Kita tahu bahwa orang zaman dahulu menganggap derajat perempuan rendah. Sebagaimana dikutip oleh John Stott, Plato menganggap nasib malang yang menimpa
34 laki-laki kalau dia berinkarnasi sebagai perempuan. Sedangkan Aristoteles menganggap perempuan sebagai ‘jenis pria yang tidak lengkap’. Ia menuliskan “ betina adalah jantan yang tidak sempurna, yang secara tidak sengaja dilahirkan demikian akibat kekurangan si ayah atau akibat pengaruh jahat angin selatan yang lembab’.58
Hal yang sama juga ditemukan dalam doa pagi orang Yahudi, seorang pria Yahudi setiap pagi mengucap syukur bahwa Allah tidak menciptakan dia “sebagai seorang kafir, budak atau seorang wanita”.59 Dalam sejarah doktrin, perempuan selalu disalahkan dan membawa kepada pencobaan dan mengarahkan suku ke dalam dosa asali. Dalam hukum Yahudi seorang perempuan bukan suatu pribadi, melainkan suatu benda. Ia tidak mempunyai suatu hak legalpun, ia milik mutlak suaminya, yang boleh diperlakukannya sesuka hatinya.60 Dalam faktanya perempuan adalah ciptaan kedua, di luar Adam dan hal tersebut dipakai sebagai bukti memperlakukan perempuan dibawah laki-laki. Juga dalam pikiran banyak perempuan tidak hanya berbeda dari laki-laki, perempuan adalah subordinasi bahkan dianggap iblis. 61
Sejarah penindasan terhadap kaum perempuan sudah berlangsung begitu lama dan tersebar merata sehingga terasa bahwa sudah tiba saatnya masyarakat yang didominasi kaum perempuan harus mengoreksi diri. Gerakan feminisme mendapat momentum, khususnya pada tahuan 60-an bertujuan membebaskan baik laki-laki maupun perempuan dari dominasi kaum laki-laki dan mengangkat pandangan serta
58 John Stott, Isu-Isu Global, Jakarta, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1994, 334.
59 Letty M. Russel, Ed, Feminist Interpretation of the Bible, Philadephia, West minster Press, 1973, 22-23.
60
Letty M. Russel, Ed, Feminist..., 35.
61
35 nilai kaum perempuan ke dalam kesadaran masyarakat agar berkembang suatu hubungan baru berdasarkan kesamaan tingkat.62
Feminisme memperjuangkan suatu cara berpikir yang terbuka dan inklusif. Oleh karena itu feminisme merupakan suatu sikap dan keyakinan yang dapat dianut oleh kaum laki-laki juga. Pada dasarnya teori feminisme tidak bersifat tunggal, namun ada banyak alirannya. Meskipun gerakan feminisme berasal dari analisis dan ideologi yang berbeda tetapi mempunyai kesamaan tujuan yaitu kepedulian memperjuangkan nasib perempuan. Ada tiga aliran feminisme yang disebut dalam bagian ini yaitu:
a. Aliran Feminisme Liberal
Aliran Feminisme Liberal memahami bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas. Mereka tidak memperlihatkan struktur dan sistem sebagai pokok persoalan tetapi dalam penekanan dalam diri perempuan itu sendiri. Oleh karena itu mereka mengusulkan dengan cara mempersiapkan perempuan agar bisa bersaing dalam suatu dunia yang penuh persaingan bebas.63
Teori Feminisme Liberal bermaksud membebaskan perempuan dari penindasan berdasar jenis kelamin. Untuk itu dianjurkan baik laki-laki maupun perempuan mengembangkan sifat androgini, yakni dengan mengembangkan karakter maskulin dan feminim dalam dirinya masing-masing.64 Pemberian hak kepada individu merupakan prioritas tertinggi agar tercipta kesempatan yang lebih adil antara
62 Maria Claire Barth-Frommel, Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu, Jakarta, BPK-Gunung Mulia, 2003, 9.
63 Mansour Fakih, Analisis Gender, Yogjakarta, Pustaka Pelajar, 2010, 80 -83.
64
Dien Sumiyatiningsih, Ringkasan Disertasi Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Jender, Semarang UNS, Program Pasca Sarjana, 2010, 25.
36 laki dan perempuan. Agenda yang diperjuangkan adalah di bidang pendidikan, politik , kesehatan dan kerja.
b. Aliran Feminisme Radikal
Aliran Feminisme Radikal menganggap penyebab penindasan terhadap perempuan berakar pada jenis kelamin laki-laki itu sendiri beserta ideologi patriarkhinya. Peran tubuh dan seksualitas bagi teori ini mempunyai tempat yang sangat penting. Bagi mereka, patriarkhi adalah dasar dari ideologi penindasan yang merupakan sistem hirarkhi seksual dimana laki-laki memiliki kekuasaan superior atas tubuh pribadi perempuan.65
Dari sini tumbuh sistim patriarkhi (yaitu bapa atau laki-laki) yang berkuasa. Itu berarti berbagai penindasan sistim patriarkhi yang terjadi dalam ruang pribadi/ranah privat, juga merupakan penindasan di bidang publik. Oleh karena itu mereka mengusulkan untuk menuju kepada kesetaraan jender adalah jika ada pengadopsian pemahaman androgini, menolak kontrol atas tubuh, melakukan penyadaran serta edukasi tentang konsep patriarkhi dan dampaknya.66
c. Aliran Feminis Sosialis
Feminisme Sosialis dikenal thn 1970-an, aliran ini memahami bahwa penindasan perempuan terjadi di kelas manapun bahkan revolusi sosialis ternyata tidak serta merta menaikkan posisi perempuan. Feminis Sosialis berpendapat ketidakberhasilan memasukkan perempuan ke dalam masyarakat revolusi di Uni Soviet, Cina dan Kuba
65
Mansour Fakih, Analisis Gender ..., 84-85.
66
37 membuktikan bahwa revolusi sosialis tidak dengan serta merta membebaskan perempuan.67
Menurut Feminisme Sosialis, ketidakadilan bukan akibat dari perbedaan biologis laki-laki – perempuan tapi lebih karena penilaian dari masyarakat (social construction) terhadap perbedaan itu.68 Itu berarti ketidakadilan juga bukan karena kegiatan produksi atau reproduksi dalam masyarakat melainkan karena manisfestasi ketidakadilan jender yang merupakan konstruksi sosial. Mereka memerangi konstruksi visi dan ideologi masyarakat serta struktur dan sistem yang tidak adil yang dibangun di atas bias jender.
Menurut aliran ini, alienasi perempuan lebih berat karena kehadirannya hanya sekedar sebagai pelengkap orang lain, bahkan dia sendiri telah kehilangan jati dirinya. Oleh karena itu teori ini menyarankan perempuan harus dapat menemukan jati dirinya secara utuh sebab penindasan terhadap kaum perempuan dapat diatasi dengan kekuatan dan posisi ekonomi yang baik dari perempuan itu sendiri.69
Meskipun gerakan feminisme memiliki aliran yang bermacam-macam namun mereka mencoba menggunakan analisis masing-masing yang cocok untuk melihat keadaan yang sedang dihadapi. Di samping itu mereka memiliki tujuan yang sama yaitu adanya kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan.
67 Mansour Fakih, Analisis Gender ..., 90 - 93
68
Ibid, 92.
69
38
2. Jender
Ide jender dalam dunia kontemporer Barat dipengaruhi oleh legalitas filsafat klasik Yunani yang lebih mencatat binari atau bentuk dualis karakter bawaan dan relasi manusia. Meskipun secara simbolis dan empiris memberi gambaran representasi jender tradisional.70 Hal itu merupakan fenomena dikotomi, seperti dualisme yang adalah nyata produksi pengkategorian manusia. Jender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh masyarakat secara sosial maupun budaya dalam kaitannya dengan relasi antara laki-laki dan perempuan.71 Misalnya perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain.72
Jender adalah seperangkat peran yang menyampaikan kepada orang lain bahwa kita adalah maskulin atau feminim.73 Perangkat perilaku khusus yang mencakup pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas, tanggungjawab, keluarga, secara bersama-sama memoles “peran jender” kita. Peran-peran itu berubah seiring dengan waktu dan berbeda antara satu kultur dengan kultur lainnya. Peran itu juga amat dipengaruhi oleh sosial, usia dan latarbelakang etnis.74
Sejarah perbedaan jender antara manusia laki-laki dan perempuan dikarenakan oleh banyak hal, di antaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural, melalui ajaran dan keagamaan maupun negara. Jender akan
70
Elaine Graham, Making The Difference, North America, Fortress Press, 1996, 12.
71 Rahayu Relawati, Konsep dan Aplikasi Penelitian Gender, Bandung, Muara Indah, 2011, 3-5.
72 Mansour Fakih, Analisis Gender..., 7 – 10.
73
Julia Cleves Mosse, Gender & Pembangunan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007, 3 – 5.
74
39 menentukan seksualitas, hubungan dan kemampuan kita untuk membuat keputusan dan bertindak secara otonom. Jender bisa satu-satunya faktor penting akan membentuk kita jadi apa nantinya.
Perbedaan jender tersebut menimbulkan ketidakadilan jender yang diantaranya adalah :
a. Jender dan marginalisasi perempuan
Marginalisasi perempuan adalah suatu proses pemiskinan atas satu jenis kelamin tertentu dalam hal ini perempuan dan juga pendeta perempuan di Gereja HKBP disebabkan oleh perbedaan jender. Marginalisasi perempuan, karena perbedaan jender dapat bersumber dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsir agama, tradisi atau kebiasaan, bahkan asumsi ilmu pengetahuan.75
Marginalisasi perempuan tidak saja terjadi di tempat pekerjaan, juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat kultur dan bahkan negara. Menurut Mansour Fakih,76 marginalisasi terhadap perempuan sudah terjadi sejak di rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga laki-laki dan perempuan yang diperkuat oleh adat istiadat maupun tafsir keagamaan. Misalnya dalam pemberian harta warisan yang tidak memberi hak kepada perempuan.
Membatasi atau kurang melibatkan perempuan dalam kepemimpinan di Gereja merupakan perlakuan yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan, telah mengakibatkan penyisihan hak-hak perempuan. Tradisi atau kebiasaan, yang
75 Dwi J Narwoko, – Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Edisi Ketiga, Jakarta, Kencana, 2010, 341.
40 terdapat dalam budaya Batak telah membuat pembatasan hak kepada perempuan, secara khusus pendeta perempuan sebagai pemimpinan di Gereja HKBP.
b. Jender dan Subordinasi
Disamping itu juga terjadi Subordinasi terhadap perempuan karena adanya dominasi laki-laki terhadap perempuan mengakibatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Juga ada anggapan masyarakat bahwa perempuan itu emosional, irasional dalam berpikir sehingga tidak bisa tampil sebagai pemimpin akibatnya perempuan hanya ditempatkan pada posisi yang tidak penting.77 Perempuan adalah subordinasi terhadap laki-laki sebab masyarakat membentuk perempuan sangat dekat kepada ketidakberhargaan dan pengolahan alam. Laki-laki disesuaikan sebagai pemilik alam dan pencipta budaya, dan perempuan diletakkan begitu kuat kepada reproduksi dan ruang publik.78
Ruang reproduksi – dikarakterkan sebagai alam, pribadi, domestik dan profan – disesuaikan dalam berbagai cara adalah esensi dari perempuan. Perempuan subordinasi dari ruang sosial yang disebabkan oleh definisi bahwa perempuan dilekatkan secara otomatis membentuk karakter peran prokreatif.79
Oleh karena itu dalam rumah tangga sering terdengar jika keuangan keluarga sangat terbatas dan harus mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak
77 Narwoko, Dwi, J – Suyanto Bagong, Sosiologi Teks..., 341 – 342.
78
Elaine Graham, Making the Difference, Minneapolis, Fortress Press, 1996, 64.
79
41 anaknya maka anak laki-laki akan mendapatkan prioritas utama.80 Juga hal itu terjadi berawal dari kesadaran jender yang tidak adil.
c. Jender dan Stereotipe
Stereotipe adalah adanya pelabelan atau penandaan terhadap satu kelompok tertentu yang merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Masyarakat memiliki anggapan bahwa tugas utama kaum perempuan adalah melayani suami. Stereotipe ini berakibat wajar sekali jika pendidikan kaum perempuan dinomorduakan.81 Stereotipe terhadap perempuan ini terjadi dimana-mana. Banyak peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kultur dan kebiasaan masyarakat yang dikembangkan karena stereotipe tersebut.
Oleh karena itu dalam budaya Batak perempuan dibatasi menempuh pendidikan yang lebih tinggi karena akhirnya dia akan bekerja di dapur mengurus anak dan suaminya. Juga karena alasan bahwa kalau nanti dia berhasil tidak menjadi kebanggaan keluarga dan bukan penerus marga orangtuanya sebab dia akan menikah dan menjadi milik dan penerus marga suaminya.
Disamping itu bahasa sebagai alat komunikasi sangat bias jender. Setiap masyarakat memiliki masalah yang diikuti oleh anggotanya, sebagaimana mereka belajar memainkan peran feminim atau maskulin. Sebab setiap masyarakat memiliki bahasanya sendiri. Sejak lahir sampai dewasa kita meniru, mempelajari dan
80
Mansour Fakih, Analisis..., 16.
81
42 mempraktekkan cara-cara khusus yang telah dibentuk oleh masyarakat bagi kita untuk menjadi laki-laki dan perempuan.82
Sangat jelas sekali bahwa jender dalam masyarakat dan budaya Batak telah membentuk laki-laki dan perempuan dalam perannya ditengah-tengah masyarakat dan Gereja.
d. Jender dan Kekerasan
Kekerasan (violence) adalah serangan atau invasi (assault) terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarnya berasal dari berbagai sumber, namun salah satu kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu yang disebabkan oleh anggapan jender. Kekerasan yang disebabkan oleh bias jender ini disebut gender-related violence. Pada dasarnya kekerasan jender disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat.83
Jenis dan bentuk kejahatan yang dapat dikategorikan kekekerasan jender, diantaranya:84
Pertama, perkosaan terhadap perempuan termasuk perkosaan dalam perkawinan. Perkosaan terjadi jika seseorang melakukan paksaan untuk mendapatkan pelayanan seksual tanpa kerelaan yang bersangkutan. Ketidakrelaan ini seringkali tidak bisa terekspresikan disebabkan oleh pelbagai faktor, misalnya
82
Richards Halloway, ed, Who Needs Feminism, London, Biddlest Ltd, Guildford and King’s Lynn, 1991, 138 – 140.
83
Mansour Fakih, Analisis Gender dan..., hl. 17.
84
43 ketakutan, malu, keterpaksaan yang terjadi dalam baik ekonomi, sosial maupun kultural, tidak ada pilihan lain.
Kedua, tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga (domestic violence). Termasuk tindak kekerasan dalam bentuk penyiksaan terhadap anak-anak (child abuse).
Ketiga, bentuk penyiksaan yang mengarah kepada organ alat kelamin (genital mutilation), misalnya penyunatan terhadap anak perempuan. Berbagai alasan diajukan oleh suatu masyarakat untuk melakukan penyunatan. Namun salah satu alasan terkuat adalah, adanya alasan dan anggapan bias jender di masyarakat, yakni untuk mengontrol kaum perempuan.
Keempat, kekerasan dalam bentuk pelacuran, (prostitution). Pelacuran merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan yang diselenggarakan oleh suatu mekanisme ekonomi yang merugikan kaum perempuan. Setiap masyarakat dan negara selalu menggunakan standar ganda terhadap pekerja seksual. Di satu sisi pemerintah melarang dan menangkapi mereka, tetapi di lain pihak negara juga menarik pajak dari mereka. Sementara seorang pelacur dianggap rendah oleh masyarakat, namun tempat pusat kegiataan mereka selalu ramai dikunjungi orang.
Keenam, kekerasan dalam bentuk pemaksaan sterilisasi Keluarga Berencana (enforced sterilization). Keluarga Berencana di banyak tempat ternyata telah menjadi sumber kekerasan terhadap perempuan. Dalam rangka mengontrol pertumbuhan penduduk, perempuan seringkali dijadikan korban demi program tersebut, meskipun persoalannya tidak saja pada perempuan melainkan berasal dari
44 kaum laki-laki juga. Namun akibat bias jender, perempuan dipaksa sterilisasi yang sering kali membahayakan fisik maupun jiwa mereka.
Ketujuh, adalah jenis kekerasan terselubung (molestation), yaitu memegang atau menyentuh bagian tertentu dari tubuh perempuan dengan pelbagai cara dan kesempatan tanpa kerelaan si pemilik tubuh. Jenis kekerasan ini sering terjadi di tempat pekerjaan atau di tempat umum, seperti dalam bis.
Kedelapan, tindakan kejahatan terhadap perempuan yang paling umum dilakukan di masyarakat yakni yang dikenal dengan pelecehan seksual atau sexual and emotional harassment. Ada banyak bentuk pelecehan dan yang umum terjadi adalah unwanted attention from men. Banyak orang membela bahwa pelecehan seksual itu sangat relatif karena sering terjadi tindakan itu merupakan usaha untuk bersahabat. Tetapi sesungguhnya pelecehan seksual bukanlah usaha untuk bersahabat, karena tindakan tersebut merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi perempuan.
Ada beberapa bentuk yang dapat dikategorikan pelecehan seksual. Di antaranya: 1. Menyampaikan lelucon jorok secara vulgar pada seseorang dengan cara yang
dirasakan sangat ofensif.
2. Menyakiti atau membuat malu seseorang dengan omongan kotor.
3. Mengintrogasi seseorang tentang kehidupan atau kegiatan seksualnya atau kehidupan pribadinya.
4. Meminta imbalan seksual dalam rangka janji untuk mendapatkan kerja atau untuk mendapatkan promosi atau janji-janji lain.
45 5. Menyentuh atau menyenggol bagian tubuh tanpa ada minat atau tanpa
seizin dari yang bersangkutan.
e. Jender dan Beban Kerja
Adanya anggapan bahwa kaum perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggungjawab kaum perempuan. Konsekwensinya, banyak kaum perempuan yang harus bekerja keras untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah tangganya, mulai dari menyapu dan mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari air untuk mandi hingga memelihara anak. Di kalangan keluarga miskin beban yang sangat berat ini ditanggung oleh perempuan sendiri. Terlebih-lebih jika si perempuan tersebut harus bekerja, maka ia memikul beban kerja ganda.85
Hal itu terjadi karena bias jender yang mengakibatkan beban kerja tersebut seringkali diperkuat dan disebabkan adanya pandangan atau keyakinan dalam masyarakat bahwa pekerjaan itu sebagai jenis “pekerjaan perempuan”. Seperti semua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan pekerjaan yang dianggap sebagai “pekerjaan laki-laki” serta dikategorikan sebagai “bukan produktif” sehingga tidak diperhitungkan dalam statistik ekonomi Negara.86 Akibatnya karena anggapan jender ini sejak dini perempuan telah diasosiasikan untuk menekuni peran jender mereka. Di lain pihak kaum laki-laki tidak diwajibkan secara kultural untuk menekuni berbagai jenis pekerjaan domestik. Kesemua ini
85
Mansour, Fakih, Analisis Gender dan..., 18-20
86
46 telah memperkuat pelanggengan secara kultural dan struktural beban kerja kaum perempuan.
Dalam golongan kelas menengah dan kaya beban kerja itu kemudian dilimpahkan kepada pembantu rumah tangga (domestic workers) yang konon adalah perempuan juga. Sesungguhnya mereka telah menjadi korban dari bias jender di masyarakat. Mereka bekerja lebih lama dan berat, tanpa perlindungan dan kejelasan kebijaksanaan negara. Disamping itu belum adanya kemauan politik untuk melindungi mereka, hubungan feodalistik dan seringkali bersifat perbudakan tersebut memang belum dapat dilihat secara transparan oleh masyarakat luas.
Istilah jender berguna karena istilah itu mencakup peran sosial kaum perempuan maupun laki-laki. Hubungan antara laki-laki dan perempuan sangat penting dalam menentukan posisi keduanya. Demikian pula, jenis-jenis hubungan yang bisa berlangsung antara perempuan dan laki-laki akan merupakan konsekuensi dari pendefinisian perilaku jender yang semestinya oleh masyarakat.87
Menurut Julia Cleves Mosse,88 pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki dalam masyarakat tertentu ditetapkan oleh kelas, jender dan suku. Tetapi sebagian perempuan juga hidup dalam keluarga dan hubungan jender di dalam keluarga tersebut mewakili aspek yang amat penting tentang cara bagaimana perempuan mengalami dunia. Bisa jadi, pembuatan keputusan, akses terhadap sumber daya, pembagian kerja dan hubungan di luar keluarga, semuanya diputuskan oleh hubungan jender di dalam unit keluarga itu sendiri.
87
Mansour, Fakih, Analisis Gender dan ...,18-20
47 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketidakadilan jender dalam bentuk marginalisasi ekonomi, subordinasi, kekerasan, stereotipe dan beban kerja tersebut terjadi dipelbagai tingkatan. Manifestasi ketidakadilan jender mencakup negara, di tempat kerja organisasi maupun dunia pendidikan, dalam adat istiadat masyarakat dan dalam tafsir keagamaan, terlebih-lebih dalam rumah tangga.
Oleh karena manifestasi ketidakadilan jender telah mengakar mulai dari keyakinan di individu, keluarga hingga pada tingkat negara dan Gereja. Pemahaman ini telah memposisikan perempuan sebagai warga kelas dua sehingga hal itu membatasi perempuan dalam berkarya di ranah publik. Peningkatan pemahaman kesetaraan jender perlu ditingkatkatkan untuk mencapai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam ranah domestik dan publik.