Process: relational
TEORI DAN METODE 1. Sapaan
Sapaan atau term of adress merupakan salah satu bagian dari kesantunan berbahasa. Sapaan (term of
address) merupakan cara merujuk seseorang dalam suatu interaksi linguistik (Crystal, 1985: 6). Menurut
159 orang kedua dalam suatu pertuturan. Kridalaksana (2001:191) merumuskan sapaan sebagai morfem, kata ataupun frasa yang dipergunakan untuk saling merujuk dalam situasi pembicaraan dan selalu berbeda-beda menurut sifat hubungan antara pembicara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sapaan merupakan bentuk linguistik berupa morfem, kata, atau frasa yang digunakan untuk menyapa, menegur, ataupun menyebut orang kedua dan dapat berubah-ubah sesuai dengan hubungan antara penutur dan mitra tutur. Perubahan bentuk ini ditentukan oleh hubungan perkerabatan antara penutur dan mitra tutur, jenis kelamin, situasi, dan suasana pada saat itu digunakan. Fungsi kata sapaan adalah untuk mengundang orang tertentu sebagai penerima pesan lawan bicara atau untuk memberikan reaksi verbal, atau nonverbal (Sahardi,1985:10).
Pertalian antara bahasa dan kebudayaa sangatlah erat. Kebiasaan tutur sapa masyarakat kita pada masa ini, yakni penggunaan sapaan bapak, ibu, saudara yang berupa nama kekerabatan merupakan wujud kecenderungan untuk mempraktekkan tata pergaulan masyarakat yang berdasarkan adat istiadat (Moeliono, 1991:40). Lebih lanjut, seperti yang diungkapkan Kridalaksanna (1985: 14-15), bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat 9 jenis kata sapaan;
a. Kata ganti (aku, engkau, kamu, ia, kami, kita, mereka,beliau dan sebagainya) b. Nama diri (nama orang yang dipakai unntuk semua pelaku)
c. Istilah kekerabatan (bapak, ibu, saudara, paman, adik, dsb. Sebagai kata sapaan istilah kekerabatan tidak hanya terbatas diantara orang-orang yang berkerabat, tetapi juga dengan orang lain)
d. Gelar dan pangkat (dokter, suster, guru, jenderal, dll)
e. Bentuk pe-v (verbal) atau kata pelaku (pembaca, pendengar, penonton, penumpang, dll) f. Bentuk n (nominal)-ku Tuhanku, kekasihku, bangsaku
g. Kata deiksis atau petunjuk (sini, situ, ini)
h. Nominal (kata benda atau yang dibendakan) lain (tuan, nyonya, nona, encik, yang mulia, dsb)
i. Ciri zero atau nol (misalya orang yang berkata ―mau ke mana?‖ kata sapaan saudara tidak disebut tetapi dimengerti orang. Tiadanya suatu bentuk, tetapi maknanya ada itu disebut ciri zero).
Kesembilan kata sapaan ini dapat dikombinasikan (saudara pembaca, bapak guru, dll).
2. Honorifik
Honorifik merupakan bagian dari kesopanan berbahasa, secara pengertian honorifik mirip dengan sapaan, namun yang membedakan adalah bahwa honorifik merupakan suatu istilah untuk menyatakan perbedaan derajat antara penutur dan lawan tutur. Levinson mengatakan bahwa honorifik adalah suatu istilah untuk menyatakan perbedaan derajat diantara pembicara dan pendengar yang secara sistematis dinyatakan lewat alternatif diantara pronominal, bentuk panggilan, seruan dan gelar sapaan.
Honorifik adalah satuan lingual untuk menyatakan derajat pembicaraan kepada mitra bicara (orang kedua) atau orang yang dibicarakan (ketiga) dalam bentuk alternatif diantara pronominal, gelar, sapaan, bentuk panggilan (nama) dengan cara yang santun, takzim atau rasa hormat. Termasuk bentuk seperti itu adalah rama, ayah, embah, dan lain-lain.
Honorifik juga berfungsi untuk menyatakan status sosial seseorang. Makin kurang akrab suatu hubungan, semakin tinggi bentuk honorifik yang digunakan.
Bentuk honorifik a. Kata
Digunakan dalam komunikasi baik langsung (sapaan) maupun tidak langsung (acuan) misal ibu, bapak, kapolres, sekjen
b. Kelompok kata
Terdiri dari dua kata atau lebih (bapak kiai haji, ibu camat, bapak bupati) c. Singkatan kata
Singkata gelar. (H dari haji, R dari raden, Ir dari insinyur, ) dok dari dokter, prof dari profesor, let dari letnan
d. Kelompok singkatan. Contoh: Prof. Dr Hamzah, M. Pd e. Gabungan singkatan dan kata. Contoh: Bapak Dr. Saputra
Jenis honorifik
a. Honorifik kata kerabat b. Honorifik kata ganti persona
160
c. Honorifik pangkat, jabatan, dan profesi d. Honorifik gelar
e. Honorifik religious
f. Honorifik tokoh ghaib (mbah buyut) digunakan juga untuk menyebut benda-benda yang diduga punya kekuatan
g. Honorifik umum
Memanggil orang dengan namanya, menempatkan pembicara atau lawan bicara dan orang yang dibicarakan pada posisi yang tepat. Tidak terlepas dari budaya (honorifik ini bersifar netral, tidak terpengaruh oleh kekerabatan, gelar, jabatan)
Faktor-faktor sosial penentu jenis honorifik a. Status sosial
b. Usia
c. Jenis kelamin
d. Kekerabatan dan senioritas
e. Hubungan antarinterlokutor jenis sapaan ditentukan oleh hubungan orang yang sedang berbicara. Yaitu akrab tidaknya seseorang dengan lawan bicaranya. Semakin akrab maka sapaan yang digunakan semakin santai. Jika lawan bicara belum dikenal maka sapaannya bersifat resmi
f. Latar belakang etnik misal etnik Cina akan disapa dengan Cik, Babah, Koh g. Situasi dan forum
h. Status perkawinan
i. Lokasi tempat tinggal misal kota (Mama, Papa, Om, dll), desa (Bibi, Paman)
3. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. penekankan pada penggunaan latar alamiyah untuk menafsirkan fenomena yang terjadi. Pendeskripsian terhadap realita yang terjadi ke dalam bentuk kata-kata. Penelitian ini akan membuat deskripsi tentang sistem honorifik siswa MWI dan faktor sosial yang menjadi faktor penentu sistem honorifik.
Metode pengumpulan data dengan menggunakan observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk pengumpulan data dari lapangan, penulis menggunakannya untuk mengamati honorifik siswa MWI di lingkungan sekolah. Data ini diambil saat proses belajar mengajar di kelas, dan saat ada kegiatan ekstra kurikuer di sekolah.Wawancara digunakan untuk megumpulkan data dari siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan honorifik di sekolah.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
1. Honorifik Siswa MWI Karangduwur Petanahan Kebumen
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, jenis-jenis honorifik yang digunakan siswa Madrasah Wathoniyah Islamiyah adalah:
a. Honorifik kata kerabat
Haeatin Hizbiyah (Siswa) : om, minta data nama temen-temen kelas! Badrus Zaman Albani (pegawai TU) : itu ambil di meja om, tin.
Om adalah panggilan kekerabatan untuk adik laki-laki dari ayah. Karena Badrus adalah adik dari ayahnya
Atin, maka Atin memanggilnya dengan sebutan ―om‖ meskipun di sekolah. Sementara siswa-siswa yang lain memangilnya dengan sebutan Mas atau Bapak.
Ibnu Sofwan Alhumami (Guru Sharaf ) : Atin, jangan berisik, ayo tulis semua yang isim maf‘ul!
Haeatin Hizbiyah (Siswa) : iya, yah.
Meskipun di sekolah Atin tetap memanggil ayahnya dengan sebutan ayah, bukan Bapak seperti siswa-siswa yang lain.
Putri Andriyani : bi, besok berangkat latihan drumband ya? (siswa kelas X
Aliyah )
Haeatin Hizbiyah : oke, emang mau tampil di mana sih? (Siswa kelas VII MTs)
Putri Andriyani : di kecamatan
161 Secara kekerabatan Putri Andriyani harus memanggil Haeatin Hizbiyah dengan sebutan Bibi. Asal muasalnya dari simbah-simbah mereka, yang akhirnya di temukan bahwa ibunya putri harus memanggil ayahnya Atin dengan sebutan Paman, karena itulah Putri memanggil Atin dengan sebutan
Bibi, walaupun Atin adik kelas Purti dan usia Atin pun lebih muda darinya.
Orang Jawa menerapkan honorifik kekerabatan ini berdasarkan konsep awu atau silsilah keluarga. Honorifik akan disesuaikan dengan posisi seseorang dalam garis keturunan. Terhadap saudara yang awuya lebih tua akan menggunakan honorifik yang sifatnya menuakan seperti mbak, mas, paman, bibi walaupun usia tersapa lebih muda.
Di MWI memang ada beberapa siswa yang memiliki hubungan kekerabatan, misal Hasna el-Jauhar dan Hanan el-el-Jauhar mereka adalah siswa MWI yang ayahnya el-Jauhar Muhammad juga menjadi staf pengajar di MWI. Haeatin Hizbiyah, Putri Andriyani, Badrus Zamam Albani, Ibnu Sofwan Alhumami, juga memiliki hubuungan kekerabatan seperti yang digambarkan di atas. Ulfah adalah siswa kelas XI Aliyah dan kakak dari ibunya dia yang bernama Iryani mengajar matematika di MWI, Ketika di sekolahan Ulfah tidak pernah memanggil ibu Iryani dengan sebutan Ibu, tetapi dengan sebutan Uwa
Iryani.
b. Honorifik kata ganti persona
Honorifik kata ganti persona adalah umum di gunakan siawa-siswa dalam percakapan sehari-hari di sekolah. Aku, kamu, dia, merupakan kata ganti yang paling sering di gunakan. Namun jika mereka bercakap-cakap dalam bahasa Jawa, kata ganti yang di gunakan adalah aku, nyong (sebutan diri dalam bahasa Jawa Ngapak), kowe.
c. Honorifik pangkat, jabatan, dan profesi
Ahmad Bahruddin M(siswa) : Pak Guru, sudah bel neh, istirahat dong Rusman Hamdi (Guru Tarekh) : iya.
Nur Aki Trisandi(siswa) : Pak Kebon, itu air di kamar mandi ko macet? Sholekhan(Tukang Kebon) : iya, nanti mau diganti
Panggilan Pak Kebon biasanya di pakai oleh siswa-siswa yang belum mengetahui nama tukang kebun di sekolah. Sholekhan pun tidak pernah tersinggung dengan panggilan itu, dalam wawancaranya dengan peneliti Sholehan memaklumi ketidaktahuan siswa-siswa terhadap namanya.
Arina Nur Zakiyah : Fen, kemarin kamu di anter pakai mobilnya (Siswa)
Pak Kepala Sekolah ya?
Fenti Indah Sari : ya, yang tau tempat lombanya kan kepala (Siswa kelas VII
MTs) sekolah
Panggilan pangkat, jabatan, dan profesi yang sering di pakai siswa-siswa adalah bu guru, pak ketua
IPMAWI, pak nahwu, pak faroid, pak SKI (sebutan bagi guru yang siswa lupa namaya adalah dengan
memanggil dengan sebutan pak nahwu (sesuai dengan mata pelajaran yang di ampu) dan ini sudah menjadi kebiasaan siswa-siswa MWI).
d. Honorifik kata religious
Dalam percakapan sehari-hari di sekolah baik saat jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran, siswa MWI menyebut nama Tuhannya dengan sebutan Allah, Allahu ghaffar. Tuhan.
e. Honorifik kata umum
Digunakan oleh siapa saja tanpa mempersoalkan hubungan darah, ras, agama, profesi, dan sebagainya. Misalnya siswa-siswa memanggi kakak kelasnya dengan sebutan mas, mbak, kak.
2. Faktor yang Mempengaruhi Honorifik Siswa MWI Karangduwur Petanahan Kebumen
a. Status Sosial
Status sosial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jenis honorifik yang di gunakan siswa-siswa MWI. Status sosial yang ada di MWI adalah karena jabatan seseorang di lembaga pendidikan tersebut. Seperti karena status sosialnya adalah seorang guru, maka ia mendapatkan sebutan Bapak Guru,
Ibu Guru. Status sosialnya sebagai tukang kebun, maka panggilannya adalah Pak Kebon.
b. Usia
Usia termasuk faktor yang dapat mempengaruhi sebutan bagi seseorang di lingkungan masyarakat, begitu pun di sekolah, usia menjadi faktor penentu jenis honorifik yang digunakan diantara siswa-siwa MWI. Kepada kakak kelasnya yang lebih tua mereka memanggil dengan sebutan Mas, Kang, Mbak. Ada juga beberapa siswa yang memanggil adik kelasnya dengan sebutan Dek. Kepada teman sebayanya yang
162
tingkat kelasnya sama, siswa-siswa MWI kadang menggunakan sebutan Sist (diambil dari kata sister), dan Brow (diambil dari Brother), dan ini sering dipakai untuk gaya-gayaan oleh mereka.
c. Jenis Kelamin
Faktor yang sangat membedakan penggunaan jenis honorifik di MWI adalah jenis kelamin. Ini terlihat jelas ketika siswa memanggil guru mereka yang laki-laki dengan sebutan Pak Guru, dan Bu Guru untuk guru perempuan.
d. Kekerabatan dan Senioritas
Jenis honorifik yang digunakan oleh siswa-siswa MWI dipengaruhi juga oleh sistem kekerabatan dan senioritas. Seperti hubungan kekerabatan antara siswa yang bernama Haeatin Hizbiyah, Putri Ardiyani (siswa), Badrus Zaman Albani (staf TU), dan Ibnu Sofwan Alhumami (guru), jenis honorifik yang dipakai oleh Atin tidak dipengaruhi oleh hubungan di sekolah, namun tetap menggunakan jenis honorif kekerabatan.
e. Situasi dan Forum
Situasi dan forum merupakan faktor menarik yang terjadi di MWI, jenis honorifik benar-benar dapat berbeda-beda dalam situasi dan forum yang berbeda. Misalnya ketika kegiatan pramuka, semua Pembina Pramuka di panggil dengan sebutan Kak, dan ketika diluar kegiatan pramuka dipanggil dengan sebutan
Mas atau Mbak, panggilan ini pun berubah lagi menjadi Saudara Ketua IPMAWI ketika dalam forum
rapat organisasi sekolah.
KESIMPULAN
Jenis honorifik yang digunakan oleh siswa-siswa di MWI Karangduwur Petanahan Kebumen, adalah: honorifik kata kerabat, kata ganti persona, pangkat, jabatan dan profesi, religious, kata umum. Adapun faktor yang mempengaruhi jenis honorifik yang digunakan siswa-siswa MWI adalah: status sosial, usia, jenis kelamin, kekerabatan dan senioritas serta situasi dan forum
DAFTAR PUSTAKA
Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: Duta Wacana
Kridalaksana. 2011. Kamus Linguistik Edisi keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Bell, Roger T. 1981. An Introduction to Applied Linguistics. London. Batsford Academic and Educational Ltd.
Coupland, Nikolas & Yaworski, Adam. 1997. Sociolinguistics: A Reader and Coursebook Palgrave Macmillan
163