• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

3.4 Teori Ekonomi Sumberdaya Perikanan

Gambar 13. Grafik Ekspor SBT (kg) Negara-negara Eksportir Utama ke Jepang Periode 2002 - 2005 (diolah dari data CCSBT, 2006)

Dibandingkan dengan beberapa negara eksportir lainnya seperti Australia, Taiwan dan Selandia baru, ekspor SBT Indonesia ke Jepang masih sangat rendah. Gambar 13 menunjukkan, sepanjang tahun 2002 – 2005, Australia adalah negara yang mendominasi pasar utama pengekspor SBT dengan jumlah ekspor tertinggi mencapai 9.046 ton pada tahun 2005. Negara-negara lain yang memanfaatkan pasar SBT Jepang seperti Taiwan dan Selandia Baru belum mampu menyaingi kemampuan ekspor SBT Australia. Jumlah ekspor tertinggi Taiwan dan Selandia Baru sepanjang 2002-2005 hanya mencapai 1.093 ton dan 344,6 ton yang terjadi pada tahun 2004.

3.4 Teori Ekonomi Sumberdaya Perikanan

Pengelolaan sumberdaya perikanan pada mulanya dimulai dengan pendekatan faktor biologi yang umum dikenal dengan pendekatan maximum

sustainable yield (MSY). Menurut Fauzi (2004) inti pendekatan ini

mengasumsikan bahwa setiap spesies ikan memiliki kemampuan untuk berproduksi yang melebihi kapasitas produksi (surplus), sehingga bila surplus tersebut dipanen (tidak lebih atau tidak kurang), maka stok ikan akan mampu bertahan secara berkesinambungan (sustainable).

0 1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000 7.000.000 8.000.000 9.000.000 10.000.000 2002 2003 2004 2005 Ki logr am Tahun Indonesia Rep. Korea Selandia Baru Filipina Lainnya Taiwan Australia

Beberapa dekade, pendekatan MSY telah menjadi arus utama dalam pengelolaan sumberdaya ikan di banyak negara, meski berbagai kritik menunjukkan bahwa pendekatan MSY mengandung banyak kelemahan. Kelemahan mendasar pendekatan MSY diantaranya tidak mempertimbangkan aspek sosial ekonomi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Menurut Fauzi (2004) kritik pendekatan terhadap MSY dilontarkan lebih jauh oleh Concrad dan Clark (1987) dengan menyatakan pendekatan MSY:

1. Bersifat tidak stabil, karena perkiraan stok yang meleset dapat mengarah pada pengurangan stok (stock depletion);

2. Konsep didasarkan pada pendekatan steady state (keseimbangan) semata, sehingga tidak berlaku pada kondisi non-steady state;

3. Mengabaikan perhitungan nilai ekonomi terhadap stok ikan yang tidak dipanen (imputed value);

4. Mengabaikan aspek interdepensi dari sumberdaya, dan

5. Sulit diterapkan pada kondisi perikanan yang memiliki cirri beragam jenis (multispecies).

Penyempurnaan atas berbagai kelemahan pendekatan pengelolaan sumberdaya perikanan telah mulai dirintis dengan mendisain pengelolaan yang bertitiktolak pada pendekatan ekonomi. Salah satu pendekatan yang kemudian dikembangkan adalah pendekatan bioekonomi, yakni suatu pendekatan yang lahir dari persoalan yang paling mendasar dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya perikanan. Persoalan mendasar tersebut adalah mencari titik keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi sumber daya ikan dengan keharusan untuk menjaga kelestariannya. Menjembatani kedua kepentingan tersebut, yakni kepentingan ekonomi dengan kepentingan konservasi (biologi) telah melahirkan pendekatan bioekonomi, yakni suatu pendekatan yang diperkenalkan pertama kali oleh Scout Gordon untuk menganalisis pengelolaan sumber daya ikan yang optimal.

Pendekatan bioekonomi diperlukan untuk menutupi kelemahan-kelemahan konsep MSY yang diperkenalkan oleh Schaefer pada 1954. Konsep MSY bertitiktolak pada pendekatan biologi semata, yakni tingkat panen sumber daya ikan pada batas MSY yang akan menjamin kelestarian sumber daya tersebut. Beberapa persoalan kemudian diabaikan dalam perhitungan MSY, dan menurut

 

Fauzi (2005), pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana biaya pemanenan ikan, bagaimana pertimbangan sosial ekonomi akibat pengelolaan sumber daya ikan serta bagaimana dengan nilai ekonomi terhadap sumber daya yang tidak dipanen atau intrinsic value (dibiarkan di laut).

Kekurangan-kekurangan pendekatan biologi ini melahirkan konsep bioekonomi yang menempatkan aspek sosial dan ekonomi sebagai pertimbangan yang krusial dalam pengelolaan sumber daya ikan. Hal ini yang membedakan antara pendekatan biologi dengan bioekonomi. Menurut Fauzi (2005) pendekatan biologi bertujuan menciptakan pengelolaan untuk pertumbuhan biologi, sedangkan pendekatan bioekonomi bertujuan mengelola sumber daya ikan secara aspek ekonomi dengan kendala aspek-aspek biologi.

Pendekatan biologi dalam Konsep Schaefer menurut Anderson (1984) beranjak pada asumsi bahwa pertumbuhan biomass ikan mengikuti fungsi populasi. Pertumbuhan biomass tersebut dapat digambarkan melalui Kurva Analisis Keseimbangan Populasi (Population Equilibrium Analysis) yang ditunjukkan dengan garis x sebagai garis jumlah populasi dan garis y sebagai garis pertumbuhan per periode, seperti pada Gambar 14.

P2 P1 P* E1 E2 E3 E/T Growth Curve

Gambar 14. Population Equilibrium Analysis (Anderson, 1984)

P1 A fE1 fE2 fE3 fE4 P2 F2fo F3 Population (weight) P3 P0 P* F1fo , (weight) 0 Equilibrium Population Population Equilibrium Curve a) b)

Gambar 14a menunjukkan bahwa pada tingkat populasi ikan sebesar P3

pertumbuhan biomass berada pada F3. Pada tingkat keseimbangan tersebut, pertumbuhan biomass masih terus berlangsung atau mengalami pertumbuhan positif karena faktor mortalitas secara alamiah lebih kecil dari pertumbuhannya. Pada tingkat P* pertumbuhan telah mencapai tingkat natural equilibrium

population atau tidak adanya pertumbuhan alamiah dari biomass. Kondisi ini

biasanya ditunjukkan dengan laju pertumbuhan sama dengan nol dan tingkat populasi sesuai dengan carrying capacity.

Gambar 14b menunjukkan masukkan aktivitas manusia dalam bentuk penangkapan (effort) terhadap biomass mengakibatkan penurunan jumlah biomass. Pada tingkat effort sebesar E1 maka jumlah populasi biomas mengalami penurunan menjadi P1. Diasumsikan dalam kurva tersebut, setiap penambahan 1 unit E akan menurunkan jumlah populasi P sebesar satu satuan. Hubungan antara populasi biomass (P) dengan kegiatan penangkapan (E) menurut Anderson (1984) pada Gambar 14 sama dengan f0. Setiap kegiatan manusia dalam penangkapan sebesar E1 unit maka catch menjadi f0 dan populasi biomass berada pada titik P1

dan jumlah tangkapan berada pada F1.

Hubungan antara jumlah tangkap (F) dengan effort (E) sebagai akibat introduksi manusia melalui penangkapan dalam pertumbuhan biomass, dijelaskan Anderson (1984) seperti pada Gambar 15.

Maximum Sustainable Yield (MSY) Average Sustainable Yield, F/E Marginal Sustainable Yield, ∆F/∆E Catch by Weight E/T E3 E2 E1 F1 F2 F3 Catch by Weight Total Sustainable Yield Short-run Yield for P3 Short-run Yield for P2 E/T

Gambar 15. Kurva Sustainable Yield (Anderson, 1984)

a)

 

Garis total sustainable yield merupakan garis pertumbuhan populasi yang menunjukkan daya dukung sumberdaya perikanan. Pada tingkat effort sebesar E1

pada garis tersebut, jumlah tangkap sebesar F1. Kenaikkan jumlah E dari E1 ke E2

akan menyebabkan kenaikkan jumlah F dari F1 ke F2. Kenaikkan tersebut diikuti dengan kenaikkan sustainable yield, hingga penambahan effort yang terus berlangsung akan mengurangi pertumbuhan jumlah populasi biomass (P). Kondisi ini ditunjukkan dengan kenaikkan effort ke E3 dan catch ke F3

menyebabkan penurunan sustainable yield. Penurunan tersebut seperti pada Gambar 15b, garis average sustainable yield dan marginal sustainable yield yang terus menurun. Titik marginal sustainable yield sama dengan nol pada Gambar 15 adalah titik maximum sustainable yield (MSY).

Konsep biologi tersebut, menurut Fauzi (2004), kemudian dikembangkan oleh Gordon dengan menambah faktor ekonomi seperti harga dan biaya19. Faktor tersebut ditambah dengan cara mengalikan harga dengan produksi lestari, maka akan diperoleh kurva penerimaan (TR = ph) dan mengalikan biaya persatuan input dengan upaya (effort), sehingga diperoleh kurva total biaya (TC=cE) yang linier terhadap upaya. Penggabungan fungsi penerimaan dan fungsi biaya tersebut akan membentuk kurva Model Gordon-Schaefer.

Kurva Model Gordon-Schaefer menurut Anderson menunjukkan kondisi open akses dan maksimum ekonomi yield dalam industri perikanan tangkap. Kondisi open akses dan maksimum ekonomi yield ditunjukkan pada Gambar 16. Keuntungan maksimum secara ekonomi (maximum economic yield) terjadi pada titik E1, yakni ketika penerimaan total (revenue) penangkapan ikan lebih tinggi dari biaya total. Jika kondisi keuntungan maksimal ini dibiarkan tanpa regulasi atau kendali (open access), maka mendorong bertambahnya pelaku industri perikanan atau pelaku tersebut memperbesar kapasitas produksinya melalui penambahan jumlah effort.

      

19 Asumsi yang digunakan untuk menyusun model Gordon-Schaefer (Fauzi, 2004) adalah : a. Harga per satuan output, (Rp/kg) diasumsikan konstan atau kurva permintaan diasumsikan

elastik sempurna

b. Biaya per satuan upaya (c) dianggap konstan c. Spesies sumberdaya ikan bersifat tunggal d. Struktur pasar bersifat kompetitif

e. Hanya faktor penangkapan yang dihitung (tidak termasuk faktor pasca panen dan sebagainya)

Penambahan jumlah effort akan menggeser E hingga pada titik keseimbangan open akses di E3. Keseimbangan open access akan terjadi jika seluruh rente ekonomi terkuras habis (driven to zero), sehingga tidak ada lagi insentif untuk entry maupun exit, dan tidak ada perubahan pada tingkat upaya. Kondisi ini identik dengan ketidakadaan hak milik (property rights) pada sumberdaya atau lebih tepat adalah ketidakadaan hak kepemilikan yang dikuatkan secara hukum (enforceable).

Pergeseran E pada titik E2 akibat bertambahnya pelaku atau kapasitas industri menghasilkan tingkat produksi yang maksimal. Titik ini disebut

maximum sustainable yield (MSY), yakni suatu kondisi yang menghasilkan

tingkat produksi yang tinggi dan lestari secara sumberdaya. Meski secara produksi sangat tinggi dan secara sumberdaya lestari, namun total cost yang dibutuhkan untuk mengeksploitasi sumberdaya tersebut lebih besar dibandingkan kondisi MEY. Oleh sebab itu MEY merupakan produksi maksimum secara ekonomi dan merupakan tingkat upaya optimal secara sosial (socially optimum).

Sudut pandang ilmu ekonomi, keseimbangan open access menimbulkan

mis-allocation sumberdaya, karena kelebihan faktor produksi (tenaga kerja dan

modal) yang sebenarnya dapat dialokasikan untuk kegiatan produktif ekonomi

Total Cost Maximum Profit ARC MRC E2 E1 - $ $ E1 E2 E3 E/T $ E/T Gambar 16. Open Access and Maximum Economic Yield (Anderson, 1984)

a)

b)

E3

MC - ARC

 

lainnya. Hal ini merupakan inti dari prediksi Gondon, bahwa perikanan yang

open access akan menimbulkan kondisi economic overfishing. Disisi lain, tingkat

upaya pada titik keseimbangan terlihat lebih conservative minded (lebih bersahabat dengan lingkungan)20 dibandingkan dengan effort (Hannesson, 1993).

Untuk mengetahui dampak ekonomi terhadap kondisi MEY maka dibutuhan analisis dampak ekonomi, yakni metodologi untuk menentukan sejauh mana perubahan-perubahan dalam peraturan, kebijakan, ataupun adanya penemuan teknologi yang baru, atau pengaruh perubahan pendapatan regional dan aktivitas ekonomi lainnya, dalam perubahan tingkat pendapatan, pengeluaran dan pekerjaan.

Langkah yang diperlukan untuk melakukan analisis dampak ekonomi terhadap kondisi MEY adalah menentukan nilai ekonomi dari suatu aktivitas perekonomian. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan atas nilai ekonomi tersebut didasarkan pada aktivitas-aktivitas ekonomi. Pengukuran ini tidak dapat dilakukan berdasarkan nilai sosial ataupun hal-hal lain yang diangap bernilai bagi kehidupan seseorang Teknik untuk mengukur aktivitas ekonomi atau pasar tersebut secara umum disebut sebagai analisis dampak ekonomi.

Bila suatu kebijakan baru ditetapkan untuk suatu aktivitas ekonomi di wilayah tertentu. analisis dapak ekonomi akan mengukur dampak penetapan kebijakan tersebut pada rentetan dampak ekonomi. Asumsinya penetapan suatu kebijakan akan mendorong tersedianya lapangan kerja, pembelian atas produk-produk lokal, tersedianya layanan transportasi atau perkembangnya suatu aktivitas perekonomian.

Disisi lain dampak yang dapat timbul dari suatu kebijakan ekonomi adalah individu dan perusahaan akan meningkatkan daya beli mereka terhadap berbagai produk baru yang berkembang. Hal ini berarti setiap kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi akan menciptakan rentetan perubahan aktivitas ekonomi, yakni perubahan tingkat pengeluaran (the new spending). Begitu pun bila suatu kebijakan baru yang diterapkan dapat pula mendorong perubahan negatif dari pendapatan individu atau masyarakat.

      

20 Tingkat upaya yang dibutuhkan untuk mencapai titik optimal secara social (Eo) jauh lebih kecil disbanding yang dibutuhkan untuk mencapai titik MSY (EMSY)

Variabel-variabel yang akan digunakan untuk mengukur dampak ekonomi dalam perubahan regulasi penangkapan SBT di Samudera Hindia adalah menentukan nilai Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Secara teori NPV menunjukkan tingkat diskonto pada tahun mendatang dan IRR menunjukkan tingkat kemampuan pengembalian investasi kegiatan ekonomi.

Penentuan nilai NPV dan IRR didasarkan pada asumsi tiga kondisi atau skenario yang mungkin menjadi pilihan kebijakan yang akan ditempuh Indonesia. Ketiga skenario tersebut adalah (1) NVP dan IRR pada status observe atau peninjau, dengan status bukan anggota; (2) NVP dan IRR pada status cooperating

non-member atau anggota tidak tetap dengan kewenangan terbatas; dan (3) NVP

dan IRR pada status member atau anggota penuh dengan kewenangan penuh. Perhitungan NPV dan IRR pada ketiga skenario tersebut menjadi parameter untuk menentukan status yang paling menguntungkan bagi pengembangan industri SBT Indonesia.

 

BAB IV

Dokumen terkait