• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. KAJIAN TEORI

2.1. Teori-teori Belajar

Pada pengembangan bahan ajar PKn melalui VCT analisis gambar ini teori-teori belajar yang berkaitan adalah sebagai berikut:

2.1.1. Teori BelajarHumanistik

Teori belajar humanistikadalah teori belajar yang mengedepankan proses belajar harus bermuara pada manusia. Teori belajar ini paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Teori ini juga bersifat eklektik dan teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk memanusiakan manusia dapat tercapai.

Menurut Habermas dalam Thobroni (2011: 161) dalam pandangannya bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Selanjutnya Habermas dalam Budiningsih (2010: 73) membagi tipe belajar menjadi tiga.

a. Belajar Teknis (technical learning).

Belajar teknis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar. Pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan alam sekitarnya dengan baik.

b. Belajar Praktis (practical learning).

Belajar praktis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang disekelilingnya dengan baik. Kegiatan belajar ini lebih mengutamakan terjadinya interaksi yang harmonis antar sesama manusia.

c. Belajar Emansipatoris (emancipatory learning)

Belajar emansipatoris menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya.

Sangat disadari bahwa belajar menurut teori humanistik ini sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu sendiri. Teori ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan. Oleh sebab itu guru tidak bisa memaksakan materi pelajaran yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan anak, tetapi bagaimana membawa siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Menurut pandangan Aldous Huxley salah seorang tokoh aliran humanistik dalam Thobroni (2011: 175) menyatakan bahwa

“Belajar diharapkan mampu membantu manusia dalam mengembangkan potensi-potensi yang banyak terpendam. Pendidikan non-verbal seseorang akan banyak memiliki strategi agar lebih tenang dalam menapaki hidup karena memiliki kemampuan menghargai setiap pengalaman hidupnya dengan lebih menarik”.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teori belajar humanistik adalah teori belajar yang mengajarkan siswa bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilingnya sehingga memperoleh arti bagi kehidupan pribadinya.

2.1.2. Teori BelajarKognitif

Menurut teori kognitif belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Belajar tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Asumsi dasar teori ini adalah setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam

dirinya. Teori belajar kognitif ini lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajarnya.

Menurut Piaget dalam Budiningsih (2010: 34) perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem saraf. Selanjutnya, Piaget menyatakan pandangannya tentang belajar dalam Mustofa (2011: 95).

“Proses belajar sebenarnya terjadi dari tiga tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi (penyeimbang) dan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Selain itu perkembangan kognitif seorang anak juga dipengaruhi oleh kematangan dari otak sistem saraf anak, interaksi anak dengan objek-objek di sekitarnya (pengalaman fisik), kegiatan mental anak dalam menghubungkan pengalaman kerangka kognitifnya (pengalaman logico- mathematics) dan interaksi anak dengan orang-orang di sekitarnya”.

Berdasarkan pandangan-pandangan para ahli pendidikan di atas, belajar dilihat dari perspektif kognitif merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral tampak lebih nyata hampir dalam setiap peristiwa belajar. Teori kognitif lebih menekankan pada proses belajar daripada hasil belajar. Teori ini juga menekankan belajar sebagai proses internal dan belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Pandangan teori-teori tersebut di atas, menggolongkan teori ini ke dalam konstruktivisme, bahwa manusia membangun kemampuan kognitifnya melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan.

Teori belajar kognitif memiliki prinsip-prinsip yang banyak dipakai di dunia pendidikan. Prinsip-prinsip tersebut dikembangkan oleh Jean Piaget seorang

psikolog Swiss seperti dikemukakan oleh Thobroni (2011: 94) antara lain sebagai berikut.

1. Seseorang yang belajar akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu.

2. Penyusunan materi pelajaran harus dari sederhana ke kompleks.

3. Belajar dengan memahami akan jauh lebih baik daripada dengan hanya menghafal tanpa pengertian penyajian.

Berdasarkan pendapat para ahli pendidikan mengenai teori kognitif, disimpulkan bahwa berdasarkan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif seseorang, proses belajar juga sangat penting untuk melalui tahapan-tahapan yang dipengaruhi oleh kematangan dari otak sistem saraf anak, serta interaksi anak dengan objek-objek/orang-orang di sekitarnya.

2.1.3. Teori BelajarBehavioristik

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner. Aliran ini menekankan pada terbentuknya prilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau prilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata.

Menurut Harley dan Davies (1978) dalam Sagala (2011: 43) tentang prinsip- prinsip teori behavioristisme yang banyak dipakai di dunia pendidikan adalah sebagai berikut.

1) Proses belajar dapat berhasil dengan baik apabila pembelajar ikut berpartisipasi secara aktif di dalamnya.

2) Materi pelajaran dibentuk dalam bentuk unit-unit kecil dan diatur berdasarkan urutan-urutan yang logis sehingga pembelajar mudah mempelajarinya.

3) Tiap-tiap respon perlu diberi umpan balik secara langsung sehingga pembelajar dapat mengetahui apakah respons yang diberikan telah benar atau belum.

4) Setiap kali pembelajar memberikan respon yang benar, ia perlu diberi penguatan. Penguatan positif ternyata memberikan pengaruh yang lebih baik daripada penguatan negatif.

Menurut Thobroni (2011: 66), belajar merupakan proses pembentukan (shapping) dengan membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.

Dengan demikian, teori behavioristik tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks sebab banyak hal-hal yang berkaitan dengan belajar tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respons. Teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, tidak kreatif dan tidak produktif.

2.2. Tinjauan Tentang Belajar

Dokumen terkait