• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6. Kerangka Teoretik

1.6.5. Teori Aktivisme Islamis

Di muka telah disinggung stigma atas kelompok Islamis sebagai gerakan radikal, yang sebenarnya perlu dibedakan antara radikalisme agama yang niscaya konservatif dengan konservatisme agama yang tidak selalu identik dengan sikap radikal. Konsep Islamisme yang diterapkan pada komunitas Salafi dapat dipahami dalam batas tertentu dengan mempertimbangkan berbagai pendapat yang dikemukakan oleh beberapa analis berikut ini, selebihnya konsep tersebut perlu ditinjau ulang berdasarkan realitas Salafi yang pada kenyataannya tidak tunggal, bukan gerakan radikal yang dapat digeneralisir pada semua kelompok Salafi.

Sebagai bagian dari representasi pergerakan kelompok Islamis, Islam radikal melakukan mobilisasi massa untuk merespon sikap Barat yang cenderung

merugikan Islam dan terhadap setiap proses westernisasi di segala bidang kehidupan, termasuk juga dalam kaitannya dengan budaya. Seperti dikemukakan Wiktorowicz (2004: 5-7), dalam buku Islamic Activism: A Social Movement Theory Approach, menunjukkan bahwa aktivisme Islamis merupakan respon terhadap imperalisme budaya Barat yang mekar di dunia Islam dengan sokongan kekuatan politik internasional, ekonomi, dan instrumen militer. Inilah yang menjadi salah satu penyebab dari munculnya gerakan Islamis yang melakukan counter culture terhadap dominasi Barat.

Untuk lebih memperjelas makna Islamisme, Peter R. Demant dalam karyanya, Islam vs Islamism: The Dilemma of the Muslim World (2006), ia mendefinisikan Islamisme sebagai suatu politisasi agama yang ambisius yang meliputi: (1) ideologi, menuntut keterlibatan total yang mengubah orang beriman menjadi militan, menjadi idealis sejati, dan harus meninggalkan kesenangan hidup duniawi, seperti tekad jihadis Muslim yang mencintai kematian sebagai orang lain mencintai kehidupan; (2) gerakan sosial, perkaderan secara organisasi, ulama, dan intelektual berjalan terus dan bahkan berpengaruh dalam gelombang pergerakan Islamisme di dunia; dan (3) tribalisme, Islamisme merekrut di antara populasi suku dan marjinal untuk kepentingan mereka, menyangga kelompok atau etnis untuk sebuah cita-cita perjuangan di sebuah negara. Demant (2006: 181) juga menegaskan bahwa Islamism, like other fundamentalisms, is a reaction against modernity produced by modernity, during modern times, using modern means, and irreversibly partaking of modernity (Islamisme, sebagaimana fundamentalisme lainnya, adalah reaksi terhadap modernitas yang dihasilkan oleh

modernitas, selama masa modern, menggunakan alat modern, ambil bagian dari modernitas secara tak terubah). Islamisme adalah reaksi antimodern yang dimiliki modernitas, sebuah paradoks yang terlihat pada organisasi, operasi, dan propaganda mereka. Gerakan Islamis adalah gerakan sosial modern yang benar-benar berbeda dari masyarakat Muslim tradisional. Kaum Islamis bercita-cita untuk suatu tujuan, karenanya mereka harus berorganisasi, sehingga tidak bisa menolak modernitas. Kaum Islamis menggunakan teknologi hasil modernitas, tetapi anehnya menolak berbagai alasannya (Demant, 2006: 187). Islamisme sebenarnya bercita-cita untuk mengubah masyarakat, dan akan meniru masyarakat asli yang berbudi mulia yang terdapat pada masa Nabi Muhammad saw di era Muslim awal, masa Salafus Salih.

Demant (178-179) merinci sembilan prinsip yang melekat pada diri Islamis, meskipun sebagian diakuinya juga terdapat pada sebagian Muslim yang non-Islamisme. Pertama, manusia bukanlah tuan bagi diri mereka sendiri tetapi berhutang ketaatan dan ibadah kepada Pencipta mereka yang berkuasa dan yang mengkomunikasikan kehendak-Nya melalui para nabi, di antaranya Muhammad adalah yang terakhir. Kedua, bentuk pemerintahan yang ideal adalah negara Islam, meskipun ada banyak konsensus di antara kelompok Islamis tentang pemerintahnya daripada tentang ruang lingkupnya. Bagi sebagian kelompok Islamis, negara mana saja akan melakukan selama ia terislamkan; bagi yang lain, kaum muslim yang taat mungkin atau seharusnya membentuk suatu negara Islam baru di mana pun mereka mempunyai kesempatan untuk itu; bagi kelompok yang paling radikal, semua negara yang ada dan batas-batasnya adalah tidak sah, dan

karena itu negara Islam seharusnya termasuk keseluruhan Dar al-Islam, dan akhirnya seluruh dunia. Ketiga, Pemerintah harus dengan contoh Islam yang akan memiliki kebenaran mutlak Islam dan supremasi aksiomatik sebagai titik awal dan akan, atas nama umat, menyuruh menghormati aturan-aturan Islam. Perbedaan ada sebagai modalitas: banyak kelompok fundamentalis Sunni ingin memerintah dengan (atau dipandu oleh) ulama, yang lain sebuah emirat atau khalifah baru, kelompok Islamis Syiah Islam juga terbagi, tidak semua menerima aturan para mulla atau faqih. Meskipun negara Islam tidak memiliki konsep Barat tentang kewarganegaraan atau demokrasi, beberapa arus mengidentifikasi syura dengan demokrasi dan harus dalam praktek jika tidak dalam teori harus mulai menerima aturan-aturan demokrasi pluralistik. Keempat, pemisahan masyarakat (sosial) dari lingkungan pribadi (keluarga), yang pertama adalah medan laki-laki dan yang kedua bahwa perempuan, yang disubordinasikan laki-laki. Tujuannya adalah untuk menjaga setiap jenis kelamin di lingkungan alamiahnya di mana masing-masing dapat memberikan kontribusi yang terbaik bagi masyarakat Islam. Ada banyak pemisahan antara kedua jenis kelamin tersebut dibandingkan dengan yang ada dalam masyarakat Barat, sering dengan kode-kode perilaku dan pakaian tertentu, selain larangan terhadap alkohol dan berbagai bentuk “korupsi.” Kelima, Tujuan dari negara Islam adalah untuk merangsang dan memfasilitasi gaya hidup beragama bagi semua umat Islam dan dengan demikian mengoptimalkan peluang mereka untuk keselamatan. Oleh karena itu negara akan mempertahankan kerangka ritual Islam dan doa publik serta menjamin pendidikan agama. Keenam, Ekonomi Islam masih kontroversial tetapi, minimal, mencakup sistem perbankan

yang bebas bunga. Bagi sebagian besar Muslim, Islam mengakui hak milik pribadi tetapi memerintahkan solidaritas (misalnya, melalui zakat) terhadap kaum yang lemah: janda, anak yatim, orang sakit dan cacat, orang miskin. Kesenjangan antara teori dan praktek cukup besar di sini. Ketujuh, taghallub, keunggulan umat Islam atas subyek-subyek yang lain, harus dipertahankan. Meskipun posisi non-Muslim harus kalah dengan kaum beriman, ada perbedaan pendapat, baik dalam hal Kristen dan Yahudi (yang paling ekstrim menuntut kembalinya status dhimmi) dan dalam kaitannya dengan musyrik. Kedelapan, penerapan hukuman Al-Qur'an (hadd) karena pemberontakan tertentu. Dan kesembilan, karena Islam secara universal valid, tatanan internasional Islam di bawah pemerintahan Allah harus dipromosikan. Tatanan ini didasarkan pada antagonisme abadi antara wilayah Islam (Dar al-Islam) dan seluruh dunia (yaitu, wilayah perang, Dar al-Harb), sampai kemenangan akhir Islam. Akibatnya, kelompok Islamis setidaknya dalam teori menyangkal legitimasi negara-bangsa dan tatanan internasional saat ini berdasarkan pada mereka. Kebanyakan kelompok Islamis menganggap perjuangan untuk mengislamkan seluruh dunia sebagai jihad yang, dalam kondisi tertentu, mungkin termasuk penggunaan kekerasan. Ketidaksepakatan signifikan yang ada sebagai penerapan konsep umum ini. Yang paling radikal membayangkan perjuangan hidup dan mati melawan tatanan yang ada.

Selain Demant, pandangan menarik tentang perbandingan filosofis antara Islam, Islamisme, modernitas, dan modernisme dipaparkan oleh Farhang Rajaee (2007: 5) dalam bukunya yang berjudul Islamism and Modernism: The Changing Discourse in Iran sebagai berikut:

Islam Islamisme Modernitas Modernisme

Kecerdikan Pengambilalihan Kecerdikan Eksploitasi Dasar Tujuan Keselamatan Homogenisasi Emansipasi Keuntungan

Dasar budaya kelompok Islamis yang terletak pada “ketaatan absolut” itu sebenarnya selaras dengan sikap dogmatis komunitas Salafi yang tunduk dan patuh pada fatwa para mufti serta menjalani kehidupan berdasarkan pada manhaj Salaf. Sedangkan tentang apakah komunitas Salafi dapat diidentikkan dengan gearkan militan, dapat diukur dengan “parameter” yang dibangun oleh Frazer Egerton dalam bukunya, Jihad in the West: The Rise of Militant Salafism (2011:

27) yang menunjukkan bahwa Islamisme identik dengan gerakan militan, sehingga dapat disebut juga “Islamisme militan”. Kaum Islamis militan mengalami dua macam alienasi: (1) alienasi individu: keputusasaan dan ketidakpuasan, dan (2) alienasi struktural: kekurangan ekonomi dan pengucilan etnis. Islamisme tidak lain merupakan gerakan transnasionalisme, menyebar luas lewat media media sehingga memudahkan afinitas transnasional dapat berdiri dan terpelihara dengan mengambil banyak bentuk, salah satunya adalah jenis tertentu dari etnonasionalisme—nasionalisme tanpa batas. Setiap kaum Islamis dapat membayangkan diri mereka secara signifikan terkait dengan orang lain di dunia, bagi Islamisme militan yang global adalah lokal. Etnonasionalisme ini sangat kompleks, berskala besar, tindakan mereka sangat terkoordinasi, termobilisasi,

bergantung pada media, arus logistik, dan propaganda lintas batas Negara (Egerton, 2011: 67).

Selain beberapa konsep di atas, pandangan berikut ini dapat memposisikan komunitas Salafi secara lebih proposional berkenaan dengan eksistensi pergerakan Islamisme. Salwa Ismail (2006: 1-2) menjelaskan dalam Rethinking Islamist Politics: Culture, the State and Islamism bahwa selama 1980-an dan 1990-an, gerakan dan ideologi Islamis muncul sebagai subjek penting dari investigasi ilmiah dalam bidang politik, sosiologi, antropologi, sejarah dan studi agama.

Penelitian terhadap subjek tersebut tumbuh bersamaan dengan peristiwa seperti revolusi Iran (1978-1979), pembunuhan Presiden Sadat (1981), dan pengeboman World Trade Centre/WTC di Amerika Serikat (1993). Beberapa peristiwa itu, setidaknya, telah membentuk bagian dari fenomena diskursif yang membawa label “fundamentalisme Islam”, “revivalisme Islam” dan “Islamisme”—label-label memperoleh kualifikasi “radikal”, “militan”, “konservatif” dan sebagainya.

Label-label ini, kualifikasi dan klasifikasi telah dirancang untuk menjelaskan peristiwa spektakuler yang melibatkan kelompok dan individu yang meminta tanda-tanda dan simbol yang terkait dengan tradisi-tradisi Islam untuk membenarkan aktivitas mereka. Mereka dikembangkan dalam kerangka pemahaman tertentu dan dalam hubungannya dengan model penyelidikan sosial, politik, dan sejarah tertentu atas subjek kajian ini. Istilah “Islamisme” digunakan untuk mencakup baik politik Islam sebagaimana kata re-Islamisasi, proses dimana berbagai domain kehidupan sosial diinvestasikan dengan tanda dan simbol yang terkait dengan tradisi budaya Islam. Misalnya, mengenakan jilbab (kerudung),

konsumsi literatur dan berbagai komoditas keagamaan lainnya, publikasi simbol identitas agama, membingkai ulang kegiatan ekonomi dalam Islam. Dalam banyak literatur terakhir, reislamisasi dianggap lebih luas dan, dalam beberapa hal, berbeda dari “Islamisme”. Islamisme bukan hanya merupakan ekspresi sebuah proyek politik, tetapi juga mencakup seruan dengan merujuk pada Islam baik dalam bidang sosial ataupun budaya.

Dokumen terkait