2. Wawancara dengan pemilik organinasi dengan tujuan yang berkaitan dengan
3.8 Data Kampanye Sejenis
Masalah:
Hasil riset Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) Oktober 2010-Januari 2011 di 100 sekolah menengah di Jakarta menunjukkan bahwa belasan pelajar menyetujui aksi bom bunuh diri. Sebanyak 63 persen siswa di antaranya berkenan melibatkan diri dalam tindakan penyegelan rumah ibadah agama lain dan hampir 50 persen siswa mendukung cara kekerasan dalam menghadapi persoalan moralitas serta konflik keagamaan.
Solusi:
CIS Form menerbitkan dua jilid komik, selain Si Gun Kepingin Jihad.
Komik ini dibuat 2016 lalu sebanyak 5.000 eksmplar dan dibagikan secara cuma-cuma di sejumlah pesantren dan sekolah menengah di Yogyakarta, Solo serta Nusa
Tenggara Barat. Pesantren menjadi target distribusi komik ini mengingat pelaku aksi terorisme awal 2000-an, yaitu Bom Bali I dan II, merupakan alumnus lembaga pendidikan Islam ini. Bentuk komik sengaja dipilih sebagai mediator yang akrab dengan anak muda. Selain dalam bentuk cetak, komik serupa juga bisa diunduh melalui situs Mediafire.com.
2. Festival #MenyakiniMenghargai
Masalah:
Kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai merupakan salah satu faktor pendukung berlangsungnya proses pembangunan yang berjalan dengan baik.
Sayangnya, perdamaian yang berlangsung di Indonesia selama ini bukannya tidak
menghadapi tantangan. Ancaman ekstremisme kekerasan telah terindentifikasi dan berpotensi mengancam kehidupan masyarakat.
Tindakan intoleransi dan ekstremisme kekerasan yang dilakukan kelompok muda yang didasari isu suku, agama, ras maupun antar-golongan masih menjadi tugas besar yang harus dituntaskan bersama. Dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir, opini mengenai intoleransi dan keterlibatan anak muda dalam aksi ekstremisme kekerasan bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta pada 2017 terhadap kalangan mahasiswa dan pelajar menunjukkan generasi muda memiliki opini radikal sebesar 58%, opini intoleransi internal sebesar 51,1%, dan opini intoleransi eksternal sebesar 34,4%.s
Solusi:
Countering/Preventing Violent Extremism for Youth (CONVEY) pencegahan ekstremisme kekerasan di kalangan muda adalah proyek kerjasama PPIM UIN Jakarta dan UNDP Indonesia, dengan kolaborasi langsung bersama puluhan lembaga lainnya yang tersebar di Indonesia untuk mengimplementasikan program-program inisiatif yang ditujukan untuk membangun perdamaian serta mencegah radikalisme dan ekstremisme kekerasan di Indonesia, dengan melakukan serangkaian riset-survei, advokasi kebijakan berbasis riset dan pengetahuan, pengembangan literatur populer, pelatihan dan pemberdayaan masyarakat, serta interaksi dan kampanye publik. Kampanye ini adalah wadah showcase seluruh inisiatif dan produk pengetahuan CONVEY dalam upaya mencegah ekstremisme kekerasan dan membangun perdamaian di tengah keberagaman Indonesia.
3.9 Analisis Kampanye Sejenis Nama
Kampanye
Komik Si Gun Pingin Jihad
Festival
#MenyakiniMenghargai
Lokasi Yogyakarta, Solo, dan Nusa Tenggara Barat
Jakarta
Penaung CIS Form Convey Indonesia x PPIM UIN Jakarta x UNDP Indonesia
Waktu 2016 2019
Target Audiens
SMA dan Pesantren Anak muda Jakarta
Tujuan Menjelaskan bahaya radikalsme dengan cara yang menyenangkan
Mengedukasi dan membangun kesadaran anak muda terhadap radikalisme
Media Utama
Komik Event
Kelebihan Menyenangkan
Dapat disebar ke seluruh Indonesia
Penalaran secara langsung Publik figur menarik perhatian
Kekurangan Terbatas bagi yang tidak bisa membaca
Hanya daerah Jakarta saja Harus dating ke tempatnya
BAB IV
KONSEP DAN HASIL RANCANGAN 4.1 Konsep Perancangan
4.1.1 Strategi Kampanye
Perancangan kampanye ini bertujuan untuk mengajak target audiens (yakni mahasiswa & pekerja usia 18-25 tahun) untuk meningkatkan sikap inklusif dengan memahami perbedaan agar menurunkan jumlah sikap eksklusif supaya terhindar dari paparan paham radikal. Tujuan dari perancangan kampanye ini pun diharapkan target audiens tidak hanya sekedar sadar, tapi juga mengikuti kampanye ini dengan bik sehingga dampak yang diharapkan, yaitu mengurangi peningkatan penyebaran radikalisme dari tahun ke tahun di Kota Bandung, dapat terwujud.
Melihat meningkatnya angka penyebaran radikalisme dari tahun ke tahun namun masih belum banyak yang mempermasalahkan masalah ini karena target audiens mengganggap ini merupakan bahasan yang berat jadi jarang dibahas, maka penulis merancang media game akan menjadi media utama kampanye ini karena media game ini diharapkan dapat meringankan pembahasan yang dianggap berat ini oleh target audiens. Sedangkan untuk media pendukung lainnya penulis akan menggunakan sosial media.
4.1.2 Strategi Pesan
Untuk menyusun perancangan kampanye dibutuhkannya pesan utama yang akan menjadi benang merah dari sebuah perancangan kampanye. Konsep pesan pada penilitian ini didapat dari hasil data observasi, analisis SWOT kampanye sejenis, analisis AOI, analisis khalayak sasaran mencakup demografis, geografis dan psikografis, dan hasil analisis menggunakan matriks dari kampanye sejenis.
Hasil seluruh data dan analisis, akan menjadi what to say yang akan dijadikan sebagai dasar dalam melakukan perancangan kampanye.
What To Say yang didapat kampanye ini bertujuan mengajak target audiens agar mengurangi sikap eksklusif dan meningkatkan sikap inklusif dengan memahami perbedaan dengan cara melihat lebih dalam sebuah perbedaan untuk menemukan kesetaraan. Sehingga pesan yang ingin disampaikan adalah melihat kesetaraan di dalam perbedaan
Tagline yang didapat untuk kampanye ini adalah: “Unbox Diversity to Find Equality”. Tagline ini diambil dari pesan melihat lebih dalam sebuah perbedaan (Unbox Diversity) untuk dapat melihat kesetaraan (to Find Equality).
4.1.3 Strategi Komunikasi
Perancangan kampanye ini akan dikomunikasikan melalui daya tarik rasional. Karena dengan adanya kampanye sosial ini bertujuan untuk memberikan informasi serta pesan-pesan yang harus tersusun secara baik, sistematis, masuk akal, logis, serta memberikan bukti atau fakta berupa data-data dan kebenaran yang ada akan apa yang terjadi di wilayah Bandung ini, yaitu dengan tidak adanya upaya untuk menurunkan angka intoleran pemuda Bandung akan menimbulkan resiko meningkatnya tingkat penyebaran radikalisme yang akan berdampak buruk dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi penduduk Bandung.
4.1.4 Strategi Kreatif
Agar kampanye dapat tersampaikan dengan baik, maka di perlukan media yang sesuai juga dengan karakteristik dari target audiens yang dituju. Penulis menggunakan AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) sebagai model strategi kreatif.
Berikut ini merupakan strategi media yang telah penulis sususun berdasarkan model AISAS :
1. Attention
Berdasarkan aktifitas dari keseharian target audiens yang dituju yaitu pemuda di umur 18-25 tahun, maka untuk tahapan pertama yaitu memberitahu adanya kampanye ini penulis akan menggunakan poster dengan pesan bahayanya sikap eksklusif dengan menggunakan analogi.
2. Interest
Setelah target audiens tertarik dari tahap pertama, maka target audiens selanjutnya akan diarahkan ke sosial media kampanye serta adanya pembagian brosur di jalan yang berisikan informasi lebih lanjut mengenai bahayanya eksklusivisme serta diberikan juga jalan menuju solusi yang berupa game.
3. Search
Dibubuhkannya QR Code, link, akun Instagram di setiap media pada tahap interest untuk memudahkan target audiens mencari informasi lebih tentang game ini.
4. Action
Pada tahapan ini target audiens akan mengunduh game kampanye bernama Lakon, lalu target audiens akan memainkan game ini dan mengerti pesan yang ingin disampaikan oleh kampanye ini.
5. Share
Pada tahapan ini diadakannya giveaway merchandise dengan cara mengunggah video terbaik saat bermain Lakon di Instagram Story, lalu unggah score dan hashtag
#BestLakonMoment.
4.1.5 Strategi Visual 4.1.5.1 Konsep Visual
Konsep visual dari kampanye ini adalah indahnya perbedaan dengan penggunaan beragam warna, bentuk namun tetap tercipta visual yang menyenangkan.
4.1.5.2 Gaya Visual
Gaya visual yang digunakan adalah fun, colorful, dan youth, karena target audiensnya adalah pemuda Bandung dan juga agar topik radikalisme yang diangkat tak dipandang terlalu berat untuk dibahas.
1. Layout
Secara umum layout yang digunakan pada visual kampanye ini adalah simetris.
Dengan tampilan gambar yang lebih mendominasi ketimbang tulisan bertujuan agar lebih menarik perhatian dengan visualnya yang sesuai dengan target audiens.
2. Tipografi
Jenis font yang digunakkan dalam kampanye ini adalah sans serif bold, agar memberikan kesan tidak kaku dan menyenangkan. Jenis-janis font yang digunakan antara lain Elbrush, Brokenbrush, dan Captura.
3. Warna
Warna yang digunakan pada kampanye ini adalah warna merah, kuning, hijau, dan biru. Warna-warna tersebut menggambarkan warna Pelangi serta warna-warna cenderung cerah agar terlihat menyenangkan dan terlihat muda.
Gambar 4.1 Warna Yang Digunakan
Sumber : Data Penulis
4.2 Hasil Perancangan 4.1.1 Poster
Poster berikut merupakan bagian pada tahap attention yang mengenalkan kepada bahayanya sikap eksklusif kepada target audiens dengan analogi bahayanya hal lain dan penyebabnya apa.
Gambar 4.2 Poster Cetak Attention
Sumber : Data Penulis
4.1.2 Brosur
Brosur yang merupakan media cetak pada tahap interest. Berisikan infomasi tentang bahayanya eksklusif serta sedikit informasi tentang game seperti tersedia di store apa.
Gambar 4.3 Brosur
Sumber : Data Penulis
4.1.3 Instagram
Instagram adalah media daring pada tahapan interest. Informasi yang dimuat di Instagram sama dengan informasi di brosur, namun karena secara daring, diharapkan konten di Instagram dapat tersebar secara lebih luas.
Gambar 4.4 Instagram
Sumber : Data Penulis
4.1.4 Logo Game
Lakon merupakan nama game yang dirancang oleh penulis sehingga nama tersebut diletakkan di tengah logo agar menjadi point of focus dari keseluruhan visual yang ada. Sedangkan 2 manusia sedang berpose adalah gambaran dari cara bermain game Lakon ini.
Gambar 4.5 Logo Lakon
Sumber : Data Penulis
4.1.5 Game
Game adalah media utama kampanye ini. Game ini bernama Lakon. Lakon diambil dari game sebenarnya “Charades”, yang berarti sandiwara atau Lakon. Game ini memiliki desain yang cukup minimalis agar terlihat rapi dan sederhana namun dengan warna yang bervariasi sehingga tidak terlihat membosankan.
Gambar 4.6 Game Lakon
Sumber : Data Penulis
4.1.6 Video
Video berdurasi 1 menit menjelaskan cara bermain Lakon akan diunggah di Youtube. Visual yang digunakan mirip engan visual yang di game-nya gunakan agar ada kesinambungan antara desain dan isinya.
Gambar 4.7 Video Cara Bermain Lakon
Sumber : Data Penulis
4.1.7 Merchandise
Berikut merchandise dari kampanye ini. Merchandise ini akan dibagikan untuk pemenang #BestLakonMoment setiap minggunya hingga waktu yang ditentukan. Merchandise ini berisikan Piala, sertifikat, kaos, grocery bag, buku tulis, tumbler, dan pop socket.
Gambar 4.8 Merchandise
Sumber : Data Penulis
BAB V
PENUTUP DAN SARAN 5.1 Simpulan
Dari hasil pengumpulan data, hingga perancangan dapat disimpulkan bahwa, sikap eksklusif yang dianggap biasa oleh target audiens adalah hal yang berbahaya. Dengan meningkatnya angka radikalisme di Indonesia hal ini mengkhawatirkan. Dengan memahami perbedaan merupakan hal yang perlu diketahui, diperhatikan, dan dilakukan oleh pemuda Bandung untuk terhindar dari radikalisme. Selain berfungsi agar terhindar dari radikalisme, memahami perbedaan juga dapat memperluas cara pandang pemuda Bandung untuk lebih luas dalam berkreasi. Oleh karena itu, edukasi, sosialisasi, dan ajakan untuk meningkatkan sikap inklusif di pemuda Bandung untuk terhindar dari radikalisme itu penting.
Dengan perancangan kampanye ini diharapkan menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam mengedukasi, mensosialisasikan, dan mengajak masyarakat terutama pemuda Bandung untuk menjauhi sikap eksklusif dan mendekat kepada sikap inklusif agar terhindar dari ancaman radikalisme.
5.2 Saran
Dengan adanya perancangan kampanye ini, penulis berharap dapat menjadi referensi dan kontribusi untuk mengurangi radikalisme di Indonesia, khususnya Kota Bandung. Penulis juga berharap perancangan kampanye ini dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi untuk karya-karya selanjutnya yang akan bermanfaat luas untuk masyarakat, terutama karya dalam mengurangi radikalisme. Penulis juga berharap dapat dilakukan pengkajian yang lebih dalam dan lebih luas untuk penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini S, Lia dan Kirana Nathalia. 2016. Desain Komunikasi Visual; Dasar Dasar Panduan untuk Pemula. Bandung: Nuansa Cendekia
Moriarty, Sandra, dkk. 2011. Advertising edisi Kedelapan. Jakarta : Prenadamedia Group.
Mulyana, Deddy (2000). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatid, dan R&D. Bandung : Alfabeta
Thabroni, Gamal. 2019. Tipografi: Pengertian, Parameter, Prinsip dan Penjelasan Lengkap. [Online]. Tersedia: https://serupa.id/tipografi/ [2020, Oktober 12]
Wita. 2019. Luncurkan #MeyakiniMenghargai, Menag Ingin Generasi Milenial Dekat dengan Agama [Online]. Tersedia: https://zonasultra.com/luncurkan-meyakinimenghargai-menag-ingin-generasi-milenial-dekat-dengan-agama.html [2020, September 21]
Nupus, Hayati. 2017 Komik, alternatif solusi tangkal radikalisme [Online].
Tersedia: https://www.aa.com.tr/id/headline-hari/komik-alternatif-solusi-tangkal-radikalisme [2020, September 29]
Susanto, Hermawan. 2020. Strategi Menangkal Radikalisme Keagamaan [Online].
Tersedia https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/sosial/strategi-menangkal-radikalisme-keagamaan [2020, Oktober 12]
Wahyudi, Nova. 2019. Ma'ruf Ingin Cegah Radikalisme Sejak Tingkat PAUD.
[Online]. Tersedia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191115162509-20-448730/maruf-ingin-cegah-radikalisme-sejak-tingkat-paud [2020, November 15]
Rahma, Andita. 2018. Kemenristekdikti Akui Kampus Rentan Terpapar Radikalisme [Online]. Tersedia: https://nasional.tempo.com/kemensristekdikti-akui-kampus-rentan-terpapar-radikalisme [2020, Oktober 12]
Rosadi, Dian. 2020. Gerakan Radikalisme Diprediksi Terus Berkembang di Tahun 2020. [Online]. Tersedia: https://m.merdeka.com/bandung/halo-bandung/gerakan-radikalisme-diprediksi-terus-berkembang-di-tahun-2020-2001287.html [2020, Oktober 12]