• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Dramaturgi (Impression Management)

Dalam dokumen Impression Management Pengemis Di Kota Medan (Halaman 112-122)

KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Konstruktivisme

2.2 Kerangka Teotitis

2.2.2 Teori Dramaturgi (Impression Management)

Dramaturgi adalah suatu pendekatan yang lahir dari pengembanganTeori Interaksionisme Simbolik. Dramaturgi diartikan sebagai suatu model untuk mempelajari tingkah laku manusia. Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgi masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgi, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”

Orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial dapat dibagi dalam dua golongan sebagai berikut :

a. Aktor (actor, pelaku) : yaitu orang yang sedang berperilaku menuruti suatu peran tertentu.

b. Target (sasaran) atau orang lain : yaitu orang yang mempunyai atau tidak hubungan dengan aktor dan perilakunya.

Hubungan aktor dan target adalah untuk membentuk identitas aktor yang dalam hal ini dipengaruhi oleh penilaian atau sikap orang-orang (target) yang telah digeneralisasikan oleh aktor.

Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgi, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan.

Erving Goffman (1959), salah seorang sosiolog yang paling berpengaruh pada abad 20 telah memperkenalkan dramaturgi dalam bukunya yang berjudul

The Presentation of Self in Everyday Life. Goffman membahas :

Cara individu menampilkan dirinya sendiri dan aktivitasnya kepada orang lain, cara Ia memandu dan mengendalikan kesan yang dibentuk orang lain terhadapnya

dan segala halyang mungkin atau tidak mungkin Ia lakukan untuk menopang pertunjukkannya di hadapan orang lain(Mulyana, 2003 : 107).

Konsep dramaturgi Goffman ini lebih bersifat penampilan teateris. Yakni memusatkan perhatian atas kehidupan sosial sebagai serangkaian pertunjukan drama yang mirip dengan pertunjukan drama di panggung. Ada aktor dan penonton. Tugas aktor hanya mempersiapkan dirinya dengan berbagai atribut pendukung dari peran yang ia mainkan, sedangkan bagaimana makna itu tercipta, masyarakatlah (penonton) yang memberi interpretasi. Individu tidak lagi bebas dalam menentukan makna tetapi konteks yang lebih luas menentukan makna (dalam hal ini adalah penonton dari sang aktor). Karyanya melukiskan bahwa manusia sebagai manipulator simbol yang hidup di dunia simbol.

Inti dari drmaturgi adalah menghubungkan tindakan dengan maknanya, dan dalam pandangan dramaturgi tentang kehidupan sosial, makna bukanlah warisan budaya, sosialisasi, atau tatanan kelembagaan, atau perwujudan dari potensi psikologis dan biologis, melainkan pencapaian problematik interaksi manusia dan penuh dengan perubahan, kebaruan, dan kebingungan. Namun yang lebih penting lagi, makna bersifat behavioral, secara sosial terus berubah, abitrer, dan merupakan ramuan interaksi manusia (Mulyana, 2003 :107).

Penjelasan mengenai makna tersebut terkait dengan pandangan dramaturgimengenai konsep diri(self) yang memberi makna, yaitu diri yang tersituasikan secara sosial, berkembang,serta mengatur berbagai interaksi spesifik. Oleh karena itu, diri lebih bersifatsosial daripada psikologis (Mulyana, 2003:109). Sebagaimana dijelaskanoleh Goffman:

“ Diribukanlah keturunan dari pemiliknya, tapi dari keseluruhan diritersebut bukanlah penyebab, namun produk dari satu kejadian yang muncul. Oleh karenanya,diriselaku karakteryang melakukan pertunjukan bukanlah satu benda organik dengan lokasi Seorang individu dan tubuhnya hanyalah perangkat bagi tempat terjadinya suatu proses kolaboratif(collaborative manufacture) sehingga,penyebab pembentukan dan pemupukandiritidaklah berada dalam perangkat tersebut”

Suatu simbol penampilan atau perilaku sepenuhnya bersifat serba mungkin, sementara atau situasional. Dapat dikatakan juga pendekatan dramaturgi

Goffman khususnya berintikan pandangan bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya, ia ingin mengelola kesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. Maka, fokus pendekatan dramaturgi adalah bukan apa yang orang lakukan, apa yang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkan bagaimana mereka melakukannya.

 Panggung Pertunjukan

Melalui perspektif dramaturgi, kehidupan ini ibarat teater, perilaku manusia dalam sebuah interaksi sosial mirip dengan sebuah pertunjukan di atas panggung dengan menampilkan berbagai peran yang dimainkan oleh sang aktor.

Untuk memulai sebuah pertunjukan, Medlin (2008)melihat bahwa perlu adanya sebuah ide yang bersumber dari satu gambaran atau panduan yang kemudian dapat dielaborasikan lebih lanjut menjadi serangkaian tindakan atau satu skrip utuh yang terperinci.Goffman juga menunjukkan bahwa panduan lain dapat dipergunakan, seperti tema (arahan mengenai gerakan maupun perangkat yang harus ada) serta plot (peran dan indikasi mengenai langkah-langkah yang harus dituju untuk mencapai tujuannya) (Medlin, 2008: 35).

Komponen lain yang juga penting di tahap awal adalah penciptaan lokasi aksi atau panggung, satu area yang terbatasi oleh bentukan persepsi tertentu. Pemilihan panggung juga merupakan tahap yang krusial bagi kesuksesan sebuah pertunjukan dramaturgi, karena lokasi yang terciptamemberikan indikasi mengenai waktu serta suasana pertunjukan (Medlin,2008:36).

Menurut Goffman, kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi “wilayah

depan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region). Wilayah depan

ibarat panggung sandiwara bagian depan (front stage) yang ditonton khalayak penonton, sedangkan wilayah belakang ibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwarabersantai,mempersiapkan diri atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan (Mulyana, 2003: 114)

Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (front stage) dan di belakang panggung (back stage) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita.Sedangkanback stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan.

Lebih jelas ada dua panggungpertunjukandalam studidramaturgi sebagai berikut :

1. Panggung Depan (Front Stage)

Dalam front stageGoffman lebih spesifikmembaginya menjadiset panggung (setting)dan perangkatpribadi (personal front). Setting

adalah atribut fisik atau suasana panggung yang harus ada bagi aktor untuk melakukan pertunjukan.Sedangkan personal front

merujuk kepada bahasa verbal dan bahasa tubuh sang aktor. Misalnya, berbicara sopan, pengucapan istilah-istilah asing, intonasi, postur tubuh, ekspresi wajah, peralatan dan pakaian. (Mulyana,2003:114- 115). 2. Panggung Belakang (Back stage)

Panggung belakang merupakan wilayah yang berbatasan dengan panggung depan, tetapi tersembunyi dari pandangan khalayak. Ini dimaksudkan untuk melindungi rahasia pertunjukan, dan oleh karena itu khalayak biasanya tidak diizinkan memasuki panggung belakang, kecuali dalam keaadaan darurat. Di panggung inilah individu akan tampil “seutuhnya” dalam arti identitas aslinya(Mulyana, 2003: 115)

Impression management Theory atau teori pengelolaan kesan berasal dari pendekatan humanistis terhadap cara-cara orang mengelola pengalaman simbolik mereka. Teori ini turunan dari perspektif sosiologi interaksionisme simbolik dan tradisi psikologi kognitif sosial. Terminologinya adalah dramaturgi secara alami,

yang mengungkapkan keterkaitan dramatisme dan teori dramaturgi pada pertengahan abad ke-21 dalam penelitian Humas.

Presentasi diri dapat diartikan sebagai cara individu dalam menampilkan dirinya sendiri dan aktifitasnya kepada orang lain, cara ia memandu dan mengendalikan kesan yang dibentuk orang lain terhadapnya, dan segala hal yang memungkinkan atau tidak mungkin ia lakukan untuk menopang pertunjukannya di hadapan orang lain (Mulyana, 2003: 127).

Menurut Goffman, presentasi diri merupakan suatu kegiatan yang dilakukanoleh individu tertentu untuk memproduksi definisi situasi dan identitas sosial bagi para aktor dan definisi situasi tersebut mempengaruhi ragam interaksi yang layak dan tidak layak bagi para aktor dalam situasi yang ada (Mulyana, 2003: 110)

Dalam presentasi diri iniGoffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan kesan” (impressionmanagement), yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi-situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu (Mulyana, 2003:112).

Impression management sendiri merupakan bagian dari kajian dramaturgi yang sama-sama dikembangkan oleh Goffman.Impression management atau pengelolaan kesan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seorang individu dalam menciptakan kesan atau persepsi tertentu atas dirinya dihadapan khalayaknya. Pengelolaan kesan tersebut baik terhadap symbol verbal maupun simbol nonverbal yang melekat di dirinya. (Rakhmat 2006:96).

Lebih jauh pengelolaan kesan inimerupakan upaya individu untuk menumbuhkan kesan tertentu di depan orang lain dengan cara menata perilaku agar orang lain memaknai identitas dirinya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Dalam proses produksi identitas tersebut, ada suatu pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan mengenai atribut simbol yang hendak digunakan sesuai dan mampu mendukung identitas yangditampilkan secara menyeluruh.

Seseorang akan berusaha memahami makna untuk mendapatkan kesan dari berbagai tindakan orang lain, baik yang dipancarkan dari mimikwajah, isyarat

dan kualitas tindakan. Menurut Goffman, perilaku orang dalam interaksi sosial selalu melakukan permainan informasi agar orang lain mempunyai kesan yang lebih baik. Kesan non-verbal inilah yang menurut Goffman harus dicek keasliannya(Goffman menyatakan bahwa hidup adalah teater, individunya sebagai aktor dan masyarakat adalah penontonnya. Dalam pelaksanaannya, selain panggung di mana ia melakukan pementasan peran, ia juga memerlukan ruang ganti yang berfungsi untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika individu dihadapkan pada panggung, ia akan menggunakan simbol-simbol yang relevan untuk memperkuat identitas karakternya, namun ketika individu tersebut telah habis masa pementasannya, maka di belakang panggung akan terlihattampilan seutuhnya dari individu tersebut.

Dalam proses presentasi diri biasanya individu akan melakukan

pengelolaan kesan (impression management). Pada saat ini, individu melakukan

suatu proses dimana dia akan menseleksi dan mengontrol perilaku mereka sesuai

dengan situasi dimana perilaku itu dihadirkan serta memproyeksikan pada orang

lain suatu image yang diinginkannya. Manusia melakukan hal tersebut, karena

ingin orang lain menyukainya, ingin mempengaruhi mereka, ingin memperbaiki

posisi, memelihara stasus dan sebagainya.

Menurut Goffman bahwa salah satu aturan dasar interaksi sosial adalahkomitmen yang saling timbal-balik diantara individu-individu yang terlibat mengenaiperan (role) yang harus dimainkannya. Satu pertanyaan yang cukup mendasarsehubungan dengan hal tersebut, adalah bagaimana individu dapat menciptakansuatu kesan yang baik Goffman mengajukan syarat-syarat yang perlu dipenuhi bila individumengelola kesan secara baik, yaitu :

Penampilan muka (proper front)

Yakni perilaku tertentu yang diekspresikan secara khusus agar orang lainmengetahui dengan jelas peran si pelaku (aktor). Front ini terdiri dan peralatanlengkap yang kita gunakan untuk menampilkan diri.

Hal yang mutlak adalah aktor sepenuhnya terlibat dalam perannya. Denganketerlibatannya secara penuh akan menolong dirinya untuk sungguh-sungguhmeyakini perannya dan bisa menghayati peran yang dilakukannya secara total.

 Mewujudkan idealiasasi harapan orang lain tentang perannya.

Misalnya seorang dokter harus mengetahui tipe perilaku apa yang diharapkan dan orang-orang pada umumnya mengenai perannya, dan memanfaatkanpengetahuan ini untuk diperhitungkan dalam penampilannya. Kadang-kadang untuk memenuhi harapan orang pada umumnya, dia harus melakukan sesuatuyang sebenarnya tidak perlu.  Mystification

Goffman mencatat bahwa bagi kebanyakan peran performance yangbaik menuntut pemeliharaan jarak sosial tertentu diantara aktor dan orang lain.Misalnya seorang pengemis harus memelihara jarak yang sesuai dengan orang dermawan yang memberikan uang,dia tak boleh terlalu kenal /akrab, supaya dia tetap menyadari perannya dantidak hilang dalam proses tersebut.

Dengan demikian presentasi diri atau pengelolaan kesan dibatasi dalam pengertian menghadirkan diri sendiri dalam cara-cara yang sudah diperhitungkan untuk memperoleh penerimaan atau persetujuan orang lain.

Ada dua komponen dalam pengelolaan kesan (impression management), yakni :

1. Motivasi pengelolaan kesan (impression-motivation) : Motivasi pengelolaan kesan menggambarkan bagaimana motivasi yang dimiliki untuk mengendalikan orang lain dalam melihat diri atau untuk menciptakan kesan tertentu dalam benak pikiran orang lain.

2. Konstruksi pengelolaan kesan (impression-con¬struction) : adalah menyangkut pemilihan image tertentu yang ingin diciptakan dan mengubah perilaku dalam cara-cara tertentu unruk mencapai suatu tujuan. Tiga motivasi primer pengelolaan kesan, yaitu keinginan untuk mendapatkan imbalan materi atau sosial, untuk mempertahankan atau

meningkatkan harga diri, dan untuk mempermudah pengembangan identitas diri (menciptakan dan mengukuhkan identitas diri.

Motivasi untuk mengelola kesan biasanya sering terjadi dalam situasi yang melibatkan tujuan-tujuan penting (seperti persahabatan, persetujuan, imbalan materi) dimana individu yang melakukannya merasa kurang puas dengan image yang diproyeksikan saat ini (self-discrepancy). Motivasi mengelola kesan juga lebih kuat ketika seseorang merasa tergantung pada seseorang yang berkuasa yang mengendalikan sumber-sumber penting bagi dirinya (Misal, atasannya) atau setelah dia mengalami kegagalan atau hampir mengalami kejadian yang dapat meruntuhkan harga dirinya. (Rakhmat, 2006:95)

Strategi Pengelolaan Kesan

Setiap individu memiliki beberapa tujuan dalam melakuakn penegelolaan kesan. Seseorang mungkin ingin disukai, terlihat kompeten, berkuasa, budiman, atau menimbulkan rasa iba dan simpati. Masing-masing tujuan melibatkan strategi pengelolaan kesan yang bervariasi. Tujuan itu biasanya tidak hanya satu, seseorang mungkin berusaha mencapai beberapa tujuan dalam waktu yang sama. Ada beberapa startegi pengelolaan kesan, yaitu :

a. Mengambil Muka (Ingratiation)

Tujuan dari strategi ini adalah supaya dipersepsi sebagai orang yang menyenangkan atau menarik. Taktik yang umum meliputi memuji orang lain, menjadi pendengar yang baik, ramah, melakukan hal-hal yang memberi keuntungan pada orang lain dan menyesuaikan diri dala sikap dan perilakunya.

b. Mengancam (Intimidation)

Strategi ini digunkan untuk menimbulkan rasa takut dan cara memperoleh keuasaan dengan meyakinkan pada seseorang bahwa ia adalah orang yang berbahaya.

c. Promosi Diri (Self-promotion)

Strategi ini aka menggambarkan kekuatan-kekuatan dan berusaha untuk memberi kesan dengan prestasi mereka.

Strategi ini dengan cara memperlihatkan kelemahan atau ketergantungan untuk mendapatkan pertolongan atau empati.

Proses Pembentukan Kesan  Stereotyping

Seorang guru ketika menghadapi murid-muridnya yang bermacam-macam, ia akan mengelompokkan mereka pada konsep-konsep tertentu; cerdas, bodoh, cantik, jelek, rajin, atau malas. Penggunaan konsep ini menyederhanakan bergitu banyak stimuli yang diterimanya. Tetapi, begitu anak-anak ini diberi kategori cerdas, persepsi guru terhadapnya akan konsisten. Semua sifat anak cerdas akan dikenakan kepada mereka. Inilah yang disebut stereotyping.

Stereotyping ini juga menjalaskan terjadinya primacy effect dan halo effect

yang sudah kita jelaskan dimuka. Primacy effect secara sederhana menunjukkan bahwa kesan pertama amat menentukan; karena kesan itulah yang menentukan kategori. Begitu pula, halo effect. Persona stimuli yang sudah kita senangi telah mempunyai kategori tertentu yang positif, dan pada kategori itu sudah disimpan semua sifat yang baik.

Implicit Personality Theory

Memberikan kategori berarti membuat konsep. Konsep “makanan” mengelompokkan donat, pisang, nasi, dan biscuit dalam kategori yang

sama. Konsep “bersahabat” meliputi konsep-konsep raman, suka

menolong, toleran, tidak mencemooh dan sebagainya. Disini mempunyai asumsi bahwa orang ramah pasti suka menolong, toleran, dan tidak akan mencemooh. Setiap orang mempunyai konsepsi tersendiri tentang sifat-sifat apa yang berkaitan dengan sifat-sifat-sifat-sifat apa.

Konsepsi ini merupakan teori yang dipergunakan orang ketika membuat kesan tentang orang lain. Teori ini tidak pernah dinyatakan, kerena itu disebut implicit personality theory. Dalam kehidupan sehari-hari, semua psikolog, amatir, lengkap dengan berbagi teori kepribadian. Suatu hari anda menemukan pembantu anda sedang bersembahyang, anda menduga ia pasti jujur, saleh, bermoral tinggi. Teori anda belum tentu benar, sebab ada pengunjung masjid atau gereja yang tidak saleh dan tidak bermoral.

 Atribusi

Atribusi adalah proses menyimpulkan motif, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang tampak (Baron dan Byrne, 2008:56). Atribusi boleh juga ditujukan pada diri sendiri (self attribution), tetapi di sini kita hanya membicarakan atribusi pada orang lain. Atribusi merupakan masalah yang cukup poupuler pada dasawarsa terakhir di kalangan psikologi sosial, dan agak menggeser fokus pembentukan dan perubahan sikap. Secara garis besar ada dua macam atribusi: atribusi kausalitas dan atribusi kejujuran. (Rakhmat 2006:100)

Dalam dokumen Impression Management Pengemis Di Kota Medan (Halaman 112-122)

Dokumen terkait