• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Teori Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku setiap orang dan mencakup segala sesuatu yang dikerjakan. Benyamin S. Bloom (seperti dikutip dalam Rifa’i dan Anni, 2012) menyampaikan tiga taksonomi belajar, yaitu : ranah kognitif (berkaitan dengan pengetahuan), ranah afektif (berkaitan dengan sikap), ranah psikomotorik (berkaitan dengan ketrampilan). Pengertian belajar menurut para pakar psikologi, yaitu (Rifa’i dan Anni, 2012) :

1) Gage dan Berliner menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman.

2) Morgan et.al menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena asil dari praktik atau pengalaman.

3) Slavin menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman.

4) Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu dan tidak berasal dari proses pertumbuhan.

Beberapa definisi di atas dapat peneliti menyimpulkan bahwa belajar berkaitan dengan perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen dan didahului oleh proses pengalaman.

b. Teori Belajar

Teori belajar adalah setiap prinsip umum yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta maupun penemuan yang memiliki keterkaitan dengan pembelajaran (Rahyubi, 2012). Berikut ini adalah beberapa teori belajar yang dijadikan landasan penelitian:

1) Teori Brunner

Belajar matematika menurut Bruner adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika. Peserta didik lebih mudah mengingat materi jika peserta didik mampu memahami konsep dan struktur pada materi. Penerapan teori Bruner mempunyai empat dalil yang berlaku yaitu penyusunan, dalil notasi, dalil pengontrasan dan keanekaragaman, serta dalil pengaitan. Pada dalil pengaitan, kemampuan koneksi matematis dianggap sangat penting karena dalil pengaitan menyatakan bahwa antara konsep matematika yang satu dengan lainnya memiliki kaitan yang erat baik dari segi sisi maupun penggunaan rumus ( Pitadjeng : 2015 ).

Sesuai dengan teori Brunner pada penelitian ini bahwa belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur yang di dalamnya saling berhubungan satu sama lain. Kemampuan koneksi matematis penting dimiliki agar peserta didik lebih mudah untuk mengingat dan memahami matematika melalui menguasaan konsep-konsep pada matematika.

2) Teori Vigotsky

Teori Vigotsky berpendapat bahwa pembelajaran terjadi apabila anak bekerja sama atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya atau masih berada dalam zone of proximal development. Ide penting lain dari Vygotsky adalah Scaffolding yakni pemberian bantuan kepada anak-anak selama tahap-tahap awal perkembangannya dan mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah anak dapat melakukannya. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, memberikan contoh, atau yang lain sehingga memungkinkan siswa tumbuh mandiri (Trianto, 2010).

Keterkaitan teori Vygotsky dengan penelitian ini yaitu dalam pembelajaran CORE, peserta didik melakukan kerjasama dalam kelompok untuk menyelesaikan

permasalahan yang diberikan sesuai dengan instruksi dari guru. Ketika peserta didik menemukan kesulitan untuk menyelesaikan soal dan tidak menemukan solusinya guru akan membantu membimbing untuk menyelesaikan permasalahan dan menyuruh peserta didik meneruskannya jika sudah paham.

c. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran menurut Gagne (seperti dikutip dalam Rifa’i dan Anni, 2012) merupakan serangkaian peristiwa eksternal peserta didik yang dirancang untuk mendukung proses internal belajar. Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi baik secara verbal maupun nonverbal antara pendidik dengan peserta didik atau antara peserta didik dengan peserta didik. Pembelajaran dikaitkan dengan suatu mata pelajaran, dalam hal ini mata pelajaran yang dibahas adalah matematika. Hedley, Houtz, & Baratta (1990:168) mendefinisikan matematika sebagai:

Mathematic has been defined by the Bourbaki group of mathematicians as a search for pattern. This implies a search for relationships, for the next component of a structure, for solutions, for an application.

Definisi di atas menyatakan bahwa matematika menurut kelompok Bournaki bahwa matematika merupakan suatu pencarian pola. Ini berarti pencarian untuk hubungan, untuk mengetahui komponen berikutnya dari suatu struktur, untuk penyelesaian, dan untuk penerapan.

Matematika berasal dari kata mathema artinya pengetahuan dan mathanein artinya berpikir dan belajar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan matematika adalah “ilmu tentang bilangan hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan”. Pengertian matematika menurut Ismail dkk dalam bukunya adalah suatu ilmu yang membahas angka-angka dan perhitungannya, masalah-masalah numerik, mengenai kuantitas dan besaran, mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur, sarana berpikir, kumpulan sistem, struktur dan alat (Hamzah & Muhlisrarini, 2014) . Beberapa pengertian di atas matematika menurut peneliti adalah pengetahuan/ilmu yang berhubungan dengan bilangan.

Adapun matematika memiliki berbagai macam fungsi sebagai berikut (Hamzah & Muhlisrarini, 2014):

1) Sebagai suatu struktur : pada matematika dapat dijumpai berbagai macam simbol. Suatu Komunikasi dapat dilakukan dengan adanya simbol matematika yang dibentuk dari suatu hal yang abstrak. Melalui komunikasi diperoleh informasi dan dari informasi dapat dibentuk suatu konsep baru. 2) Kumpulan sistem : Matematika sebagai kumpulan sistem

artinya dalam satu formula matematika terdapat beberapa sistem di dalamnya.

3) Sebagai sistem deduktif : pada matematika terdapat definisi, asumsi, aksioma yang tidak dapat didefinisikan, akan tetapi

diterima sebagai suatu kebenaran, secara logis bahwa titik, garis, elemen dalam matematika tidak didefinisikan, akan menjadi konsep yang bersifat deduktif.

4) Ratunya ilmu dan pelayan ilmu : Matematika dapat melayani ilmu lain karena rumus, aksioma, dan model pembuktian yang ada dapat membantu ilmu lain.

Mengacu pada pengertian di atas matematika menurut peneliti adalah pengetahuan/ilmu pencarian hubungan atau penyelesaian yang berhubungan dengan bilangan. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pendidik dengan peserta didik atau antara peserta didik dengan peserta didik. Sehingga pembelajaran matematika merupakan proses komunikasi antara pendidik dan peserta didik atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencari hubungan atau penyelesaian yang berhubungan dengan bilangan.

2. Pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting,

Dokumen terkait