5.3.2.6 Bahwa Majelis Komisi berpendapat, tidak terdapat bukti yang

meyakinkan terkait adanya pemberian Hypothetical Man Hour yang telah terisi distribusi ekspatriat dan nasional oleh Terlapor I hanya kepada Terlapor II selaku peserta tender pada tanggal 7 September 2010; ---

halaman 162 dari 167

5.3.3 Tentang Owner Estimate --- 5.3.3.1 Bahwa dalam kesimpulannya, Investigator menyatakan dengan

adanya pemberian CTRs Man Hour yang telah terisi kepada Terlapor II dalam sebuah amplop tertutup yang disampaikan melalui hand to hand pada pre-bid meeting tanggal 7 April 2010 serta pemberian Hypothetical Man Hour yang telah terisi distribusi ekspatriat dan nasional oleh Terlapor I hanya kepada Terlapor II selaku peserta tender pada tanggal 7 September 2010, untuk kemudian digunakan sebagai Estimated Cumulative CTR Value and Man Hour Summary dalam dokumen penawaran komersial Terlapor II, tercermin hasil perbandingan yang tipis antara Owner Estimate yang dimiliki oleh Terlapor I dengan Estimated Cumulative CTR Value and Man Hour Summary milik para peserta, dimana prosentase kesamaan Terlapor II adalah 53,57 % sedangkan prosentase kesamaan PT Wood Group Indonesia adalah sebesar 28,57 %; --- 5.3.3.2 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor II tidak pernah mengetahui

owner estimate dari Terlapor I dalam tender a quo, sedangkan adanya perbandingan yang tipis antara Owner Estimated yang dimiliki oleh Terlapor I dengan Estimated Cumulative CTR Value and Man Hour Summary yang dimiliki oleh Terlapor II bisa disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya antara lain karena Terlapor I telah membuat perencanaan yang akurat atau Terlapor II yang memiliki pemahaman yang baik mengenai lingkup pekerjaan dalam tender a quo. Dalam hal apapun, nilai penawaran yang mendekati nilai Owner Estimate tidak cukup untuk disimpulkan sebagai telah terjadi persekongkolan antara Terlapor I dan Terlapor II dalam tender a quo; --- 5.3.3.3 Bahwa Majelis Komisi berpendapat dengan tidak dapat dibuktikannya

pemberian Hypothetical Man Hour yang telah terisi distribusi ekspatriat dan nasional oleh Terlapor I hanya kepada Terlapor II selaku peserta tender pada tanggal 7 September 2010, maka dugaan bahwa Terlapor II telah mengetahui Owner Estimate yang dimiliki oleh Terlapor I dalam tender a quo tidak perlu dibuktikan; --- 5.3.4 Tentang Klarifikasi Teknis sebagai Bentuk Persekongkolan Vertikal; --- 5.3.4.1 Bahwa dalam kesimpulannya, Investigator menyatakan berdasarkan

klarifikasi teknis yang dilakukan oleh Terlapor I, PT Wood Group Indonesia merubah penawaran teknisnya mengikuti Hypothetical Man Hour dari Terlapor I yang menyebabkan Hypothetical Man Hour PT

halaman 163 dari 167

Wood Group Indonesia pada penawaran teknis dan penawaran komersial tidak konsisten, yang selanjutnya mengakibatkan PT Wood Group Indonesia didiskualifikasi dalam tender a quo; --- 5.3.4.2 Bahwa dalam pembelaannya, Terlapor I menyatakan adanya

keputusan mendiskualifikasi PT Wood Group Indonesia bukan karena adanya penawaran teknisnya yang “diubah” oleh Terlapor I sebelum penawaran komersial diajukan, sehingga seolah-olah PT Wood Group Indonesia dianggap memiliki dua penawaran teknis yang tidak konsisten satu sama lainnya, melainkan PT Wood Group Indonesia tidak konsisten atas Komitmen Teknis yang telah disepakatinya bersama Terlapor I; --- 5.3.4.3 Bahwa terdapat fakta lain yang diperoleh dalam persidangan dimana

ketentuan PTK 007 yang digunakan dalam pelaksanaan Tender Export

Pipeline FEED ini adalah PTK 007 Revisi 1 dengan metode

pemasukan dokumen penawarannya menggunakan sistem pemasukan 2 (dua) tahap yang memungkinkan selama proses tender berlangsung, Terlapor I diperbolehkan melakukan klarifikasi terhadap hal-hal yang dianggap perlu diklarifikasi tanpa adanya pembatasan mengenai hal- hal apa saja yang boleh diklarifikasi oleh Terlapor I kepada peserta tender; --- 5.3.4.4 Bahwa Majelis Komisi menilai, Investigator keliru dalam memahami

alasan didiskualifikasinya PT Wood Group Indonesia; --- 5.3.4.5 Bahwa Majelis Komisi sependapat dengan pernyataan Terlapor I yang

menyatakan bahwa alasan didiskualifikasinya PT Wood Group Indonesia bukan karena adanya perubahan Hypothetical Man Hour yang dilakukan oleh PT Wood Group Indonesia berdasarkan klarifikasi teknis yang dilakukan oleh Terlapor I, melainkan PT Wood Group Indonesia tidak konsisten atas Komitmen Teknis yang telah disepakatinya bersama Terlapor I. ---

Dalam dokumen Putusan 05 KPPU I 2012 24062013 (Halaman 158-163)

Dokumen terkait