• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Teori Islamisasi di Jawa Tengah

1. Teori Dakwah Struktural: dari Kasultanan Demak hingga Mataram Islam

a. Peran Kasultanan Islam

Tonggak awal kekuasaan Islam di Jawa Tengah ditandai dengan berdirinya Kesultanan Demak yang diprakarsai oleh Raden Fattah bersama para Walisongo. Pada masa awal pemerintahan ini, dakwah Islam berjalan masif, baik melalui jalur politik maupun kultural. Sultan Fattah aktif memperkuat basis pemerintahan Islam di Demak dan Walisongo menyebarkan Islam ke berbagai penjuru Jawa.33

Perjuangan Islam sebagai kesultanan di Demak tidak berhenti pada Sultan Fattah, tetapi juga diteruskan oleh sultan-sultan berikutnya, yaitu Sulltan Muhammad Yunus/ Adipati Yunus. Sultan Yunus dijuluki Pangeran Sabrang Lor karena ambisinya menjadikan Kesultanan Demak sebagai negara maritim seperti kejayaan Majapahit. Penerus Sultan Yunus adalah Sultan Trenggono. Dakwah Islam pada masa pemerintahannya tidak hanya fokus pada umat, tetapi juga memenuhi panggilan jihad melawan penjajah kolonial. Nama panglima perang yang muncul pada masa ini adalah Fatahilah, Sang Penakluk Batavia.

Kesultanan Demak krisis dan pusat kekuasaan Islam beralih ke Pajang. Pemindahan ini dilakukan pada sekitar tahun 1498 M. Setelah kesultanan pindah ke Pajang, nasihat para ulama lebih bersifat personal daripada majelis para wali yang dibentuk oleh Sultan yang berkuasa.

Peralihan pusat kekuasaan Islam ke Pajang berarti beralihnya pusat kekuasaan dari pesisir ke pedalaman. Sejak saat itu Islam mulai berkembang di pedalaman.

Sultan pertama Pajang adalah Jaka Tingkir/Hadiwijaya. Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan oleh Arya Penangsang, yang pada akhirnya berhasil dikalahkan oleh Ki Ageng Pemanahan.

Lalu Hadiwijaya memberikan hadiah tanah Mataram dan Pati kepada

33 Semedi, Muhammad Khafid Kasri Pujo, Sejarah Demak Matahari Terbit di Glagahwangi, (Demak: Syukur, 2008), 94.

Ki Ageng Pemanahan (cikal bakal berdirinya Kesultanan Mataram).

Sepeninggal Hadiwijaya, sebenarnya Sunan Kudus ingin mengembalikan tahta Pajang kepada Senapati keturunan langsung Kesultanan Demak, tetapi rencana itu belum berhasil hingga Senapati meninggal dunia. Alhasil, Hadiwijaya digantikan oleh Arya Pangiri dan terus berlanjut hingga Kesultanan Pajang berakhir pada masa Pangeran Benawa. Sejarah Kesultanan Pajang bisa dikatakan kurang mendapatkan porsi dalam historiografi Indonesia. Kurang cukup sumber sejarah untuk menuliskan sejarah Kesultanan Pajang secara utuh.34

Tanah perdikan yang diberikan oleh Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan berkembang menjadi kesultanan yang lebih besar dari Pajang. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, Mataram dipimpin oleh Sutawijaya dan berhasil melepaskan diri dari Pajang dan memproklamirkan Mataram sebagai kesultanan Islam yang mandiri dengan gelar Senapati Ing Alaga Sayyidin Panatagama. Kesultanan Mataram Islam terus perkembang dan mengalami dinamika hingga sekarang terbagi menjadi Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman.35

b. Peran Walisongo

Walisongo merupakan lembaga dakwah yang memiliki arti penting bagi penyebaran Islam di Jawa dan juga berperan sebagai dewan penasehat Kesultanan Demak. Sejarah mencatat Majelis Walisongo pernah mengadakan musyawarah setidaknya sejumlah lima kali. Musyawarah Majelis Walisongo membahas permasalahan umat, penyebaran agama Islam, dan pergantian anggota.36

34 Bambang Purwanto, Memperebutkan Wahyu Majapahit dan Demak: Membaca Ulang Jejak Kesultanan Pajang dalam Historiografi Indonesia, Patrawidya Vol. 18 No. 3 Desember 2017, 268.

35 Rizal Zamzami, Sejarah Agama Islam di Mataram pada Masa Panembahan Senapati 1584-1601, Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 2 No. 2 Tahun 2018 ISSN 2580-8311.

36 Semedi, Muhammad Khafid Kasri Pujo, Sejarah Demak Matahari Terbit di Glagahwangi, (Demak: Syukur, 2008), 78.

Walisongo pada masa pelembagaan Islam menggunakan beberapa tahapan, yaitu pertama mendirikan masjid. Dalam proses penyebaran Islam masjid tidak hanya berfungsi untuk tempat beribadah tetapi juga tempat pengajian, dan dari majidlah proses penyebaran Islam di mulai. Masa-masa awal proses islamisasi, masjid menjadi tempat ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Islam. Di dalam masjid segala aktifitas pengembangan Islam berlangsung.

Banyak masjid yang diyakini sebagai peninggalan wali dan dinamakan sesuai dengan wali yang bersangkutan. Seperti masjid yang didirikan oleh Raden Rahmat/Sunan Ampel, sehingga masjidnya dinamakan Masjid Ampel, masjid Giri didirikan oleh Sunan Giri, Masjid Drajat yang didirikan oleh Sunan Drajat dan sebagainya.

Selain masjid dalam pembentukan kelembagaan Islam Walisongo dalam penyebaran Islam juga mendirikan pesantren.

Didalam khazanah penyebaran Islam, setiap Wali memiliki pesantren yang dinisbahkan dengan nama wali tersebut berada. Seperti pesantren Ampel, pesantren Bangkuning, Pesantren Drajat, pesantren Giri dan sebagainya.37

c. Teori Dakwah Kultural: Peran Pedagang Muslim

Salah satu teori internalisasi Islam ke Indonesia yang kuat adalah teori pedagang. Sejak empat abad sebelum masehi, perdagangan dunia telah memiliki jalur perdagangan yang disebut

“jalur sutera” yang menghubungkan China Asia Tengah dengan Romawi Eropa sepanjang 7000 mil. Di antara kota-kota yang menghubungkan jalur ini adalah Samarkand/Uzbekistan, Tajikistan, Kazakstan, Kyrgistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Georgia hingga sampai Konstantinopel. Jalur ini disebut pula “Jalur Sutera Darat”, karena sebagian besar rutenya hanya melewati daratan. Untuk

37 Dhofier, Zamakhsyari, , Tradisi Pesantren, Studi Pandangan Hidup Kiai , (Jakarta:LP3ES, 1983),17-18

menjaga keamanan kafilah dagang Kaisar Cina Dinasti Han membangun pos-pos jaga bekerja sama dengan penguasa daerah jalur perdagangan setempat.38

Pada awal-awal abad masehi, pengguna jalur sutera darat semakin berkurang karena ancaman keamanan kafilah dagang dari perompak, sedangkan Kekaisaran China tidak sepenuhnya mampu mengontrol. Kemudian muncul jalur sutera laut sebagai alternatifnya.

Para pedagang China membawa komoditi sutera dan keramik melalui jalur Laut China Selatan menuju Teluk Aden, Konstantinopel, dan Syam/Syiria. Jalur sutera laut ini menempatkan Malaka sebagai tempat transit yang strategis. Melalui jalur laut ini pula para pedagang nusantara memasarkan komoditasnya seperti kapur barus, cengkeh, rempah-rempah, emas dan beras.39

Keberadaan jalur sutera laut tidak serta merta mematikan jalur sutra darat. Proses pemindahan jalur ini berlangsung selama berabad-abad. Bahkan pada abad 8 saat Islam mulai berkembang, jalur sutera darat masih aktif dan Samarkand masih menjadi wilayah transit yang strategis. Oleh karena itu Samarkand menjadi wilayah yang berusaha ditaklukkan oleh imperium Islam. Dari Samarkand banyak pula tokoh tokoh Islam kelas dunia yang lahir. Di antaranya Imam Bukhori, Imam Al-Maturidi, Ibnu Sina, Timurlenk, Syekh Burhanuddin Nu’man bin Ibrahin bin Khatib al-Zarnuji (pengarang kitab Ta’lim Muta’allim, kitab yang sangat populer di kalangan santri Indonesia), Syekh Bahaudin an-Naqsyabandi (pendiri Tarikat An-Naqsabandiyah yang berkembang pesat di Indonesia hingga saat ini), dan Syekh Ibrahim Al-Ghazi Al-Samarqandy/Sunan Gresik.40

38 Susan Wise Bauer, Sejarah Dunia Kuno: dari Cerita Tertua sampai dengan Jatuhnya Roma, terj. Aloysius Prasetya, (Jakarta: Alex Media dan Kompas Gramedia, 2011), 745.

39 Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim : Ketika Nusantara menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia, (Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti, 2011), 1.

40 Ahwan Mukarrom, Dari Samarkand ke Malaka Sampai Jawa Timur, Jaringan Proses Islamisasi dan Globalisasi, dalam Ahamd Nur Fuad (Ed), Tradisi Inteelktual Muslim Uzbekistan, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2013), 31.

Mulai ramainya jalur perdagangan sutera laut memberikan kesempatan kepada pedagang lokal nusantara untuk berperan dalam perdagangan internasional. Selain Malaka, pedagang-pedagang internasional juga transit di beberapa pulau nusantara bagian barat, seperti Sumatra dan Jawa. Pelabuhan-pelabuhan mulai menjamur di Aceh, Pasai, dan pantai utara pulau Jawa seperti di Gresik, Tuban, Surabaya, dan Lasem.41

Secara umum Islamisasi yang dilakukan oleh para pedagang melalui perdagangan itu mungkin dapat digambarkan sebagai berikut:

mula-mula mereka berdatangan di tempat-tempat pusat perdagangan dan kemudian diantaranya ada yang bertempat tinggal, baik untuk sementara maupun untuk menetap. Lambat laun tempat tinggal mereka berkembang menjadi perkampungan perkampungan.

Perkampungan golongan pedagang muslim dari negeri-negeri asing itu disebut Pekojan.42

Selain pedagang mancanegara, Islam juga disebarkan oleh para pedagang lokal dari satu daerah ke daerah lain. Babad Lasem menyebutkan komunitas muslim yang pertama kali ada di Binangun Lasem adalah para pedagang Gresik dan Tuban. Para pedagang menetap di sana, membaur dengan masyarakat dan menyebarkan agama Islam baik secara sengaja maupun tidak sengaja.43

B. Dakwah Multikultural

Dokumen terkait