• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN TEORI

A. Celebrity Worship

5. Teori celebrity worship

Fenomena dari mengidolakan seseorang merupakan karakteristik dari usia

perkembangan remaja awal. Objek dari pengidolaan yang dilakukan oleh remaja

biasanya orang-orang terkenal yang berasal dari dunia olahraga, hiburan, musik,

politik dan agama. Boorstin (1961) mendefinisikan selebriti sebagai seseorang yang

diketahui sebagai seseorang yang terkenal. Young dan Pinsky (2006) menjelaskan

bahwa selebriti adalah seorang individu yang berhasil mencapai tingkat ketenaran

yang membuatnya berhasil dikenal oleh masyarakat, mereka biasanya terkenal

melalui media karena dia memiliki bakat yang menonjol atau ada hal unik yang

menarik perhatian dari banyak orang sehingga namanya menjadi terkenal Kategori

dari celebrity menurut Arakaki dan Cassidy (2014) terdiri dari; aktor (individu yang

bermain peran), atlit (individu yang dikenal melalui kegiatan olahraga), even

(individu yang dikenal melalui bakatnya pada bidang yang berhubungan dengan

musik), model dan figur politik.

Sedangkan worship adalah sebutan untuk ketertarikan kuat yang tidak biasa, hal

ini bisa ditunjukan dalam perilaku seperti aktif dalam mencari informasi,

mengumpulkan benda yang berhubungan dengan selebriti idolanya atau mencoba

bertemu dengan idolanya secara langsung. Semakin tinggi tingkat pemujaan

seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat keterlibatannya dengan sosok idolanya

(celebrity involvement). Fromm (1967) mendefinisikan celebrity worship sebagai

sebuah bentuk kekaguman dan rasa cinta yang ditunjukan kepada sosok selebriti,

yang kepribadiannya ditunjukan secara ideal. Hubungan antara fans dan selebriti

idolanya termasuk dari jenis kelekatan sekunder (Secondary attachment) atau

kelekatan yang tidak terbalas (unreciprocated attachment) (Liu, 2013).

Ada tiga teori pokok yang dapat menjelaskan mengenai pentingnya celebrity

worship bagi seseorang. Pertama adalah teori belajar sosial milik Bandura, teori ini

menjelaskan melalui proses imitasi terhadap perilaku seseorang dapat memberikan

pelajaran mana perilaku yang baik dan diterima oleh lingkungan sosial dan mana

perilaku yang buruk dan dilarang. Hal ini dapat dipelajari melalui hasil observasi

dari perilaku role model yang dipilih, apakah perilaku tersebut membuatnya

dihukum ataukah membuatnya mendapat pujian. Yue (2010) mengatakan bahwa

worship dan role modeling merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Orang yang

melakukan pemujan terhadap selebriti akan melakukan imitasi perilaku idolnya,

Kedua, adalah teori identifikasi. Erickson (1968) menjelaskan bahwa saat

individu berada dalam krisis identitas, seorang remaja mengalami penderitaan

karena ketidakyakinan dan bingung terhadap perannya di masa lalu dan masa yang

akan datang, dan dengan mengidentifikasi seorang idola hal ini akan membantu

dirinya untuk mencari informasi nilai dan mempersiapkan dirinya dalam berperan

sebagai orang dewasa. Identifikasi juga dapat mencegah mereka dari kemungkinan

ikut serta dalam aktivitas yang tidak berguna atau dilarang.

Ketiga, adalah teori attachment (kelekatan). Greene dan Adam-Price (1990)

mendeskripsikan dua tipe utama secondarry attachment (kelekatan sekunder):

romantic attachment (kelekatan romantis) dan identification attachment. Orang

yang memiliki kelekatan romantis yang kuat, akan memimpikan dirinya sebagai

pasangan idolanya atau orang yang akan menjadi pasangannya di masa yang akan

datang. Di sisi lain, identifikasi attachment merujuk kepada orang-orang yang

menjadikan idolanya sebagai perantara. Hal ini diyakini bahwa celebrity worship

berfungsi sebagai kompensasi vakum setelah individu memisahkan diri dari orang

tuanya. Ini juga yang menyebabkan rasa keintiman jauh (remote intimacy) dan

fantasi yang tidak realistis. Fenomena ini dikenal sebagai compensational

individuation.

Caughey menjelaskan dua kesimpulan mengenai attachment yang ada dalam

celebrity worship satu, jika seorang selebriti dijadikan bimbingan untuk proses

perkembangan identitats, mereka mungkin saja melakukan peniruan tingkah laku

(modeling behavior), sikap, dan nilai-nilai yang mereka miliki. Kedua, pengaruh

kedua hal yaitu; bagaimana orang dewasa awal menempatkan hubungan antara

idola-penggemar dan keyakinan mereka mengenai sejauh mana keintiman

hubungan tersebut (Boon & Lomore, 2001).

Untuk lebih menjelaskan definisi mengenai celebrity worship, Mc

CutcheonLange, dan Houran, menggunakan teori absorption addiction. Absorption

secara sederhana dapat dijelaskan seperti memiliki keyakinan yang tidak mendasar,

yaitu individu yakin bahwa mereka memiliki suatu hubungan khusus atau sebuah

koneksi dengan idola sehingga membuat mereka termotivasi untuk lebih perhatian

kepada idola. Individu dapat berada pada tahapan dimana mereka mencari

penggemar lainnya untuk memenuhi atau mencari informasi terbaru dari idola.

Untuk mendapatkan informasi mengenai idola mereka, individu akan sering

mencari konten yang memuat informasi mengenai idola mereka, seperti fans club

idola dan internet. Apabila individu memiliki kapasitas absorption yang tinggi,

tidak menutup kemungkinan individu akan memiliki perasaan yang lebih intim

terhadap idola, sedangkan bila individu sudah berada ditahap yang ekstrim,

individu mungkin akan terkena delusi bahwa mereka memiliki hubungan dengan

idola mereka. Addiction, secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kemungkinan

individu untuk memberi toleransi kepada perilaku mereka demi memuaskan

keinginan mereka di posisi absorption (Sheridan, North, Maltby & Gillet., 2007).

Hubungan satu arah antara fans dan idolanya disebut dengan parasosial.

Parasosial adalah hubungan yang diimajinasikan antar fans dengan sosok idola.

Perilaku parasosial memiliki karakteristik satu arah yaitu kontrol pada artis

stimulasi yang mengharuskan dirinya untuk mengetahui informasi tersebut, tanpa

peduli hal tersebut benar atau tidak. Pengalaman individu melalaui perantara media

dirasakan sebagai hubungan yang benar-benar nyata, sehingga muncul perasaan

hubungan layaknya dia sangat mengetahui dan mengenali idolanya, baik itu dari

latar belakang pribadinya, hobi, kepribadian bahkan siapa saja yang berhubungan

dengan idolanya (Horton & Wohl, 1995). Orang-orang yang mengalami hubungan

parasosial adalah orang-orang yang kesepian dan terisolasi. Ketika hubungan

parasosial melewati batas dari objektifitas kenyataan ketika itu pula individu

mengalami yang disebut oleh Horton dan Wohl sebagai relationship pathological.

Banyak penelitian terdahulu mengatakan bahwa celebrity worship akan sangat

kuat pada usia awal, yaitu pada usia 10-11 tahun, dan secara terus menerus akan

berkurang. Dalam periode ini para remaja mulai berpisah dengan orangtuanya dan

mulai bergaul dengan budaya anak muda untuk membangun interaksi dengan teman

seumuran mereka. Pada waktu ini remaja akan lebih mengidentifikasi figur selebriti

dibanding dengan orangtuanya.

Seiring dengan bertambahnya usia, ketertarikan remaja mulai berkurang

terhadap selebriti dan fenomen celebrity worship lama kelamaan akan menghilang.

Pada umur 16-17 tahun individu memasuki masa perkembangan remaja akhir,

individu pada usia ini berhasil mempertajam identitas mereka, mencapai

kemandirian, dan merubah ketertarikan serta tujuan. Fokus mereka adalah tujuan

dalam jarak dekat yaitu belajar dengan giat agar nilai ujiannya baik untuk persiapan

dalam memasuki dunia kuliah, dan untuk tujuan jangka panjang adalah

ke konser musik, individu pada usia remaja akhir akan berhenti melakukan

pemujaan terhadap satu atau lebih selebriti. Berkurangnya tingkat celebrity worship

juga dipengaruhi oleh karakteristik remaja akhir yaitu remaja yang berada dalam

usia 16-18 tahun menjadi individu yang tidak lagi bergantung dengan kelompok

teman seumurannya lebih memikirkan norma dan aturan di sekitarnya (Raviv,

Bar-tal & Ben-horin, 1995).

Dokumen terkait